
Miller dan Oliver baru saja tiba di daerah sunyi yang dikelilingi hutan. Hanya ada satu rumah di sana. Berdasarkan penyelidikan anggota Miller, pria yang menjadi lawan bicara Roberto tinggal di rumah tersebut. Oliver dan Miller bersembunyi di tempat yang tidak terlihat. Mereka bahkan meninggalkan mobil mereka jauh dari lokasi saat ini berada.
"Dia ada di dalam. Posisinya masih bisa di lacak. Sepertinya selama ini dia bersembunyi di tempat ini." Miller memandang Oliver sebelum mengamati rumah sederhana yang tidak jauh dari posisi mereka berada.
"Kita harus segera menangkapnya. Apapun caranya, jangan biarkan dia lolos begitu saja "
Miller mengangguk. Ia dan beberapa pasukan Gold Dragon berjalan maju. Rasanya sudah tidak sabar untuk segera tiba di dalam rumah tersebut. Berharap Katterine ada di dalam dan mereka bisa menyelamatkan wanita itu segera.
BRUAKK
Pasukan Gold Dragon mendobrak pintu depan agar mereka bisa masuk. Oliver dan Miller segera berlari ke dalam untuk memeriksa keadaan di sana. Namun, ruangan itu tidak seperti rumah. Hanya sebuah ruangan luas seperti gudang yang tidak ada ruangan lain selian ruangan tersebut. Mereka tidak menemukan apapun. Hanya ponsel yang tergeletak di atas meja dan sebuah koper.
__ADS_1
Miller membuka koper yang ada sedangkan Oliver memeriksa setiap sudut ruangan itu untuk memastikan tidak ada tempat rahasia yang bisa di jadikan musuhnya untuk tempat bersembunyi.
"Ini sangat mirip dengan benda tadi." Miller memegang beberapa topeng yang tersusun rapi di dalam sana. Bahkan ada juga rambut palsu yang mungkin akan di gunakan untuk menyempurnakan penyamarannya.
Oliver tidak terlalu peduli dengan topeng tersebut. Ia memegang dinding yang terlihat mencurigakan. Ketika dinding itu di dorong, terlihat jalan setapak menuju ke arah hutan. Oliver melihat seseorang yang berlari di depan sana. Tanpa banyak berpikir, Oliver berlari mengejar pria tersebut. Begitu juga dengan Miller yang tidak mau ketinggalan.
***
"Sial! Hampir saja aku ketahuan. Kalau saja tadi aku tidak melihat ke layar monitor, aku tidak akan tahu jika sudah ada banyak orang yang mengelilingi rumah itu." Pria itu berlari dengan kencang. Ia ingin pergi sejauh mungkin agar tidak tertangkap Miller dan Oliver.
DUARR DUARR
__ADS_1
Dari arah belakang, Oliver dan Miller terus saja mengejar pria tersebut dengan gerakan cepat. Kali ini mereka tidak ingin kehilangan jejak musuh mereka begitu saja. Walau sudah malam dan jalanan yang mereka lewati tidak lagi terlihat, tapi mereka tahu kalau pria yang mereka cari ada di depan dan sedang melarikan diri.
"Oliver, di depan semakin gelap. Kita tidak bisa melihat jejaknya lagi." Miller berusaha mengobrol ketika berlari walau ia tahu ini bukan waktu yang tepat. Oliver tetap memandang ke depan tanpa mau mengalihkan pandangannya ke arah lain. Walau menjawab pertanyaan Miller ia juga tidak memandang pria itu.
"Aku akan terus mengejarnya. Aku yakin kalau malam ini aku pasti bisa bertemu dengannya."
Miller tidak mau banyak protes lagi. Pria itu juga ikut mengejar musuh mereka. Suasana semakin dingin karena mereka masuk ke dalam hutan yang semakin gelap. Terdengar jelas suara binatang yang biasa tinggal di hutan. Miller menahan langkah kakinya. Ia tidak tahu harus berlari ke mana ketika melihat jalan di hadapannya ada dua.
Oliver mengatur napasnya yang terputus-putus. Ia melihat kedua jalan itu secara bergantian. Keduanya terlihat seperti baru saja dilewati. Jadi dia tidak bisa memutuskan jalan mana yang harus di pilih.
"Kau ke kanan aku ke kiri. Bagaimana?" tawar Miller dengan napas yang tidak karuan.
__ADS_1
"Baiklah. Berikan tanda jika kau berhasil menemuinya."
Miller hanya mengangguk. Mereka berpisah di depan jalan tersebut. Jalanan yang menuju ke hutan paling dalam itu harus mereka tempuh demi mendapatkan pria yang sudah berhasil menculik Katterine.