Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Kembali Pulang


__ADS_3

Oliver mengangkat panggilan masuk dari Kwan. Ia juga sedikit kesal karena pria itu tiba-tiba saja hilang. Hingga detik itu Oliver dan yang lainnya belum menyadari kalau Jordan tidak lagi sadarkan diri.


“Ke mana saja kau?” protes Oliver kepada Kwan. Semenjak mereka sering menghabiskan waktu untuk menyusun strategi, Oliver merasa sangat menyayangi Kwan. Pria itu menganggap Kwan seperti saudaranya sendiri saat ini.


“Tentu saja aku pergi untuk menemui Alanaku. Aku tidak ingin terjebak di sana seperti kalian,” ucap Kwan dengan tawa kecil. “Apa kalian tidak bisa bergerak?” ledek Kwan lagi.


“Kau! Kenapa kau tidak mengatakannya langsung?” Oliver terlihat kesal saat itu.


“Aku membenci Zean! Aku tidak mau melihat Kak Leona dekat dengan Zean tadi. Daripada aku emosi, lebih baik aku pergi bukan?” jawab Kwan apa adanya.


“Lalu, sekarang kau akan pergi ke San Fransisco? Kau memilih pergi berpacaran daripada kami yang masih terjebak di sini?” Oliver benar-benar ingin memastikan kalau kini Kwan tega meninggalkan mereka.


“Ya.”


Belum sempat Oliver menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja ia mendengar suata klakson dari mobil yang ditumpangi Jordan dan Leona. Pria itu merasa curiga. Ia segera memutuskan panggilan teleponnya dan turun dari mobil. Letty dan Katterine yang saat itu bingung juga segera turun dari mobil. Mereka mengikuti langkah Oliver dari belakang.


Oliver membuka pintu mobil Jordan. Di dalam mobil, Leona menangis dan memeluk Jordan. Wanita itu terus saja memanggil nama Jordan agar pria itu membuka mata dan melihat wajahnya lagi.


“Nona, apa yang terjadi?” 


“Jordan ....”


Tiba-tiba dari kejauhan muncul beberapa helikopter untuk menolong mereka  karena terjebak salju. Oliver memandang helikopter itu dan memastikan bahwa yang datang bukanlah musuh. Bibirnya mengukir senyuman ketika melihat salah satu penghuni helikopter itu adalah Kwan.


“Nona, kita harus membawa Pangeran ke rumah sakit.”

__ADS_1


Leona mengangguk. Oiver di bantu oleh Letty membawa Jordan menuju ke helikopter. Katterine berdiri memandang wajah Leona. Ia semakin yakin kalau Leona dan kakaknya memang saling mencintai.


“Kak Leona, semua akan baik-baik saja.” Katterine memeluk Leona. Wanita itu mengusap punggung Leona dengan penuh kasih sayang. “Aku tahu kalau kau sangat mengkhawatirkan Kak Jordan karena kini kau sudah memiliki perasaan terhadapnya,” gumam Katterine di dalam hati.


Beberapa hari kemudian, Cambridge.


Jordan membuka matanya secara perlahan. Ia mengerjapkan kedua matanya berulang kali. Kali ini Jordan merasa tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Samar-samar ia kembali ingat dengan kejadian yang pernah ia lewati. “Apa aku sudah kembali?” gumam Jordan di dalam hati. Pria itu kenal dengan desain kamar yang ia tempati. Walau memang kamar itu bukan kamar miliknya, tapi Jordan tahu kalau kini dia sudah ada di Cambridge.


Jordan memiringkan kepalanya ke samping. Ada Leona di sampingnya. Dengan menggunakan gaun berwarna abu-abu, wanita itu terlihat nyenyak dalam tidurnya. Wajahnya sangat tenang. Jordan mengukir senyuman ketika melihat Leona kini ada di sampingnya. Ia bahagia.


“Apa dia mengkhawatirkanku?” gumam Jordan di dalam hati. Saat melihat pergerakan dari Leona, Jordan segera memejamkan matanya. Pangeran Cambridge itu ingin pura-pura tidur untuk mengelabuhi Leona.


Leona memandang wajah Jordan dengan saksama. Ia merasa tadi Jordan melakukan pergerakan. Leona merasa ragu dengan apa yang baru saja ia rasakan. Sejenak ia berpikir kalau tadi cuma halusinasinya saja.


“Leona ...,” lirih Jordan. Pria itu masih memejamkan mata seolah-olah kini sedang mengigau. Ia sengaja melakukan hal seperti itu untuk membuat Leona salah tingkah. Leona mengeryitkan dahi. Sekali lagi ia memperhatikan wajah Jordan. Leona tidak mudah untuk dikerjai. Ketika Leona berhasil menyadari kalau Jordan hanya berpura-pura, ia terlihat geram.


“Au, sakit!” Jordan mengeluh. Pria itu segera membuka matanya. Ia memegang perutnya lalu merintih kesakitan. “Leona, kau memang wanita ....” Jordan menahan kalimatnya. Ia tidak tahu kalimat apa yang cocok untuk menggambarkan karakter Leona saat ini.


“Kau mengerjaiku!” teriak Leona tanpa mau meminta maaf. Ia sama sekali tidak merasa bersalah walaupun jelas-jelas sudah membuat Jordan kesakitan.


“Aku baru bangun. Apa salah jika aku memanggil namamu? Kenapa kau tidak menjawab saja? Kenapa harus memukul!” protes Jordan. 


Leona memandang perut Jordan lagi. Detik itu ia mulai khawatir. Jordan terlihat sungguh-sungguh dengan sakit yang kini ia terima. Wanita itu merasa bersalah. Jordan tersenyum simpul ketika melihat wajah Leona yang sudah berubah menjadi jauh lebih menurut. Pria itu segera mengangkat tubuhnya agar bisa meraih pinggang Leona. Jordan menarik tubuh Leona agar berbaring dengannya di atas tempat tidur.


“Jordan, apa yang mau kau lakukan?” protes Leona dengan kedua mata yang melebar.

__ADS_1


“Baby girl, apa kau sangat mengkhawatirkanku? Kau tidak mau melihatku celaka?” ledek Jordan dengan wajah penuh kemenangan.


Leona memandang wajah Jordan yang kini ada di hadapannya. Posisinya miring dengan tangan Jordan yang memeluknya seperti guling. Leona memperhatikan wajah Jordan tanpa berkedip. Kedua mata indah dengan rahang yang tegas. Bibir seksi dan bulu mata yang lentik. Leona tersenyum kecil tanpa ia sadari.


“Hei, apa yang kau pikirkan!” protes Jordan ketika Leona hanya diam saja.


“Apa kau sudah sembuh?” tanya Leona dengan wajah yang serius.


Jordan mengukir senyuman. “Apa aku merepotkanmu?”


Leona menggeleng pelan. “Aku senang kau baik-baik saja.”


“Benarkah? Kenapa kita bisa ada di Cambridge?” tanya Jordan penasaran.


“Aku juga tidak tahu. Tiba-tiba saja Kwan muncul dengan beberapa helikopter.  Dia  membawa kita ke sini. Sepertinya ini rencana orang tua kita,” Leona kembali mengingat betapa panik dan khawatirnya dia saat Jordan tidak sadarkan diri. “Dokter bilang, kau banyak kehilangan darah. Dan ... tidak menjaga kesehatanmu. Apa itu karena aku?” 


Leona memandang wajah Jordan. Ia menagih sebuah penjelasan dari pria itu. Walaupun kali ini Jordan tidak mau cerita, tapi Leona tahu kalau pria itu kelelahan karena selama ini menjaga dirinya di rumah sakit. Setelah ia sembuh, Jordan  bukan istirahat melainkan harus melakukan perkelahian yang begitu menguras tenaga. Di tambah lagi, semalam Jordan mendapat banyak luka di tubuhnya yang menyebabkan dirinya kehilangan banyak darah.


“Aku sudah jauh lebih kuat sekarang. Mungkin aku hanya butuh waktu untuk tidur dan istirahat saja,” jawab Jordan. Bibirnya mengukir senyuman lagi saat kini Leona ada di dalam pelukannya. “Aku sangat menyayangimu, Leona.”


Leona hanya diam sambil memandang wajah Jordan. Namun, dalam hitungan detik saja ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Jordan, kau harus makan. Dokter bilang kau ....”


“Sssttt, jangan menghindar lagi. Leona, katakan kepadaku. Apa kau juga menyayangiku seperti aku menyayangimu?” Wajah Jordan terlihat sangat serius. Ia ingin mendengar kalimat yang sama seperti yang kini ia harapkan.


Leona membisu. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya Leona belum paham dengan perasaan yang kini ia rasakan. Baru kemarin ia melepas Zean dan berusaha melupakan rasa cinta dan semua kenangannya bersama dengan Zean. Kali ini sudah ada pria yang menyatakan cintanya. Leona bahagia. Tapi, dia masih ragu. Dia butuh waktu untuk memantapkan hatinya. Ia butuh waktu untuk mengakui perasaannya kepada Jordan. Leona tidak ingin salah langkah. Ia tidak mau salah pilih. Namun, kali ini Leona juga kesulitan untuk mengatakan tidak. Ia tidak mau melukai hati Jordan yang sangat tulus mencintainya.

__ADS_1


“Aku, juga menyayangimu,” jawab Leona pelan. Bahkan suaranya nyaris tidak terdengar.


“Apa kau mencintaiku, Leona?”


__ADS_2