
Pieter tersenyum bahagia walau kini beberapa tim medis sedang berjuang keras mengobati lukanya. Tidak ada sedikitpun rasa sakit yang ia rasakan. Hatinya kembali tenang. Memang ayah kandung Isabel tidak pernah salah memilih orang untuk menjaga putrinya. Namun, karena Isabel bekerja sama dengan Clouse, mau tidak mau Pieter menuruti apa saja permintaan Clouse.
Kini saat semuanya sudah berdamai, Pieter kembali memikirkan kejadian di kerjaan Belanda itu. Ketika seorang putri harus tewas bersama dengan sang kekasih. Awalnya Pieter juga menyalahkan Miller yang tidak setia kawan. Tapi kini ketika dirinya sendiri saja juga mau berdamai dengan Oliver ia mulai paham dengan apa yang dipikirkan Miller saat itu. Kenapa pria itu tega mengkhianati sahabatnya sendiri.
"Pantas saja mereka selalu memang melawan musuh yang kuat sekalipun. Mereka orang-orang baik. Tidak tidak. Sepertinya lebih cocok di bilang, para kriminal yang sudah bertobat," gumam Pieter di dalam hati. Beberapa tim medis melirik Pieter yang tiba-tiba tertawa cekikikan seperti orang gila.
***
Pagi yang cerah dan indah. Karena acara pernikahan Alana dan Kwan berjalan lancar, semua orang juga bangun pagi dengan wajah berseri. Jadwal sarapan telah ditentukan. Tidak lama lagi baik para orang tua maupun anak-anak mereka akan berkumpul di restoran yang ada di lantai bawah hotel.
Lana mengetuk kamar Oliver. Tadi malam ia tidak sempat melihat keadaan putranya karena terlalu lelah. Pagi ini adalah waktu yang tepat untuk menanyakan kemana perginya pria tangguh itu tadi malam.
Ketukan ke lima pintu terbuka. Namun, Lana sangat kaget ketika melihat Katterine yang muncul di sana. Bukan Oliver. Lana mundur beberapa langkah agar bisa dengan jelas melihat nomor kamar yang kini ia kunjungi. Sesuai dengan apa yang Lana ketahui. Kamar itu adalah kamar yang seharusnya ditempati oleh Oliver. Putra kandungnya. Di samping kamar Oliver akan ada kamar Letty.
"Tante, ada apa?" tanya Katterine dengan senyuman. Wanita itu masih menggunakan baju tidur yang tadi malam ia kenakan.
"Tante salah kamar. Katterine sayang, bersiaplah. Tidak lama lagi kita akan sarapan di lantai bawah."
Katterine mengangguk pelan. "Baik, Tante."
Katterine kembali menutup pintu kamarnya. Lana menghela napas dan memandang lorong yang seharusnya menjadi kamar Katterine. "Apa Oliver ada di sana? Atau jangan-jangan."
Lana menahan langkah kakinya. Wanita itu kembali memandang pintu kamar tempat Katterine berada. Pikiran jelek mulai memenuhi pikirannya. Lana tidak mau hal buruk terjadi. Apa lagi kali ini dirinya yang ada di pihak pria. Lana tidak mau anaknya melakukan kesalahan yang sama seperti kesalahan yang pernah ia dan Lukas lakukan.
Lana kembali berdiri di depan pintu. Ia ingin menanyakan keberadaan Oliver kepada Katterine. Namun, belum sempat tangannya menyentuh pintu tiba-tiba seseorang menyapanya dengan hangat.
"Mom."
Lana memutar tubuhnya. Ia memandang wajah Oliver yang kini berdiri di belakangnya. "Oliver. Kau dari mana? Apa ini kamarmu?" tanya Lana untuk kembali memastikan.
"Ya. Ini kamar Oliver."
"Lalu, kenapa Katterine ada di dalam kamarmu?"
__ADS_1
Oliver tersenyum. "Ya. Ini kamarku, Mom. Tadi malam Katterine datang ke kamar Oliver. Katterine ketiduran setelah itu Oliver letakkan saja di atas tempat tidur."
"Lalu?" tanya Lana penasaran.
"Mom, apa yang mommy harapkan? Aku pergi setelah Katterine tidur."
Lana menghela napas lega. Bahkan wanita itu sampai mengelus dadanya karena rasa khawatirnya telah hilang.
"Mom, aku akan menjaga wanita yang aku cintai seperti yang mommy katakan selama ini."
Lana terharu mendengar perkataan Oliver. "Kau memang putra kebanggaan mommy. Lalu, apa itu yang kau bawa?"
Oliver mengangkat paperbag yang ada di tangannya. "Ini baju ganti untuk Katterine."
"Baiklah. Mommy ingin berkumpul dengan yang lain untuk sarapan. Segera bawa Katterine turun ke bawah ya."
"Oke, Mom."
"Oh ya, mommy lupa. Tadi malam kau pergi ke mana bersama Katterine?" tanya Lana penasaran. Ia juga memperhatikan penampilannya putranya dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Pacaran?" celetuk Lana tidak percaya.
"Ya, Mom. Aku dan Katterine sudah pacaran. Di tempat pesta terlalu bosan hingga aku dan Katterine memutuskan untuk bersenang-senang di luar. Kebetulan kami belum membeli sesuatu sebagai hadiah atas pernikahan Alana dan Kwan."
Lana mengangguk pelan. "Baiklah. Mommy turun dulu." Akhirnya wanita itu pergi tanpa dipenuhi rasa penasaran lagi. Kecurigaannya sudah dijelaskan oleh Oliver hingga hatinya bisa tetap tenang.
"Walau Oliver anak yang baik, tapi aku tetap harus sering memperingatinya. Aku tidak mau dia mencoreng namaku dan Oliver hanya karena gagal menjaga Katterine," gumam Lana di dalam hati. Oliver tersenyum memandang kepergian ibu kandungnya sebelum masuk ke dalam kamar hotel.
***
Semua orang telah berkumpul di meja makan. Sarapan telah tersedia di atas meja. Semua jenis makanan telah ada di sana. Bahkan minuman hangat, susu dan jus juga tersedia dan tertata dengan rapi.
Tidak butuh waktu lama semua orang yang ada di meja makan itu telah menyelesaikan sarapan mereka. Sebelum berpisah mereka ingin meluangkan waktu untuk bercanda tawa. Ibarat sebuah nostalgia karena lagi-lagi mereka diberikan kesehatan untuk berkumpul seperti sekarang.
__ADS_1
"Nona, apa Anda tahu kalau semalam Bos Zeroun menghilang karena ingin membelikan Anda kalung berlian? Sayangnya kalungnya hilang, hingga akhirnya kalung itu tidak sampai ke tangan Anda. Anda benar-benar wanita yang beruntung. Sudah setua ini tapi Bos Zeroun masih sangat perhatian kepada Anda," ucap Lana dengan wajah penuh selidik. Tentu saja wanita itu tidak percaya begitu saja dengan perkataan sang suami. Ia diam hanya karena tidak mau ribut tadi malam.
"Benarkah?" celetuk Emelie kaget.
Zeroun melirik wajah Lukas dengan tatapan penuh arti. Jika saja mereka bisa berkomunikasi dengan batin mungkin mereka sudah berdiskusi detik ini juga. Mana posisi duduk mereka bersebrangan. Zeroun dan Lukas tidak bisa leluasa untuk bekerja sama.
"Benarkah? Bukankah semalam Lukas menabrak seseorang dan memukulnya? Maka dari itu Zeroun pergi menemuinya!" Emelie mulai kesal karena lagi-lagi sang suami membohonginya.
Lana menatap tajam wajah Lukas. "Apa yang kau tabrak?"
"Tabrak? Aku ... Lukas menatap wajah Zeroun dan memohon bantuan. Tapi tidak ada tanda-tanda Zeroun akan menolong dirinya."
"Aku menabrak seorang berandal."
"Laki-laki atau perempuan?" sambung Emelie dengan wajah galak seperti hakim.
"Jika berandal tentu saja laki-laki," jawab Lukas sedikit lambat.
"Benarkah? Tapi tadi malam Zeroun bilang kau menabrak wanita hamil?"
Lukas melebarkan kedua matanya. "Itu tidak mungkin."
Serena dan Kenzo yang paling asyik menikmati momen pagi itu. Mereka sudah tidak sabar mendengar amukan dari Emelie dan Lana. Sisanya memilih untuk diam karena kini yang sedang berdebat adalah para senior.
"Dan ... kalung. Kalung apa?" Emelie semakin murkah.
Zeroun angkat bicara. Ia mengukir senyuman khasnya untuk menenangkan dirinya sendiri. "Jadi, semalam aku berpikir untuk membelikan mu sebuah kalung. Namun, kalungnya hilang. Tidak tidak. Bukan hilang tali tertinggal. Ya, tertinggal."
"Sudahlah, akui saja kalau kalian sedang berbohong," ledek Kenzo dengan penuh bahagia. Daniel dan yang lainnya ikut tertawa setelah mendengar penjelasan Zeroun yang terlihat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang Zeroun bisa seceroboh itu?
"Sebenarnya begini ...."
"Hentikan!" teriak Emelie kesal. "Kalian berdua harus di hukum!"
__ADS_1
"Setuju!" teriak Lana mantap.