
Letty yang sejak tadi ada di ruangan itu, memainkan senjata apinya. Ia menatap wajah Jordan dengan saksama. Ada senyum tipis di sudut bibirnya malam itu. “Akhirnya kita bertemu lagi Jordan Zein. Apa kau ke sini untuk mengantarkan nyawamu padaku?” gumam Letty di dalam hati. Wanita itu memainkan senjata apinya dan menatapnya dengan tatapan penuh arti.
“Apa yang kau lihat?” Tiba-tiba saja Leona muncul di belakang Letty. Wanita itu membawa sebotol minuman dan memberikannya kepada Letty. Ia duduk di kursi yang ada di samping Letty dengan tatapan yang tidak terbaca.
“Leona, apa kau ingat dengan janjimu? Kau berjanji untuk membunuh pria yang sangat aku benci,” ucap Letty dengan tatapan serius.
“Hmm, ya. Apa kau bisa memberi tahuku siapa nama pria itu dan di mana ia tinggal? Aku akan membunuhnya secepat mungkin agar kau bisa tenang dan tidak menagih hal itu lagi padaku,” jawab Leona pelan. Wanita itu meneguk minuman yang ada di hadapannya. Ia memandang botol minuman itu dan merasakan sensasi anggur mewah yang menjalar di tenggorokannya.
“Dia ada di sini. Di negara ini, di Meksiko,” ucap Letty penuh semangat.
“Benarkah?” tanya Leona pelan. Baru saja ia selesai mengatakan itu. Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Leona mengambil ponselnya. Ia melihat nama Kwan di sana. Bibirnya mengukir senyuman indah. “Hallo, Kwan. Apa kau sudah sampai?” tanya Leona penuh semangat.
“Kak, aku sudah sampai. Cepat kemari. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu,” jawab Kwan dari dalam telepon.
“Baiklah. Aku akan segera ke sana.” Leona mematikan sambungan teleponnya. Wanita itu menatap wajah Letty. “Kirimkan data pria itu. Aku akan membantumu menghabisinya,” ucap Leona lagi sebelum beranjak dan pergi.
Letty menghela napas. Wanita itu meneguk lagi minuman yang ada di hadapannya. “Tapi, aku sedikit ragu. Kau sepertinya tidak akan membantuku sama sekali. Kecuali, kau juga merasa sakit hati padanya dan membenci dirinya,” gumam Letty di dalam hati.
Jordan tidak lagi mau menunggu. Musik yang kencang itu sungguh membuat kepalanya pusing. Jordan beranjak dari kursi yang ia duduki dan memutuskan untuk pergi.
Langkah Jordan terhenti saat ia melihat wajah Letty yang juga ada di club malam yang sama dengannya. Pria itu berdiri dan menatap wajah Letty dengan saksama. Jordan kenal betul dengan wanita tersebut. “Apa yang kau lakukan di sini? Kau mengikutiku?” ucap Jordan dengan suara tidak suka.
__ADS_1
Letty melipat kedua tangannya. Wanita itu berjalan pelan mendekati posisi Jordan berdiri. “Pangeran Jordan, apa kabar? Lama tidak berjumpa ya?” ucap Letty dengan senyuman penuh arti.
Jordan hanya diam membisu. Pria itu memandang beberapa pengawal miliknya yang sudah siap untuk melindungi dirinya kapan saja.
Letty mengeluarkan sebuah pistol dan memainkannya dengan saksama. “Apa kau ingin tahu, rasanya di tembak oleh seseorang yang kau cintai?” ucap Letty dengan tatapan yang sangat tajam. “Kau mau tahu rasanya?”
“Aku tidak menembaknya. Kau salah paham padaku sejak awal. Itu semua kecelakaan. Saat itu aku ingin menolongnya,” ucap Jordan dengan wajah menyakinkan.
“Sayangnya aku tidak mempercayaimu. Senjata itu jelas-jelas ada ditanganmu,” ucap Letty yang saat itu sudah mengangkat pistolnya dan mengarahkannya ke arah Jordan.
Dalam hitungan detik saja, seluruh pasukan milik Jordan juga mengangkat senjata api mereka. Menodongkannya ke arah Letty sebagai bentuk ancaman.
“Aku tidak pernah takut mati. Kau pasti tahu itu,” ucap Letty lagi.
Jordan menghela napas saat melihat wajah pria yang ada di hadapannya. Pria itu juga membuang tatapannya ke arah lain. “Letty, kau harus percaya padaku. Aku tidak ingin memiliki musuh. Hidupku tenang dan damai selama ini. Tidak seperti dia,” sambung Jordan lagi.
Pria yang ada di samping Letty menatap tajam wajah Jordan. Ia membuang napasnya kasar. “Pangeran, kenapa kau menjatuhkanku?”
“Bukankah kau selalu memiliki musuh? Berbeda denganku,” ucap Jordan dengan wajah penuh percaya diri.
“Berhenti berbicara!” teriak Letty dengan wajah kesal. Wanita itu memandang wajah pria yang ada di hadapannya sebelum memutar tubuhnya. Ia pergi begitu saja dan melupakan niatnya untuk membunuh Jordan.
__ADS_1
Jordan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Ia memandang punggung Letty yang sudah menjauh dengan ekspresi dingin favoritnya. “Sepertinya ia menyukaimu, Oliver.”
Oliver memutar tubuhnya dan memandang punggung Letty dengan senyuman tipis. “Sayangnya aku tidak!” ucap Oliver dengan suara pelan.
Jordan tertawa kecil. “Kenapa kau bisa di sini? Bagaimana dengan Katterine?” sambung Jordan lagi. Pria itu merangkul pundak Oliver ia terlihat sangat akrab dengan pria berstatus sepupunya itu.
“Dia sangat merepotkan,” jawab Oliver singkat.
“Ya, Katterine memang seperti itu. Dia sengaja melakukan semua itu agar kau berhenti mengikuti hidupnya,” ucap Jordan dengan tawa kecil di bibirnya.
“Pangeran, apa yang anda lakukan di sini?” tanya Oliver penasaran.
“Aku mencari seseorang,” jawab Jordan. Wajah pria itu yang semula berseri telah berubah sedih. “Apa kalian ke sini hanya untuk menjemputku?” ucap Jordan lagi.
“Pangeran, kami di beri perintah untuk membawa Anda kembali ke Cambridge. Anda harus ikut dengan Raja dan Ratu berkunjung ke Sapporo,” ucap Oliver lagi.
Jordan memandang ke arah depan. “Ya. Seharusnya aku tahu momen seperti ini akan segera tiba,” ucap Jordan dengan wajah kecewa. Ia tahu tujuan kedua orang tuanya memanggilnya untuk apa. Sudah pasti masalah perjodohannya dengan sang calon pengantin. Tapi, tidak tahu kenapa. Ia tidak lagi mau menyetujuinya. Jordan lebih memilih Leona sebagai calon istrinya saat ini.
“Pangeran. Ayo kita pulang,” ucap Oliver lagi.
Jordan melepas genggamannya pada pundak Oliver sebelum berjalan lebih dulu ke depan. Ia tidak lagi mau mengucapkan apa-apa untuk membahas masalah perjodohan yang akan ia hadapi nantinya.
__ADS_1
Oliver melipat kedua tangannya. Pria itu memutar tubuhnya untuk memandang wanita yang sejak tadi masih memandangnya dengan tatapan menyelidik. “Sedikit lagi. Setelah aku berhasil mengumpulkan semua buktinya. Maka ia tidak akan salah paham lagi kepada Pangeran Jordan,” gumam Oliver di dalam hati.