
“Putri, Raja ingin bertemu dengan Anda,” ucap seorang pengawal wanita yang baru saja tiba. Pengawal cantik itu memiliki tubuh yang tegab dan senjata api dipinggangnya. Wajahnya terlihat sangat menakutkan. Bahkan Isabel sendiri tidak berani memperlakukan wanita itu sama seperti pengawal dan pelayan lainnya. Wanita itu adalah pengawal wanita yang selalu di banggakan oleh Raja Belanda. Selama ini ia berada di samping Raja untuk melindungi beliau.
“Untuk apa Raja ingin menemuiku? Apa dia mulai mencurigaiku saat ini?” gumam Isabel di dalam hati. Walaupun hampir seluruh penghuni istana tunduk dengan perintah Isabel, tapi tetap saja masih ada Raja yang memiliki kekuasaan penuh atas tindakan yang ingin dilakukan oleh putri kerajaan Belanda. Kini saat Isabel tidak memiliki pilihan lain, ia hanya bisa menurut untuk menemui Raja di ruangannya.
Sudah hampir setahun Raja jatuh sakit ketika Ratu meninggal dunia. Seluruh kekuasaan dan hal yang berhubungan dengan Istana telah di serahkan kepada Isabel. Hanya saja Raja masih menunda pengangkatan Isabel sebagai Ratu. Mengingat Isabel masih terlalu muda dan tidak berpengalaman. Selama ini apapun yang dilakukan Isabel selalu mengharumkan nama Kerajaan Belanda. Hingga akhirnya Raja sendiri tidak pernah mencurigai dan mengetahui kalau Isabel ternyata wanita jahat yang tidak memiliki hati.
Saat istana dalam keadaan di serang, Raja terpaksa mengadakan rapat dadakan untuk mencari solusi dan menyelamatkan istana tercintanya. Kini hanya Isabel yang ia miliki. Pria itu ingin mendengar secara langsung solusi yang akan dikatakan oleh Isabel.
Pintu berukuran besar dan mewah yang ada di hadapan Isabel terbuka dengan lebar ketika Isabel telah tiba di depannya. Pintu megah itu yang akan menghubungkannya dengan ruangan yang selama ini di tempati Raja. Lokasinya memang terpisah dari istana yang selama ini di tempati oleh Isabel. Raja memang meminta gedung itu untuk menenangkan diri dan mengenang istri tercintanya yang telah tiada.
Isabel memandang wajah beberapa pengawal istana yang ada di ruangan itu. Hatinya semakin tidak karuan. Tidak terbayangkan di dalam benak Isabel, jika nanti semua orang mengetahui penyebab kekacauan itu adalah dirinya.
“Isabel memberi hormat kepada Yang Mulia Raja,” ucap Isabel sambil membungkukkan tubuhnya. Putri yang cantik, sopan dan bertutur kata baik. Seperti itulah penilaian semua orang terhadap Isabel. Jika di tanya siapa wanita terbaik yang ada di Belanda. Jawaban semua orang pasti sama. Isabel.
“Berdirilah, Nak. Kau terlihat semakin kurus,” ucap Raja dengan wajah yang serius. “Kemari duduklah di kursi Bunda mu,” perintah Raja sambil menunjuk sebuah kursi yang ada di sampingnya.
__ADS_1
“Baik, Yang Mulia Raja,” ucap Isabel lagi sebelum berjalan ke arah kursi. Di bantu dengan pelayan yang ikut bersamanya, Isabel duduk di kursi milik ibunda Ratu. Wanita itu mengatur ekspresi wajahnya setenang mungkin agar semua orang tidak curiga terhadap dirinya.
“Yang Mulia, keadaan di luar sedang kacau. Kenapa Anda mengadakan pertemuan ini?” tanya Isabel dengan wajah penasaran.
Raja tersenyum kecil. Cukup unik memang jika di saat seperti ini seorang Raja masih mampu tersenyum. Berbeda terbalik dengan Isabel yang ketakutan karena tidak ingin kehilangan istana megahnya.
“Putri Isabel, apa kau lupa dengan perkataan Bundamu? Harta tidak akan pernah menjadi teman kita hingga mati. Harta juga bisa membuat kita berada di jalan yang salah.”
“Maaf Yang Mulia. Saya tidak pernah lupa akan pesan Bunda Ratu. Hanya saja kini ada banyak nyawa yang harus kita lindungi,” ucap Isabel lagi.
“Raja, apa Raja baik-baik saja?” tanya Isabel dengan wajah khawatir.
Beberapa pengawal terlihat panik melihat keadaan Raja yang memburuk. Namun, Raja tetap ingin melanjutkan semua yang telah ia mulai. Dengan dibantu dokter pribadi di sampingnya, Raja berusaha menyampaikan apa yang ia pikirkan sejak tadi.
“Isabel, apa kau tahu kalau penyerangan ini akan datang?” tanya Raja dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
Isabel menunduk karena tidak berani memandang wajah Raja. “Maaf, Raja. Tapi saya tidak mengetahui kalau penyerangan ini akan terjadi.”
“Lalu, kenapa kau mengadakan perjanjian dengan beberapa negara? Kini seluruh keamanan negara yang ada di seluruh negara Amerika dan Eropa mulai mengawasi kita. Mereka melindungi kita layaknya berlian yang ingin di curi.”
Isabel mengatur napasnya. “Saya hanya mengambil pelajaran dari Istana Cambridge, Raja. Istana Cambridge hancur dalam hitungan menit saja. Pengawal dan pelayan banyak yang meregang nyawa di sana. Jadi, saya mengambil inisiatif untuk melindungi Istana,” jawab Isabel dengan wajah yang menyakinkan. “Bukankah beberapa waktu yang lalu istana kita juga dalam penyerangan? Maka dari itu saya mengajukan kerja sama ini lagi. Saya meminta semua keamanan untuk melindungi Cambridge dan istana kita.”
“Kau memang putriku yang sangat cerdas, Isabel. Aku sangat bangga memiliki putri sepertimu. Hanya saja, kali ini rencanamu salah. Seluruh aparat negara yang kau bentuk tidak berhasil melindungi Istana kita,” ucap Raja dengan wajah sedih. “Bahkan aparat negara kita sendiri harus pergi meninggalkan Istana kita.”
Isabel melebarkan kedua matanya. Ia tidak menyangka kalau pertahanan besar yang ia bayangkan kini ternyata tidak ada lagi. “Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi, Yang Mulia?”
Raja mengangguk pelan. “Kau sendiri yang bilang kalau luka Cambridge adalah luka kita. Maka dari itu, ketika Cambridge di serang, pasukan tentara kita berangkat untuk melindungi Cambdrige,” ucap Raja menjelaskan.
“Cambridge di serang? Itu tidak mungkin!” teriak Isabel histeris. Hal itu membuat perhatian semua orang teralihkan ke arah dirinya.
Raja memandang wajah putrinya dengan senyuman tipis. “Kenapa kau bisa bilang tidak mungkin?”
__ADS_1