Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Kecewa


__ADS_3

Jordan membawa Leona pergi ke gunung Moiwa. Sejak siang ia mencari tempat yang pas untuk membawa Leona jalan-jalan. Sayangnya, tidak ada tempat yang menarik untuk ia kunjungi. Namun, tiba-tiba saja saat malam telah tiba, Jordan baru berhasil mengetahui kalau ada tempat yang romantis di Sapporo. Ia sangat bahagia bisa membawa Leona ke tempat tersebut. Mereka menaiki kereta gantung yang menuju ke gardu pandang yang ada di atas bukit.



“Untuk apa kau membawaku ke sini?” ucap Leona sambil memandang ke arah kota yang memang terlihat sangat indah. Sebenarnya Leona sangat senang berada di sana. Namun, tempat itu sering di kunjungi oleh sepasang kekasih. Bagi Leona tidak pantas jika dia dan Jordan datang berkunjung ke tempat tersebut.


“Kau tidak bisa lihat? Tentu saja kita ke sini untuk memandang pemandangan kota,” ucap Jordan pelan. “Kota Sapporo sangat indah bukan? Apa kau pernah ke sini sebelumnya?”


Leona melirik wajah Jordan sekilas sebelum menghela napas. Ia melipat kedua kakinya sambil bersandar. “Aku tidak suka tempat seperti ini,” ketus Leona dengan wajah juteknya.


Jordan hanya diam saja. Ia sudah bisa menebak, kalau Leona tidak akan suka dengan tempat yang akan ia tunjukkan. Dari sikap Leona selama ini, Jordan bisa menyimpulkan kalau Leona tidak terlalu suka hal-hal yang romantis. Mereka hanya diam di dalam kereta gantung. Tidak ada yang mau mengeluarkan kata lagi, sampai kereta gantung itu tiba di atas bukit. 


Leona dan Jordan turun dan berjalan ke arah gardu pandang. Mereka berdua sama-sama melangkah ke sebuah tempat yang terdapat lonceng besar yang tergantung indah. Jordan mengukir senyuman saat melihat lonceng tersebut. 


“Konon katanya setiap pasangan yang berhasil membunyikan lonceng ini, maka akan bahagia selamanya,” ucap Jordan sambil berjalan mendekati lonceng tersebut.


“Kita bukan pasangan,” jawab Leona cepat. Wanita itu membuang tatapannya ke arah lain karena tidak ingin melihat Jordan.

__ADS_1


“Aku tidak peduli, aku hanya meminta kebahagiaan untukmu, Leona. Karena saat melihatmu bahagia ... itu sudah lebih dari cukup,” ucap Jordan sebelum berusaha menghidupkan lonceng tersebut. Jordan tersenyum bahagia ketika mendengar suara lonceng tersebut. Ia memejamkan mata dan berharap kalau kebahagiaan akan selalu menghampiri Leona dan dirinya.


“STOP Jordan! Apa yang kau inginkan? Jangan mempersulit dirimu sendiri dengan cara seperti ini!” teriak Leona sambil memandang punggung Jordan. “Jordan, hidup kita berbeda. Aku hanya hidup untuk membalaskan dendam. Walau nanti dendamku sudah terbalaskan, aku juga tidak lagi memikirkan untuk menjalin hubungan baru dengan pria lain. Jordan, aku tidak akan bisa menerima cintamu. Jadi, tolong jangan lakukan hal manis seperti ini untukku lagi,” teriak Leona dengan wajah kesal. Wanita itu memutar tubuhnya lalu berjalan dengan langkah kaki yang sangat cepat. Ia ingin meninggalkan Jordan di tempat itu sendirian. Dengan gerakan cepat juga, Jordan berlari mengejar Leona.


“Leona,” ucap Jordan. Pria itu memegang pergelangan Leona dan mencegah wanita itu untuk pergi. “Aku akan pergi dari hidupmu jika kau tidak bahagia ada di dekatku. Tapi ... izinkan aku untuk membantumu membalaskan dendammu pada Zean. Aku tidak bisa hidup dengan tenang saat mendengar hal seperti ini. Keinginan hatiku sederhana Leona. Aku tidak ingin wanita yang aku cintai terluka. Itu saja,” ucap Jordan dengan wajah yang sangat serius.


Leona diam sejenak. Wanita itu memejamkan mata karena ingin menangis. Ya, tiba-tiba saja matanya terasa perih setelah mendengar ungkapan tulus dari Jordan. Bagi Leona, Jordan memang pria yang baik dan mungkin tulus mencintainya. Tapi, tidak tahu kenapa. Leona tidak bisa menerima pria itu untuk selalu berada di sisinya.


“Aku ingin pulang,” jawab Leona dengan suara pelan.


Leona hanya diam membisu dengan perasaan campur aduk. Sekuat mungkin ia hilangkan perasaan nyaman yang mulai tumbuh di dalam hatinya ketika berada di dekat Jordan. Leona tidak ingin terjebak dalam kisah percintaan lagi. Leona tidak mau tersakiti lagi. Leona tidak bisa percaya lagi pada cinta.


***


Serena dan Emelie saling memandang sebelum tatapan mereka teralihkan ke arah pria yang kini duduk di sebuah sofa tunggal. “Siapa The Devils?” ucap Serena sambil menatap wajah Zeroun.


Zeroun mengangkat kedua bahunya sebagai kode tidak tahu apa-apa. Sebenarnya Zeroun kenal The Devils. Jordan sudah menceritakan tentang geng mafia itu beberapa kali. Tapi, ia tidak bisa menceritakannya kepada Serena. Wanita tangguh itu tidak pernah sadar dengan usia dan kesehatannya. Jika ia mendengar kabar musuh yang masih berkeliaran, maka ia akan kembali maju dengan senjata api di tangannya. Hal itu juga atas permohonan Daniel sendiri. Daniel meminta Zeroun untuk tidak menceritakan apapun kepada Serena jika hal itu menyangkut sebuah pertarungan.

__ADS_1


Daniel melirik wajah Zeroun sekilas sebelum memandang wajah Serena lagi. Ada rasa lega di dalam hatinya ketika Zeroun tidak menceritakan apa-apa kepada Serena. Shabira dan Kenzo yang baru saja muncul dari arah dapur menatap wajah masing-masing orang yang ada di ruangan berukuran luas tersebut. Shabira meletakkan minuman yang ia racik secara khusus untuk orang-orang yang paling ia sayangi. Kenzo membantu Shabira saat wanita itu sedang sibuk membuat minuman itu di dapur.


“Apa ada sesuatu yang terjadi? Kenapa suasananya berubah menjadi seperti ini?” gumam Shabira di dalam hati. Wanita itu meletakkan satu persatu minuman hangat yang telah ia buat di atas meja.


“Serena, apa kau masih memikirkan masalah penyerangan tadi?” tanya Kenzo dengan tatapan menyelidik.


Serena mengangguk pelan. “Aku menemukan sebuah petunjuk yang membawa nama geng mafia The Devils,” ucap Serena sambil berpikir keras.


Kwan yang muncul dari arah tangga menjadi perhatian utama Kenzo. Pria itu memanggil putranya untuk bergabung dengan mereka. “Kwan, kemarilah,” teriak Kenzo dari kejauhan.


Kwan menghentikan langkah kakinya saat melihat para orang tua yang sedang berkumpul di sana. Tidak tahu kenapa, tiba-tiba saja Kwan merasa takut untuk bergabung dengan Kenzo dan yang lainnya.


“Pa, ponsel Kwan ketinggalan,” ucap Kwan mencari alasan sebelum memutar tubuhnya untuk kembali ke lantai atas.


“Kwan, kemari atau Mama tidak akan mengijinkanmu pergi lagi!” teriak Shabira penuh dengan ancaman.


Kwan menghela napas dengan kasar sebelum memutar tubuhnya lagi. Ia berjalan dengan gerakan tidak bersemangat ke arah Kenzo dan Shabira berada. “Apa lagi sekarang? Kak Leona enggak ada di sini. Bagaimana kalau aku salah menjawab nanti,” gumam Kwan di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2