
Mobil yang ditumpangi Jordan dan Leona melaju dengan begitu kencang. Menabrak dedaunan kering yang berserakan di jalan. Mobil itu menembus cahaya matahari yang terlihat mulai orange. Melewati barisan pepohonan besar yang rindang. Memang saat itu langit sudah sore dan hampir gelap.
Tidak lama kemudian, mobil itu tiba di tempat tujuan. Pintu gerbang yang tinggi menjulang, terbuka lebar untuk menyambut kedatangan Jordan. Mobil itu terhenti, tepat di depan pintu utama. Beberapa pengawal berlari cepat untuk membuka pintu Jordan. Mereka berbaris rapi dan membungkuk atas kedatangan Jordan.
Jordan mengangkat tubuh Leona. Pria itu membawa tubuh Leona masuk ke dalam Mansion mewah milikya, “Malam ini, tidurlah dengan tenang di mansionku. Kau akan aman jika bersamaku seperti ini,” ucap Jordan dengan senyuman. Pria itu menatap wajah Leona dengan senyuman sebelum melangkah masuk ke dalam.
Jordan berjalan cepat ke arah tangga. Pria itu menjejaki kakinya di anak tangga yang menjulang tinggi. Beberapa pelayan mengikuti Jordan di belakang Mereka terlihat bingung dengan wanita yang kini di bawah Jordan. Leona merupakan wanita pertama yang pernah di bawa Jordan. Belum ada satu wanitapun yang pernah sedekat ini dengan Jordan sebelumnya.
Beberapa pengawal membukakan kamar tamu saat melihat Jordan muncul. Mereka membungkuk hormat saat Jordan melangkah mendekat. Jordan menatap wajah pengawalnya sebelum masuk ke dalam kamar. Ia memberi perintah agar tidak ada yang ikut masuk ke dalam. Hanya boleh dirinya sendiri yang masuk ke dalam.
Jordan meletakkan tubuh Leona agar berbaring di atas tempat tidur. Pria itu melirik jam yang ada di tangannya, “Setengah jam lagi ia akan sadar,” ucap Jordan sebelum menarik selimut dan menutup tubuh Leona. Pria itu duduk di pinggiran tempat tidur lalu memandang wajah Leona dengan saksama. Jemarinya mengusap lembut pipi wanita itu. “Aku bisa meninggalkannya sejenak untuk mandi,” ucap Jordan dengan senyuman kecil sebelum pergi meninggalkan Leona sendirian di dalam kamar tersebut.
***
Beberapa saat kemudian. Leona membuka matanya. Ia merasa sangat lelah. Karena terlalu jauh berlari dan bergerak tadi sore, membuat Leona merasa tubuhnya seperti di pukul-pukul saat ini. Semua sakit. Bahkan perutnya juga merasa sangat lapar.
Leona memperhatikan keadaan sekitar. Ia duduk di atas tempat tidur lalu memegang kepalanya yang terasa berat. Leona kembali ingat dengan perbuatan Jordan yang membuat dirinya tidak sadarkan diri.
“Pria itu. Kenapa ia harus selalu muncul di hadapanku,” gumam Leona kesal.
Tiba-tiba saja pintu terbuka. Leona memandang wajah Jordan yang muncul di balik pintu. Wanita itu membuang tatapannya karena tidak suka melihat Jordan. Ia mendengus kesal.
__ADS_1
“Sudah bangun?” tanya Jordan dengan wajah santainya. Tidak terlihat rasa bersalah sedikitpun di raut wajah pria tersebut.
Leona mengatur napasnya yang lagi-lagi harus berburu cepat. Wanita itu mengeraskan rahang wajahnya dengan gigi saling beradu. “Apa yang kau lakukan? Kenapa kau membawaku kemari?” teriak Leona kesal.
“Jika masih lelah, istirahatlah. Kamarku berada tidak jauh dari sini,” ucap Jordan pelan. “Atau kau ingin mandi agar terlihat segar?” ucap Jordan masih dengan wajah yang sangat tenang. Sepertinya bakatt wajah tenang dari Zeroun telah melekat di dalam tubuh Jordan. Pria itu terlihat sangat tenang walau kini menghadapi wanita yang sedang berteriak-teriak di hadapannya.
Leona beranjak dari tempat tidur. Ia berdiri di hadapan Jordan. Menatap wajah pria itu dengan tatapan yang sangat tajam. “Kau menyuruhku untuk menginap di sini? Di rumah ini? Apa kau gila, Tuan? Kau siapa? Aku hanya dua kali bertemu denganmu,” teriak Leona sambil berusaha pergi meninggalkan Jordan.
Dengan cepat Jordan menarik tangan Leona dan menatapnya dingin. Leona tidak tinggal diam. Wanita itu memukul wajah Jordan untuk memberi pelajaran. Tidak ada cara lain bagi Leona selain bertarung dengan Jordan. Ia bertekad untuk jadi pemenangnya kali ini agar bisa kabur dari sekapan pria asing itu.
Jordan menahan pukulan Leona. Pria itu tentu saja tidak ingin melukai wanita yang kini ada di hadapannya. Dengan gerakan memutar, ia membuat tubuh Leona ada di hadapannya sebelum memeluknya dari belakang. Kedua tangan Leona ia kunci. Dagunya ia letakkan di atas bahu wanita itu.
Leona mematung. Seharusnya ia sadar dengan suara itu dan sapaan itu. Leona memutar kepalanya untuk memandang wajah Jordan, “Kau pria bertopeng yang ada di lokasi pesta?” ucap Leona dengan sorot mata yang tajam.
“Ya. Kau gadis yang lambat. Kenapa baru sadar sekarang?” ucap Jordan dengan tawa kecil.
Leona melepas paksa pelukan Jordan. Ia berjalan maju agar menjauh dari posisi Jordan berada, “Apa yang kau inginkan?” ucap Leona dengan tangan terlipat. Baginya pria itu adalah musuh. Ia masih ingat jelas saat pria bertopeng itu yang menghalangi misinya.
“Aku ingin berkenalan denganmu malam itu. Tapi, kau sudah pergi,” ucap Jordan dengan wajah serius.
Leona memutar tubuhnya. Ia memandang wajah Jordan dengan saksama, “Apa kau pikir aku percaya? Kau sengaja mengahalangiku untuk membunuh pria tua itu, bukan?” protes Leona dengan wajah tidak suka.
__ADS_1
“Kau ingin membunuh? Pria tua?” ujar Jordan dengan ekspresi kaget.
Leona menurunkan alisnya yang terangkat ke atas. Kedua matanya memperhatikan penampilan Jordan dari ujung kaki hingga ujung kepala. Pria itu terlihat seperti pria berpendidikan dengan derajat yang tinggi. Ya. Tentu saja. Jordan Zein seorang pangeran dari kerajaan Cambridge. Jelas saja penampilannya tidak terlihat seperti pria berandal. “Apa dia tidak sama dengan apa yang aku pikirkan?” gumam Leona di dalam hati.
“Baby girl, katakan padaku. Apa kau bekerja sebagai pembunuh?” ucap Jordan lagi.
Leona menghela napasnya, “Tentu saja, tidak.” Leona tidak ingin identitasnya ketahuan. Selama ini ia sudah cukup kesulitan menyembunyikan identitasnya dari orang-orang terdekat yang ia sayangi. Ia tidak ingin pria asing seperti Jordan mengetahui semuanya.
Jordan mengukir senyuman. Pria itu semakin tertarik dengan wajah lucu dan menggemaskan milik Leona, “Baiklah. Sekarang kau istirahat saja. Jangan berusaha kabur karena itu tidak akan berhasil,” ucap Jordan sebelum memutar tubuhnya. Pria itu tertawa kecil, “Leona, aku akan membawamu menjauh dari dunia hitam itu. Gadis cantik sepertimu sangat disayangkan jika bekerja sebagai pembunuh.” Jordan menghentikan langkah kakinya. “Oiya, aka nada pelayan yang mengantarkan baju gantimu. Kau harus mengganti bajumu dengan yang lebih tertutup. Pakaian itu cukup cantik. Tapi, tidak cocok dengan wajahmu yang galak,” sindir Jordan dengan tawa tertahan.
“Kau!” umpat Leona kesal. Wanita itu melangkah maju dengan wajah kesal. Ingin sekali ia mengejar Jordan lagi dan memberi pria itu pelajaran. Tapi, ia selalu kalah. Itu adalah salah satu hal yang paling di sesali oleh Leona.
Jordan pergi dan menghilang di balik pintu. Pria itu terlihat sangat puas dengan keberadaan Leona saat ini di dalam kediamannya.
Leona mengatur emosinya. Ia kembali mamastikan kalau pria yang ia kenal dengan nama Oliver itu bukan pria yang memiliki profesi yang sama dengan dirinya, “Sebaiknya aku mandi saja. Aku akan memikirkan cara agar bisa kabur dari tempat ini nanti,” ucap Leona sembari berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, bak mandi sudah di hias ratusan kelopak mawar merah. Airnya di atur dengan begitu hangat, dengan aroma terapi yang keluar dari lilin-lilin yang mengelilingi bak mandi itu.
Leona melangkah cepat untuk masuk ke dalam bak mandi. Bak mandi itu benar-benar menggugah keinginan hatinya untuk segera mandi. Leona menanggalkan seluruh pakaiannya, hingga tidak ada sehelai benangpun yang menutup tubuhnya.
Perlahan Leona memasukkan kakinya ke dalam bak mandi. Leona kembali memejamkan matanya, saat berendam di dalam bak mandi itu, “Akhirnya aku bisa merasakan sesuatu yang bisa melepas rinduku kepada rumah,” gumam Leona di dalam hati. Berada di dalam bak mandi itu memang mengingatkannya dengan rumah utama. Selama bertahun-tahun terakhir ini, Leona tidak pernah memiliki waktu yang tenang untuk berendam. Setiap waktu yang ia miliki selalu di habiskan dengan memikirkan misi-misi yang ia terima agar segera di tuntaskan.
__ADS_1