Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Dendam Zean


__ADS_3

Zean duduk di sebuah kursi dengan wajah sedihnya. Perginya sosok kakek yang sangat ia sayangi memang membuatnya terpukul. Sejak awal ia sudah ikhlas jika malaikat maut menjemput sang kakek karena memang usia tidak lagi muda. Namun, saat melihat jasad pria tua pergi dengan cara yang  begitu tragis, membuat Zean tidak terima. Ia ingin balas dendam. Ia ingin membunuh seseorang yang sudah merenggut paksa nyawa sang kakek.


“Berani sekali dia membunuh di wilayah kekuasaanku,” umpat Zean kesal. Pria itu mere*mas kertas yang ada di tangannya. Kertas itu berisikan sebuah tulisan Queen Star. Ya. Memang sejak awal, Leona meninggalkan jejak sebagai tanda kalau Queen Star yang membunuh pria tua tersebut.


Zean tahu dan kenal dengan nama Queen star. Namun, pria itu tidak pernah menyangka kalau Leona lah yang memimpin geng mafia yang terkenal sangat kejam tersebut. Zean hanya berpikir, kalau mungkin Leona membayar mereka untuk menghancurkan hidupnya saat ini. Zean tahu, Leona pasti kembali muncul di hadapannya karena ingin membalaskan dendam. Tapi, pria itu tidak pernah kepikiran kalau Leona sendirilah yang turun tangan untuk melakukan semua itu.


Suara pintu terbuka. Hal itu membuat Zean tersadar dari lamunannya. Pria yang sejak tadi menunduk itu kini telah mengangkat kepalanya. Melempar remukan kertas yang ada di tangannya ke arah tong sampah. Zean menatap wajah bawahannya dengan tatapan tidak terbaca.


Seorang pria berjas hitam menunduk hormat di hadapan Zean. Pria itu menatap wajah Zean dengan tatapan yang sangat tajam setelahnya.


“Maafkan kami, Bos. Kami tidak berhasil mendapatkan wajah wanita itu. Semua pengawal dan karyawan hotel yang sempat melihat wajahnya telah tewas tertembak. Seluruh camera cctv juga mati. Tidak ada satu petunjuk yang bisa membuat saya mendapatkan wajah pelaku pembunuhan tersebut,” ucap pria itu dengan wajah takut-takut. Kabar yang kini ia sampaikan bukan kabar baik. Bisa saja membuat reaksi sang tuannya menjadi murkah.


“Wanita? Kalian tidak bisa mengalahkan wanita?” ucap Zean dengan sorot mata yang sangat tajam. Pria itu beranjak dari kursi besar yang ia duduki dan melangkah ke arah jendela. “Pemimpin Queen Star wanita? Sepertinya memang sejak dulu geng mafia itu di pegang oleh wanita. Apa benar Leona yang membayar mereka untuk membalaskan dendam kita?” ucap Zean lagi.


“Nona Leona juga menghilang, Bos. Saya dan seluruh tim kita sudah melacak tempat terakhir yang menjadi tempat tinggal Nona Leona, tapi ia tidak ada di sana. Bahkan barang-barangnya masih tetap ada di rumah tersebut. Nona Leona menghilang sejak keluar dari kantor kita,” ucap pria itu dengan penuh penjelasan.


“Kau sudah memeriksa bandara? Mungkin dia sudah pergi meninggalkan Meksiko,” ucap Zean lagi. Walau di dalam hatinya masih tersimpan harapan besar agar Leona tetap ada di Meksiko.


“Tidak ada, Bos. Semua data hanya menunjukkan data kedatangan Nona Leona. Tidak ada data yang menunjukkan kepergian nona Leona,” jawab Pria itu dengan wajah yang serius.


Zean diam membisu. Pria itu menarik jendela kaca yang ada di hadapannya. Ia menghirup udara malam yang terasa sangat dingin. Memejamkan mata sambil membayangkan wajah cantik Leona. Wanita yang tidak bisa ia lupakan hingga detik ini. Wanita yang masih ada di dalam hatinya.


“Honey, apa kau akan membayar ratu Queen Star untuk membunuhku juga? Kau marah padaku hingga ingin menyiksaku dengan cara seperti ini?” gumam Zean di dalam hati. Pria itu tiba-tiba saja ingat akan sesuatu. Siapa lagi kalau bukan Kwan. Ya. Data terakhir yang ia dapat memang Kwan sedang pergi ke Sapporo meninggalkan Leona sendirian di Meksiko.


“Apa Kwan masih ada di Sapporo?” tanya Zean lagi kepada pria yang ada di belakangnya.


“Pria itu akan berangkat ke San Fransisco, Bos. Mungkin dalam beberapa minggu ini ia tidak akan mungkin ada di samping Nona Leona,” ucap pria itu lagi.


Zean mengukir senyuman kecil. Ini saat yang tepat bagi Zean untuk mendekati Leona lagi. Setidaknya dengan cara seperti ini, ia bisa membuat Leona menghentikan niatnya untuk balas dendam yang membuat dirinya rugi lebih banyak lagi.


“Temukan keberadaan Queen Star. Aku akan membunuh langsung ratu mafia itu. Dan ... untuk Leona. Segera temukan dia. Aku sudah sangat merindukannya. Aku ingin segera bertemu dengan dirinya,” ucap Zean lagi.


“Baik, Bos. Saya akan berusaha keras untuk menemukan keberadaan pasukan Queen Star dan Nona Leona,” ucap Pria itu sebelum memutar tubuhnya. Ia pergi meninggakan ruangan tersebut. Meninggalkan Zean sendirian yang masih berada di depan jendela untuk menikmati keindahan kota Meksiko pada malam hari.


 


***

__ADS_1


Sapporo.


Kwan berjalan mondar mandir dengan wajah khawatir. Sudah berulang kali ia menghubungi Leona tapi tidak juga mendapat kabar dari wanita itu. Kwan sangat khawatir. Ingin sekali detik itu juga ia berangkat lagi ke Meksiko untuk melihat langsung keberadaan Leona. Tapi, itu tidak mungkin. Kwan juga memiliki tugas penting untuk mengelabuhi semua orang yang ada di Sapporo.


Shabira yang sejak tadi memperhatikan putra semata wayangnya kebingungan terlihat bingung juga. Wanita itu berjalan mendekati posisi Kwan berdiri. “Kwan, apa yang terjadi?” ucap Shabira pelan. Wanita itu bahkan menepuk pundak Kwan dan melirik ponsel Kwan. Ada nama Leona di layar ponsel pria tersebut.


“Kak Leona. Dia tidak memberiku kabar hari ini,” ucap Kwan dengan wajah khawatirnya.


Shabira mengukir senyuman. “Kau mengkhawatirkannya?” ucap Shabira sembari berjalan ke arah sofa. Wanita itu duduk dengan sebuah bantal di atas pangkuannya.


Kwan mengalihkan pandangannya. Pria itu menatap wajah Shabira dengan tatapan penuh arti. “Ma, jangan berpikiran yang aneh-aneh. Aku sudah menganggap kak Leona seperti kakak kandungku, ma. Mama jangan pernah punya pemikiran kalau kami saling mencintai. Apa lagi mengulang rencana perjodohan konyol itu lagi,” umpat Kwan kesal. Pria itu menjatuhkan tubuhnya di sofa yang sama dengan Shabira.


Shabira tertawa kecil saat mendengar protes putra kesayangannya. “Tapi wajahmu itu terlihat sedang mengkhawatirkan sang kekasih yang tertinggal di negara seberang,” jawab Shabira dengan senyum indah di bibirnya.


Kwan memandang ke  arah depan. “Bagaimana mungkin aku tidak khawatir, Ma. Di sana ada Zean. Walau kini kak Leona memiliki kemampuan untuk melindungi dirinya. Tapi, tetap saja dia seorang wanita. Aku takut ia terjebak dalam rayuan pria jahat itu lagi. Dan … kembali mencintainya. Aku tidak ingin Kak Leona kembali kepada pria itu,” gumam Kwan di dalam hati.


“Kwan, apa kau mendengar mama?” ucap Shabira dengan wajah yang sudah serius.


Kwan mengalikan pandangannya. Ia menatap wajah Shabira dengan wajah bingung. Sejujurnya memang pria tangguh itu tidak mendengar kalimat yang baru saja dikatakan oleh ibunya. Kwan hanya bisa mengukir senyuman dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Shabira mengangkat kedua bahunya. “Paman Daniel memintamu untuk pergi ke San Farnsisco?” tanya Shabira dengan wajah bingung.


“Hmm, ya. Aku tidak suka San Fransisco,” jawab Kwan sambil membayangkan wajah Alana lagi.


“Kenapa? Kita memiliki saudara di sana. Ada Alana juga. Bukankah kau juga pernah bertemu dengan Alana beberapa tahun yang lalu?” ucap Shabira dengan wajah serius.


“Bahkan jatuh cinta padanya, Ma,” jawab Kwan yang hanya berani di dalam hati.


“Ya. Kwan tahu Alana. Bahkan sangat kenal dengannya,” jawab Kwan dengan wajah jutek. Pria itu masih merasa kecewa atas sikap Alana yang menolaknya beberapa tahun yang lalu. Sejak saat itu, Kwan dan Alana tidak pernah bertemu atau melakukan komunikasi lagi. Bahkan di saat genting seperti ini saja. Kwan tidak mau meminta bantuan kepada Alana lagi.


“Kau memiliki masalah dengan Alana?” tanya Shabira dengan dahi mengeryit,


Kwan menghela napas. Pria itu bersandar di sofa yang ia duduki. Kedua matanya terpejam. “Kwan jatuh cinta sama Alana, Ma. Beberapa tahun yang lalu saat perjodohan itu. Kwan masih dalam tahap pendekatan dengan Alana,” jawab Kwan jujur. Pria itu sudha lelah menutupi perasaan yang ia rasakan dari ibunya.


Shabira menutup mulutnya. “Kwan, apa kau serius?” tanya Shabira dengan wajah kaget.


Kwan mengangguk pelan. Ia membuka matanya dan menatap wajah Shabira. “Tapi, Alana tidak suka Kwan. Sepertinya ia suka dengan Kak  Aleo,” ucap Kwan lagi. “Dia sangat perhatian bahkan selalu menjadikan Kak Aleo idola di dalam hidupnya.”

__ADS_1


“Tidak mungkin. Aleo tidak pernah bertemu dengan Alana. Ia juga lebih sering menghabiskan waktu di rumah untuk berkumpul bersama Tante Serena dan Paman Daniel. Setahu mama. Alana juga tidak menyukai Aleo,” ucap Shabira lagi.


Kwan beranjak dari posisi bersandarnya. Pria itu duduk dan menatap wajah Shabira dengan saksama. “Mama tidak bohong? Mama serius?” ucap Kwan dengan wajah penuh semangat.


Shabira mengangguk. “Ya, tentu. Kalau memang Aleo dan Alana berpacaran, tidak mungkin Paman Daniel mengirimmu ke San Fransisco untuk bertemu dengan Paman Biao,” ucap Shabira dengan wajah menyakinkan.


Kwan mengukir senyuman dengan wajah bahagia. Tidak tahu kenapa, tapi harapan untuk memperjuangkan cinta Alana kembali muncul di dalam hatinya semenjak beberapa tahun ini terkubur.


“Kwan, kau benar-benar mencintai Alana? Apa mau mama bantu?” ucap Shabira pelan.


Kwan menggeleng pelan. “Tidak, Ma. Kwan akan berjuang mendapatkan Alana dengan cara Kwan sendiri. Untuk perjuangan cinta Kwan kali ini, mama harus rahasiakan dari papa,” ucap Kwan dengan wajah serius.


Shabira mengangguk dengan wajah ragu. “Tapi, kenapa? Kau bisa menanyakan Papa bagaimana cara mendekati wanita,” ucap Shabira pelan.


Kwan menaikan satu alisnya. “Ma, jangan bilang kalau waktu muda papa juga playboy seperti Kwan,” ucap Kwan ragu-ragu.


Shabira menghela napas. “Sepertinya bakat itu yang mengalir di dalam dirimu. Bahkan papamu juga tidak berbakat mengurus perusahaan,” ucap Shabira dengan wajah kesal.


“Sayang, jangan lanjutkan. Aku akan menghukummu nanti,” ucap Kenzo dengan tangan terlipat di depan dada.


Kwan segera memutar kepalanya. Pria itu menutup mulutnya saat melihat Kenzo berdiri dan bersandar di dinding yang berada tidak jauh dari posisinya duduk bersama Shabira.


“Pa, sejak kapan papa di situ?” tanya Kenzo takut-takut.


Kenzo menghela napasnya. Pria itu berjalan mendekati sofa yang di duduki anak istrinya. Ia juga ingin bergabung dengan keluarga tercintanya. “Sejak kau mengatakan kalau suka dengan Alana,” jawab Kenzo dengan senyum di bibir.


Shabira mengangguk pelan. “Ya. ternyata sejak awal kita sudah salah paham. Makanya Kwan. Kau sering-sering curhat sama mama. Jangan memendam masalahmu sendirian,” ucap Shabira sambil menepuk pelan pundak Kwan. “Jika benar kau ingin berjuang mendapatkan Alana. Maka Mama dan Papa akan mendukungmu.”


Kenzo mengangguk pelan. “Ya. Kau harus memperjuangkan cintamu, Kwan. Perlakukan wanita dengan penuh perasaan dan kelembutan. Kau tidak boleh memaksannya. Apa lagi memintanya untuk melakukan hal yang tidak ia sukai,” ucap Kenzo.


Kwan mengukir senyuman. Dukungan kedua  orang tuanya membuat Kwan semakin bersemangat untuk mendapatkan hati Alana. Bahkan lupa dengan tujuan hidupnya menemani dan melindungi Leona saat ini.


“Alana, aku akan kembali memperjuangkan cintamu. Kali ini, tidak boleh ada kata penolakan. Kau harus menjadi kekasihkku,” gumam Kwan di dalam hati dengan wajah peuh keyakinan.


.


Buat reader... mohon dukungannya agar like dan komen di novel ini ya... vote juga... satu lagi jangan sering nabung bab...karena itu mempengaruhi level karya.. kita berjuang sama2 untuk naikin level novel ini ya... terima kasih sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2