Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Tamu tak diundang


__ADS_3

Serena menembak satu persatu musuh yang ada di hadapannya. Di samping Serena, telah ada Leona dan yang lainnya. Mereka semua terlihat ahli dalam menembak. Tidak ada satu pun musuh mereka yang bisa berhasil lolos. Siapa saja yang sudah ada di lingkungan rumah utama, maka akan kehilangan satu-satunya nyawa yang mereka miliki.


Leona sangat penasaran dengan musuh yang sudah berani menyerang kediamannya. Wanita itu melangkah maju untuk menangkap salah satu musuhnya agar bisa mengetahui siapa yang mengirim mereka.


Serena melindungi Leona yang maju ke depan. Wanita itu terlihat khawatir dengan keselamatan putrinya. Kwan dan Aleo juga maju Dua pria tangguh itu tidak bisa diam saja melihat Leona maju ke depan.


Leona berusaha menangkap seorang pria yang terlihat jauh lebih tangguh daripada yang lainnya. Pria itu tidak bisa ia tangkap dengan mudah. Leona harus bertarung dengan pria itu.


Aleo dan Kwan juga menghajar pria itu. Satu lawan tiga tentu saja pria itu kalah. Leona memelintir tangan pria itu ke belakang hingga pria itu merasa sangat kesakitan.


"Siapa kalian? Kenapa kalian menyerang rumahku?" tanya Leona sambil menggenggam kuat lengan pria itu.


Kwan menodongkan senjata api di dahi pria tersebut. Ia mengukir senyuman kecil sambil menatap wajah babak belur musuhnya.


"Jangan bunuh saya," ucap pria itu dengan wajah memohon.

__ADS_1


"Katakan!" teriak Leona dengan wajah kesal.


"The Devil yang mengirim kami," jawab pria itu cepat.


Leona segera melepas tangan pria itu. Mendengar nama The Devils, tentu saja kembali mengingatkan Leona kepada Zean Wick. Hanya pria itu yang menjadi pemimpin utama geng mafia tersebut.


DUARR


Tembakan Kwan membuat Leona tersadar dari lamunannya. wanita itu menatap wajah Kwan dengan saksama. Kwan membalas tatapan Leona. Pria itu sudah tahu apa yang kini dipikirkan oleh Leona. Ia hanya memasang wajah tenang sebelum membantu Aleo untuk menembak musuh yang lainnya.


"Zean, untuk apa dia menyerang rumahku? Apa dia ingin balas dendam karena semalam aku telah menghancurkan markas miliknya di Meksiko. Atau ... dia sengaja mengirimkan pasukan miliknya untuk mencelakai Mama?" gumam Leona di dalam hati.


"Leona ... Leona ... apa kau mau melupakan janjimu? Tidak semudah itu. Aku akan tetap menagih janjimu. Aku tidak peduli dengan hubungan baik yang kini kau jalani dengan Jordan," ucap Letty sebelum masuk ke dalam mobil. Orang-orang yang ia kirimkan untuk mengusik rumah utama telah tewas semua. Letty tidak mau Serena dan yang lainnya menyadari keberadaannya.


Letty ingin, selamanya Leona tahu kalau Zean yang menyerang rumah itu. Ia tidak suka Leona berubah menjadi wanita lemah dan pemaaf. Bagi Letty, Leona harus membalaskan dendamnya dengan cara membunuh Zean. Begitu pula sebaliknya. Letty ingin membunuh Jordan untuk membalaskan rasa sakit hatinya.

__ADS_1


***


"Apa? Rumah utama di serang? Tapi kakak baik-baik saja kan? Tidak ada yang terluka?" ucap Shabira dengan wajah khawatir.


Kalimat yang baru saja dikatakan oleh Shabira membuat semua orang yang ada di ruangan tersebut panik. Termasuk Jordan. Pria itu bahkan tidak lagi tenang dengan posisi duduknya. Ia ingin segera pergi ke rumah utama untuk memeriksa keadaan Leona secara langsung.


"Shabira, apa yang terjadi?" tanya Emelie dengan wajah yang tidak kalah khawatir dari Shabira.


"Kak, baru saja Kak Serena telepon. Katanya sore tadi merek kedatangan tamu tidak di undang. Beberapa pengawal penjaga gerbang harus tewas. Kak Serena sendiri tidak tahu, siapa yang menyerang mereka sore tadi."


Shabira kembali pada kursi yang semula ia duduki. Wanita itu menatap wajah Kenzo dengan tatapan penuh arti. "Apa tidak sebaiknya kita datang ke rumah Kak Serena? Kita tidur di sana lagi," ucap Shabira memberi solusi.


"Jordan setuju dengan ide, Tante," ucap Jordan penuh samangat. Pria itu menatap wajah kedua orang tuanya dengan tatapan penuh harap. "Dad, kita harus melihat keadaan Paman Daniel dan keliarganya secara langsung. Kita harus memastikan kalau mereka baik-baik saja."


"Baiklah. Kita akan pergi ke rumah utama dan tidur di sana," ucap Zeroun. "Bagaimana sayang, apa kau setuju?" tanya Zeroun kepada Emelie.

__ADS_1


Ratu Cambridge itu mengangguk pelan. "Ya, aku setuju. Aku juga sangat mengkhawatirkan Serena saat ini."


Shabira dan Kenzo mengukir senyuman bahagia. Mereka semua beranjak dari sofa dan berjalan ke arah pintu utama. Hati semua orang sudah tidak sabar untuk melihat keadaan rumah utama saat ini. Di dalam hati merek ahanya bisa berdoa. Semoga apa yang baru saja dikatakan oleh Serena benar adanya. Kalau Serena dan keluarga baik-baik saja.


__ADS_2