Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Biarkan Aku Masuk


__ADS_3

Zean menghentikan langkah kakinya. Ia memandang wajah beberapa bodyguard yang berdiri di hadapannya. Pria yang sejak tadi mengikuti Zean kini hanya bisa diam di tempatnya berdiri. Seorang pria telah menodongkan senjata api untuk mengancam pria itu agar tidak melangkah lebih jauh lagi.


Biao menatap wajah Zean dengan tatapan kebencian. Sharin yang ada di lorong itu bersama dengan Anna lebih memilih untuk masuk ke dalam ruangan Leona. Mereka tidak ingin ikut campur dengan urusan para pria.


"Pergi dari sini! Jangan pernah perlihatkan wajahmu lagi di hadapanku!" ujar Biao dengan wajah menahan amarah. Ia tidak suka Zean ada di hadapannya. Apa lagi sampai masuk ke dalam ruangan itu untuk menemui Leona.


"Maafkan saya. Saya tahu kalau saya salah. Tapi, tolong. Izinkan saya melihat keadaan Leona sebentar saja. Saya ingin mengucapkan maaf kepadanya," ucap Zean dengan wajah bersungguh-sungguh. Terlihat jelas ketulusan di kedua bola matanya. Zean mengatupkan tangannya sebagai bentuk permohonan maaf. Ia benar-benar butuh izin dari Biao agar bisa masuk ke dalam ruangan mantan pacarnya tersebut.


"Bawa Pria ini pergi dari sini. Pastikan dia tidak ada di rumah sakit ini lagi," perintah Biao kepada bodyguard miliknya.


"Baik, Tuan," jawab bawahan Biao mantap. Tanpa menunggu terlalu lama, mereka memegang lengan Zean dan ingin menyeret pria itu agar pergi dari sana.

__ADS_1


Namun, Zean tidak menyerah begitu saja. Ia melawan beberapa pria yang berusaha menyeretnya pergi. Bahkan bawahannya yang sejak tadi dalam posisi terancam juga sudah memukul pria yang sejak tadi menodongkan pistol ke kepalanya. Pertarungan itu kembali terjadi. Tepat di depan ruangan Leona dirawat.


“Leona, bangun Leona. Maafkan aku!" teriak Zean dari kejauhan. Pria itu berusaha keras menerobos masuk ke dalam. Sayangnya, beberapa bodyguard yang menjadi bawahan Biao terus saja menghalangi Zean. Mereka tidak memberi kesempatan kepada Zean untuk masuk.


Shabira dan Kenzo menemani Daniel membawa Serena ke sebuah ruangan yang tidak jauh dari ruangan Leona. Wanita tangguh itu tidak lagi sadarkan diri. Serena merasa lelah dengan cobaan hidup yang menghampirinya. Ia tidak suka melihat pemandangan dimana putri tercintanya tidak lagi berdaya seperti itu.


Serena ingin Leona tersenyum dan kembali memeluknya seperti biasa. Napasnya benar-benar seperti terhenti tadi. Serena bahkan tidak mampu menguasai dirinya hingga akhirnya ia jatuh pingsan.


Di dalam ruangan Leona ada Kwan, Aleo, Tamara, Angel, Anna, Sharin dan Alana. Biao dan Tama lebih memilih berdiri di luar ruangan. Suasana yang semula sunyi itu kini dipenuhi dengan tetes air mata dan perasaan tidak terima. Semua orang merasa sedih dengan keadaan Leona. Leona sudah seperti malaikat di dalam hidup mereka. Leona adalah sumber kebahagiaan dan semangat bagi semua orang.


Tama berjalan mendekati Biao. Pria itu menahan tubuh Biao agar tidak melakukan tindakan apapun kepada Zean, Bagaimanapun juga kini mereka ada di rumah sakit. Tidak baik untuk berkelahi apa lagi saling menyalahkan seperti ini.

__ADS_1


“Biao, biarkan saja pria itu masuk. Kau tidak perlu melarangnya hingga seperti ini,” ucap Tama pelan.


"Tama, kau selalu menggunakan hati," umpat Biao tidak terima. Biao pria yang keras. Ia tidak mudah memaafkan jika seseorang telah melukai dan menyakiti keluarganya. Leona sudah seperti putri kandung baginya. Biao tidak suka dengan semua yang telah Zean lakukan kepada Leona.


"Biao, beri dia kesempatan sekali saja untuk melihat Leona di dalam. Aku yakin, dia tidak akan mencelakai Leona lagi," ucap Tama penuh keyakinan.


Zean berlutut di hadapan Biao. Beberapa bodyguard milik Biao telah kalah. Mereka semua berbaring dengan wajah penuh pukulan. Zean menatap wajah Biao dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Saya mohon. Sekali saja. Setelah menemuinya, saya janji tidak akan muncul di hadapan Anda lagi. Saya akan pergi jika memang itu hal yang Anda inginkan," lirih Zean dengan suara memohon.


Biao memutar tubuhnya. Ia memang telah luluh dengan bujukan Tama dan permohonan Zean. Hingga pada akhirnya, Biao menyerah. Pria itu memberikan kesempatan kepada Zean untuk masuk ke dalam.

__ADS_1


"Hanya lima belas menit," ketus Biao.


Zean mengukir senyuman sembari beranjak dari posisinya berlutut. "Baiklah. Terima kasih banyak," ucap Zean dengan wajah kegirangan. Tanpa menunggu lama lagi, Zean masuk ke dalam ruangan yang menjadi tempat Leona di rawat.


__ADS_2