
Leona memegang pedang yang terdapat darah Isabel. Wanita itu melihat darah Isabel dan memamerkannya di depan Clouse. "Bagaimana kalau aku menguliti wanita ini di hadapanmu? Apa yang bisa kau lakukan untuk menyelamatkannya? Kau telah kalah. Walau harus mati, aku akan tetap melakukan apa yang seharusnya aku lakukan!" ucap Leona penuh penekanan.
Leona mengangkat pedangnya ke atas dan siap menusuk perut Isabel. Wanita lemah yang tidak bisa melakukan apapun untuk melindungi dirinya sendiri.
DHOMM
Bersamaan saat Leona mengangkat pedang. Suara ledakan yang begitu dahsyat terdengar dengan jelas. Istana Isabel berhasil dihancurkan. Leona merasa sangat puas ketika hanya mendengar suara ledakan itu saja. Ia sudah bisa membayangkan kalau semua orang yang ada di dalamnya akan mati terpanggang.
Isabel memandang ke arah istana dengan senyum kecil. Wanita itu menangis ketika membayangkan kini ayah kandungnya tidak lagi ada. Isabel menangis. Ia tidak memiliki semangat hidup lagi jika memang kenyataannya ayah kandungnya telah tewas terbakar.
"Jangan!" teriak Clouse. Pria itu maju dan mendapat tendangan dari Jordan. Kedua pria itu bertarung untuk saling melindungi wanita yang mereka cinta.
Miller mengangkat senjata apinya dan ingin menembak Leona. Namun Zean memutar kakinya dan membuat senjata api itu terpental hingga jauh. Dimana-mana terdengar suara tembakan dan saling memukul antara pasukan Leona dan Clouse.
"Pergilah," ucap Leona pelan.
Isabel memandang wajah Leona dengan rasa tidak percaya. Namun, tanpa mau banyak mengeluarkan kata Isabel berdiri dan berlari. Ia ingin menyelamatkan dirinya walau kini dalam keadaan menangis.
Leona memandang punggung Isabel dengan tatapan tidak tega. Secara perlahan Leona mengangkat senjata apinya dan menarik pelatuknya.
__ADS_1
DUARRR
Sebuah peluru berhasil menancap di tulang punggung Isabel. Senjata api itu sangat hebat. Hanya satu tembakan saja bisa menembus hingga ke tubuh paling dalam. Pelurunya pecah dan menyebar di seluruh tubuh. Membuat sang pemilik raga merasakan sakit yang tiada tara.
Isabel berdiri mematung ketika tembakan itu mengenainya. Ia merasa dipermainkan. Kini Isabel mulai tidak bisa menopang tubuhnya. Ia terjatuh dan berlutut di sana. Masih dalam posisi membelakangi Leona.
Leona menurunkan senjata apinya dengan tatapan yang mengerikan. "Aku tidak akan pernah bisa melukai wanita yang memandang mataku dengan tangisan. Hanya dengan cara seperti ini tanganku bisa merenggut nyawanya. Aku tahu ini akan menyakitkan. Tapi, ini cukup setimpal dengan perbuatan yang pernah ia lakukan. Itu hanya untuk membalas luka yang di terima Paman Tama." Leona mengangkat senjata apinya lagi. Wanita itu mengincar tubuh Isabel lagi yang sudah jelas-jelas tidak berdaya.
Clouse menusukkan belati ke arah perut Jordan. Jordan menghindar namun tusukan itu berhasil mengenai lengannya. Clouse meremas luka itu hingga membuat Jordan merasakan sakit yang luar biasa.
Setelah melihat Jordan tidak berdaya, Clouse berlari untuk membalas perbuatan Leona. Zean tidak lagi mau mempedulikan Miller. Pria itu segera berlari untuk mengejar Clouse. Sayangnya kini Miller tidak membiarkan Zean berjauhan darinya. Miller terus saja menghadang Zean agar tidak bisa menghalangi Clouse.
Leona terjatuh dan terlentang di tumpukan salju. Clouse segera memeriksa keadaan Isabel. Wanita itu masih bisa membuka mata. Ia memandang hujan salju yang turun dan menetes di wajahnya. Bibirnya tersenyum manis saat melihat Clouse ada di hadapannya.
"Maafkan aku karena tidak bisa menepati janjiku," ucap Isabel dengan lirih. Ia memegang pipi Clouse dan menariknya secara perlahan. Isabel mengecup bibir Clouse sesuai janjinya ketika nanti Clouse berhasil mengalahkan Leona dan pasukannya.
Isabel telah pergi ketika bibir mereka bersentuhan. Ia tidak sanggup menerima luka tembak yang di berikan Leona kepadanya. Clouse meneteskan air mata dan menangis histeris. Ia tidak mau kehilangan wanita yang ia cintai.
__ADS_1
"TIDAAAAK!" Clouse memeluk erat tubuh Isabel. Sorot matanya memandang wajah Leona yang saat itu duduk di atas tumpukan salju.
Leona membalas tatapan Clouse. Wanita itu berusaha bangkit dan berhadapan dengan Clouse. Ia tidak mau kalah begitu saja.
Clouse meletakkan tubuh Isabel. Ia bangkit dan siap membunuh Leona. Nyawa harus di bayar nyawa. Kedua matanya seperti menyala-nyala seolah ada api di dalam sana. Clouse memegang pedang yang di pegang Isabel tadi. Ia ingin menebas leher Leona agar wanita itu tubuhnya tidak lagi utuh.
Leona menembak Clouse. Namun, tubuh Clouse terlihat kebal. Tembakan Leona yang tadinya bisa membunuh nyawa Isabel kini tidak ada apa-apanya di tubuhnya. Leona mengambil belatih dan melemparkannya ke kaki Clouse. Pria itu tetap saja masih bisa berjalan.
Leona berdiri dan siap menyerang Clouse dengan tangannya sendiri. Wanita itu memegang pedang dan siap beradu pedang dengan Clouse.
"Oke, hidup atau mati!" ucap Leona dengan tegas.
Clouse tidak mau berbicara lagi. Pria itu melayangkan pedangnya ke arah Leona. Dengan cekatan Leona menahan pedang itu. Leona memutar tubuhnya dan sedikit berjongkok. Ia berhasil menyerang bagian pinggang Clouse. Tapi memang Clouse seperti robot yang memiliki sejuta nyawa dan tidak memiliki rasa sakit. Clouse terlihat biasa saja walau kini tubuhnya sudah babak belur dan dipenuhi luka sayatan.
Clouse menyerang Leona lagi. Kali ini ia berhasil membuat pedang yang di pegang Leona terhempas. Dengan cepat Clouse mencekik leher Leona dan mengangkat tubuh wanita itu.
"Kau harus membayarnya!"
Leona merasa kesulitan bernapas. Ia memandang wajah Clouse dan terus berontak agar bisa terlepas. Kakinya tidak lagi menyentuh bumi. Clouse melepas paksa topeng Leona agar wajah wanita itu terlihat jelas.
"Eleonora?"
Miller menghentikan aksinya ketika melihat Leona lah wanita bertopeng yang sudah membunuh Isabel. Ia tidak menyangka kalau Leona masih hidup. Sejenak Miller berpikir kalau itu hanya mimpi.
__ADS_1
"Ini tidak mungkin!"