
Saat semua orang menahan senyum atas kelakukan Zeroun dan Lukas, Jordan semakin serius memperhatikan Oliver. Sambil mengunyah buah yang ada di mulut, pria itu menatap wajah Lukas yang kini memakai topeng dengan saksama.
Leona memegang tangan Jordan dan mengusapnya dengan lembut. Wanita itu juga terlihat bingung ketika suaminya sejak tadi tidak meliriknya sama sekali.
"Sayang, ada apa?" bisik Leona pelan. Ia juga tidak mau yang lainnya mendengar.
"Aku sedang memikirkan sesuatu." Jordan tersenyum ramah.
"Apa yang kau pikirkan?" bisik Leona lagi.
"Katterine dan Oliver. Mereka menghilang tadi malam. Tadi pagi, aku melihat Katterine keluar dari dalam kamar Oliver."
"Benarkah?" tanya Leona tidak percaya.
Jordan mengangguk pelan. "Aku tidak berpikir yang aneh-aneh karena aku tahu Oliver pria yang baik. Hanya saja, tadi aku melihat Katterine membawa kotak P3K. Bukankah Oliver terlihat baik-baik saja?"
Saat sepasang suami istri itu sedang asyik berbicara sendiri, semua orang sudah selesai dengan sarapan mereka.
"Selamat untuk kalian berdua. Sayang sekali aku tidak bisa menyaksikan kalian di hukum nanti," ledek Kenzo sambil menggandeng Shabira.
Zeroun dan Lukas saling memandang. "Siapa yang mengizinkanmu pulang? Aku, Tama, Daniel, Lukas dan Biao sudah merencanakan sesuatu nanti malam," ucap Zeroun penuh semangat.
"Sesuatu?" celetuk Serena bingung. Wanita itu memandang suaminya dan menagih penjelasan.
"Hanya pesta kecil ...," jawab Daniel sedikit ragu.
"Pesta apa?" sambung Sharin.
"Selama menikah dengan kalian para wanita, kami tidak lagi memiliki kebebasan. Ya seperti ini contohnya. Bohong sedikit di hukum." Daniel berdiri dari duduknya. Walau terlihat masih takut tapi ia berusaha mengeluarkan isi hatinya.
"Oke, pesta. Ya, terserah kalian saja. Asal jangan ada wanita," sambung Shabira tidak keberatan.
"Ya, aku setuju." Sharin mengangguk pelan.
Zeroun tersenyum kecil. "Kalau begitu, apa boleh kami bebas dari hukuman kami hari ini?" tanya Zeroun kepada Emelie.
"Tunggu. Pesta? Kenapa aku tidak tahu sejak awal? Apa pesta kita hanya para pria saja? Maksudku ... istri kita tidak ikut? Bagaimana dengan anak kita yang belum menikah? Apa boleh ikut?" Kenzo memandang Aleo dan Oliver.
"Semua pria. Ya, semua pria yang ada di meja makan ini akan bergabung. Kita akan minum sepuasnya dan mabuk sampai pagi!" ujar Zeroun mantap.
"Kau serius?" Emelie terlihat ragu.
Zeroun memegang tangan Emelie. "Bukankah kita sudah semakin tua? Kapan lagi kita bisa menikmati hidup? Izinkan malam ini aku pergi bersama saudaraku," bujuk Zeroun.
"Baiklah. Terserah kau saja." Walau sebenarnya Emelie terlihat kesal, tapi wanita itu tidak berani melarang karena semua istri yang ada di sana mengizinkan.
"Awas saja kau nanti!" ancam Serena kepada Daniel karena pria itu yang terlihat paling semangat.
"Satu lagi aturan mainnya. Setelah kami pulang para istri tidak boleh marah." Kali ini Si Tama yang angkat bicara. Pria murah senyum yang tidak pernah banyak tingkah itu akhirnya berbicara juga. Hingga akhirnya membuat semua orang kaget termasuk sang istri.
"Oke, silahkan." Serena tersenyum sambil memandang gelas di hadapannya. "Jika kalian ingin pergi sekarang juga tidak masalah."
"Benarkah?" tanya Daniel penuh semangat.
"Ya. Semakin cepat semakin baik!" ujar Lana dengan senyuman penuh kekejaman.
Kenzo tersenyum bahagia. Jarang-jarang mereka bisa bebas dari jerat istri galak seperti ini.
"Oke, ayo kita pergi. Kwan, walau kau pengantin baru tapi kau tetap harus ikut."
"No, aku ingin bersama Alana ku saja," tolak Kwan tidak tertarik.
__ADS_1
"Kau tidak mau?" tanya Biao dengan wajah galaknya. Kwan langsung tersenyum ramah detik itu juga.
"Bukankah pestanya tidak akan lama? Baiklah. Aku ikut," jawab Kwan pasrah.
"Ayo kita berangkat!"
Setelah mengecup pipi istri masing-masing. Daniel dan Kenzo membawa semua pria yang ada di meja makan itu untuk pergi. Mereka bersama-sama menuju ke mobil. Terlihat jelas wajah berseri dan bahagia para suami yang bebas dari aturan istri itu.
"Serena, apa kau memikirkan sesuatu?" tanya Emelie ketika melihat Serena hanya tersenyum sejak tadi.
"Hemm. Aku tidak akan membiarkan mereka bersenang-senang," jawab Serena penuh kemenangan.
"Benarkah? Apa rencana kakak?" tanya Shabira penuh semangat.
Serena memandang Alana, Tamara, Leona dan Letty. "Ini juga salah satu Ilmu yang harus kalian ingat ketika kalian sudah memiliki suami."
"Ma ... apa yang mama pikirkan?" tanya Leona mulai ragu.
"Sayang, kita juga akan bersenang-senang," jawab Serena mantap.
"Benar. Kita sebagai istri harus pesta!" ucap Shabira penuh semangat.
"Baiklah, kita mulai rencananya dari sekarang." Lana beranjak dari duduknya dengan penuh kegirangan. Dia sudah tidak sabar untuk berdiskusi dengan Serena dan para istri lainnya.
"Nona Serena, Anda adalah ketua kami hari ini."
Serena hanya menggeleng pelan dengan tawa kecil. "Baiklah. Aku akan memimpin para wanita agar tidak pernah kalah!"
***
Karena terlalu ramai, para pria itu berangkat dengan beberapa mobil. Kenzo sendiri masih penasaran dengan ide Daniel dan Zeroun. Kebetulan kali ini Kenzo, Daniel, Zeroun dan Lukas berada di satu mobil yang sama.
"Yakin akan berpesta?" tanya Kenzo lagi.
"Kapan kalian merencanakannya?"
"Pesta sebelum aku meninggalkan Cambridge," jawab Zeroun dengan tenang.
"Kabar itu benar? Kalian benar-benar akan meninggalkan istana?" Kenzo masih belum percaya dengan gosip yang ia dengar beberapa waktu yang lalu.
"Ya. Aku dan Lukas juga butuh kerja sama untuk merayu istri kami."
"Kau memang cerdas. Baiklah. Aku juga sudah lama tidak bersenang-senang. Kita berpesta," sorak Kenzo penuh semangat.
Di mobil lain, Jordan dan Oliver kebetulan hanya berdua. Oliver yang mengambil alih kemudi kali ini.
"Apa yang sudah terjadi?" tanya Jordan tanpa memandang.
"Hanya masalah kecil, Pangeran."
"Kecil? Kecil bagimu atau kecil bagi ku?"
Oliver memandang wajah Jordan sekilas sebelum memandang ke depan. "Masalah Pieter. Tapi semua sudah selesai. Kali ini kita tidak akan memiliki musuh lagi, Pangeran."
"Kau yakin?"
"Yakin, Pangeran."
"Baiklah. Aku percaya padamu. Soal pernikahanmu dan Katterine. Sepertinya tidak lama lagi. Tadi aku sempat dengar mommy membicarakan hal itu bersama Tante Lana."
Oliver tersenyum. "Saya akan menjaga Katterine dengan baik, pangeran."
__ADS_1
"Ya. Aku percaya padamu." Jordan menepuk pundak Oliver pelan. Ia mendukung keras hubungan antara Oliver dan adiknya. Tidak ada pria yang tepat selain Oliver. Seperti itulah pemikiran Jordan selama ini
Suasana berubah hening beberapa menit sebelum Oliver kembali sadar dengan rencana para orang tua. "Pangeran, kita mau ke mana?"
Jordan mengangkat kedua bahunya. "Aku juga tidak tahu. Semua ini rencana Papa mertuaku. Dia bilang dia sangat bahagia bisa berkumpul dengan Paman Tama dan Paman Biao lagi. Tapi kau tenang saja. Pestanya akan asyik. Bukankah mereka para orang tua walau sudah berumur masih tetap asyik?"
"Jika tidak seperti ini mereka tidak akan berkumpul."
Oliver mengangguk dengan bibir tersenyum. Ia menambah laju mobilnya untuk menyeimbangi laju mobil yang ada di depan. Walau ia tidak tertarik tapi mau tidak mau ia harus ikut berpesta dengan yang lainnya.
***
Waktu berlalu dengan begitu cepat. Pagi yang cerah sudah berganti dengan panas yang terik. Seperti yang di rencanakan Daniel dan yang lainnya. Mereka menyewa sebuah bar yang ada Dan Fransisco. Bar itu hanya untuk mereka bersenang-senang. Ada yang main bilyard. Sekedar duduk dan bercerita. Bahkan sebagian ada yang memutuskan diam tidak melakukan apapun.
Siapa lagi yang tidak tertarik minum selain Aleo. Pria itu sama seperti Daniel yang tidak bisa minum terlalu banyak. Berbeda dengan yang lainnya. Terutama Kwan dan Kenzo. Ayah anak itu benar-benar contoh yang buruk bagus semuanya.
"Zeroun, kenapa kau masih baik-baik saja. Kau sudah meminum beberapa botol," ledek Daniel sambil melirik gelas yang ada di tangan Zeroun.
"Masih terlalu siang untuk mabuk," jawabnya tenang.
Saat semua sedang-sedang bersenang-senang, tiba-tiba utusan Serena muncul. Seorang pria yang berasal dari Queen Star. Pria itu menuduk hormat di depan Daniel dan Zeroun sebelum memberikan sebuah foto.
"Apa itu?" tanya Kenzo penasaran.
Zeroun dan Daniel melihat foto itu secara bersamaan. Kedua mata mereka melebar setelah sadar wanita yang ada di dalam foto adalah istri mereka.
"Bagai ... bagaimana mungkin Emelie ...."
"Ini pasti ide Serena. Wanita itu tidak bisa mengalah sedikit saja." Daniel meletakkan gelasnya. Ia meminta musik segera di matikan agar bisa berbicara dengan gang lainnya.
"Pesta kita hentikan. Ada masalah penting yang harus kita selesaikan!" teriak Daniel panik.
"Dad, ada apa?" tanya Jordan bingung.
"Ayo kita pergi dari sini. Kita harus mengunjungi suatu tempat." Zeroun memakai jas yang yang sejak tadi di lepas. Pria itu tidak menyangka kalau istri nya sanggup melakukan hal itu.
"Emelie, bagaimana kalau ada pria yang melihatmu," gumam Zeroun di dalam hati.
***
Serena dan Emelie tertawa kegirangan. Mereka sudah bisa membayangkan wajah panik para suami mereka saat ini.
"Kira-kira mereka akan tiba di sini berapa lama lagi?"
Serena melirik jam tangannya. "5 Menit. Bahkan perjalanan yang memakan waktu 1 jam bisa mereka tempuh hanya 10 menit saja."
"Mama, kenapa mama iseng banget?" Leona menyandarkan kepalanya di pundak Serena.
"Sayang, mama tidak iseng. Mama hanya ingin memberi pelajaran saja kepada para pria itu. Mereka ingin bersenang-senang tanpa kita. Apa kita beban?"
"Mereka butuh waktu sebagai seorang pria, ma."
"Kau sangat pengertian. Mommy bangga memiliki menantu sepertimu, Leona."
Leona mulai memejamkan matanya. Angin laut yang berasal dari pantai membuat matanya mengantuk. Leona ingin tidur di dekat ibu kandungnya sebelum wanita itu kembali pulang ke Sapporo nantinya.
Dari pinggiran pantai, Letty tersenyum bahagia. Ia tidak menyangka kalau bisa menyaksikan adegan lucu para istri ketika mereka di tinggalkan suami.
"Aku berpikir kalau menikah itu menyusahkan. Ternyata tidak. Benar kata Tante Serena. Jika kita selalu berpikiran positif maka hati kita akan selalu tenang."
Letty memandang semua wanita yang memakai bikini saat ini. Termasuk dirinya. Bahkan Katterine dan Emelie yang biasanya memakai pakaian tertutup saja harus rela pakai bikini. Tapi, lokasi pantai sudah di jaga dengan ketat. Sudah di jamin tidak akan ada pria yang menonton kemolekan tubuh mereka.
__ADS_1
Serena yakin, suami mereka tidak akan rela jika istri yang mereka sayangi dan mereka jaga memakai pakaian seksi di tempat umum. Dalam waktu cepat semua akan kembali dan mereka bisa bersenang-senang bersama di pantai tersebut. Serena juga tidak ingin cepat-cepat berpisah dari saudaranya. Ia ingin momen kebersamaan ini selalu ada di setiap saatnya.