Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 88


__ADS_3

Katterine dan Oliver duduk di sebuah kursi pantai yang tersedia di sana. Ada jus jeruk segar di tangan mereka. Sambil memandang beberapa orang tercinta yang masih bermain di pantai, Katterine sesekali tertawa geli.


"Sepertinya Pangeran Jordan mengetahui semuanya? Apa tidak sebaiknya kita ceritakan saja?" ujar Oliver sambil memandang wajah Katterine. Pria tangguh itu merasa bersalah sudah menyembunyikan sesuatu dari Jordan.


Katterine menggeleng pelan. Ia terlihat tidak setuju dengan ide Oliver kali ini. Walau Jordan kakak kandungnya, tetap saja Katterine tega berbohong selama itu menjadi yang terbaik untuk semuanya.


"Jangan. Jika Kak Jordan tahu, sudah pasti Kak Leona juga tahu. Bukankah Letty dan Kak Leona sangat dekat. Nanti Kak Leona bisa marah jika tahu Letty merahasiakan semua ini. Mereka bisa bertengkar karena kejujuran kita. Aku tidak mau semua itu terjadi. Aku yakin, Kak Jordan tidak akan bertanya apapun lagi pada kita. Ia paham apa yang kita inginkan," ucap Katterine dengan senyum penuh keyakinan. Walau sebenarnya ia juga sedikit takut jika nanti Jordan tahu mereka menyembunyikan sesuatu. Tapi, mau bagaimana lagi?


"Kau yakin?" tanya Oliver kurang percaya. Pria itu mengeryitkan dahi. Melihat ekspresi Katterine ia kurang yakin.


"Hmmm ... Tentu saja," jawab Katterine tanpa memandang.


Katterine beranjak dari duduknya. Tiba-tiba saja jas Oliver yang kini menutupi tubuhnya terjatuh. Oliver panik bukan main dan segera memalingkan wajahnya. Bahkan ia mengangkat tangannya dan berusaha tidak melihat sedikitpun bagian tubuh molek kekasihnya.


"Apa kau sengaja melakukan semua itu? Katterine, ingatlah kalau kau seorang putri!" protes Oliver tanpa memandang.


"Mommy juga seorang Ratu. Dia berani memakai pakaian seperti ini. Dan Daddy terlihat senang," jawab Katterine asal saja. Kapan lagi ia bisa mengerjai kekasihnya itu.


"Mereka sudah menikah. Berbeda dengan kita!"


"Apa dia tidak pernah melihat wanita seksi sebelumnya? Tapi ... wajar saja ia tidak pernah melihatnya. Selama ini yang ada di sekelilingnya hanya gerombolan pria. Tidak ada wanita. Kalau ada juga ia lebih memilih menunduk dan menjaga penglihatannya. Bukankah Oliver ku ini pria yang beda dari pria lainnya?" gumam Katterine di dalam hati.


Katterine tersenyum jahat. Bukan mengambil jas yang jatuh dan memakainya, wanita itu justru berjalan ke belakang Oliver. Ia meletakkan tangannya di pundak kanan Oliver.


"Kenapa? Apa aku begitu buruk hingga kau tidak mau melihat wajahku?" goda Katterine dengan suara yang mesra.


"Katterine, jangan bercanda. Segera pakai jas itu. Atau ...." Oliver berusaha tetap tegar. Walau debaran jantungnya sudah tidak karuan.


"Atau apa?" tanya Katterine penasaran. Tidak ada rasa takut sama sekali di wajahnya. Kalau dulu mungkin ia akan takut. Tapi sejak Oliver berstatus menjadi kekasihnya, Katterine tidak lagi merasa takut jika ingin mengerjai pria tangguh itu.


"Atau aku akan pergi," ancam Oliver asal saja. Apa lagi memang yang bisa ia perbuat dalam keadaan seperti ini selain menghindar.


"Kau curang!" Katterine memajukan bibirnya. Ia segera mengambil jas Oliver dan menggunakannya lagi.


"Aku sudah memakainya. Cepat pandang wajahku lagi!" perintah Katterine dengan suara keras.

__ADS_1


Dengan kesal ia duduk di kursinya semula. Oliver berusaha melihat ke arah Katterine. Ia kembali lega ketika melihat tubuh seksi Katterine sudah tertutup.


"Jangan lakukan itu lagi," ucap Oliver dengan nada lembut.


"Hanya di depanmu!" ketus Katterine.


"Bagaimana kalau aku tergoda?" Wajah Oliver berubah serius.


"Mudah saja. Kau hanya perlu melakukannya setelah itu kita menikah!" jawab Katterine asal saja.


"Kau ini! Aku akan dibunuh ayah dan kakak mu jika melakukannya sebelum pernikahan itu terjadi." Oliver meneguk minumannya dan meletakkan gelasnya di meja. Berdebat dengan Katterine mencari seri aja susah apa lagi memang.


Oliver merasa tidak nyaman. Lukanya kembali kumat. Pria itu ingin memeriksa lukanya yang memang belum sembuh total.


"Sepertinya acaranya akan berlangsung lama. Aku harus pergi untuk mengobati lukaku."


"Ikut...." rengek Katterine dengan wajah memelas. Dengan cepat ia beranjak dari kursi yang ia duduki.


"Jangan. Semua akan curiga jika kita menghilang bersama-sama lagi."


"Tidak akan lama. Aku janji akan segera kembali."


"Baiklah. Kau harus tetap hati-hati," pinta Katterine dengan wajah manisnya. Oliver mengacak rambut Katterine sebelum pergi. Pria itu memandang keadaan sekitar sebelum berjalan ke mobil.


***


Di sisi lain, Letty menghentikan laju mobilnya. Wanita itu memandang wajah Miller yang kini tertidur pulas. Letty melepas sabuk pengamannya dan duduk bersandar dengan posisi yang nyaman.


"Bisa-bisanya dia tidur."


Miller tetap tenang pada posisinya. Sebenarnya ia tidak tidur. Bahkan sejak tadi ia bisa mendengar jelas umpatan-umpatan yang dilontarkan Letty terhadap dirinya. Miller hanya suka saja mengerjai Letty. Melihat Letty marah membuatnya semakin tertarik kepada wanita tangguh itu.


"Miller, bangun!" Letty mengguncang lengan Miller. Tapi, tidak ada jawaban sama sekali. Pria itu justru terlihat semakin nyenyak dengan tidurnya.


"Dasar Polisi tidur!" Letty memukul lengan Miller dengan sangat kuat. Tiba-tiba ponsel Miller berdering. Letty melirik layarnya dan melihat foto seorang wanita di sana. Dalam hitungan detik Miller terbangun dan mengangkat panggilan telepon tersebut.

__ADS_1


"Hallo Bella."


Letty memutuskan mundur dan memandang keluar jendela. Ia membuka jendela mobil agar angin bisa masuk dengan bebas.


"Ya. Malam ini aku pasti datang. Aku sudah ada di San Fransisco." Miller memandang Letty sejenak sebelum fokus pada lawan bicaranya.


"Tentu saja. Sampai jumpa!" Miller meletakkan ponselnya. Ia tersenyum memandang wajah Letty yang terlihat tidak suka.


"Apa nanti malam kau sibuk?"


"Ya!" celetuknya mantap. "Maksudku, tidak juga."


"Apa kau mau menemaniku ke pesta?"


"Pesta?'


"Ya. Temanku mengadakan pesta. Apa kau mau menjadi pasanganku nanti malam?" Letty masih terlihat jual mahal walau sebenarnya hatinya ingin berkata Ya.


"Pesta apa?"


"Aku juga kurang tahu. Apa kau mau menemaniku?"


"Baiklah."


"Oke, apa aku boleh meminjam mobil ini?" Miller tahu kalau kini mereka ada di parkiran hotel tempat Letty tinggal semalam.


"Tentu."


"Bersiaplah. Aku akan menjemputmu nanti malam."


Letty mengangguk pelan. Ia turun dari mobil meninggalkan Miller.


Miller tersenyum melihat Letty. Pria itu berpindah dari jok nya untuk mengemudikan mobil. Miller memandang wajah Letty sekilas sebelum menghidupkan mesin mobil dan melajukannya. Letty berdiri mematung melihat kepergian Miller.


"Pesta? Bagaimana ini?" gumam Letty panik. Ia tidak tahu harus bagaimana. Tiba-tiba saja ia ingin terlihat cantik ketika menemani Miller ke pesta nanti malam. Letty segera mengambil ponselnya dari saku. Ia mengotak ngatik nomor Lana. Tidak ada yang bisa membantunya selain mommy tercinta.

__ADS_1


"Mom, aku butuh bantuan mommy!"


__ADS_2