
Kwan memberhentikan mobilnya di halaman luas yang ada di depan vila. Pria itu menatap wajah Alana dan yang lainnya sebelum mematikan mesin mobil. “Ini Vilanya. Kita bisa menikmati keindahan laut dari vila ini kak,” ucap Kwan dengan wajah penuh percaya diri.
Leona dan yang lainnya turun dari dalam mobil. Mereka memperhatikan vila mewah yang kini ada di hadapan mereka. Terlihat sangat indah. Dari jarak yang tidak terlalu jauh, ada beberapa vila juga yang sengaja disajikan untuk menikmati pemandangan laut.
Mereka ada di dataran tinggi. Untuk ke pantai membutuhkan waktu sekitar lima menit dengan berjalan kaki. Alana dan Leona terlihat sangat bahagia melihat pemandangan indah malam itu. Berbeda dengan Aleo. Pria itu berjalan masuk ke dalam vila dengan wajah yang sangat tenang.
“Kak, tunggu!” teriak Leona sebelum mengejar jejak kaki Aleo dari belakang.
Hanya tersisa Alana dan Kwan. Mereka saling memandang sebelum berjalan ke arah kursi yang tidak jauh dari posisi mereka berdiri.
“Di sini sangat dingin,” ucap Alana sambil memegang lengannya yang terbuka. Alana tidak pernah tahu kalau akan pergi ke tempat seperti itu. Pakaian yang kini ia kenakan tidak melindunginya dari rasa dingin.
Kwan melepas jas miliknya sebelum memakaikannya di tubuh Alana. “Apa sekarang masih dingin?” tanya Kwan pelan.
Alana mengukir senyuman sebelum menggeleng pelan. Wanita itu duduk dan mulai menikmati keindahan pantai pada malam hari. “Apa kau setuju dengan perjodohan itu?” tanya Alana dengan penuh selidik.
Kwan mengukir senyuman kecil sebelum memandang ke arah depan. “Tidak. Karena sudah ada seorang wanita di dalam hatiku,” jawab Kwan tanpa memandang.
Alana mengangguk pelan. Wanita itu terlihat bahagia ketika mendengar kata tidak setuju Kwan. Namun, ia merasa sangat penasaran dengan wanita yang kini telah membuat Kwan jatuh cinta.
“Siapa wanita itu?” tanya Alana penasaran.
Kwan memiringkan pandangannya. Pria itu menatap wajah Alana dengan saksama. Wajah mereka saling memandang satu sama lain. Alana dan Kwan sama-sama tidak berkedip. Jarak wajah mereka semakin lama semakin dekat.
__ADS_1
Kwan menghentikan gerakannya saat sudah tiba di hadapan Alana. Hanya ada beberapa centi saja jarak antara bibirnya dan bibir Alana. Pria itu meraih tangan Leona dan menggenggamnya dengan mesra. “Kau, Alana. Aku sangat mencintaimu,” ucap Kwan dengan hati yang sangat tulus. Pria itu tidak ingin menunda lagi. Detik ini juga, ia ingin Alana tahu kalau ia sangat mencintai wanita itu.
Alana tidak lagi bisa bernapas dengan tenang. Bahkan debaran jantungnya juga tidak karuan. Bibirnya mengukir senyuman bahagia saat mendengar pernyataan cinta Kwan kepadanya.
“Alana, apa kau juga mencintaiku?” tanya Kwan penasaran.
Alana hanya diam membisu dengan kedua mata yang memandang wajah Kwan. Wanita itu ingin mengatakan ya tapi tidak tahu kenapa seluruh tubuhnya seperti grogi. Alana belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.
Kwan memegang dagu Alana dan mengusapnya dengan lembut. Pria itu melirik bibir Alana sekilas sebelum menatap wajah wanita itu lagi. Kwan mendaratkan kecupan manis di bibir Alana yang terlihat merah dan basah. Pria itu sangat tergila-gila dengan Alana sejak lama. Malam ini, ia sangat bahagia karena bisa memiliki wanita itu.
Alana menjauhkan wajahnya saat bibir mereka baru bersentuhan beberapa detik saja. Wanita itu memegang bibirnya dan segera pergi dari sana. Membuat Kwan terlihat bingung dan kecewa. Ia baru saja menyatakan cintanya. Sedangkan wanita yang ia cintai hanya diam dan menghindar.
Kwan segera berdiri. Pria itu menatap punggung Alana dengan wajah kecewanya. “Alana, berhenti! Jika kau benar mencintaiku berhenti dan kembalilah ke dalam pelukanku. Tapi, jika kau benar tidak mencintaiku ... Pergilah. Jangan memutar tubuhmu lagi!” teriak Kwan dengan keseriusan.
Kwan berdiri dengan wajah kecewa. Pria itu membuang tatapannya dengan wajah tidak terbaca. “Aaaaaaaaaaaa!” teriaknya untuk melampiaskan rasa kesalnya.
Kwan memutuskan untuk pergi meninggalkan vila itu. Ia tidak ingin bertemu dengan Alana dalam waktu dekat. Setidaknya, untuk kali ini ia butuh waktu untuk menenangkan pikirannya.
Dari dalam vila Aleo dan Leona melihat kejadian itu. Mereka hanya bisa menghela napas sebelum menggeleng pelan. “Kwan terlalu cepat melakukan hal seperti itu kepada wanita. Apa lagi Alana,” ucap Aleo yang seolah mengerti bagaimana sifat Alana selama ini.
“Aku tidak tahu lagi bagaimana cara menyatukan mereka. Sepertinya untuk kali ini aku menyerah saja,” sambung Leona pelan.
“Leona, kau bisa membujuk Alana agar tidak memikirkan Kwan dulu malam ini. Kita akan pulang besok pagi. Kakak mau istirahat dulu.” Aleo memutar tubuhnya.
__ADS_1
“Kak, bukankah besok Paman Biao akan pergi ke rumah Paman Tama. Apa Alana akan ikut?” tanya Leona penasaran.
Aleo mengangguk pelan. “Ya. Alana akan ikut pergi ke rumah Paman Tama. Sepertinya Alana dan Kwan tidak akan bisa bertemu lagi, karena setelah dari rumah Paman Tama, Paman Biao akan kembali ke San Fransisco,” ucap Aleo dengan wajah serius.
Leona mengangguk pelan. “Baiklah. Aku akan menemui Alana dulu dan membujuknya agar dia tetap baik-baik saja.”
Leona berjalan ke arah Alana pergi berlari. Wanita itu tidak tahu kemana saat ini Alana pergi. Namun, dari apa yang ia lihat tadi. Alana berlari ke arah pintu samping yang menghubungkan vila ke pantai.
Alana duduk di pasir pantai dengan wajah tidak terbaca. Wanita itu bahkan sesekali menghapus air matanya yang tiba-tiba saja menetes. Alana masih trauma dengan ciuman pertamanya yang telah di rebut oleh Kwan secara tiba-tiba.
“Alana, apa aku boleh menemanimu?” ucap Leona yang baru saja tiba di pantai tersebut.
Alana memutar tubuhnya sebelum mengukir senyuman. “Kak Leona belum tidur?” ucapnya penuh basa-basi. Alana tidak ingin Leona tahu kalau kini ia sedang menangisi Kwan.
Leona duduk di samping Alana. Wanita itu memandang ombak yang bergulung. “Kwan adalah pria yang suka bergonta ganti pasangan. Selama ini ia tidak pernah menjalani hubungan yang serius. Dia sangat suka bermain-main dengan wanita. Kau wanita pertama yang membuatnya banyak berubah.”
Alana mengukir senyuman tipis. “Untuk apa kak Leona menceritakan tentang kehidupan Kwan? Aku dan Kwan tidak memiliki hubungan apa-apa,” ucap Alana pelan.
“Alana, aku tidak bisa mengatakan kalau kau harus memilih Kwan atau jangan. Tapi, selama ini yang aku lihat, Kwan sudah berubah menjadi jauh lebih baik. Dia sangat mencintaimu. Untuk cintanya kali ini, aku berani menjamin. Kalau itu cinta yang tulus. Bukan keisengan semata.” Leona menatap wajah Alana dengan tatapan penuh harap.
“Ini terlalu cepat kak. Alana butuh waktu untuk memikirkan semuanya,” jawab Alana dengan kepala menunduk.
Leona menarik tubuh Alana ke dalam pelukannya. “Aku harap kau dan Kwan bisa tetap menjadi dekat walau kalian tidak menyatu menjadi sepasang kekasih.”
__ADS_1
Alana mengukir senyuman sebelum memejamkan mata. Wanita itu masih bingung dengan perasaanya saat ini. Ciuman itu memang membuatnya takut dan tidak tahu harus bagaimana. “Aku mencintainya kak. Tapi aku takut ia akan meninggalkanku setelah aku menyerahkan apa yang ia inginkan,” gumam Alana di dalam hati.