
Zean terpental ketika Oliver menendang dan mendorong tubuhnya dengan sekuat tenaga. Pria itu sampai mengeluarkan batuk darah yang begitu banyak. Wajahnya babak belur. Bersamaan dengan jatuhnya Zean, pasukan milik Zean juga berbaring di sekitar lokasi tersebut dengan wajah dan tubuh di penuhi luka.
Oliver menatap tajam wajah Zean sebelum memutar tubuhnya. Ia ingin membawa Letty pergi dan menyelamatkan nyawa wanita itu. Oliver tidak mau terlambat menolong Letty.
Zean berusaha bangkit dan menahan rasa sakit yang ia rasakan di sekujur tubuhnya. “Kau pengkhianat! Kau membela orang yang sudah mencelakai Leona!” teriak Zean dengan sisa tenaga yang ia miliki.
Katterine memandang wajah Zean dengan rasa kasihan. Sama dengan apa yang di pikirkan oleh Zean. Wanita itu juga tidak setuju jika Oliver membela Letty hingga seperti ini. Terlihat jelas kalau Oliver mendukung Letty yang sudah jelas-jelas pernah mencelakai Leona.
“Kau yang memulainya, jadi jangan pernah menyalahkan orang lain dalam hal ini. Jangan pernah menilai orang lain jauh lebih buruk dari dirimu. Kalian sama! Jika kau tidak menyakitinya, maka dia tidak akan pernah bertemu dengan Letty!” ucap Oliver sebelum berjalan mendekati Katterine dan Letty berada. Pria itu memandang wajah Katterine dengan tatapan penuh arti. “Putri, sebaiknya Anda kembali ke rumah sakit. Saya akan membawa Letty pergi dari sini.”
Tanpa menunggu jawaban dari Katterine, Oliver mengangkat tubuh Letty ke dalam gendongannya. Wanita itu masih duduk di sana dengan wajah mematung. Kedua matanya tiba-tiba saja terasa perih. Jantungnya seperti di remas. Katterine merasa aneh dengan perasaan sakit yang kini ia rasakan. Ia memandang kepergian Oliver dengan mata berkaca-kaca.
“Apa ini? Kenapa aku tidak suka melihatnya memperlakukan Letty seperti itu?” gumam Katterine di dalam hati.
Zean mengukir senyuman tipis. Pria itu berbaring di permukaan lantai dan menatap langit biru yang begitu indah. Ucapan yang dikatakan Oliver seperti tamparan keras bagi dirinya. “Ya. Aku yang menyebabkan semua ini. Aku yang membuat Leona koma. Aku yang sudah membuat Leona menderita!” teriak Zean seperti orang frustasi. Pria itu merasa semakin terpukul dan terus saja menyalahkan dirinya.
__ADS_1
Katterine memandang wajah Zean dengan rasa kasihan. Wanita itu berdiri dan berjalan mendekati posisi Zean berada. Ia mengeluarkan sapu tangan dan memberikannya kepada Zean. “Kau bisa menggunakan ini untuk membersihkan darahmu!” ucap Katterine pelan. Wanita itu berjalan pergi meninggalkan Zean sendirian di sana.
Zean menerima sapu tangan Katterine dan memandang kepergian Katterine dengan senyuman kecil. Ia mengerti apa yang kini di rasakan oleh Letty. Terlihat jelas wajah cemburu wanita itu saat melihat Oliver membawa Letty pergi tadi.
Katterine berjalan tanpa tujuan sambil terus memikirkan Oliver yang tidak tahu pergi entah kemana untuk menyelamatkan Letty. “Untuk pertama kalinya, ia memalingkan wajahnya dan pergi bersama yang lain. Detik ini, aku sadar. Bukan aku yang selalu ada di dalam pikirannya. Bukan aku yang menjadi prioritasnya,” gumam Katterine di dalam hati.
Katterine terus berjalan menjauh dari tempat Oliver dan Zean bertarung. Ia menuju ke jalan raya yang di penuhi banyak mobil yang berlalu lalang. Kini pikiran Katterine telah di penuhi dengan nama Oliver. Wanita itu tidak lagi sadar kalau bahaya telah ada di dekatnya.
Katterine menghentikan langkah kakinya ketika mendengar suara klakson mobil ada di dekatnya. Bukan menghindar, wanita itu justru memiringkan tubuhnya dan memandang laju mobil tersebut. Katterine memejamkan mata dan siap menyambut bahaya yang semakin dekat dengan dirinya.
“Apa yang kau lakukan? Kau mau bunuh diri!” protes Oliver dengan suara menggeram.
Katterine terperanjat kaget ketika mendengar suara Oliver ada di bawah tubuhnya. Wanita itu segera beranjak dan duduk di samping Oliver. Betapa kaget dan malunya Katterine ketika melihat Oliver berbaring di pinggiran jalan karena menolong dirinya.
“Kau, bagaimana bisa kau kembali?” tanya Katterine bingung. “Di mana Letty? Kau meninggalkannya?”
__ADS_1
Oliver duduk dan menatap wajah Katterine sejenak. Pria itu menggeleng dengan wajah kecewa. “Apa yang harus aku katakan kepada Raja, Ratu dan Pangeran Jordan jika kau sampai terluka tadi?” tanya Oliver dengan wajah yang bersungguh-sungguh.
Katterine mengatur napasnya dan memasang wajah kecewa. Tadinya ia merasa sangat bahagia kalau Oliver datang hanya untuk menolong dirinya. “Seharusnya aku tahu, dia melakukan semua ini karena tanggung jawabnya. Bukan karena dia memang menyayangiku,” gumam Katterine di dalam hati. “Kau pergi meninggalkanku. Bahkan kau menggendongnya tadi. Aku kesal,” ucap Katterine dengan bibir maju ke depan. Wanita itu memperlihatkan wajah kesalnya terhadap Oliver.
“Baiklah. Sekarang aku sudah ada di sini. Ayo kita sama-sama kembali ke rumah sakit.” Oliver berdiri dan mengangkat tubuh Katterine ke dalam gendongannya.
Hal itu jelas saja membuat Katterine kaget bukan main bahkan wajahnya merah karena malu. “Apa yang kau lakukan?” ucapnya seolah tidak suka. Tapi, tanpa bisa di pungkiri. Kedua tangannya merayap di leher jenjang Oliver dan berpegangan di sana.
“Kau bilang kau kesal karena aku menggendong Letty. Sekarang aku akan menggendongmu, agar kau tidak kesal lagi,” ucap Oliver sambil berjalan menuju ke arah mobil. Pria itu membuka pintu mobilnya dan meletakkan Katterine di dalam. Tidak lupa Oliver memasangkan sabuk pengaman di tubuh Katterine agar wanita itu tetap aman ketika mobilnya melaju kencang.
Katterine menunduk bingung. “Jika dia ada di sini, lalu kemana Letty saat ini? Bersama siapa wanita jahat itu?” gumam Katterine di dalam hati.
Oliver berdiri di samping mobil sambil melihat beberapa mobil bawahannya yang sudah mulai melaju pergi. Pria itu terpaksa menyerahkan Letty kepada anak buahnya karena memang kini Katterine ada bersama dengan dirinya. Di tambah lagi, baru saja Jordan menghubungi Oliver dan meminta Oliver untuk menjaga Katterine dengan baik.
“Sepertinya ikatan batin mereka sangat kuat. Tadi di telepon, Pangeran Jordan terlihat sangat panik. Sedetik saja aku tidak datang tepat waktu, mungkin aku akan menyesal seumur hidupku. Bukan hanya itu, mungkin semua orang akan menyalahkanku dan membenci diriku. Aku tidak menyangka Katterine bisa senekad ini. Apa sebenarnya yang ia pikirkan hingga akhir-akhir ini ia terlihat banyak berubah?”
__ADS_1