Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 117


__ADS_3

"Kau yakin di sini aman?" Clara mengitari lokasi tempatnya beristirahat saat ini. Bukan sebuah rumah. Zean memberhentikan mobil mereka di sebuah hutan yang gelap dan dingin. Tidak ada penerangan lain ketika mesin mobil di matikan. Bahkan cahaya rembulan terlihat enggan menerangi keberadaan mereka saat ini.


"Sebenarnya kita bisa saja tidur di hotel terdekat. Tapi, aku tidak bisa menjamin jika besok pagi kita masih ada di sana. Mungkin saja ketika bangun besok pagi tubuh kita sudah terikat," jawab Zean santai. Ia melempar jaket ke arah Clara.


"Apa ini?" Clara memeluk jaket yang menabrak tubuhnya. 


"Pakai itu agar kau tidak kedinginan. Kau bisa tidur di dalam mobil. Tutup kacanya namun buka sedikit agar kau bisa bernapas. Aku tidak bisa menghidupkan mesinnya karena khawatir bahan bakar nya tidak cukup."


Clara terlihat protes. Namun, ketika ia melihat pengawal Zean yang kini sedang mengobati lukanya. Clara mulai merasa bersalah. Kalau bukan karena bertemu dengannya, mungkin kini Zean masih hidup dengan tenang tanpa masalah.


"Maafkan aku." Clara menunduk. Zean yang mau melangkah pergi menahan langkahnya. Ia menatap wajah Clara dengan bingung.


"Maaf?"


Clara mengangguk. "Kalian seperti ini karena menolongku. Padahal kita tidak saling kenal dan kalian tidak memiliki hutang budi padaku." Clara berjalan mendekati pengawal Zean. "Aku akan bantu membersihkan lukanya."


"Jangan Nona. Ini hanya luka kecil."


"Luka kecil? Jika aku jadi dirimu, aku sudah menangis 7 hari 7 malam. Ini pasti sangat perih. Seharusnya di tangani dokter agar tidak infeksi."


Zean hanya diam melihat tingkah laku Clara. Ketika bawahannya memandang, Zean hanya mengangguk pelan. Ia meminta bawahannya itu pasrah saja dengan apa yang akan dilakukan Clara.


"Oke, sudah selesai." Clara meletakkan alat medis yang sempat ia gunakan kembali ke kotaknya. 


"Terima kasih, Nona."


"Sama-sama." Clara tersenyum. Ia melihat Zean yang kini duduk di atas batu besar. Pria itu seperti sedang memikirkan sesuatu. Dengan kaki terlipat ke atas ia mengamati hutan tempatnya bersembunyi.


Clara mendekati Zean sambil membawa kotak P3K. Ia juga sempat melihat luka di dahi Zean dan ingin mengobatinya.


"Kau tidak tidur?" ujar Zean sebelum Clara sangat dekat dengannya.


"Aku tidak bisa tidur." Clara berdiri di samping Zean. Ia melihat luka kecil di dahi Zean. "Apa aku boleh membersihkannya?"


"Aku tidak suka di sentuh wanita."

__ADS_1


Clara menyipitkan kedua matanya. "Aku juga tidak suka menyentuh orang asing. Tapi… untuk kau pengecualian."


Zean menghela napas kasar. "Baiklah, untuk wanita sepertimu pengecualian."


Clara semakin semangat mengobati luka Zean ketika sudah mendapat izin. Ia membuka kotak P3K nya dan siap menjadi dokter dadakan.


"Apa yang terjadi pada hidupmu?" tanya Clara sambil membersihkan luka Zean.


"Hidupku?"


"Ya. Kesalahan apa yang kau lakukan hingga kau tidak bekerja lagi di S.G. Group?"


Zean paham dengan apa yang dipikirkan Clara. Sebenarnya ingin protes, tapi protes dengan wanita seperti Clara tidak akan ada akhirnya.


"Aku jatuh cinta pada wanita."


Clara menahan gerakannya. "Hanya gara-gara jatuh cinta?" ujar Clara tidak percaya. Ia melanjutkan pengobatannya.


"Memang aku pernah dengar kalau pengawal S.G Group bukan orang sembarangan. Mereka di gaji dengan nominal yang besar tapi harus disiplin. Jadi kau keluar karena mengejar wanita yang kau cintai ya? Apa mereka tidak mau Merina pria beristri?"


Clara tertegun. Ia kembali ingat dengan dirinya. Sebuah hal yang menyakitkan ketika melihat Aleo menyayangi wanita lain.


"Lukanya sudah bersih. Gunakan ini untuk menutupi lukanya." Clara menutup kotak P3K nya dan pergi dari sana. Sepertinya ia tidak mau melanjutkan perbincangannya dengan Zean saat ini.


Zean memandang kepergian Clara. "Kenapa dia pergi? Apa perkataanku ada yang menyinggung hatinya?"


Clara menutup pintu mobil ketika sudah ada di dalam. Ia membuka jendela sedikit saja dan mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Jaket yang diberikan Zean hanya ia peluk layaknya sebuah guling.


"Kak Aleo, jika detik ini kau tahu apa yang aku alami. Apakah kau akan datang untuk menolongku? Aku sudah berjuang keras melupakanmu, tapi kenapa selalu saja ada hal yang mengingatkanku padamu."


Clara memejamkan kedua matanya. Namun, ia bleum terlelap dalam tidurnya. Dengan tangan memeluk jaket, Clara kembali mengenang masa indahnya saat masih bersama Aleo dulu.


***


"Kak Aleo, apa ini?" Clara yang masih mengenakan seragam SMA merasa bahagia ketika pria tampan berdiri di hadapannya. Bukan hanya untuk dipamerkan dengan teman satu sekolah saja. Tapi Clara merasa tersanjung karena ada pria yang begitu perhatian dengannya.

__ADS_1


"Buka saja. Semoga kau suka." Aleo yang saat itu masih di bangku kuliah terlihat bahagia bisa mengunjungi Clara. Membawa kotak berisi hadiah, ia yakin wanita di hadapannya pasti akan bahagia.


"Baiklah, aku akan membukanya. Tapi, tidak di sini." Clara menggandeng tangan Aleo dan membawa pria itu menjauh. Ia tidak suka rekannya yang lain memandang wajah tampan Aleo terlalu lama.


Di sebuah taman sekolah, Clara duduk di bangku besi. Ia segera membuka kotak yang diberikan Aleo untuk melihat isinya. Wajahnya berseri awalnya. Tapi, ketika ia melihat isi kotak tersebut, ekspresi wajahnya terlihat aneh.


Aleo yang menyadari perubahan sikap Clara duduk di samping Clara. "Apa kau tidak menyukainya?"


Clara tersenyum terpaksa. Ia mengambil boneka yang memegang bantal love bertulis I love you di dalamnya.


"Apa ini kak?" 


"Boneka," jawab Aleo dengan wajah penuh harap.


"Tulisannya …." Clara menunjuk tulisan di bantal love boneka tersebut.


"Itu …." Aleo terlihat bingung menjawab pertanyaan Clara. "Aku lihat bonekanya sangat cocok denganmu, jadi aku beli saja."


"Kak, setelah lulus aku mau lanjut kuliah. Setelah kuliah, aku ingin mencoba dunia yang aku impikan sejak dulu. Dunia model. Aku tidak pernah memikirkan soal cinta. Aku merasa kalau cinta hanya akan menghalangi mimpiku. Usiaku masih muda. Aku tidak suka ikatan dengan siapapun."


"Clara, ini hanya boneka. Kau tidak perlu memikirkan hal yang lain. Hanya hadiah kecil."


Clara memandang wajah Aleo. "Kak, aku sangat menyayangimu. Tapi, apakah bisa kita seperti ini saja sampai waktunya tiba? Setidaknya sampai aku puas menjalani hidupku. Jangan pernah berubah kak. Tetap jadi Kak Aleo yang aku kenal seperti ini."


Aleo tersenyum. Ia menarik Clara ke dalam pelukannya. "Apa yang kau pikirkan? Aku akan tetap menjadi Kakakmu. Boneka ini hanya hadiah. Jangan pikirkan hal berlebihan."


"Kak, kita akan bersama. Tapi tidak sekarang. Di dalam hidupku hanya ingin mengenal kau sebagai lelakiku. Aku ingin kau menjadi suamiku kelak. Untuk saat ini sebaiknya kita jalani status seperti ini. Menjadi adik kakak justru sangat menyenangkan," gumam Clara di dalam hati.


***


Clara menghapus air matanya. "Seandainya dulu aku bisa memahami apa yang dirasakan kak Aleo, mungkin kejadian seperti ini tidak akan aku alami. Aku tahu kak Aleo pria yang setia. Jika sudah menjalin ikatan denganku dia pasti akan setia. Kalau saja aku bilang aku ingin menjadi istrinya kelak, mungkin dia akan terus berada di sisiku. Kenapa aku tidak mengatakannya secara langsung. Aku benar-benar menyesalinya saat ini."


Clara membuka matanya secara perlahan. Wajahnya kaget bukan main ketika melihat Zean ada di hadapannya.


"Apa yang kau lakukan?" Clara melempar Zean dengan jaket yang sejak tadi ia peluk.

__ADS_1


__ADS_2