
Leona duduk di kursi yang ada di meja makan. Wanita itu melirik wajah beberapa orang yang kini menatapnya dengan tatapan menyelidik. Sama halnya dengan Kwan. Pria itu duduk di samping Leona dengan wajah ketakutan. Hanya dirinya dan Leona yang duduk. Sedangkan yang lain berdiri dengan tatapan tajam terhadapnya.
“Sayang, apa kau tidak ingin menceritakan sesuatu kepada mama?” tanya Serena dengan suara lemah lembutnya. Wanita itu meraih tangan Leona dan mengusapnya dengan lembut.
Leona terdiam seribu bahasa. Ia tidak tahu harus berbicara dari mana. Ia malu jika harus menyampaikan masalah tentang Zean kepada Serena dan yang lainnya. Leona merasa, kalau semua orang hanya akan menyalahkan dirinya nanti.
Leona menggeleng pelan dengan kepala menunduk. “Tidak ada, Ma,” jawab Leona pelan.
“Kwan!” teriak Kenzo.
Kwan mengangkat kepalanya. Pria itu menatap wajah Kenzo sekilas sebelum memandang wajah Leona lagi. “Aku baru tiba di Brazil, selang lima jam kembali ke sini lagi. Tentu saja aku tidak tahu apa-apa,” ucap Kwan penuh dengan kebohongan.
Serena menghela napas. Wanita itu tidak tahu lagi bagaimana cara menyelidiki masalah yang telah menimpah keluarganya. Semua pengawal yang sudah ia kirim telah berkhianat. Hanya beberapa yang tetap bekerja dengan Serena. Mereka juga telah tewas di tangan Zean. Saat ini, Serena tidak tahu. Bagimana kekuatan musuh yang ia hadapi. Bagaimana wajahnya. Hanya tahu asal usul musuh itu berasal saja.
“Kau tidak berbohong? Atau hanya melindungi Leona?” sambung Aleo cepat.
“Eh?” Kwan menelan salivanya. Tatapan Aleo sangat menyeramkan. Pria itu tidak lagi tahu harus membela yang mana.
“Kak, jangan mempersulit Kwan hingga seperti itu. Kami tidak ada masalah. Semua baik-baik saja,” ucap Leona dengan wajah yang sangat menyakinkan.
Serena menatap wajah Leona sebelum menatap wajah Shabira. Wanita itu juga menatap wajah Kenzo dan Daniel secara bergantian. Ada tatapan penuh arti yang ia layangkan perihal masalah yang kini mereka hadapi.
“Ma, Leona ingin ke kamar,” jawab Leona pelan. Wanita itu beranjak dari duduknya dan berlari cepat menuju ke arah tangga. Tersisa Kwan yang terlihat kebingungan. Leona bukan membawanya pergi, justru meninggalkannya sendiri.
“Kwan, katakan saja apa yang terjadi. Ini semua demi kebahagiaan Leona juga. Hanya kau dan Leona yang pernah melihat langsung wajah Zean Wick!” ucap Shabira dengan tatapan tajam.
“Tapi, Ma-”
__ADS_1
“Mereka mafia, Kwan!” sambung Kenzo dengan suara yang sangat tegas.
Kwan terlihat kaget saat mendengar pernyataan Kenzo. Pria itu menggeleng pelan dengan tatapan tidak percaya. “Mafia? Itu tidak mungkin, Pa. Ia hanya berandal yang memiliki kekuatan....” Kwan kembali ingat dengan pasukan S.G. Group yang tunduk atas perintah Zean. Pria itu tidak lagi bisa bernapas dengan tenang. Pria yang selama ini ia anggap tidak memiliki kekuatan apa-apa ternyata seorang mafia.
“Kwan, apa kau pernah berjumpa dengannya? Bagaimana dengan Leona? Apa hubungan mereka sangat dekat?” ucap Serena dengan wajah khawatir.
Kwan masih menahan ceritanya di dalam hati. Pria itu menatap wajah Aleo yang mulai berjalan mendekatinya. Tanpa banyak gerakan yang dilakukan Aleo, Kwan sudah beranjak dari duduknya. Selama ini, Kwan selalu kalah dari Aleo. Ia tidak ingin kali ini celaka di tangan Aleo lagi.
“Baiklah. Jangan katakan pada Kak Leona kalau aku mengatakan semuanya pada kalian.”
Serena mengukir senyuman. “Tidak akan. Kami akan menjaga rahasia ini,” jawabnya pelan.
“Tergantung. Jika itu diperlukan, aku akan menggunakan namamu,” sambung Aleo cepat.
Kwan menghela napas lagi, “Kak Leona dan Zean, pertama kali bertemu di Meksiko-”
Daniel memegang pundak Aleo. Pria itu tahu bagaimana sayangnya Aleo kepada Leona. Masalah ini berhubungan dengan perasaan Leona. Berlian berharga yang ada di keluarga Edritz Chen.
Kwan berlari ke arah Shabira. Pria itu bersembunyi di balik tubuh ibunya. “Jika Kak Aleo tidak bisa tenang, aku akan kabur ne,” ancam Kwan dengan suara pelan.
“Coba saja kalau kau berani!” ancam Kenzo gantian.
Kwan menatap wajah Kenzo. “Ma, sebenarnya ... Papa Kenzo benar papa Kwan atau tidak?” bisiknya kepada Shabira.
“Nanti kita lakukan tes DNA agar jelas,” jawab Shabira dengan wajah yang sangat tenang.
“Kwan!” teriak Kenzo sekali lagi.
__ADS_1
“Baik-baik. Jadi, ceritanya seperti ini....”
***
Leona masuk ke dalam kamar. Wanita itu berjalan ke arah jendela. Ia membuka jendela untuk memberikan jalan kepada udara segar agar masuk memenuhi kamarnya. Wanita itu terlihat tenang jika sudah berada di dalam kamar miliknya.
“Sudah lama tidak menikmati pemandangan ini,” ucap Leona pelan.
Ponsel Leona berdering. Wanita itu meraih ponselnya dari dalam tas. Ia mengeryitkan dahi saat melihat nomor baru di layar ponselnya. Tanpa curiga sama sekali, Leona mengangkat panggilan masuk tersebut.
“Honey, apa kabar?”
Leoan mematung. Wanita itu sangat kenal dengan suara pria yang kini menghubunginya. Rasa sakit hati dan seluruh luka yang sempat menyiksanya kini seperti hadir kembali. Leona mencengkram ponselnya dengan begitu kuat.
“Hai, Honey. Apa kabar? Apa kau merindukanku?” ucap Leona dengan emosi tertahan. Kedua matanya berubah tajam. Ia tidak mau terlihat lemah di depan Zean.
“Hmm, sepertinya ya. Aku ingin bersenang-senang lagi denganmu seperti kemarin,” jawab Zean dengan tawa yang bisa di dengar dengan jelas oleh Loena.
Leona sudah kesulitan mengatur napasnya yang kini berubah sesak. Wanita itu memejamkan mata sejenak. “Sayangnya, kau tidak berhasil memilikinya. Apa kau sangat mencintaiku hingga tidak tega melihat air mataku menetes? Bukankah aktingku sangat bagus? Eh?” sambung Leona lagi.
Zean tidak lagi bersuara. Pria itu seperti kalah telak ketika mendengar pertanyaan Leona. “Aku memiliki hadiah untukmu, Leona. Ada di laci kamarmu. Beberapa kejutan. Kau pasti tahu siapa wanita yang pernah membunuh keluargaku. Wanita itu tidak lain adalah ibu kandungmu!” ucap Zean tanpa mau basa- basi lagi.
Leona mematung. Ia tidak tahu harus percaya atau tidak dengan Zean. Kali ini pria itu tidak hanya ingin melukai hatinya, tapi menyeret ibu tercintanya ke dalam masalah mereka berdua.
Zean memutuskan panggilan teleponnya secara sepihak. Membuat Leona berdiri dengan wajah bingung. Wanita itu memandang laci yang ada di hadapannya. Dengan debaran jantung yang tidak karuan, Leona berjalan pelan untuk mendekati laci tersebut. Tangannya bahkan gemetar saat ingin membuka laci tersebut. Leona menarik laci itu secara perlahan. Hingga laci itu terbuka setengah.
Leona terlihat kaget ketika melihat isi di dalam laci tersebut. “Mama....”
__ADS_1