
Satu minggu berlalu....
Sejak pertemuan makan siang itu, hubungan Alana dan Kwan mulai membaik. Mereka sering menghabiskan waktu bersama walau dengan alasan pekerjaan. Kwan tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan itu. Pria itu berjuang keras mendapatkan hati Alana lagi.
Berbeda dengan Leona. Wanita itu terlihat tidak bersemangat menjalani kehidupannya. Leona menghilang. Ia bersembunyi di sebuah tempat yang sunyi dan tidak di ketahui oleh orang lain. Termasuk pasukan miliknya sendiri. Ia ingin menenangkan pikirannya. Menguatkan hatinya agar balas dendam itu tetap ia laksanakan.
Perkataan Zean mengganggu pikirannya selama beberapa hari ini. Bahkan hatinya yang sempat kasmaran karena ulah Jordan juga sudah tidak kasmaran lagi. Leona sedih. Ia merasa hidup mempermainkannya dengan begitu mudah. Membuat perasaannya terombang-ambing seperti bergulung di antara ombak lautan.
“Siapa yang paling kejam di antara kita Leona? Apa yang akan kau lakukan jika posisiku saat ini ada di posisimu?” Seperti itulah kalimat Zean yang kini mengganggunya selama beberapa hari. Satu kalimat yang mewakili isi hati Zean itu berhasil merusak niat awal Leona untuk balas dendam. Hatinya kembali tidak tega untuk melanjutkan aksi balas dendam dan menghancurkan hidup Zean. Sekilas, Leona memilih untuk menyerah dan melupakan dendamnya. Tapi, ia punya prinsip hidup saat ini. Leona tidak ingin merusaknya. Niat awalnya seperti itu dan harus terjadi seperti yang sudah ia rencanakan juga.
Leona berdiri di tebing yang sangat tinggi. Wanita itu menangis. Ia merasa sangat sedih dan menjadi wanita paling lemah di dunia. Di saat ia bertekad untuk membunuh dan membalaskan rasa sakit hatinya. Sebuah kebenaran telah terkuak. Leona tidak lagi tahu harus bagaimana. Ia juga telah melukai hati semua orang yang ia sayangi.
Awalnya Leona berpikir kalau menjadi wanita terkuat dan tidak terkalahkan maka hidupnya akan bahagia. Tidak di sangka, setelah ia mendapatkan semua yang ia inginkan justru kesedihan yang lebih sering ia rasakan. Hidupnya terlalu dipaksakan. Leona tidak melakukan semuanya dengan hati. Memang bukan di dunia hitam hidupnya. Sejak lahir ia ditakdirkan untuk menjadi wanita lembut yang penuh dengan kasih sayang.
Leona melangkah secara perlahan ke ujung tebing dengan tatapan kosong. Kini yang memenuhi pikirannya, mungkin jika ia pergi maka semua masalah ini tidak akan ada lagi. Semua orang tidak harus menderita karena dirinya. Leona sadar, sejak awal memang dirinya yang bersalah. Terlalu sakit hati hingga tidak mau disalahkan.
“Maafkan Leona, Ma. Pa. Kak Aleo, Kwan. Maafkan Leona,” ucap Leona dengan suara lirih. Kedua matanya memandang jurang yang sangat curam. Jurang berukuran luas itu kini tersaji di depannya. Sangat menyeramkan. Siapa saja yang masuk ke dalamnya mungkin tidak akan selamat. Bukan hanya dasarnya yang gak terlihat. Tetapi, jurang itu di penuhi bebatuan besar yang bisa membentur kepala dan tubuh lainnya hingga membuat luka yang parah.
__ADS_1
Sambil memejamkan mata, Leona berjalan dengan putus asa. Kedua tangannya terkepal kuat. Ia berharap besar, kalau setelah kematiannya nanti, semua orang bisa hidup bahagia dan tidak menderita lagi.
“Eleonora,” ucap seseorang dari belakang.
Leona menahan langkah kakinya. Wanita itu memutar tubuhnya untuk memandang wajah sang pemilik suara. Kedua matanya melebar. Lagi-lagi pria yang sama muncul di hadapannya. Tidak tahu kenapa, Jordan terlihat seperti mengikuti Leona kemanapun wanita itu pergi. “Apa yang mau kau lakukan?” ucap Jordan.
Leona membuang tatapannya. Wanita itu mengatur napasnya dan menghapus setiap tetes air mata yang jatuh. “Kenapa kau selalu muncul di saat yang tidak tepat. Apa bisa sekali saja kau tidak muncul dan tidak menggangggu rencanaku?” umpat Leona kesal.
Jordan menaikan satu alisnya. Pria itu melangkah maju dengan wajah yang sangat tenang. “Rencana bunuh diri? Aku telah menggagalkan rencanamu untuk bunuh diri? Begitu?” ucap Jordan sambil terus berjalan pelan mendekati Leona.
Leona memandang wajah Jordan dengan seksama. Sorot matanya sangat tajam. Ia tidak perlu bujukan dan pujian dari siapapun. Saat ini yang memenuhi pikiran Leona hanya menangis dan pergi meninggalkan semua orang.
Jordan berdiri di hadapan Leona. Pria itu melirik jarak jurang dan tubuh Leona yang memang sangat dekat. Wanita itu sudah berdiri di ujung jurang. Sedikit saja pergerakan yang ia lakukan salah, maka tubuh Leona akan terhempas ke dalam jurang yang sangat curam.
Jordan tertawa kecil. Pria itu membuka topengnya lalu membuangnya ke arah jurang. Leona juga mengikuti arah terbangnya topeng Jordan. Wanita itu tidak tahu apa tujuan Jordan melakukan hal tersebut.
“Lompatlah. Aku sudah membuang topengku untuk menemanimu di bawah,” ucap Jordan dengan santai. Ada senyum tipis di bibir pria tersebut. “Apa perlu aku bantu untuk mendorong tubuhmu agar segera jatuh? Kau terlalu banyak basa-basi Leona. Jika ingin melompat kenapa tidak melompat saja?”
Tanpa banyak kata lagi, Jordan mendorong tubuh Leona. Pria itu mengukir senyuman kecil saat tubuh Leona terjatuh ke belakang. Leona melebarkan kedua matanya. Tiba-tiba saja keseimbangannya hilang. Udara yang sangat kencang seakan membantunya untuk terjatuh lebih cepat lagi. Ia tidak menyangka kalau akan segera jatuh ke jurang dan benar-benar mengakhiri hidupnya karena bunuh diri.
__ADS_1
Leona memejamkan mata. Wanita itu sudah pasrah jika memang detik itu juga akhir dari kehidupannya di dunia. Namun, belum sempat kakinya berpisah dari tanah. Jordan sudah menarik tangannya. Pria itu menarik tubuh Leona ke dalam pelukannya.
“Dasar wanita bodoh! Aku tidak akan membiarkanmu mati,” ucap Jordan dengan ketulusan. Pria itu memeluk tubuh Leona dengan kedua tangannya. Kepalanya ia benamkan di rambut panjang wanita tersebut.
Leona meneteskan air mata saat mendengar kalimat yang diucapkan Jordan. Bibirnya gemetar bersamaan dengan hatinya yang terasa sakit. Ia pernah mendengar kata-kata manis itu namun berakhir dengan penghianatan. Hingga akhirnya, ia tidak lagi percaya dengan kasih sayang dari orang yang benar-benar tulus terhadap dirinya.
“Untuk kali ini saja. Aku ingin menangis. Aku berjanji untuk tidak akan menangis lagi besok. Untuk hari ini saja, aku ingin menjadi wanita lemah lagi. Hatiku lelah untuk berpura-pura menjadi wanita yang kuat dengan hati yang tegar,” gumam Leona di dalam hati sebelum memeluk tubuh Jordan.
“Sekarang aku tahu. Bagaimana rasa sakit yang kau rasakan. Leona, aku sudah hadir di hidupmu. Mulai detik ini, aku tidak akan membiarkan orang lain menyakiti dan melukai hatimu,” gumam Jordan di dalam hati.
Dari kejauhan, Oliver berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ia sangat penasaran dengan sosok wanita yang kini menjadi perhatian utama Jordan. Ini pertama kalinya Jordan meminta pasukan mafia milik Oliver untuk menemaninya. Bukan hanya itu saja. Jordan juga rela meninggalkan Istana megah dan tahta yang seharusnya ia duduki sejak lama.
Sudah berhari-hari Oliver menyelidiki alasan Jordan pergi meninggalkan istana. Namun, baru detik ini ia berhasil menemukan pria tersebut. Oliver juga tahu, bagaimana cara Jordan menyembunyikan identitas dirinya selama ini dengan sebuah topeng.
“Sepertinya aku harus memberi kabar ini kepada daddy. Mungkin daddy Lukas bisa membantuku menemukan solusinya.” Oliver memutar tubuhnya. Pria itu masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan lokasi. Membiarkan Jordan dan Leona di tempat yang dipenuhi angin tersebut.
__ADS_1