
Natalie dan Sonia datang terlambat. Saat semua orang telah pulang mereka baru tiba. Dengan membawa bunga, Natalie dan Sonia menunjukkan bela sungkawa dari hati yang terdalam. Sonia meneteskan air matanya dengan deras. Ia juga tidak akan sanggup jika kehilangan anak yang sangat ia cintai.
"Mom, Kak Leona wanita yang berprestasi. Lihat saja, sangat banyak orang yang kini merasa kehilangan dirinya," ucap Natalie dengan wajah sedihnya.
"Ya, sayang. Leona seperti ibunya. Cantik dan berbakat. Sayang sekali jika ia harus pergi secepat ini."
Di sisi lain, Letty meneteskan air matanya. Ia merasa menyesal telah melukai Leona hingga membuat Leona pergi seperti ini. Namun, Letty merasa kalau penyesalannya sia-sia saja. Kini takdir berkata lain. Sang pencipta lebih sayang kepada Leona.
"Kenapa harus kau yang pergi? Seharusnya aku saja yang menggantikanmu saat ini," lirih Letty sambil menghapus air matanya. Wanita itu mematung ketika melihat Natalie dan Sonia berjalan menuju ke arah mobil. Letty merasa tidak yakin dengan apa yang kini ia lihat. "Kristal? Apa wanita itu Kristal?" ucap Letty dengan wajah kaget. Tanpa pikir panjang lagi, Letty berlari kencang untuk mengejar Natalie dan Sonia. Wanita itu ingin melihat wajah Natalie dari dekat. Wajahnya sangat mirip dengan Kristal. Sosok adik yang sangat disayangi Letty.
"Kristal!" teriak Letty ketika Natalie dan Sonia mau masuk ke dalam mobil. Dua wanita itu memandang ke arah Letty yang berdiri dengan tangan terkepal kuat.
"Kristal?" celetuk Natalie bingung.
Letty menutup mulutnya dengan tangan. Ia terlihat bahagia bisa melihat wajah Kristal lagi. Walau kini wanita yang berdiri di hadapannya menggunakan style yang berbeda jauh dari Kristal.
"Maaf, Anda siapa? Ini putri saya. Natalie. Kenapa Anda memanggilnya dengan nama Kristal?" ketus Sonia dengan wajah galaknya. Bahkan wanita itu sudah menyiapkan pistol jika saja wanita yang berdiri di hadapannya berbahaya.
"Apa boleh saya melihat tangan Anda? Wajah Anda sangat mirip dengan adik saya yang sudah meninggal," lirih Letty pelan.
Natalie dan Sonia saling melempar pandang. Mereka cukup waspada dengan Letty. Sonia juga tidak ingin mengambil resiko dengan membiarkan orang asing menyentuh putrinya.
__ADS_1
"Apa yang ingin kau lihat?" tanya Sonia.
"Tanda lahir. Kristal memiliki tanda lahir di tangan kanannya," jawab Letty cepat.
Sonia mengeryitkan dahi. "Natalie juga memiliki tanda lahir. Tapi, maaf. Natalie putriku. Dia Putri kandungku. Aku tidak pernah melahirkan putri kembar. Natalie anak kandungku," sangkal Sonia tidak terima.
Letty tertawa kecil. "Benarkah? Apa hanya aku saja yang kini berpikir kalau wanita ini sangat mirip dengan adikku?" ucap Letty dengan wajah sedih. "Maafkan saya." Letty memutar tubuhnya. Wajahnya berubah sedih. Letty merasa kalau kini ia sudah berubah menjadi wanita gila. Bahkan ia merasa kalau semua yang ia lihat hanya ada bayangan rasa bersalah yang tidak kunjung mendapat solusinya.
"Tunggu!" teriak Natalie. Wanita itu segera mengejar Letty. Ia bahkan menarik tangan Letty dengan bibir tersenyum.
Letty memandang wajah Natalie. Ia terlihat sangat kaget ketika wajah Natalie di lihat dari dekat. Tidak terlalu mirip dengan wajah Kristal.
"Jika kau ingin menganggapku adik, aku juga tidak keberatan. Selama ini aku bermimpi memiliki kakak perempuan," ucap Natalie dengan tawa kecil.
Natalie mengusap lembut punggung Letty. "Yang terpenting saat ini kau tidak melakukan kesalahan lagi. Percayalah. Kesempatan untuk memperbaiki diri selalu ada. Kau harus berubah menjadi orang yang lebih baik agar semua masalah bisa terlewati dengan mudah," ucap Natalie sambil mengusap punggung Letty.
"Terima kasih," ucap Letty dengan wajah bahagia. Wanita itu tidak menyangka kalau masih ada orang yang menenangkan hatinya hingga seperti itu.
***
Di sebuah daerah terpencil, ada sebuah rumah sederhana yang memiliki fasilitas lengkap. Lokasi itu jarang di kunjungi orang. Bahkan semua orang tidak akan pernah berpikir kalau ada rumah di tempat seindah itu. Rumah sederhana itu ada di dataran tinggi dengan pemandangan laut dan pegunungan yang begitu indah. Sangat sempurna. Apa lagi jika dilihat pada sore hari. Saat matahari terbenam keindahannya semakin sempurna.
__ADS_1
Jordan memandang wajah Leona dengan senyuman. Ia duduk di sebuah kursi sambil sesekali memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
"Aku tidak akan ada di dunia ini jika kau benar-benar pergi, Baby girl. Mungkin saja setelah kau dikebumikan aku selanjutnya yang akan berbaring di samping pemakamanmu," ucap Jordan dengan wajah sedihnya.
Jordan kembali menghela napas dan membayangkan rencana dadakan yang kini telah ia rencanakan bersama dengan Aleo dan Kwan. Serena dan Daniel juga mengetahui rencana mereka. Mereka melakukan rapat dadakan beberapa jam yang lalu. Bahkan untuk masalah kematian palsu ini mereka juga telah membayar dokter agar akting mereka terlihat sangat nyata.
"Leona, aku terpaksa membohongi keluargaku agar masalah ini bisa tetap aman," ucap Jordan lagi. Pria itu mendekatkan wajahnya di depan wajah Leona. Ia ingin mendaratkan bibirnya di bibir Leona. Jordan merasa sangat merindukan Leona.
Namun, belum sempat bibirnya tertempel sempurna. Telapak tangan Leona menahan bibir Jordan. Leona membuka mata dan menatap tajam wajah Jordan. "Aku ingin memukulmu, Jordan Zein!"
Jordan mematung. Ia merasa kalau kini sedang bermimpi. Sangat jauh dari apa yang dipikirkan Jordan. Ia berpikir kalau akan ada drama manis ketika seseorang bangun dari koma.
"Baby girl, kau sudah bangun? Sejak kapan kau bangun?" ucap Jordan tidak percaya. Pria itu masih menunduk dengan wajah yang sangat dekat dengan Leona.
"Sejak kau ingin menggigit bibirku!" ketus Leona dengan wajah galaknya.
Jordan mendesah dengan tawa tertahan. Ia tidak menyangka kalau sudah beberapa hari Leona berpura-pura tidur seperti ini. Membohonginya dan semua orang yang telah mengkhawatirkannya.
"Kau benar-benar wanita nakal!" Jordan memegang tangan Leona dan meletakkannya di samping. Pria itu segera mendaratkan bibirnya karena geram mendengar jawaban dan kebohongan Leona selama ini.
Leona melebarkan matanya ketika bibir Jordan mendarat sempurna di bibirnya. Memberi kehangatan yang terasa sangat lembut dan dipenuhi cinta. Menyentuhnya dan memilikinya dengan sesuka hati. Seperti apa yang dikatakan Jordan. Pria itu benar-benar memberikan gigitan kecil di bibir Leona.
__ADS_1
"Jordan, kau pria yang sangat menyebalkan!" teriak Leona di dalam hati karena kini bibirnya telah dikuasai oleh Jordan dan tidak bisa mengeluarkan suara sedikitpun.