Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Terburu-buru


__ADS_3


Kwan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sesekali pria itu membersihkan darah segar yang tersisa di sekitar mulutnya. Ada rasa sakit yang masih terasa hingga detik itu. Namun, Kwan tidak mau mengatakan apa yang ia rasakan kepada Leona. Kwan terus saja menambah laju mobilnya agar segera tiba di markas.


Leona yang sejak tadi diam membisu membuang tatapannya kearah jendela. Ia kesal dengan kenyataan yang  baru saja ia terima. Padahal sejak awal Leona berpikir kalau Jordan adalah pria yang berbeda. Tidak di sangka pria itu sama saja seperti Zean. Masih tersisa jelas raut wajah kecewa di wajahnya. Jika malam ini ia membebaskan Jordan karena memang tidak tahu harus berbuat apa. Tapi, tidak di kemudian hari. Jika bertemu dengan pria itu lagi Leona akan menghajar pria itu hingga kalah.


“Kak, siapa mereka? Sepertinya sudah banyak terjadi saat aku ada di San Fransisco. Anak buah kita juga tidak lagi bisa menemukan Zean. Zean menghilang dan tidak tahu bersembunyi dimana. Padahal  sejak awal niatku datang ke Meksiko karena ingin membantumu membunuh pria breng*sek itu!” umpat Kwan dengan kesal.


Leona memandang wajah Kwan sekilas sebelum membuang tatapannya kearah depan. Ia memperhatikan barisan pasukan mafia miliknya. Tiba-tiba saja wanita itu teringat akan sesuatu. “Kwan, putar mobilnya,” perintah Leona cepat.


Kwan memandang wajah Leona dengan wajah penuh tanya. “Apa lagi sekarang kak? Kita sebaiknya pulang dulu ke markas,” ucap Kwan pelan. Pria itu berusaha menolak permintaan Leona malam itu.


“Sekarang!” perintah Leona tidak terbantahkan lagi.


Kwan menghela napas sebelum memutar stir mobilnya. Beberapa pasukan Queen Star juga terlihat bingung saat melihat Kwan memutar arah laju mobilnya. Namun, tidak ingin berpikir terlalu jauh, mereka segera memutar arah dan mengikuti mobil yang di tumpangi Leona dan Kwan.


***


Jordan dan Oliver baru saja tiba di mansion. Dua pria itu berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Beberapa pasukan Gold Dragon sudah berpencar dan bersembunyi di suatu tempat yang tidak terlihat. Menjaga Mansion mewah itu dari incaran musuh yang mungkin akan datang secara tiba-tiba.

__ADS_1


Oliver berjalan sambil mengusap sudut bibirnya. Pria itu tidak pernah merasakan pukulan seperti ini sebelumnya. Sangat fatal baginya jika sampai wajahnya tersentuh oleh  tangan musuhnya. Satu kecerobohan yang ia sesali hingga detik ini.


“Kak, apa yang terjadi?” Putri Katterine muncul dari arah dapur. Wanita itu sudah mengenakan pakaian tidur sambil menggenggam segelas  air putih di tangannya. Ia memandang wajah Oliver dengan tatapan yang sangat serius. “Kenapa dengan wajahmu?” tanya Katterine lagi.


Jordan mengukir senyuman. “Kakak ke kamar dulu ya. Mau mandi.” Jordan memandang wajah Oliver dengan tatapan penuh arti. Pria itu tidak mengijinkan bos mafia Gold Dragon itu untuk menceritakan apa yang terjadi kepada Katterine. “Oliver ketua mafia. Wajar saja kalau dia terluka,” sambung Jordan lagi sebelum menjejaki kakinya di tangga.


Katterine masih berdiri di sana sambil memandang wajah Jordan dan Oliver bergantian. Ia meletakkan gelas yang ada di genggamannya di sebuah meja yang berada tidak jauh dari posisinya berdiri. Ia berjalan mendekati Oliver berdiri. Memperhatikan wajah pria itu dengan saksama.


“Ini pertama kalinya aku melihatmu terluka. Apa lawanmu kali ini sangat hebat?” ucap Katterine dengan tatapan menyelidikinya. Satu tangannya naik ke atas dan menyentuh sudut bibir Oliver dengan penuh perasaan. “Apa ini darah asli?” tanyanya lagi,


Oliver memegang tangan Katterine dan menjauhkannya dari wajahnya. “Putri, sebaiknya anda segera tidur. Ini sudah sangat malam. Anda harus menjaga kesehatan Anda,” ucap Oliver sambil memandang wajah Katterine.


Katterine memajukan bibirnya. “Ya, aku akan tidur. Tapi, sebelum tidur aku ingin mengobati lukamu. Bukankah sudah bertahun-tahun aku tahu kau suka bertarung tapi baru kali ini melihat wajahmu terluka. Ini sebuah sejarah yang harus di abadikan,” ucap Katterine dengan suara lembutnya. Wanita itu menarik tangan Oliver dan membawanya ke arah sofa. “Duduk di sini layaknya pasien. Aku akan mengambil beberapa peralatan medisku,” ucap Katterine dengan senyuman indah.


Katterine mengukir senyuman sebelum berjalan ke dapur. Walau ia bukan berprofesi sebagai seorang dokter, tapi malam itu Katterine sangat bersemangat untuk mengobati luka Oliver.


Di dalam kamar Jordan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Pria itu mengusap wajahnya dengan tangan. Menghela napas secara kasar. Masih terngiang jelas di dalam ingatannnya bagaimana marahnya Leona tadi. Jordan sendiri tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Ia tidak ingin Leona menjauh darinya. Ia ingin hubungan mereka berdua semakin dekat bukan semakin renggang seperti ini.


“Leona, kenapa kau tidak mau menerima penjelasanku dulu?” ucap Jordan sambil memejamkan mata. Satu tangannya ia letakkan di atas dahi. Baru beberapa detik ia memejamkan mata, sudah terdengar deringan ponsel dari dalam sakunya. Jordan mengeluarkan ponselnya dan melekatkannya di telinga. “Ada apa?” ketus Jordan.

__ADS_1


Baru beberapa detik saja ia terlihat tenang. Namun, kabar yang baru saja ia dengar membuat Jordan tidak lagi bisa memasang wajah tenang itu lagi. Ia segera duduk dan memasang wajah serius. “Apa kau yakin?” tanya Jordan lagi untuk kembali memastikan.


Setelah mendengarkan penjelasan ulang dari lawan bicaranya di telepon, Jordan segera memasukkan ponselnya ke dalam saku. Pria itu berjalan ke arah laci dan mengambil beberapa peluru. Memasangnya di dalam senjata api yang ingin ia kenakan. Jordan juga membuka baju yang ia kenakan. Mengganti pakaiannya dengan pakaian yang baru.


“Leona, seperti apa jalan pikirannya? Kenapa aku tidak pernah bisa meninggalkannya walau sedetik saja,” protes Jordan dengan wajah kesal. Pria itu berjalan cepat meninggalkan kamar. Ia menjejaki anak tangga dengan cepat. Jordan tidak ingin ketinggalan. Ia ingin segera ada di lokasi kejadian untuk melindungi Leonanya.


Dari lantai bawah, Oliver memandang Jordan dengan wajah bingung. Di hadapannya masih ada Katterine yang mengobati lukanya dengan penuh penghayatan. Oliver segera beranjak dari kursi yang ia duduki dan mengejar langkah kaki Jordan. Meninggalkan Katterine yang masih duduk di kursi kecil.


“Pangeran, apa yang terjadi?” tanya Oliver cepat.


“Ada urusan yang harus aku selesaikan,” jawab Jordan sebelum masuk ke dalam mobilnya. Pria itu terkesan terburu-buru hingga membuat Oliver penasaran dan memutuskan untuk mengikutinya dari belakang.


Katterine yang sudah muncul di depan pintu segera menarik tangan Oliver. “Mau kemana?” ucapnya dengan wajah kesal. “Mau main perang-perangan lagi? Kenapa tidak di tuntaskan saja tadi?”


Oliver memandang wajah Katterine. “Putri, sebaiknya Anda segera tidur. Jangan tunggu kami. Kami akan segera pulang jika sudah selesai,” ucap Oliver sebelum berlari kencang ke arah mobil yang terparkir di sana. Gerakan Oliver segera diikuti beberapa pria berbadan tegab yang selalu siaga di depan sana.


Katterine melipat kedua tangannya di depan dada. Wanita itu memandang wajah pria yang berdiri tidak jauh dari posisinya berdiri. “Ambilkan mantelku. Aku ingin lihat sebenarnya apa yang di kerjakan dua pria ini sejak tadi,” perintah Katterine dengan sorot mata yang sangat serius.


“Baik, Putri,” jawab pria itu dengan penuh hormat sebelum masuk ke lama mansion untuk mengambil mantel milik Putri Katterine.

__ADS_1


Katterine memandang sorot lampu mobil Jordan dan Oliver yang sudah menghilang di balik pagar. “Aku pasti bisa mengejar kalian. Lihat saja nanti!” ucap Katterine penuh dengan keyakinan.


 


__ADS_2