
Jordan dan Leona terlihat sangat bahagia. Ada banyak cerita masa-masa sekolah yang kembali mereka bahas kembali. Walau sekolah di negara yang berbeda, tapi mereka memiliki kebiasaan yang hampir sama. Salah satunya tidak suka duduk di belakang.
“Aku juga tidak tahu kenapa ketika duduk di belakang aku selalu merasa takut. Aku lebih tenang jika duduk di depan. Selain penjelasan guru bisa di dengar dengan jelas, aku juga tidak perlu memberi contekan kepada teman sekelasku yang lain,” sambung Leona dengan senyum indah di bibirnya. Wanita itu mengambil minuman hangat yang ada di hadapannya dan meneguknya secara perlahan.
“Kau takut saat di sekolah dan berubah berani setelah dewasa. Sepertinya keadaan benar-benar memaksamu, Leona.”
Jordan memandang wajah Leona dengan senyuman. Leona saat itu hanya diam membisu. Ia meletakkan minumannya kembali ke atas meja dengan senyum kecil. Ketika Leona kembali membayangkan masa sekolahnya, ia tidak menyangka kalau ketika dewasa akan menjadi wanita pembunuh yang seolah haus akan darah. Leona melirik tangannya sebelum memandang ke arah lain.
“Leona, Mommy sudah sejak lama ingin melihatku menjadi Raja. Sepertinya dia sudah lelah menjadi Ratu. Mommy ingin menikmati masa tuanya bersama dengan Daddy di sebuah rumah sederhana yang sudah mereka persiapkan sejak lama. Tapi ... hingga detik ini aku belum tahu bagaimana caranya agar aku bisa menjadi Raja. Bukankah aku harus menikah dulu?” Jordan menghela napas. “Pacar saja tidak punya, bagaimana bisa menikah,” sindir Jordan. Sebenarnya ia hanya ingin melihat reaksi wajah Leona saja saat itu.
“Kenapa kau tidak mencari wanita yang pantas menjadi Ratu dan selalu ada di sampingmu,” jawab Leona dengan suara pelan.
“Karena aku maunya dirimu, Leona,” jawab Jordan cepat. Pria itu beranjak dari duduknya dan menarik tangan Leona. Ia membuat Leona berdiri dan menatap wajahnya dalam-dalam. “Leona, aku sangat mencintaimu. Kau pasti tahu itu. Leona, ayo kita pacaran.”
“Aku tidak mau berpacaran,” jawab Leona tanpa mau berpikir dulu.
“Kau ingin langsung menikah? Bagaimana kalau tiga bulan lagi kita menikah. Aku akan mempersiapkan semuanya mulai dari sekarang?” ucap Jordan dengan wajah yang sangat tenang. Seolah-olah kini dirinya dan Leona adalah pasangan yang sedang membicarakan sebuah pernikahan.
“Siapa yang ingin menikah denganmu?” celetuk Leona dengan alis saling bertaut.
“Leona, kenapa kau bicara seperti itu?” Jordan memasang wajah yang serius. Ada rasa kecewa di sana.
__ADS_1
“Aku tidak mencintaimu. Lalu untuk apa kau mengajakku menikah?” ucap Leona asal saja. Kedua matanya berkedip dengan cepat. “Sial! Kenapa aku mengatakan hal seperti itu?” gumam Leona di dalam hati. Ia menyesali ucapan yang baru saja terucap dari bibirnya. Namun, untuk menarik kata-katanya lagi itu tidak mungkin bagi Leona.
“Leona, kenapa sulit sekali bibirmu itu mengatakan kalau kau juga mencintaiku?” Jordan membuang napasnya dengan kasar. “Cepat katakan kalau kau juga mencintaiku!” Ia berbicara setengah teriak.
“Aku ... tidak mau menikah, aku juga tidak mau pacaran!”
“Awas saja kau.”
“Kau mengancamku?” Leona terlihat mulai kesal. Wanita itu memandang Jordan dengan tatapan yang sangat tajam.
“Ya.”
Leona memalingkan wajah. Tiba-tiba saja Jordan memeluk Leona dari belakang. Bibirnya mengukir senyuman bahagia. “Aku tahu kau mencintaiku. Kau hanya takut menjalani sebuah hubungan karena trauma percintaanmu dengan Zean bukan?” bisik Jordan dengan suara membujuk. Ia tidak mau kedatangannya kali ini justru membuat hubungannya dengan Leona menjadi renggang. “Kita akan pacaran setelah menikah saja. Mungkin akan sangat indah nanti.”
“Tubuhmu sangat hangat dan mungil. Tubuhmu ini sangat pas untuk di peluk,” ucap Jordan dengan senyum menyeringai. “Angin di sini sangat kencang. Tubuhmu pasti kedinginan. Maka dari itu. Menurutlah,” sambung Jordan lagi. masih dengan kedua tangan yang memeluk erat tubuh Leona.
“Kau ini seorang Pangeran. Seharusnya memiliki sikap sopan santun. Tidak bersikap konyol seperti ini,” protes Leona kesal.
“Leona, hanya di depanmu aku seperti ini. Kau juga yang salah.”
“Sekarang kau menyalahkanku lagi?” sambung Leona cepat. Keras kepala sang ayah dan ibunya benar-benar telah mendarah daging di dalam diri Leona saat ini. Wanita itu tetap teguh pada pendiriannya untuk tidak mau mengakui perasaannya.
“Leona, kau wanita pertama yang aku kejar-kejar. Ada banyak wanita yang mengejar-ngejarku. Hanya kau yang tidak tertarik denganku.” Jordan merapikan penampilannya. Pria itu tidak tahu harus bagaimana lagi membujuk Leona agar bisa luluh hatinya.
__ADS_1
“Kau bukan pria istimewa. Untuk apa dikejar-kejar?”
“Aku seorang pangeran, tampan, tangguh, aku sempurna. Satu lagi, jika sudah jatuh cinta, aku akan menjaga pasanganku dengan nyawaku sendiri.” Jordan memandang wajah Leona dengan saksama. “Jika kau tidak mau menikah denganku tiga bulan lagi, aku akan mencari wanita lain.”
Deg. Leona terdiam seribu bahasa. Ia merasa tidak rela jika sampai Jordan jatuh ke dalam pelukan wanita lain. “Coba saja kalau kau bisa,” tantang Leona dengan wajah yang serius. Ia sangat yakin kalau nyali Jordan tidak akan sampai ke situ.
“Leona,”
“Pergilah!”
“Baiklah. Aku akan pergi. Aku akan datang lagi dengan undangan di tanganku. Aku pastikan kau akan menyesal!” ancam Jordan dengan wajah serius.
“Jordan, kau memang pria yang jahat! Pergi dari rumahku sekarang juga!” teriak Leona dengan wajah benar-benar marah.
“Kau mengusirku?”
“Ya.”
“Baik.”
“Ya sudah, pergilah!” Leona memalingkan wajahnya karena tidak mau memandang wajah Jordan lagi. Tadinya ia berpikir kalau Jordan datang akan membuat suasana menjadi tentram dan membahagiakan. Tidak di sangka hanya ada pertengkaran di sana. Leona merasa Jordan terlalu memaksa.
“Kau memang wanita yang tidak memiliki hati, Leona.” Leona hanya diam tanpa mau berkata lagi. Jordan melangkah pergi meninggalkan Leona. Baru beberapa meter melangkah, Pangeran Cambridge itu memutar tubuhnya lagi dan memandang wajah Leona. “Jangan menangis, Baby girl.”
__ADS_1
Kali ini kalimat pria itu penuh penekanan. Ia melangkah dengan begitu cepat tanpa mau memandang wajah Leona lagi.