
Katterine baru saja selesai mandi. Ia juga sudah memakai pakaian yang sangat rapi untuk memulai aktivitas paginya. Bibirnya tersenyum indah seperti cerahnya matahari di pagi hari. Katterine berencana untuk mengajak Oliver sarapan di luar. Ia ingin merasakan bagaimana rasanya berpacaran dengan orang yang ia cintai.
Berulang kali Katterine memutar tubuhnya di depan cermin untuk memastikan Kalau penampilannya sudah cantik pagi itu. Ia tidak mau terlihat jelek di depan Oliver.
"Sepertinya bibirku terlihat sedikit pucat, aku harus menambah warna di sini agar terlihat jauh lebih segar," ucap Katterine sambil memilih lipstik yang ada di meja riasnya. Belum sempat ia mendaratkan lipstik itu di bibirnya tiba-tiba sudah terdengar suara ketukan pintu.
"Kenapa dia datang secepat ini?" Katterine meletakkan lipstik yang baru saja ia buka. wanita itu segera berlari ke arah pintu karena tidak mau Oliver menunggu terlalu lama di depan sana.
Ketika catering membuka pintu tidak ada satu orang pun yang berdiri di hadapannya. Katterine memeriksa ke lorong kanan dan kiri apartemennya namun tidak ada satu orang pun di sana. Ketika ia ingin masuk ke dalam, Katterine melihat sebuah kotak di permukaan karpet. Dengan rasa penasaran Katterine mengambil kotak itu dan memeriksa nama pengirimnya. Tidak ada tertulis nama pengirim di sana yang ada hanya tulisan kalau kotak itu untuk dirinya.
Sejenak Katterine berpikir dan berharap kalau kotak itu dikirim oleh Oliver sebagai kejutan di pagi hari. Dengan penuh suka cita Katterine membawa kotak itu ke dalam rumah. Tidak lupa ia menutup dan mengunci pintu apartemennya kembali.
Katterine meletakkan kotak tersebut di atas meja sebelum duduk di atas sofa. Ia memandang kotak itu dengan debaran jantung yang tidak karuan. Jika benar kotak itu pemberian dari Oliver, itu tandanya ini adalah kejutan pertama dari pria tangguh itu selama mereka pacaran.
"Tidak mungkin Oliver yang mengirimnya, bukankah dia pria yang sangat tidak peka. Tapi ... bagaimana jika dia sudah berubah? Bukankah Roberto sudah tidak ada di kota ini lagi? Tidak mungkin jika Roberto mengirim kotak seperti ini dari kejauhan sana."
Katterine mengambil kotak itu dan meletakkan kotak tersebut di atas pangkuannya. Kotak itu berwarna hitam dengan pita warna biru. Terlihat sangat manis dan elegan. Bisa dibilang bentuknya sama persis dengan kotak yang biasa digunakan oleh pria untuk membuat kejutan kepada kekasihnya. Katterine membuka pita itu dengan hati-hati. Bahkan ia harus menghela nafas dan menenangkan dirinya sendiri sebelum membuka kotak itu.
"Semoga saja hasilnya tidak mengecewakan."
__ADS_1
Ketika Katterine membuka tutup kotak tersebut, ia dikejutkan dengan beberapa foto dan flash disk yang ada di dalamnya. Tidak ada bunga atau hadiah spesial seperti yang ia harapkan sebelumnya. Katterine mengambil foto-foto tersebut dengan tangan yang gemetar. Betapa kagetnya ia ketika melihat foto yang yang kini ia pegang berisi wajah Oliver.
"Tidak! Ini bukan Oliver. Tidak mungkin Oliver melakukan semua ini. Tapi, Oliver suka minum. Bagaimana kalau dia mabuk dan ada wanita yang suka dengannya dan dengan sengaja menggodanya lalu mereka ...."
Katterine menunduk sedih sambil memegang foto-foto mesra Oliver dengan wanita lain. Sangat menyakitkan memang. Di tambah lagi kedua mata Oliver ketika di dalam foto itu terlihat sangat menikmati kecupan wanita seksi di sampingnya.
Tiba-tiba saja mata Katterine terasa perih. Ia ingin menangis karena terlalu sakit hati. Tidak ada hal yang jauh lebih menyakinkan jika dibandingkan melihat pria yang kita cintai bermesraan dengan wanita lain.
Katterine memandang flashdisk yang ada di tangannya. Sebenarnya ia tidak sanggup untuk memutar video tersebut. Bahkan melihat fotonya saja ia sudah tidak sanggup untuk bergerak. Hatinya yang terluka membuat tubuhnya lumpuh.
Katterine berusaha tegar. Ia mengambil laptop yang ada di meja. Wanita itu menghidupkan layar laptopnya dan memasukkan flashdisk tersebut. Kedua matanya terpejam sembari menunggu video di dalamnya terputar. Ketika video itu terputar, Katterine semakin syok. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Bahkan bernapas saja tidak bisa normal lagi.
"Oliver, kau benar-benar jahat. Kenapa kau tega melakukan semua ini. Bahkan semua ini kau lalukan tadi malam? Kau menolak ajakan ku untuk makan malam karena ingin menemui wanita ini dan bersenang-senang dengannya? Kenapa kau setega itu?" lirih Katterine dengan air mata yang semakin deras.
Katterine menghapus air matanya. Ia melihat jam yang ada di dinding. Tidak lama lagi Oliver pasti akan datang untuk menjemputnya. Katterine tidak mau bertemu dengan pria itu hari ini. Ia memasukkan foto-foto itu ke dalam tas dan segera pergi meninggalkan apartemen.
***
Setibanya di parkiran, Oliver baru saja tiba. Seperti biasa, pria itu turun dari mobil untuk menemui Katterine. Memang ada rasa curiga ketika melihat Katterine ada di parkiran sepagi itu. Biasanya ia akan menjemput kekasihnya itu di apartemennya.
__ADS_1
"Katterine," sapa Oliver sambil berjalan maju.
Katterine tidak peduli lagi. Ia segera masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya dengan rapat. Oliver yang tidak tahu apa-apa segera berlari untuk memeriksa keadaan Katterine pagi itu. Belum sempat Oliver tiba di samping mobilnya, Katterine sudah lebih dulu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Wanita itu pergi begitu saja karena marah dengan kelakuan Oliver.
"Katterine!" teriak Oliver berharap wanita itu berhenti. Sayangnya lagi mobil wanita itu justru semakin jauh dan tidak ada tanda-tanda akan berhenti. Oliver segera berlari menuju ke mobilnya. Ia tidak ingin wanita yang ia cintai itu celaka.
"Apa lagi sekarang!" Oliver masuk ke dalam mobil dan segera mengejar laju mobil Katterine. Ia tidak ingin kehilangan jejak wanita itu begitu saja.
Katterine menambah laju mobilnya ketika melihat mobil Oliver ada di belakangnya. Tidak ada niat sama sekali bagi Katterine untuk berhenti dan membahas masalah tersebut bersama dengan Oliver. Ia butuh ketenangan. Ia butuh ruang untuk sendiri. Kali ini pikiran Katterine benar-benar tidak sejernih biasanya.
Katterine melajukan mobilnya menuju ke arah perbukitan. Jalanan menanjak yang sunyi itu ia tempuh dengan kecepatan tinggi tanpa peduli dengan keselamatan dirinya sendiri. Dari belakang mobil, Oliver semakin panik. Ia tahu kalau kini Katterine sedang mendapat masalah. Wanita itu tidak pernah bersikap seberani itu jika hatinya tidak sedang terluka.
"Apa yang terjadi? Ini sangat berbahaya." Oliver melihat jalanan yang semakin menanjak. Di samping kanan mereka telah disambut dengan jurang yang begitu dalam. Sangat mengerikan hingga membuat Oliver semakin khawatir dengan keselamatan Putri Cambridge itu.
Oliver menambah laju mobilnya. Ia tahu tindakan yang akan diambil ini akan sangat beresiko. Tapi resiko sebesar apapun akan ia ambil asal Katterine baik-baik saja. Ia tidak ingin wanita itu terluka apalagi sampai celaka.
Oliver mendahului laju mobil Katterine yang kecepatannya sungguh luar biasa. Ketika mobilnya berada di depan mobil Katterine, Oliver segera memutar setir nya agar posisi mobilnya menghadap ke mobil Katterine.
Rencana yang ia lakukan berhasil, namun Katterine tidak juga menunjukkan tanda-tanda ingin memberhentikan laju mobilnya. Ia justru melajukan mobilnya walau kini mobil Oliver melaju dengan cara mundur.
__ADS_1
Saat di depan ada tekongan yang sangat tajam, Oliver sempat gelisah dengan nyawa yang ia miliki. Mungkin bukan dia saja yang celaka jika Katterine tetap nekat, justru mereka berdua akan benar-benar terjun ke dalam jurang tersebut.