Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Puerto Rico


__ADS_3


"Dari sekian banyak tempat di Amerika, kenapa kau memilih Puerto Rico?" tanya Leona tanpa mau memandang wajah Jordan. Kini mereka duduk di satu sofa yang sama sambil menghadap ke kolam renang. Suasananya sangat hening. Selain hanya ada mereka berdua di rumah itu. Lokasi tersebut memang jauh dari keramaian.


"Pertama, salju tidak turun di sini. Aku tidak ingin kau tidur sambil kedinginan. Bukankah aku belum memiliki hak untuk memelukmu?" ledek Jordan dengan tawa kecil.


Leona membalas tawa Jordan. Wanita itu menggeleng pelan. "Kau ini. Baiklah, alasan pertama di terima, alasan lainnya?" tanya Leona lagi.


"Tempat ini sangat terpencil. Sebuah pulau yang berpisah dari benua Amerika. Sangat jarang di datangi para wisatawan. Tidak terkenal di media. Jadi, aku sangat yakin. Tidak akan ada musuh di tempat ini. Jadi kau bisa melalui proses penyembuhan dengan tenang," ucap Jordan sembari mengambil minuman kaleng yang ada di atas meja. "Paman Adit bilang, kau butuh waktu yang lama untuk bisa sembuh total. Aku tidak ingin, ketika kau masih setengah sembuh, kau sudah bertempur di lapangan."


"Hmm, baiklah. Selama musuhku tidak melakukan tindakan apapun. Aku bisa diam di tempat ini sambil menunggu sembuh." Leona bersandar dengan posisi yang nyaman. "Apa Paman Tama dan Tante Anna sudah ditemukan?" ucap Leona sambil kembali mengingat Kwan yang menghilang secara tiba-tiba. Adik sepupunya itu berkata kepada Leona untuk tetap tenang karena mereka akan menyelamatkan Tama dan Anna di Jerman.


"Aku belum mendapat kabar dari Oliver. Semoga saja mereka baik-baik saja." Jordan memberikan Leona air putih. "Pegang ini, kau harus meminum obat ini," ucap Jordan lagi sembari mengambil obat yang sudah ia persiapkan di atas meja.


Leona menerima air putih itu dan memandang wajah Jordan. Ia mengukir senyuman sebelum meneguk sedikit air minum tersebut.


"Buka mulutmu," perintah Jordan sambil memegang obat itu dan siap memasukkannya ke dalam mulut Leona.

__ADS_1


Leona membuka mulutnya. Dengan patuh ia menelan pil tersebut bersamaan dengan air putih. "Kapan kita mulai menyerang mereka?" tanya Leona pelan. Ia meletakkan gelas yang sudah kosong di atas meja. Mengatur duduknya dengan rapi.


Jordan memandang ke arah depan. "Setelah musim dingin berakhir. Mereka selalu menyambut musim semi datang setelah musim dingin berlalu. Bunga bermekaran dengan indah. Aku akan membuat musim panas datang di saat musim semi hampir sempurna," ucap Jordan dengan penuh dendam.


Leona mengeryitkan dahi dengan wajah tidak percaya. Wajah Jordan terlihat sangat serius Pria itu tidak main-main dengan kalimat yang baru saja ia katakan.


"Api? Kau mau menghancurkan mereka dengan api?" tebak Leona asal saja.


Jordan mengangguk pelan. "Ya. Seperti mereka menghancurkan Cambridge. Namun kali ini akan lebih sakit dan menusuk. Mereka semua akan terbakar di dalam api yang sudah mereka ciptakan sendiri." Jordan mengambil tangan Leona. Ia meletakkannya di atas pangkuan. "Leona, berjanjilah padaku. Ini yang terakhir. Setelah ini, kau harus menjadi gadis manis yang seperti dulu lagi. Jangan ada dendam dan darah lagi di hidupmu. Hiduplah dengan tenang bersama dengan orang-orang yang kau sayangi."


Leona tersentuh ketika mendengar perkataan Jordan. Ia mengangguk dengan bibir tersenyum. "Ya. Aku berjanji padamu. Aku akan menjadi Leona yang baik hati. Aku tidak akan kembali ke dunia mafia lagi."


Jordan beranjak dari kursi yang ia duduki. Pria itu membungkuk dan mengangkat tubuh Leona ke dalam gendongannya. Leona melingkarkan kedua tangannya di leher jenjang Jordan. Bibirnya mengukir senyuman bahagia. Tidak seperti biasa, kali ini memang Leona telah menjadi wanita yang penurut. Ia tidak ingin membuat Jordan bersedih karena perkataan kasar yang terucap dari bibirnya.


"Apa seperti ini rasanya diperhatikan dengan tulus. Aku pernah merasakan hal yang sama. Namun, itu bukan sikap yang tulus. Semua sengaja di buat agar aku terbuai. Untuk kali ini, ketika aku kembali merasakan perasaan nyaman. Apa benar semua ini nyata? Atau kebohongan yang sama seperti masa lalu?"


***

__ADS_1


Kwan terlihat jauh lebih bersemangat hari ini. Ia ingin bertemu dengan Alana. Ketika gagal mendapat tugas dari Leona. Kini ia mendapat tugas baru dari Aleo. Hatinya berbunga-bunga ketika bisa mendapatkan alasan untuk bertemu dengan Alana.


"Alana, aku datang," ucapnya kegirangan. Sudah berulang kali Kwan berteriak dengan wajah berserinya tanpa peduli hadirnya Oliver di sampingnya. Pria tangguh itu menghela napas dan membuang tatapannya ke arah lain. Ia lebih tertarik melihat salju daripada harus melihat wajah Kwan yang terkesan berlebihan.


"Oliver, kau boleh mengumpat sesuka hatimu. Aku tahu apa yang kau pikirkan hari ini," ledek Kwan lagi. Pria itu kembali fokus pada laju mobilnya menuju bandara.


Persoalan Tama dan Anna sudah di ambil alih oleh Sonia. Melihat Sonia adalah wanita yang baik dan sayang menyayangi Tama dan Anna, Kwan memutuskan untuk meninggalkan sepasang suami istri itu di Jerman dan memilih untuk pergi ke San Fransisco menemui Alana.


Oliver menggeleng pelan saat mendengar ucapan Kwan. Ponsel pria itu berdering. Oliver segera melekatkan ponselnya di telinga.


"Oliver, sebaiknya kau segera pulang ke Hongkong. Ada masalah besar yang tidak bisa kau atasi sendirian. Daddy dan Mommy tidak ingin kau dalam bahaya," ucap Lukas dengan suara yang sangat serius. Dalam hitungan detik saja, ponsel pria itu telah berpindah tangan. "Oliver, kembali nak. Kerajaan Cambridge mengeluarkan perintah untuk menangkap seluruh anggota mafia dan semua orang yang berhubungan dengan Queen Star dan Gold Dragon. Hanya Hongkong tempat yang aman untuk kau kembali," lirih Lana dengan suara dipenuhi tangisan.


Oliver mematung. Ia kenal betul bagaimana Zeroun mendukungnya selama ini. Oliver tidak menyangka jika Zeroun tega mengeluarkan perintah seperti itu.


"Mom, itu tidak mungkin. Mereka tidak akan menangkapku. Jika memang mereka ingin menangkapku, aku sudah ada di penjara sejak setahun yang lalu," sangkal Oliver masih dengan wajah tidak percaya.


"Pulang Oliver. Daddy tidak bisa menjelaskannya lewat telepon," bentak Lukas yang tidak lagi bisa bersabar.

__ADS_1


"Dad, Oliver akan hubungi lagi nanti." Oliver segera memutuskan panggilan telepon itu secara sepihak. Ia mematung sambil memandang ke arah jalanan depan. Pikirannya masih tidak mau menerima kenyataan yang baru saja ia dengar. "Ini tidak mungkin. Pasti ada yang salah!"


__ADS_2