
“Kenapa lari?” tanya Leona saat kini tubuhnya di seret paksa oleh Jordan.
“Ada yang ingin mencelakaimu,” jawab Jordan sambil terus berlari kencang.
“Mencelakai?” ucap Leona tidak percaya. Wanita itu menghentikan langkah kakinya dan menghempaskan tangan Jordan begitu saja. Leona memandang keadaan sekitar yang sunyi. Wanita itu mengatur napasnya lagi. Udara semakin dingin. Bahkan saat berbicara saja ada kabut yang keluar dari mulut mereka. “Kau bilang ada yang mau mencelakai? Lalu kenapa kita tidak lawan saja. Kenapa harus menghindar?” protes Leona.
Jordan mengeryitkan dahinya. “Leona, kau belum bisa bertarung!” ucap Jordan dengan wajah yang serius.
Leona menggeleng pelan. “Sampai kapan kau memandangku sebagai wanita yang lemah? Pertarungan besar kita tinggal hitungan hari. Kau memperlakukanku layaknya wanita yang tidak bisa apa-apa. Jika hanya menghadapi tikus kecil saja aku tidak bisa, bagaimana aku memenangkan pertarungan nanti?”
Jordan tertegun. Karena selama ini Leona selalu menurut, ia sampai tidak sadar kalau sebenarnya Leona adalah wanita tangguh yang begitu hebat. Bahkan kemampuannya bisa setara dengan kemampuan yang ia miliki.
“Tapi, tidak sekarang. Ada banyak polisi. Mungkin kalau menghadapi mereka saja kita bisa menang. Tapi, tidak dengan polisi-polisi itu. Jika kita menarik perhatian Isabel, dia akan waspada nanti. Itu akan semakin mempersulit kita untuk memasukkan Gold Dragon dan Queen Star di dalam istana.” Jordan tidak tahu penjelasannya kali ini bisa di terima Leona atau tidak. Tapi, ia berharap besar kalau Leona tidak lagi memaksanya untuk kembali.
“Baiklah, kali ini penjelasanmu aku terima,” ucap Leona pasrah.
__ADS_1
Jordan menarik sudut bibirnya ke samping. Senyumnya mengembang indah di bibir. Jordan bahagia karena lagi-lagi Leona mau menurut dengan apa yang ia katakan. Jordan memegang tangan Leona dan membawa wanita itu melanjutkan perjalanan mereka.
Leona hanya bisa membuang napasnya dengan kasar sebelum mengikuti jejak langkah kaki Jordan. Ia kembali ingat dengan pertanyaan Jordan sebelum dua pria mencurigakan itu muncul. “Kenapa dia tidak ingat lagi dengan pertanyaannya tadi? Aku bahkan belum menjawabnya,” gumam Leona di dalam hati.
Jordan memandang ke depan dengan wajah bingung. Pria itu tidak tahu harus melanjutkan momen tadi atau tidak. Kini situasinya sudah berubah menjadi menegangkan. “Sepertinya aku harus mencari momen yang tepat untuk menanyakan perasaan Leona lagi,” gumam Jordan di dalam hati.
***
“Penyusup?” ucap Isabel dengan wajah kaget. “Apa kau yakin mereka berasal dari pasukan Gold Dragon dan Queen Star?”
“Benar, Putri. Saya melihat beberapa pasukan mereka tersebar di sekitar lokasi tersebut. Anak buah saya hampir saya menangkap mereka. Namun, dua orang pria berhasil mengalahkan anak buah saya.
“Putri, saya yakin mereka adalah sepasang penari yang ada di lokasi ice skating.” Pria itu mengeluarkan foto Letty dan Zean dan memberikannya kepada Isabel. Karena memakai topeng, pria itu tidak bisa melihat dengan jelas wajah Leona dan Jordan hingga akhirnya menuduh Letty dan Zean. “Wajah mereka sama dengan wajah penyusup istana beberapa minggu yang lalu, putri. Saya yakin mereka memiliki tempat di Belanda dan menyusun rencana untuk menyerang istana kita.”
Isabel menerima foto tersebut. Ia memandang wajah Zean dan Letty secara bergantian. “Wanita ini. Dia sangat dekat dengan Jordan. Apa tujuannya melakukan semua ini? Apa dia tahu kalau aku ada dibalik kematian Leona? Tapi, seharusnya dia juga memiliki hubungan yang tidak baik dengan Leona, kan?” gumam Isabel di dalam hati.
__ADS_1
“Putri, apa ada lagi yang ingin Anda tanyakan?” ucap pria berseragam resmi tersebut.
Isabel memandangnya dengan saksama. “Pieter, apa Clouse masih ada di Istana?”
Pieter menundukkan kepalanya. “Tuan Clouse masih ada di Belanda, Putri. Tapi, saya tidak tahu di mana ia kini berada. Apa putri ingin bertemu dengan Tuan Clouse? Saya akan mencarinya dan mengatakan kepadanya agar segera menemui putri,” ucap pria bernama Pieter tersebut.
Isabel meletakkan foto Zean dan Letty ke dalam api yang menyala-nyala. Wanita itu sangat murkah karena kini keberadaan musuhnya sudah semakin dekat sedangkan Clouse tidak ada didekatnya.
“Ya. Beri perintah kepadanya untuk segera menemuiku! Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan kepadanya.”
“Baik, Putri ....”
“Satu lagi. Perkuat keamanan kita. Aku tidak ingin ada kesalahan saat pesta ulang tahunku nanti. Aku ingin merayakan hari kelahiranku dengan bahagia tanpa adanya halangan apapun!”
“Baik, Putri. Saya permisi dulu.”
__ADS_1
Isabel duduk di sebuah sofa dengan wajah gusar. Wanita itu menopang kepalanya dengan tangan. Ia kini berpikir keras untuk mengusir musuhnya dari negara yang ia miliki. Walaupun kini Isabel memiliki banyak polisi militer dari berbagai negara, tapi tetap saja ia merasa tidak aman ketika tanggal ulang tahunnya semakin dekat.
“Tidak. Aku tidak bisa seperti ini. Aku yakin, Clouse pasti sedang merencanakan sesuatu,” gumam Isabel penuh keyakinan. “Ya. Dia tidak pernah gagal dalam menyusun rencana. Aku yakin kali ini aku akan tetap menang. Apa lagi mereka ada di wilayah kekuasaanku.”