Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 69


__ADS_3

Lana mengambil bubur yang baru saja di bawakan pelayan. Sebelum Oliver benar-benar sembuh, pria itu tidak akan mau kembali ke Hongkong. Lukas juga memilih menurut saja walau kini ia lihat kondisi Oliver sudah jauh lebih baik. Bahkan bertarung saja mungkin sudah bisa.


"Buka mulutmu, Oliver!" Lana menatap sinis ke arah Oliver yang terlihat tidak suka dengan bubur di sendok. Ia menggeleng pelan sambil menatap wajah Lana.


"Mom, ini sama sekali tidak enak!"


Katterine dan Letty yang ada di dalam kamar itu hanya bisa diam sebagai penonton. Sebenarnya mereka ingin tertawa, tapi efeknya bisa sangat buruk. jika Oliver memutuskan untuk tidak makan maka pria itu tidak akan cepat sehat.


"No! Buka mulutmu sekarang!" Lana menatap tajam wajah putranya.


Kali ini Oliver hanya bisa pasrah. Dengan wajah sedikit geli ia membuka lebar mulutnya. Seluruh isi di sendok ia lahap namun ia tahan di mulut. Rasanya cukup aneh mengingat ia tidak suka makan bubur. Oliver ingin ibu kandungnya itu cepat-cepat kembali ke Hongkong agar tidak memaksanya melakukan hal seperti ini lagi.


"Cepat habiskan. Kenapa kau menyimpannya di dalam mulut seperti itu. Kau sama saja dengan seekor kambing."


"Mom," protes Oliver dengan mulut di penuhi bubur. Jika saja ia tidak segera menelannya mungkin Lana akan menyamakan dirinya dengan hewan lainnya.


"Oliver, kau sudah besar. Jangan manja seperti anak kecil." Lana mengambil satu sendok bubur lagi dan meniupnya agr tidak panas.


Dengan helaan napas yang begitu berat. Oliver mengacak rambutnya. "Mommy yang memperlakukanku seperti anak kecil. Aku bisa makan sendiri." Oliver berusaha merebut mangkuk bubur di tangan Lana. Sayangnya hal itu tidak berhasil karena dengan gerakan cepat Lana menjauhkan mangkuk bubur tersebut.


"Lawan mommy dulu jika kau menginginkannya," ledek Lana penuh kemenangan. Ia menyodorkan sendok di depan mulut Oliver. Bahkan memutar-mutar sendok tersebut seolah sedang menyuapi balita.


"Buka mulutmu Oliver, pesawat segera masuk."


Oliver membuka mulutnya lagi. Kali ini Katterine dan Letty tidak bisa menahan tawa mereka. Ekspresi wajah Oliver benar-benar terlihat lucu. Walau sebenarnya pria itu tersiksa.


"Anak pintar mommy. Oliver sayang, kau harus menghabiskan makananmu agar kau cepat sehat."


Oliver memasang senyum terpaksa. "Iya mommy," jawabnya dengan suara yang sengaja di buat mirip dengan anak kecil.


Lukas yang melihat kejadian itu hanya menggeleng kepala. Selama menikah dengan Lana, hal yang ditakutkan Lukas adalah ketika dia sakit. Karena bukan hanya harga dirinya saja yang jatuh. Setelah sehat Lukas tidak lagi berani memasang wajah galak di depan bawahannya.


"Anak pintar ciapa ini." Lana mengacak rambut Lukas.


"Anak pintar mommy," jawab Oliver setelahnya.

__ADS_1


Suasana di ruangan itu benar-benar ramai hingga membuat Emelie tertarik untuk masuk. Setelah mengetuk pintu, seorang pelayan membukakan pintu dan mengizinkan Emelie masuk ke kamar Oliver.


"Apa aku mengganggu kalian?" tanya Emelie sambil berjalan mendekat. Ia ingin duduk di sofa yang sama dengan Katterine. Dari sudut situ dia juga bisa dengan jelas memandang wajah Lana dan Oliver.


"Tidak, Nona." Lana meletakkan mangkuk bubur di atas nakas. Wanita itu merasa segan jika tidak menemani Emelie berbincang-bincang.


"Katterine, apa kau bisa menolong Tante?" Lana menatap wajah Katterine. Ia sudah tahu perihal hubungan putranya dan Katterine. Maka dari itu Lana tidak segan-segan lagi meminta bantuan calon mantunya.


"Dengan senang hati Tante." Katterine beranjak dari kursinya. Ia berjalan mendekati tempat tidur Oliver. Sedangkan Lana duduk di kursi yang sebelumnya diduduki Katterine.


"Lana, sebelumnya saya mau minta maaf karena tidak bisa menjaga Oliver dengan baik."


"Jangan katakan hal seperti itu lagi, Nona. Oliver hidup di jalanan. Wajar saja kalau dia mendapatkan hadiah seperti ini. Justru saya ingin minta maaf kepada Anda karena Oliver tidak bisa menjaga Pangeran Jordan dengan baik."


"Tidak, Lana. Aku yang salah."


Di saat dua wanita itu sedang bercerita, Katterine mulai mengambil mangkuk bubur yang tadi di pegang Lana. Agak ragu memang. Katterine tahu kalau Oliver pasti sudah sangat bosan memakan makanan bayi seperti itu.


"Apa kau sudah kenyang?" tanya Katterine dengan suara berbisik.


Katterine tersenyum bahagia. Dengan penuh semangat ia mengambil sesendok bubur agar bisa menyuapi Oliver. Oliver sendiri membuka mulutnya dan menerima suapan itu dengan wajah bahagia. Lukas semakin geleng-geleng kepala melihat tingkah putranya yang kasmaran. 


Tanpa sengaja Lukas memandang wajah Letty. Kali ini pikiran pria itu dipenuhi dengan tanda tanya. Ketika Katterine ada di dekat Oliver, justru wajah Letty terlihat berubah. Lukas tidak pernah tahu kalau sebenarnya Letty sedang memikirkan seseorang. Bukan bersikap tidak suka terhadap hubungan Katterine dan Oliver.


Letty kembali ingat dengan Miller. Hari ini pria itu akan pergi ke negaranya. Ia merasa sudah jauh lebih tenang meninggalkan sahabatnya. Namun, sebelum pergi Miller sempat menanyakan sesuatu kepada Letty.


"Letty, jika kau membutuhkan seseorang untuk mendengarkan ceritamu. Hubungi aku. Atau begini saja, bagaimana kalau kau ikut denganku. Aku akan membawamu bersenang-senang nanti."


Saat itu Letty menolak tawaran Miller, tapi entah kenapa kali ini hatinya merasa menyesal.


"Letty!" 


Letty kaget ketika Lukas menyentuh pundaknya. Wanita itu memandang Lukas dengan wajah panik.


"Ya."

__ADS_1


"Apa yang kau pikirkan?'


"Tidak ada."


"Daddy tahu kau memikirkan sesuatu."


Pertanyaan Lukas membuat semua orang yang ada di ruangan itu kini memandang Letty. Namun Letty sendiri tidak mau ada yang tahu apa yang terjadi antara dirinya dan Miller. Maka dari itu ia mencari-cari topik lain untuk melindungi dirinya.


"Soal Zean. Aku curiga dengannya. Kenapa dia ada di tempat kejadian."


"Zean?" celetuk Oliver. Memang dia belum tahu soal Leona yang pernah di selamatkan oleh Zean.


"Yah. Aku berpikir kalau Zean belum bisa move on dari Leona. Maka dari itu dia selalu melindungi Leona secara diam-diam."


"Letty, kenapa kau mengatakan hal itu!" Protes Lana. Ia tahu di ruangan itu ada Emelie. Bagaimana kalau Emelie berpikiran aneh-aneh tentang Zean dan Leona nantinya.


"Sorry, Mom. Hanya perkiraanku saja." 


"Sebenarnya ada satu hal yang belum pernah aku ceritakan." Katterine menurunkan mangkuk bubur tersebut. Ia terlihat mengenang sesuatu.


"Apa yang kau ketahui?" tanya Oliver penasaran.


"Sebenarnya saat penyerangan di istana terjadi, aku melihat seorang pria yang mirip dengan Zean. Tapi karena keadaan begitu genting, aku tidak lagi terlalu fokus padanya."


"Untuk apa Zean di istana jika dia tidak muncul untuk membantu!" Oliver sendiri mulai curiga dengan mantan Leona itu. Di tambah lagi dengan cerita Letty barusan.


"Mungkin hanya kebetulan saja," ucap Emelie dengan senyuman. Ia tahu bagaimana hubungan dengan mantan. Walau rasa curiga mulai muncul, tapi Emelie tidak mau membuat keadaan semakin buruk.


"Apa mungkin Zean ada hubungannya dengan hilangnya Jordan?" Sambung Letty penuh semangat.


"Itu tidak mungkin!" 


Semua orang mengalihkan pandangan mereka ke pintu. Di sana, Leona berdiri sambil memegang potongan buah di tangannya. Awalnya memang Leona sedang berbincang dengan Emelie setelah ia menemani Jordan di kamar. Namun tiba-tiba saja Emelie meminta Leona untuk mengambilkan buah. 


Saat Leona kembali, Emelie sudah menghilang. Seorang pelayan memberi tahu kalau Emelie ada di dalam kamar Oliver. Betapa kagetnya Leona ketika mendengar cerita di dalam kamar tersebut. Semua orang menyalahkan Zean seolah pria itu benar-benar terlibat.

__ADS_1


__ADS_2