
Sudah cukup jauh Leona berjalan namun Jordan tidak juga berhasil ia temui. Leona menghela napas dengan rasa lelah. Tubuhnya sudah semakin dingin. Leona ingin segera kembali ke markas mereka untuk menghangatkan diri. Namun, di saat wanita itu mulai menyerah. Tiba-tiba saja dari kejauhan terdengar suara biola.
Leona diam mematung sambil menghayati lagu tersebut. Kali ini nadanya sangat pas dengan nada yang pernah ia dengar. Dengan cepat Leona memutar tubuhnya untuk melihat wajah orang yang memainkan biola di belakang tubuhnya.
Leona tertegun ketika melihat Jordan berdiri di sana. Pria itu memainkan biola dengan nada yang sama saat Leona koma. Wajahnya terlihat sangat menghayati. Jordan memandang wajah Leona dengan bibir tersenyum.
“Jordan ....”
Leona berjalan secara perlahan mendekati posisi Jordan berada. Tanpa Leona sadari, sudut bibirnya tertarik ke samping. Leona merasa tenang dan nyaman ketika mendengar alunan lagu yang dimainkan Jordan. “Sejak kapan dia bisa memainkan biola? Ternyata dia pria yang sangat berbakat.”
Jordan menyelesaikan alunan biola itu. Pria itu mengukir senyuman dan meletakkan biolanya di sebuah kursi yang ada di sampingnya. Salju semakin tebal dan udara semakin dingin. Jordan tidak ingin Leona kembali sakit karena kedinginan.
“Ayo kita kembali,” ucap Jordan. “Apa kau sudah senang bisa bermain salju?”
Leona menggeleng pelan. “Apa kau pernah memainkan lagu itu sebelumnya?” tanya Leona dengan wajah penasaran.
Jordan mengangguk setuju. “Ya. Aku pernah memainkannya sekali.”
“Di mana?”
“Di suatu tempat. Aku memainkannya untuk wanita yang sangat aku cintai,” ucap Jordan sambil mencubit hidung Leona.
Leona diam sejenak sambil berpikir. “Bukankah wanita yang kau cintai hanya aku?” celetuk Leona tanpa sadar. Wanita itu segera menutup mulutnya saat perkataan itu keluar begitu saja dari bibir manisnya.
__ADS_1
Jordan menaikan satu alisnya. Pria itu menahan tawa ketika mendengar perkataan Leona. “Kau wanita yang sangat percaya diri Leona.”
Leona memalingkan wajahnya. Ia berjalan pergi untuk menjauhi Jordan. Leona tidak tahu lagi harus bagaimana bersikap dengan Jordan saat ini. Seperti apa yang dikatakan Jordan. Ia sangat percaya diri. “Bisa-bisanya aku mengatakan hal seperti itu,” umpat Leona kesal di dalam hati.
“Hei, mau ke mana,” ucap Jordan. Pria itu memegang pergelangan tangan Leona dan menahannya agar Leona tidak melangkah pergi. “Kau mau meninggalkanku?”
Leona menghela napas. Ia memutar tubuhnya dan memandang wajah Jordan. “Lepaskan!”
“Tidak akan,” ucap Jordan dengan wajah berbunga-bunga. Pria itu menarik tangan Leona agar wanita itu ada di dalam pelukannya. “Apa seperti ini hangat?”
Leona memiringkan wajahnya. “Jordan, jangan buat kesabaranku habis.”
“Aku memainkan lagu itu pertama kali saat kau masih di rumah sakit. Ketika kau tidak sadar. Leona, apa kau tahu kalau kau sempat pergi saat itu. Aku tidak bisa bernapas karena saat aku mendapat kabar kepergianmu, aku masih ada di tempat ini untuk menolong Katterine,” ucap Jordan dengan wajah yang bersungguh-sungguh. “Leona, aku sangat mencintaimu. Kau wanita pertama yang pernah mengisi hatiku.”
“Leona, apa kau juga mencintaiku?” tanya Jordan dengan penuh harap.
“Aku ....”
Jordan memandang beberapa pria yang sejak tadi memperhatikannya. Kedua bola matanya melebar ketika dua pria itu mengeluarkan senjata api secara diam-diam dan mengarahkannya ke arah Jordan dan Leona berada.
Dari kejauhan, Oliver dan Kwan sudah mengangkat senjata api mereka. Sejak tadi mereka bisa melihat jelas apa yang dilakukan oleh Jordan dan Leona. Hanya saja mereka tidak ingin muncul karena tidak ingin mengganggu momen manis di musim dingin itu. Ketika dua pria yang mencurigakan itu muncul, Oliver yang pertama kali melihatnya baru setelah itu Jordan.
DUARR DUARR
__ADS_1
Tanpa banyak kata lagi, Oliver mengeluarkan pelurunya dan mengarahkan ke kaki dua pria mencurigakan itu. Jordan segera menarik Leona dan membawa wanita itu pergi dari sana. Untuk nasip dua pria itu ia serahkan kepada Oliver dan Kwan. Saat ini tugas Jordan memang hanya melindungi Leona. Ia tidak mau membiarkan Leona sendirian hingga bahaya menerpa wanita itu untuk ke dua kalinya.
Zean dan Letty saling melempar pandang ketika mendengar suara tembakan tidak jauh dari posisi mereka berada. Mereka berdua segera berlari ke sumber suara. Tidak seperti warga lainnya yang lebih memilih menghindar dan menyelamatkan diri. Para polisi yang berada tidak jauh dari lokasi juga sudah mulai bermunculan.
Oliver dan Kwan memasukkan senjata api mereka dan memutuskan untuk pergi. Mereka harus tetap hati-hati karena kini status mereka adalah buronan seluruh polisi yang ada di dunia.
“Kak Oliver,” ucap Letty ketika melihat wajah Oliver dan Kwan pergi menjauh.
“Oliver?” celetuk Zean tidak percaya. “Mereka sudah ada di sini?”
Letty mengangguk. “Sebentar lagi pesta ulang tahun wanita itu akan di gelar. Aku yakin, Kak Oliver ada di sini untuk melindungi Putri Katterine.”
“Kalau Katterine datang ke sini itu berarti Jordan juga datang ke sini? Apa dia ingin merayakan pesta ulang tahun mantan tunangannya?”
“Mereka tidak jadi tunangan,” ucap Letty membela Jordan. "Itu berarti tidak ada kata mantan."
“Ya. Apapun itu! Tapi, tetap saja ia ingin datang ke sini. Apa dia sudah melupakan Leona dengan begitu cepat? Bahkan belum ada setahun kepergian Leona!” Zean terlihat kecewa ketika memikirkan Jordan datang ke Belanda hanya untuk merayakan pesta ulang tahun putri Isabel.
“Tidak. Aku mengenal Jordan sejak lama. Ia tidak akan mungkin mau datang ke sini kecuali ... dia sudah menyiapkan sebuah rencana besar. Sepertinya kita juga harus berhati-hati dalam bertindak. Jangan sampai menggagalkan rencana Jordan dan Kak Oliver nanti,” ucap Letty dengan penuh keyakinan.
Seorang pria muncul di samping Zean. Ia membungkuk sedikit untuk memberi hormat. “Pihak kerajaan sudah tiba. Tapi, Putri Isabel tidak ada dalam rombongan, Bos.”
Letty mendengus kesal. “Sepertinya dia takut untuk menjauh dari istananya itu,” umpat Letty sebelum pergi meninggalkan Zean. Wanita itu sangat kecewa ketika rencana yang sudah ia susun harus gagal lagi tanpa hasil.
__ADS_1
Zean memandang punggung Letty yang menjauh. "Wanita pemarah! Dia sangat mudah emosi jika apa yang ia inginkan tidak ia dapatkan!" Pria itu memutuskan untuk pergi ke arah yang berlawanan dari Letty bersama dengan pria berstatus bawahannya. Zean yakin, walaupun kini mereka berpisah. Nantinya Letty akan menemuinya lagi.