
Matahari semakin tinggi dan panasnya juga semakin terik. Leona terus saja melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kaca mobilnya di buka setengah agar angin bisa masuk dengan bebas. Ia memakai kaca mata hitam untuk melengkapi penampilannya pagi itu.
Sejenak Leona tidak lagi ingat dengan rasa kesalnya terhadap Jordan. Memang itu tujuan Leona. Ia ingin menghilangkan rasa kesalnya agar hubungannya dan Jordan baik-baik saja.
Leona memasuki wilayah taman kota. Sekeliling jalanan yang ia lewati dipenuhi dengan bunga warna-warni yang baru saja bermekaran. Leona terlihat bahagia detik itu. Ada senyuman indah di bibirnya.
"Taman ini sungguh indah." Leona menurunkan laju mobilnya. Ia benar-benar menikmati perjalanannya pagi itu. Hamparan bunga dan rerumputan hijau yang ia lihat berhasil membuat hatinya kembali tenang.
Tiba-tiba saja sebuah mobil menghadang laju mobil Leona. Ia segera menghentikan laju mobilnya dengan wajah panik. Leona bersikap sangat waspada ketika ada yang berniat menghalangi jalannya. Pistol yang selalu menemaninya ia genggam dan siap ia gunakan jika ada bahaya menyerang.
Namun, semua tidak sama dengan perkiraannya. Jordan dan Oliver yang muncul dari dalam mobil yang menghadang lajunya. Leona mengukir senyuman ketika melihat wajah Jordan. Ia segera turun dari mobil tanpa peduli dengan penampilannya yang terbilang seksi.
"Baby girl, maafkan aku," ucap Jordan dengan wajah paniknya. "Aku tidak berniat untuk-"
Jordan tidak sempat melanjutkan kalimatnya. Leona saat itu sudah memeluknya dengan penuh kerinduan. Ia benar-benar bahagia melihat Jordan kini ada di hadapannya.
Jordan menghela napas dengan wajah sedikit tenang. Ia memeluk Leona dengan wajah bahagia. Tiba-tiba saja kedua bola matanya terhenti pada kaki jenjang Leona yang mulus dan seksi. Kedua matanya melebar.
__ADS_1
Oliver menahan tawa saat itu. Ia tahu apa yang membuat ekspresi wajah Jordan berubah. Pria tangguh itu memutuskan untuk masuk ke dalam mobil. Ia lebih baik meninggalkan Leona dan Jordan di tempat itu daripada harus ada di sana sebagai patung.
"Baby girl, apa ini?" Jordan membuka jas hitamnya dan segera menutup kaki Leona. Jordan memperhatikan keadaan sekitar untuk memastikan tidak ada yang melihat kaki mulus tunangannya.
"Ada apa?" tanya Leona bingung. Hingga detik ini Leona belum paham dengan pemikiran Jordan. Ia bahkan tidak tahu kalau Jordan tidak suka wanita yang ia sayangi memakai pakaian terbuka.
"Di sini dingin, kenapa kau memakai rok mini." Jordan belum mau mengatakan apa yang ia pikirkan. Semua akan ia katakan ketika mereka sudah menikah nanti. Jordan tidak mau banyak mengatur wanita yang belum sah menjadi miliknya.
Leona memandang matahari yang bersinar dengan begitu terang. Tidak ada rasa dingin saat itu. Hanya ada rasa panas karena terik matahari menyengat kulitnya.
"Baby girl, maafkan aku ya. Tadi malam aku-"
Jordan tertegun mendengar perkataan Leona. Sejak pergi meninggalkan istana, ia terus saja mengukir kalimat yang pas untuk membujuk Leona. Tidak di sangka kini wanita itu sudah memaafkannya dan menyambutnya dengan pelukan hangat.
"Aku mencintaimu," ucap Jordan pelan.
"Aku juga mencintaimu." Leona meletakkan kedua tangannya di leher jenjang Jordan. "Aku lapar. Tadi aku belum sarapan."
__ADS_1
"Ayo kita sarapan." Jordan mengeluarkan sebuah gelang dari tangannya. Tanpa banyak kata ia memakaikan gelang itu kepada Leona. Membuat sang pemilik tangan dipenuhi tanda tanya.
"Gelang apa ini?"
"Mommy bilang ini gelang turun temurun dari keluarga Zein. Keluarga Daddy." Jordan mengusap lembut pipi Leona. "Mommy bilang kalau gelang ini sudah dipersiapkan Daddy untuk ...."
Jordan menahan kalimatnya. Ia kembali membayangkan wajah sedih Emelie saat menceritakan kisah gelang itu tadi. Tapi, Jordan tidak mau menyalahkan dan membela siapapun. Baginya, takdir ini sudah direncanakan dan memang harus menjadi seperti ini.
"Untuk?" tanya Leona semakin penasaran.
"Ya, Mommy bilang gelang ini untukmu. Karena kau wanita yang akan aku nikahi," ucap Jordan lagi. Ia tidak mau banyak menjelaskan kepada Leona kalau sejak gelang itu jatuh ke tangan Emelie, Emelie memutuskan untuk menyimpannya. Ia selalu ditemani bayangan Serena setiap kali mengenakan gelang penuh kenangan tersebut.
"Benarkah? Jadi gelang ini untukku? Aku boleh memakainya?" tanya Leona kegirangan.
"Ya, sayang." Jordan mendaratkan kecupan sayang di pucuk kepala Leona. "Kau wanita yang pantas mengenakannya."
Jordan menarik tubuh Leona dan memeluknya dengan erat. Kedua matanya terpejam sambil mengenang kalimat yang terakhir yang dikatakan Emelie sebelum ia pergi menemui Leona.
__ADS_1
"Mommy tahu, tidak ada kisah cinta yang jauh lebih indah daripada kisah cinta seorang Zeroun dan Erena. Kisah mereka kekal. Cinta mereka di ingat sama semua pasangan yang kini mendampingi hidup mereka. Kisah mereka di kenang karena mereka tidak bersama. Dengan menyatunya kau dan Leona, mommy harap ini sebagai bentuk bersatunya cinta Zeroun dan Erena. Mommy harap kekuatan cinta kalian sebesar cinta Zeroun dan Erena."
"Aku sangat mencintaimu Leona ... sangat sangat mencintaimu. Aku akan melindungimu dengan satu-satunya nyawa yang aku punya. Hanya malaikat maut yang dapat memisahkan kita." Jordan mempererat pelukannya.