Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 12


__ADS_3

Oliver baru saja tiba di kediaman Robert. Ia tahu selama ini Robert memiliki rumah di kota tersebut. Robert memilih tinggal di dekat apartemen Katterine karena ingin mendapatkan hati wanita itu saja.


Dengan tatapan tajam Oliver memandang rumah Roberto yang di jaga beberapa pria di depan pintunya. Rumah itu tidak memiliki pagar hingga memudahkan siapa saja untuk keluar masuk.


"Maaf, ada yang bisa kami bantu?" Pengawal Roberto menyambut kedatangan Oliver tanpa curiga sedikitpun. Selama ini memang Roberto sendiri belum memberi tahu kepada seluruh bawahannya kalau Oliver adalah musuh mereka. Sejauh ini Robert sendiri menganggap Oliver adalah pria yang lemah dan tidak memiliki kemampuan apa-apa.


Oliver tidak suka berbasa-basi. Apa lagi bersikap sok baik seolah ia tamu siang itu. Tanpa pikir panjang, Oliver memancing keributan. Ia memukul dua pria yang menyambutnya tanpa ampun hingga mereka terduduk di lantai rumah.


"Di mana pria itu?" tanya Oliver tanpa memandang. Sedangkan dua pria itu hanya diam membisu tanpa berani memberi tahu posisi Roberto saat ini. Mereka sibuk membersihkan darah yang keluar dari hidung akibat pukulan Oliver.


Oliver mengukir senyuman kecil. Ia mengambil pistol dan mengarahkannya ke arah dua pria yang sejak tadi memandangnya dalam diam.


DUAARRR DUAARRR

__ADS_1


Dua peluru di lepas Oliver. Tepat mengenai bagian kaki pria itu. Mereka semakin meringis kesakitan. Setelah itu Oliver segera masuk ke dalam. Ia tahu kalau tidak hanya dua pria itu saja yang akan menyambut kedatangannya.


Di dalam rumah, beberapa pria menyambut kedatangan Oliver dengan pistol di tangan. Oliver menembak satu pria dan menjadikan tubuh pria itu sebagai pelindung dirinya. Tembakan demi tembakan ia layangkan. Tidak peduli di rumah siapa ia bertamu. Kekacauan itu membuatnya sangat menyenangkan.


Beberapa pria yang berusaha menghalangi Oliver masuk lagi-lagi harus kalah. Bahkan mereka bernasip jauh lebih mengenaskan jika dibandingkan dua pria yang ada di depan.


Oliver memandang ke arah tangga dan segera berjalan ke sana. Ia tahu Robert pasti ada di atas. Oliver merapikan jas yang ia kenakan. Pria itu menyimpan pistolnya dan berjalan dengan elegan menaiki anak tangga. Tidak ada lagi yang berani menghalanginya. Semua pengawal bayaran Roberto telah kalah hanya dengan satu trik yang dimiliki oleh Oliver.


Roberto keluar dari dalam kamar. Ia tidak lagi nyaman memejamkan mata saat mendengar keributan di rumahnya. Dengan baju yang sama seperti sebelumnya, pria itu berjalan mendekati Oliver. Ia memandang Oliver dengan tatapan menghina. Baginya Oliver bukan tandingannya.


"Sudah ku tebak. Kau hanya pura-pura mabuk saja tadi!" Oliver terlihat sinis melihat wajah Roberto.


Robert mengangkat kedua bahunya. "Anggap saja begitu. Aku hanya ingin mendapatkan perhatian dari wanita yang aku cintai. Apa itu salah?" ujar Robert tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


Oliver semakin geram. Ia benar-benar murkah mendengar jawaban dari Roberto. Pria itu berjalan mendekati Roberto berada. Ia sudah tidak sabar untuk memukul pria itu hingga tidak lagi bernyawa.


"Kenapa? Kau ingin membunuhku?" ucap Roberto dengan senyuman tipis. "Lakukan saja kalau kau sudah siap menjadi buronan di sini."


Roberto sudah menghubungi polisi yang ada kota itu. Ia tahu kalau cepat atau lambat Oliver akan datang untuk menghajarnya lagi. Ia bisa melihat jelas bagaimana kesalnya Oliver saat dirinya memeluk Katterine di apartemen tadi.


"Kenapa? Kau takut?" ledek Robert dengan wajah kemenangan. "Katterine hanya boleh menjadi milikku. Kau sebaiknya menyingkir dan restui hubungan kami!"


Oliver tidak takut dengan apapun. Apa lagi ancaman polisi. Pria itu segera menarik kerah baju Roberto dan menghajarnya tanpa ampun. Bersamaan dengan itu, suara sirine polisi terdengar di depan rumah Roberto. Sepertinya sebelum Robert keluar kamar pria itu sudah menghubungi polisi lebih dulu.


"Kau akan mendekam di dalam penjara setelah ini!" ucap Robert dengan wajah sudah babak belur.


"Itu tidak penting!" Oliver mengangkat tubuh Roberto seolah pria itu sangat ringan. Ia melemparkan Roberto ke arah tangga. Pria itu terjatuh dan berguling-guling di atas tangga. Tubuhnya terasa remuk ketika ia harus turun ke lantai bawah dengan cara berputar-putar di tangga.

__ADS_1


"Angkat tangan!" Beberapa polisi muncul dan menodongkan senjata ke arah Oliver. Oliver hanya diam memandang satu persatu wajah polisi yang mengancamnya di lantai bawah.


__ADS_2