Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Kwan dan Alana


__ADS_3

Alana menarik tangan Kwan dengan wajah khawatir. Wanita itu tidak tega melihat Kwan terluka seperti itu. Apa lagi karena menolong dirinya. Dengan wajah sedihnya, Alana berjalan ke arah pinggiran jalan. Ia mengambil ponselnya berharap ada taksi yang lewat.


“Untuk apa kita ke sini?” tanya Kwan pelan dengan wajah bingung.


“Menunggu taksi,” jawab Alana sambil memutar-mutar kepalanya.


Kwan mengeryitkan dahi sebelum mengeluarkan kunci mobil. “Aku membawa mobil,” ucapnya pelan.


Alana memandang Kwan sebelum merebut paksa kunci mobil tersebut. “Dimana kau memparkirkannya?” tanya Alana cepat.


“Di sana,” jawab Kwan sambil menunjuk ke arah jalan yang tidak jauh dari posisi mereka berdiri.


Alana mengikuti arah yang di tunjuk Kwan. Wanita itu melihat mobil sport berwarna putih yang berhenti di pinggiran jalan. Tanpa banyak kata lagi, Alana menarik tangan Kwan. Wanita itu ingin segera membawa Kwan ke rumah sakit.


Kwan melirik wajah Alana sekilas dengan senyuman tertahan. Ia sangat bahagia mendapat perhatian dari Alana. Wanita yang sangat ia cintai kini sedang mengkhawatirkan keadaannya.

__ADS_1


“Ayo kita ke sana!” Alana menarik tangan Kwan lagi. Dengan wajah suka rela, Kwan mengikuti gerakan kaki Alana. Sekali lagi ia mengukir senyuman. Namun, ketika sudah sampai di samping mobil, Kwan mengernyitkan dahi. Pria itu memandang posisi dirinya kini berdiri. Alana membukakan pintu yang menuju ke kursi penumpang. Bahkan wanita itu memandang Kwan dan meminta pria itu untuk masuk.


“Biar aku yang menyetir. Hanya luka kecil. Aku masih bisa membawa mobil,” ucap Kwan dengan wajah tidak setuju.


Leona mendorong tubuh Kwan agar segera masuk. Wanita itu tidak  mau ada negosiasi lagi. “Aku juga bisa membawa mobil. Jangan remehkan kemampuanku!” ujar Alana dengan tatapan penuh arti.


Kwan menghela napas sebelum masuk ke dalam mobil. Pria itu tidak memiliki pilihan lain saat ini. Ia hanya bisa menurut agar tidak menimbulkan masalah dengan Alana. “Wanita pemaksa! Tapi aku semakin tertarik kepadanya,” gumam Kwan di dalam hati. Pria itu memandang Alana yang berlari cepat mengitari bagian depan mobil. Wanita itu masuk ke dalam mobil dan duduk dengan posisi nyaman. Ia menatap wajah Kwan lagi sebelum memasang sabuk pengaman. Dengan penuh perasaan, Alana menghidupkan mesin mobil. Wanita itu juga mengambil ponselnya. Ia melihat lokasi rumah sakit terdekat melalui GPS. Setelah mendapat lokasi terdekat. Alana mulai melajukan mobilnya.


Kwan bersandar dengan posisi nyaman sambil menatap wajah cantik Alana. Wanita itu terlihat semakin menarik ketika sedang menyetir mobil. Apa lagi dengan kecepatan tinggi. Seperti wanita tangguh yang memang selalu di impikan Kwan.


Tidak menunggu terlalu lama, mereka sudah tiba di rumah sakit terdekat. Kwan melihat ke arah pintu masuk rumah sakit. Seingat Kwan, ini pertama kalinya ia masuk ke dalam rumah sakit. Alana membuka pintu mobil diikuti dengan Kwan. Mereka berdiri di samping mobil sebelum masuk ke dalam. Lagi-lagi, Alana menarik tangan Kwan agar segera masuk ke dalam.


Kwan masuk dan duduk di atas tempat tidur yang telah di siapkan untuknya. Pria itu menatap wajah Alana lagi sebelum duduk dengan posisi nyaman. Ia melihat seorang dokter yang sedang memegang jarum suntik. Tiba-tiba saja muncul rencana jahil di dalam pikirannya.


“Dok, saya takut jarum suntik!” teriak Kwan hingga membuat seluruh penghuni IGD menatapnnya dengan wajah bingung. Bahkan beberapa menahan tawa.

__ADS_1


Alana mengeryitkan dahi. Wanita itu juga tidak menyangka kalau pria sok jagoan seperti Kwan bisa takut dengan jarum suntik. Kwan sendiri menatap wajah dokter tersebut dengan sebuh kode tersirat. Dan dokter itu sangat paham dengan apa yang diharapkan oleh Kwan.


“Nona, sepertinya kekasih anda sangat takut dengan jarum suntik. Anda bisa memeluknya agar ia kembali tenang,” ucap Dokter itu dengan wajah menahan senyum.


Alana melebarkan matanya. Wanita itu tidak menyangka akan berada dalam posisi terjebak seperti ini. Sedangkan Kwan memulai dramanya. Ia memasang wajah seserius mungkin agar terlihat menyakinkan.


“Dok, dia bukan kekasihku. Dia tidak akan mau memelukku,” ucap Kwan dengan wajah sedih. Membuat Alana sendiri menatap wajah Kwan dengan tatapan yang sangat serius. Tanpa di duga-duga, Alana menarik tubuh Kwan dan memeluk pria itu. Ia bahkan meletakkan kepala Kwan di depan dadanya hingga terlihat seperti seorang ibu yang memeluk anaknya.


Kwan melebarkan kedua matanya. Kini dua benda kenyal milik Alana ada di depan matanya. Pria itu menggeleng pelan sebelum menjauhkan tubuhnya. “Apa yang kau lakukan!” protes Kwan.


Alana yang terlihat sangat polos hanya menatap wajah Kwan dengan tatapan protes. Wanita itu berusaha memeluk Kwan lagi agar mau di suntik.


“Hei! Tunggu tunggu!” protes Kwan sambil menahan tubuh Alana. Pria itu menghela napas sebelum menarik pinggang Alana. Ia menatap wajah Alana dengan seksama. “Seperti ini terlihat sangat nyaman. Aku tidak takut lagi. Bahkan jika jarum suntik itu jauh lebih banyak.”


Alana memandang wajah Kwan yang kini ada di depan wajahnya. Mereka seperti saling bertukar oksigen dengan tatapan yang penuh arti. Alana merasa ada sesuatu yang aneh dengan debaran jantungnya. Ini tidak biasa. Bahkan ia tidak pernah merasakannya saat berada di dekat Aleo selama ini. “Apa ini? Kenapa hanya berpelukan seperti ini saja membuatku merasa sangat nyaman,” gumam Alana di dalam hati.

__ADS_1


Dokter yang ada di samping tempat tidur menggeleng pelan sebelum mengeluarkan peluru tersebut. Ia merasa kalau rencananya telah berhasil membuat pria dan wanita yang ada di hadapannya sangat dekat seperti itu.


“Tetaplah seperti ini. Aku sangat mencintaimu, Alana. Sudah berbulan-bulan aku berusaha mendekatimu. Malam ini, sepertinya takdir sedang memihakku,” gumam Kwan di dalam hati.


__ADS_2