
Saat Miller dan Letty sedang sibuk dengan penemuan harta karun, di istana Cambridge Leona dan Jordan terlihat semakin bahagia. Hidup penuh ketenangan setelah masalah yang di hadapi antara Pieter dan Oliver terselesaikan. Semua orang sedang mempersiapkan acara pernikahan Katterine dan Oliver. Sayangnya Lana dan Lukas tidak ada di sana karena memang mereka sedang sibuk dengan urusan mereka.
"Sayang, ini bagus." Emelie menunjuk foto dekorasi pesta yang menurutnya sangat unik dan cocok dengan karakter Katterine.
"Mom, Katterine mau sedikit dark." Katterine melirik calon suaminya. Ia merasa kalau Oliver adalah seorang mafia maka dari itu dekorasi pesta atau apapun yang berhubungan dengan pernikahannya nanti bisa menunjukkan sisi gelap dari Oliver yang begitu dingin.
"Baiklah. Mungkin kita cari yang ada sentuhan warna hitamnya," ucap Emelie sebelum melihat model yang lain.
Leona dan Jordan bukan membantu Katterine dan Oliver, justru sepasang suami istri itu telah sibuk bermain. Mereka mencoba beberapa hidangan makanan yang nantinya akan di sugukan kepada tamu undangan.
"Ini tidak enak. Bau sekali," ucap Leona. Jordan yang sedang mengunyah makanan terlihat bingung. Ia melirik makanan yang di makan istrinya dan mencicip makanan itu untuk memastikan kalau makanan tidak bermasalah.
"Ini enak."
"Tidak! Aku tidak suka," bantah Leona sambil mengibaskan tangannya.
"Bagaimana dengan ini, kak?" Katterine memberikan makanan yang ada di dekatnya. Leona menerima makanan itu dan mencicipinya. Wanita itu mengangguk setuju dan memuji makanan yang baru saja ia cicipi.
"Ini sangat enak." Emelie memperhatikan beberapa makanan yang di pilih Leona. Semua makanan manis. Sedangkan makanan yang pedas dan asin akan di singkirkan oleh Leona.
"Aneh, kenapa Leona terlihat seperti wanita hamil. Tapi … aku takut mengatakannya. Aku tidak mau dia tersinggung. Sebaiknya aku tunggu waktu yang tepat untuk menyampaikan semua ini kepada Jordan," gumam Emelie di dalam hati.
"Sayang, sebelum pesta pernikahan Katterine dan Oliver terlaksana. Mommy ingin memberi tahu satu hal penting kepada kalian." Emelie menutup buku yang ada di hadapannya. Ia memandang Zeroun sekilas sebelum memandang anak-anaknya lagi.
"Mom, ada apa?" Jordan terlihat penasaran ketika wajah Emelie berubah serius.
"Jordan, mommy tahu kau pasti akan sangat kecewa. Tapi, mommy rasa ini yang terbaik untuk kita semua. Mommy mau kita semua hidup dalam ketenangan seperti sekarang ini."
"Mom, sebenarnya apa yang ingin mommy katakan?" Katterine semakn penasaran dan jug semakin khawatir. Debaran jantungnya tidak karuan ketika menanti kabar dari ibu kandungnya.
"Mungkin kalian sudah sempat mendengarnya. Tapi mommy mau mengatakannya langsung sore ini." Emelie menatap wajah Jordan.
"Jordan, mommy akan melepas istana Cambridge. Kita akan hidup menjadi rakyat biasa. Mommy tahu kau kecewa. Mungkin kau sudah menanti posisi sebagai Raja Cambridge. Tapi …."
"Mom, Jordan tidak akan marah. Jordan tahu apa yang mommy pikirkan. Jordan dan Leona juga sudah memutuskan untuk menjadi pembisnis. Mommy jangan khawatir."
Emelie tersenyum bahagia. "Terima kasih, Jordan. Istana ini akan mommy berikan kepada Pieter."
"Pieter?" Jordan mengeryitkan dahi.
"Ya, sayang. Setelah mommy selidiki ternyata Pieter adalah anak dari kakek Arnold. Jadi, kakek Arnold pernah menjalin hubungan dengan wanita muda. Wanita itu melahirkan anak dan anak itu adalah Pieter."
"Apa Pieter tahu soal ini, Mom?" tanya Katterine penasaran.
Emelie tersenyum. Ia memandang wajah Zeroun. "Sudah. Dan ia sangat berterima kasih bahkan menolaknya. Mommy dan Daddy sudah bertemu langsung dengan Pieter dan menceritakan semuanya. Ternyata dia anak yang baik."
"Apa ketika pesta Katterine berlangsung kita susha bukan bagian dari istana ini lagi?" tanya Jordan.
"Tentu saja tidak seperti itu."
Tiba-tiba Pieter muncul. Pria itu menjadi sorot perhatian semua orang yang kini sedang berkumpul di ruang keluarga. Pieter berjalan mendekat dan tersenyum ramah. Lukanya terlihat sudah sembuh dan tidak membekas lagi.
"Pieter, kau datang. Kenapa tidak bilang-bilang?" Emelie menyambut kedatangan Pieter dengan bahagia.
"Maafkan saya, Ratu. Saya ke sini karena ingin bertemu dengan keluarga baru saya," ucap Pieter sambil memandang satu persatu wajah orang di sana.
Zeroun tersenyum. Ia menepuk pelan pundak Pieter. "Kau memang bagian dari keluarga ini, Pieter."
"Aku beruntung bisa memiliki keluarga seperti ini. Bisa di bilang ini sebuah impian yang sangat mustahil."
__ADS_1
"Sekarang tidak mustahil lagi karena kau sudah resmi menjadi keluarga kami," sambung Emelie.
Oliver memandang wajah Pieter dan tersenyum. Sama seperti yang lain, Oliver juga menyambut kedatangan Pieter dengan tangan terbuka.
"Ternyata dunia ini sangat sempit ya mom," ujar Jordan sambil merangkul pinggang Leona. "Jauh-jauh melangkah ternyata yang ada di deona mata yang selama ini di cari."
"Aku tidak tahu harus bagaimana jika saja waktu itu -"
"Pieter, kau sudah makan?" potong Katterine cepat. Jika sampai Emelie tahu bisa kacau urusannya. Bukan hanya Zeroun saja, tapi semua yang ada di ruangan itu akan terlibat.
Pieter mengerti kode yang diberikan Katterine. pria itu tidak lagi melanjutkan kalimatnya. "Belum."
"Ayo kita makan bersama. Mommy akan meminta pelayan menyiapkan Snack sore untuk kita." Emelie mengajak Zeroun ke dapur. Sedangkan sisanya masih bertahan di ruangan itu.
"Pieter, jadilah Raja yang bisa membanggakan Cambridge." Jordan sangat rele melepas jabatannya. Baginya Leona dan keluarganya jauh lebih berharga daripada tahta.
"Tidak, Jordan. Selamanya kau adalah Raja Cambridge. Walau di mata semua orang aku adalah Rajanya." Jordan tersenyum mendengar perkataan Pieter. Mereka berpelukan sebagai tanda kalau perselisihan di antara sudah tidak ada lagi.
"Aku akan membantumu jika mau kau dalam kesusahan."
***
Malam harinya. Leona lagi-lagi menginginkan sesuatu. Ya, kali ini wanita itu ingin memakan makanan yang segar. Sebenarnya ada banyak buah di istana, hanya saja Leona merasa bosan memakan semua itu dan justru ingin memakan buah yang di petik langsung dari pohonnya.
"Sayang, apa yang sedang kau lakukan?" Jordan muncul dengan minuman hangat di tangannya. Ia merasa khawatir ketika melihat Leona berdiri di depan jendela.
"Aku ingin makan buah," rengek Leona manja.
"Buah? Buah apa?"
Leona menggeleng pelan. "Buah yang tidak ada di sini. Buah yang tidak pernah aku makan."
"Entahlah." Leona bersandar di dada bidang Jordan.
"Sayang, mommy meminta urine mu," bisik Jordan hati-hati.
"Urine? Buat apa?" Leona melebarkan kedua matanya.
Jordan mengangkat kedua bahunya. "Sejak dulu mommy selalu memint urine Katterine. Mungkin mommy ingin memeriksa kesehatan kalian sebagai wanita." Jordan terpaksa berbohong agar Leona tidak sadar tujuan utama Emelie memint arinenya.
"Benarkah?"
"Ya. Mommy hanya ingin memeriksa kesehatanmu saja. Mommy sangat menyayangimu hingga tidak mau kau sakit."
"Baiklah, kapan aku bisa memberikannya?"
"Sekarang!"
"SEKARANG?"
"Ya, minum ini agar kau bisa ke kamar mandi." Jordan menunjuk minuman yang ia bawa. Leona hanya bisa menghela napas dengan wajah pasrah.
"Baiklah."
Jordan tersenyum bahagia. Di dalam hati kecilnya berharap kalau Leona kini sedang mengandung buah hati mereka. Hanya dengan cara berbohong seperti ini yang bisa dilakukan Jordan dan Emelie agar nantinya Leona tidak kecewa dan sedih jika hasilnya negatif.
"Aku ke kamar mandi dulu ya." Leona beranjak dari pangkuan Jordan.
Tidak lama kemudian, Leona keluar dengan urin di dalam botol. Ia memberikan urine itu kepada Jordan.
__ADS_1
"Ini sangat memalukan."
"Mommy juga orang tuamu. Untuk apa malu?"
"Ya … tapi ini menjijikan. Kenapa kita harus serahkan ke mommy? Kenapa tidak ke lab saja langsung."
"Mommy yang minta." Jordan mengecup pipi Leona. "Aku pergi dulu ya."
Leona mengangguk pelan. Saat Jordan pergi Leona memutuskan untuk berbaring di tempat tidur. "Sebaiknya aku istirahat saja. Mataku sangat lelah."
Dengan wajah berseri Jordan membawa Urine itu ke tempat Emelie berada. Mereka berdua memang sudah janjian di sebuah ruangan agar tidak banyak yang tahu. Jordan mengendap-endap masuk ke ruangan tempat Emelie berada. Ia memastikan tidak ada yang melihat sebelum masuk ke dalam.
"Jordan, apa kau berhasil?" tanya Emelie penuh harap.
Jordan memamerkan apa yang ia bawa. Hal itu membuat Emelie bahagia bahkan tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Letakkan di sini." Emelie menunjuk ke atas meja. Ia sudah tidak sabar mencoba testpack yang sejak tadi sudah ia persiapkan.
"Mom, apa alat seperti itu bisa mendeteksi kehamilan?" tanya Jordan ragu.
"Tentu saja bisa," jawab Emelie sambil mencelupkan batang testpacknya.
Jordan memilih duduk dan menunggu hasil yang dikatakan Emelie. Ia sama sekali tidak paham dengan cara kerja alat yang kini digunakan ibu kandungnya.
"Mom, kapan kita tahu hasilnya?"
"Sebentar lagi." Emelie mengamati garis yang segera menunjukkan hasilnya. Debaran jantung wanita itu juga tidak karuan. Rasanya seperti menunggu sebuah undian.
"Mom, apa benar alat itu bisa …." Jordan menahan kalimatnya ketika melihat Emelie meneteskan air mata.
"Mom, apa yang terjadi? Apa hasilnya buruk?" Jordan beranjak dan mengkhawatirkan ibu kandungnya. Emelie memandang wajah Jordan sambil menggelengkan kepala.
"Jordan, kau akan menjadi seorang ayah."
Deg. Jordan tidak tahu harus apa. Tubuhnya membatu seperti patung. Rasa bahagia itu sungguh luar biasa hingga membuatnya tidak bisa bergerak.
"Leona hamil, mom?"
Emelie mengangguk setuju. "Ya."
"Aku akan menjadi Daddy?"
"Ya, sayang. Sebentar lagi akan ada bayi menggemaskan yang memanggilmu Daddy."
Jordan memeluk tubuh Emelie karena terlalu bahagia. Ia sudah tidak sabar memberikan kabar ini kepada Leona.
"Jordan ingin memberi tahu Leona, Mom."
"Jangan sekarang." Emelie menahan putranya. "Mommy sudah persiapkan pesta kejutan agar Leona bahagia."
Kali ini Jordan tidak bisa menolak. Ia tahu apapun rencana ibu kandungnya pasti akan menjadi rencana terbaik. "Baiklah, Mom."
"Sekarang pergi temani Leona. Pastikan dia tidak terlalu lelah."
"Baik, mom." Jordan segera pergi meninggalkan ruangan itu. Ia sudah tidak sabar mengecup dan memeluk ibu dari anaknya. Jordan benar-benar bahagia mendapat kabar baik itu.
"Aku akan menjadi Daddy?" Saat membuka pintu kamar, Jordan melihat Leona yang sudah terlelap. Ia segera naik ke atas tempat tidur dan menurunkan selimut yang menutupi tubuh istrinya. Jordan menarik piyama Leona dan mengecup perut Leona yang masih terlihat rata.
"I Miss you My Son … I Love you."
__ADS_1