Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Katakan Kalau Kau Mencintaiku


__ADS_3

Leona terlihat semakin kesal ketika Jordan terus saja membawanya berlari. Ia memandang keadaan sekitar yang sejak tadi ia lewati. Jordan membawanya melewati taman bunga yang begitu indah. Musim dingin telah berlalu. Kini saatnya menyambut musim semi. Musim yang sangat di sukai oleh para pecinta bunga.


"Jordan, kau mau membawaku ke mana?" protes Leona lagi. 


"Aku ingin membawamu ke suatu tempat." Jordan melanjutkan langkah kakinya. Ia mengukir senyuman sambil mempererat genggaman tangannya di pergelangan Leona. 


Hingga beberapa saat kemudian, Jordan menghentikan langkah kakinya. Pria itu membawa Leona ke sebuah Padang rumput yang sangat indah. Angin di sana bertiup dengan sangat kencang. Burung-burung berterbangan dan terdengar sedang berkicau dengan begitu merdunya. Pepohonan rindang serta kolam ikan yang tidak terlalu luas.


Leona terlihat bahagia melihat pemandangan yang ada di depan matanya. Bibirnya mengukir senyuman. Ia tidak menyangka kalau ada tempat seindah itu di Cambridge.


"Jordan … tempat apa ini? Kenapa ada tempat seindah surga di Cambridge?"


"Aku memang mengatakannya surga kecil. Aku sering ke sini setiap kali ada masalah. Hanya aku dan Oliver yang mengetahui tempat ini."


Jordan memandang wajah Leona dan mengukir senyuman. Ia menarik tangan Leona dan memeluk wanita itu dengan begitu erat. "Aku sangat menyayangimu, Leona. Sangat-sangat menyayangimu. Aku mencintaimu. Bahkan aku sendiri tidak tahu seberapa besar cinta yang aku miliki saat ini."


Leona hanya diam saat tubuhnya lagi-lagi ada di dalam pelukan pria itu. Ia berusaha memahami apa yang kini ia rasakan. Leona ingin memastikan kalau itu benar-benar cinta. Bukan sekedar rasa tidak tega atau terima kasih kepada Jordan.


"Jordan, beri aku waktu …." Leona memandang wajah Jordan dengan tatapan yang sangat dalam. "Jika nanti aku sudah memutuskan, aku harap kau bisa menerima keputusanku dengan lapang dada. Apapun itu." Leona memandang Jordan dalam-dalam. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Jordan ketika ia mengatakan hal seperti itu.


Jordan terlihat ragu dengan permintaan Leona. Tapi, ia kembali ingat dengan perkataan Emelie. Pria itu berusaha untuk memahami apa yang kini di rasakan oleh Leona. 

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan menunggumu, Leona. Untuk beberapa hari ini, apa kau mau tinggal di Cambridge? Aku akan mengajakmu jalan-jalan ke beberapa tempat yang masih ada salju. Kita akan mengajak Katterine dan Oliver juga." Jordan terlihat sangat bersemangat ketika membujuk Leona agar mau ikut dengannya.


Leona mengukir senyuman. "Jordan, aku ingin pulang ke Sapporo. Aku ingin menemui Kak Aleo. Aku sangat merindukannya. Aku juga ingin istirahat selama beberapa bulan. Maafkan aku," ucap Leona dengan wajah tidak tega.


Jordan terlihat kecewa. Namun, pria itu tidak mau memaksa Leona untuk melakukan apa yang ia inginkan. "Leona, apa aku boleh bertanya sesuatu?"


"Apa yang ingin kau ketahui?" 


"Apa dia masih ada di sini? Di hatimu?" Jordan terlihat sangat serius ketika menanyakan hal seperti itu kepada Leona. Ia takut jika nanti Leona tersinggung dan marah.


Leona menggeleng pelan. Wanita itu memegang pipi Jordan dan mengusapnya dengan lembut. "Tidak ada."


Leona mengukir senyuman. Secara tiba-tiba ia mendaratkan bibirnya di pipi kanan Jordan. "Selamat tinggal," bisiknya mesra.


Jordan tertegun. Pria itu merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dapatkan. Leona berlari kencang. Wanita itu terlihat malu karena sudah berani mencium Jordan secara diam-diam seperti itu.


"Apa dia benar Leona?" tanya Jordan dengan suara pelan. "Oliver, apa kau melihatnya? Apa dia benar Leona?" ucap Jordan lagi.


Oliver keluar dari balik pepohonan. Pria itu bersandar dengan posisi yang sangat santai. "Pangeran, sepertinya Anda satu langkah lebih maju saat ini."


"Oliver, kita harus kembali memajukan Cambridge. Setelah istanaku kembali seperti semula, aku akan menikah dengannya," teriak Jordan penuh semangat. 

__ADS_1


Oliver menggeleng pelan. Pria itu juga bahagia melihat Jordan bahagia. "Dia berubah menjadi pria yang sangat ceria setelah mengenal cinta," gumam Oliver di dalam hati.


***


Leona memeluk Serena yang berdiri di hadapannya. Wajahnya memerah karena ia masih sangat malu membayangkan tingkahnya tadi. Detik ini ia tidak berani memandang wajah Jordan lagi.


"Sayang, suasana hatimu terlihat sangat bahagia. Apa ini karena Jordan?" ledek Serena dengan senyuman.


Leona mempererat pelukannya. "Ma, aku sangat menyayangi mama. Aku juga mencintai mama. Maafkan Leona ma."


Serena mengusap lembut rambut Leona. "Sayang, kau adalah putri mama. Apapun yang pernah kau lakukan, mama akan selalu berada di sampingmu untuk mendukungmu. Apa sekarang kau sudah memutuskan untuk ikut pulang dengan mama?"


Leona mengangguk cepat. "Ayo kita pulang. Leona ingin bertemu dengan Kak Aleo."


Serena memandang wajah Leona dengan saksama. Ia merasa sangat tenang. Putrinya telah kembali seperti dulu lagi. Tidak ada lagi tatapan dendam di kedua bola matanya. Leona sudah bangkit dan berhasil memaafkan kesalahan semua orang yang pernah menyakitinya.


"Baiklah, ayo kita masuk untuk berpamitan dengan Tante Emelie dan Paman Zeroun. Oh ya, di mana Jordan? Apa dia tidak mau mengantarkanmu ke bandara?" Serena mencari-cari keberadaan Jordan. Ia berharap pangeran Cambridge itu segera muncul.


"Ma, ayo cepat. Kita harus segera berangkat," pinta Leona lagi.


"Baiklah." Serena membawa Leona masuk untuk berpamitan. Walau sebenarnya saat itu ia sangat penasaran dengan apa yang sudah terjadi antara Leona dan Jordan.

__ADS_1


__ADS_2