Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 111


__ADS_3

Malam harinya, resepsi mewah dan megah atas pernikahan Katterine dan Oliver di hadiri oleh para tamu undangan. Dengan pakaian serba hitam dan merah membuat ciri khas kalau keluarga mereka berasal dari keluarga mafia terasa begitu kental. Jika diperhatikan lebih detail, kebanyakan tamu undangan yang hadir berasal dari pasukan Gold Dragon dan Queen Star. Sepertinya ajang perjodohan itu telah berlangsung di pesta pernikahan malam ini. Sang big Boss ingin semua bawahannya merasakan bagaimana manisnya jatuh cinta.


Sepasang pengantin sedang berdansa dengan disaksikan tamu undangan. Katterine terlihat anggun dengan gaun merahnya. Begitu juga dengan Oliver yang gagah dengan jas hitamnya. Pria itu memperlakukan istrinya layaknya mutiara yang begitu berharga. Tidak membiarkan Katterine tersentuh oleh orang yang ingin menyakitinya.


"Bagaimana rasanya setelah menikah?" bisik Katterine. Sejak tadi memang Oliver tidak banyak bicara. Pria itu lebih sering diam. Hanya sesekali saja memuji Katterine. Itu juga dengan suara pelan yang nyaris tidak terdengar.


"Tidak ada yang beda."


Katterine mengeryitkan dahi. "Benarkah?"


"Ya."


"Kenapa seperti itu. Aku merasa ada yang beda. Aku jauh lebih bahagia dan jauh lebih berkuasa terhadap dirimu. Kau suamiku. Mulai sekarang kau harus mengikuti keinginanku!"


"Haruskah begitu?"


"Ya. Apa kau mau melanggar garis keturunan keluargamu?"


"Garis keturunan?" Oliver tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan istrinya.


"Suami takut istri," jawab Katterine dengan senyum yang indah. Hal itu hanya bisa membuat Oliver menggeleng pelan.


"Aku tidak pernah takut padamu. Yang aku takutkan, kau menangis … marah … sedih dan sakit."


Katterine semakin tersanjung mendengar perkataan sang suami. Wanita itu mendekati wajah Oliver hendak mengecup bibirnya yang merah. Tidak peduli di mana ada banyak pasang mata yang memperhatikannya saat ini.


"Apa yang mau kau lakukan?"


"Mencium suamiku," jawab Katterine santai.


"Tidak di sini!" Oliver memundurkan kepalanya dan menutup mulut Katterine dengan tangan.


"Ayolah …," goda Katterine. Ia memegang jas Oliver dan menariknya agar mendekat. "Cium aku di depan semua orang."


"Tadi udah!"


"Hanya lima detik. Aku mau yang lama," rengek Katterine lagi.


Oliver menghela napas. Ia mengangkat tangannya hingga membuat Katterine bingung. 


"Kenapa dengan tanganmu?"


Saat Oliver memetikkan jarinya, lampu di ruangan itu mari total. Hanya ada cahaya lilin yang berasal dari setiap meja. Musik menjadi semakin lembut dan siap mengajak semua orang berdansa. Bersamaan dengan itu Oliver menarik pinggang sang istri. Ia mengecup bibir Katterine dengan lembut dan penuh perasaan. Membuat sang pemilik terbuai dan tidak ingin segera berakhir.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Katterine. Sangat mencintaimu," bisik Oliver sebelum melanjutkan ciuman manisnya yang belum selesai. 


Sebagian tamu yang melihat kejadian itu hanya menggeleng kepala. Sisanya memang tidak terlalu jelas karena lokasi yang di pilih Oliver sangat pas. Gelap dan romantis. Para tamu undangan yang memiliki pasangan memutuskan untuk berdansa. Alunan lagu romantis memang terasa sangat menggoda hingga tamu undangan yang sudah tua juga tidak peduli dengan usia mereka.


***


Selesai pesta dansa, para tamu undangan kembali menyantap makanan dan minuman yang ada. Pengantin baru sedang sibuk menyambut para tamu. Wajah mereka yang berseri membuat hati semua orang menjadi tenang.


Letty dan Miller tertawa ketika membahas satu masalah. Ya, saat di pesta dansa Letty hampir terjatuh karena gaunnya yang panjang terinjak oleh sepatu Miller. Sempat kesal memang. Tapi, ketika melihat wajah Miller yang memerah karena bersalah dan takut membuat Letty tertawa riang.


"Apa kau terbiasa di marahi?" ledek Letty masih dengan pikiran yang dipenuhi kejadian tadi.


"Ya. Aku takut kau marah. Membujukmu kadang mudah tapi terkadang sangat sulit." Miller mengambil minuman dan meneguknya perlahan.


"Aku tidak akan marah jika kesalahannya tidak fatal. Tadi aku kesal saja. Bagaimana kalau gaunku robek?"


"Ya … maafkan aku."


Saat sepasang kekasih itu terlihat asyik berbincang. Dari kejauhan Natalie dan Bella muncul. Dengan gaun merah yang sedikit pendek dan seksi dua wanita itu sejak tadi sudah menjadi perhatian para pria muda. Sayang, tidak ada yang berani mendekati mereka ketika membayangkan orang-orang hebat di belakang dua wanita cantik itu. Mendekati mereka sama saja berani bertanggung jawab dan berani membuat dua wanita itu bahagia.


"Kak, aku merindukanmu." Dengan manjanya Natalie memeluk Miller. Bella hanya berdiri pada posisinya. Ia tidak mau seakrab itu dengan Miller walau kini status mereka saudara.


"Aku juga merindukanmu."


"Maafkan aku. Apa Mommy sehat?"


"Sangat sehat!"


Letty dan Bella yang merasa canggung hanya menunduk dengan senyuman kecil. Letty meletakkan gelas yang ia genggam sejak tadi dan ingin mengajak Bella mengobrol.


"Bella, bagaimana kabarmu?" tanya Letty penuh basa basi. 


Masih ada rasa segan karena sejak awal Letty tidak mengatakan apa yang terjadi kepada Bella. Apa lagi pertemuan mereka juga di mulai karena rasa kesal Letty. Mengetahui kalau Bella wanita yang baik, tentu saja membuat rasa menyesal yang begitu mendalam di hati Letty. Masalah kemarin benar-benar membuat pelajaran berharga bagi Letty.


"Seperti yang kau lihat." Natalie yang juga ada di sana memutuskan untuk pergi. Ia tahu kalau butuh waktu bagi Miller, Letty dan Bella untuk menyelesaikan masalah mereka. 


"Aku ingin ambil minum," ujar Natalie dengan senyuman. Bella hanya menjawab dengan anggukan saja.


Ketika Natalie sudah menjauh, Miller yang terlihat ingin berbicara. Memang sejak keluar dari penjara ia belum sempat menemui Bella. Dirinya disibukkan dengan keadaan Letty yang saat itu sedang sakit. Bahkan bertemu Sonia dan Natalie saja hanya hitungan menit sebelum akhirnya ia pergi bersama Oliver dan Letty ke Cambridge.


"Aku sudah mengamankan emas-emas itu. Semua milikmu. Aku hanya tahu lokasinya saja. Karena orang yang bisa membuka gerbangnya, hanya kau Bella."


Bella menggeleng. "Harta yang paling berharga adalah keluarga. Ketika aku sudah mendapatkan keluarga baru, untuk apa aku memiliki emas itu?"

__ADS_1


"Tidak, Letty. Kau tidak bisa seperti itu. Keselamatanmu akan terancam jika kau tidak mengambil tindakan soal emas itu."


"Lalu, apa yang harus aku lakukan? Mengambil emas-emas itu dan menyimpannya di lemari kamar?" Bella melipat kedua tangannya. Ia mendengus kesal. "Aku bosan dengan harta. Yang aku butuhkan seperti ini. Memiliki saudara dan keluarga. Rasanya seperti anak balita yang di manja."


Letty tahu apa yang di butuhkan Bella. Ia pernah merasakan hal itu. Bedanya hingga detik ini Letty tidak berhasil mengetahui siapa kedua orang tuanya. Bahkan tidak tahu dia berasal dari negara mana sebelumnya.


"Jika kau tidak menginginkannya, sebaiknya kita bagikan saja kepada orang yang membutuhkan," usul Miller.


"Setuju! Pak polisi, bukankah kau pria yang bijaksana. Lakukan tugasmu dengan baik. Tapi jangan habiskan semua ya. Aku juga butuh untuk shopping bersama Natalie nanti," jawab Bella dengan senyuman.


"Jangankan shopping, membeli semua barang yang di jual brand ternama juga masih sisa!" 


Bella dan Letty tertawa mendengar jawaban Miller. Dua wanita itu saling memandang seperti ada yang ingin dibicarakan.


"Bella, apa kau mau memaafkan kesalahanku? Aku akan melakukan apapun untuk menebus kesalahanku."


Bella berkedip beberapa kali. Ia memandang lokasi pesta sebelum memandang wajah Letty lagi.


"Apa benar, kau akan mengabulkan apa saja yang aku inginkan?"


"Ya, asalkan kau mau memaafkanku dan menjadikanku sahabatmu."


"Baiklah. Kalau begitu … lepaskan Miller. Biarkan dia bersamaku!"


Deg. Letty dan Miller sama-sama mematung. Mereka tidak menyangka kalau Bella akan mengatakan hal sekejam itu. Padahal semua orang telah tahu kalau kini Letty dan Miller adalah sepasang kekasih. 


"Bella, apa maksudmu?" Miller mengeryitkan dahi. Ia berpikir kalau Bella sudah berubah me jadi jauh lebih baik.


Bella memasang wajah yang sangat serius sebelum akhirnya tertawa riang. Wanita itu menutup mulutnya dan masih melanjutkan tawanya yang belum selesai.


"Lihatlah wajah kalian. Terlihat begitu jelek!" ledek Bella di sela tawanya. "Aku hanya bercanda! Aku tidak mungkin memisahkan kalian. Selamanya Miller akan menjadi saudaraku. Kakakku!" Bella mengedipkan sebelah matanya. Hal itu membuat Letty dan Miller menarik napas lega.


"Bella, kau membuatku tidak tenang!" umpat Letty kesal.


"Anggap saja itu hukuman karena kalian tidak jujur sejak awal."


"Baiklah, hukumannya kami terima dengan lapang dada," jawab Letty pasrah.


Bella memegang tangan Letty. "Kakak ipar, apa kau mau menjaga adikmu yang manja ini? Sedikit bawel tapi aku yakin akan selalu membuatmu rindu."


Letty menarik tangan Bella. Wanita itu memeluk Bella layaknya adik yang sangat ia sayangi. "Sebelum aku dan Miller memiliki sebuah ikatan pasti, aku sudah menganggap dirimu adikku, Bella. Aku berjanji untuk selalu menjagamu."


Bella membalas pelukan Letty. "Terima kasih, kakak ipar."

__ADS_1


__ADS_2