
Pesta berlangsung seperti resepsi pernikahan pada umumnya. Pengantin ada di pelaminan untuk menyambut para tamu undangan yang hadir. Mereka terlihat sangat bahagia.
Para tamu undangan turut merasakan bahagia ketika melihat kedua mempelai tersenyum dengan indah. Sama halnya dengan Leona yang saat itu baru saja tiba. Di sampingnya ada Jordan yang merangkul pinggangnya dengan mesra.
Malam itu ada banyak teman SMA yang ditemui oleh Leona. Ia terlihat sangat antusias ketika bertemu dengan teman sekelasnya. Sudah terlalu lama memang mereka tidak bertemu. Ada yang sudah membawa anak dan ada juga yang membawa tunangannya seperti Leona.
Sejak dulu Leona memang sudah dikenal sebagai putri konglomerat. Jadi, wajar saja kalau satu sekolah menyayanginya dan sangat menghargainya. Seperti sekarang. Walau mereka semua sudah dewasa dan sudah sukses semua. Tapi mereka tetap memandang Leona dengan derajat yang tinggi. Di tambah lagi malam ini wanita itu hadir bersama dengan Pangeran Cambridge yang cukup terkenal di kalangan atas.
"Aku ingin menemui Lusya." Leona menyudahi ceritanya. Ia memandang wajah teman sekelasnya dulu dengan senyuman yang indah.
"Tunggu, Leona. Ketika kau menikah nanti, apa kau akan mengundang kami?" tanya salah satu teman SMA Leona. Mereka sangat berharap bisa mendapat undangan agar bisa menghadiri pesta kerajaan yang sudah pasti di jamin kemewahan dan kemegahannya itu.
Leona mengangguk setuju. Ia memandang wajah Jordan sekilas sebelum memandang wajah teman-temannya lagi.
"Tentu saja. Kalian semua pasti akan aku undang. Harus datang ya," ucap Leona dengan jari yang menunjuk.
"Baiklah, sekarang kau boleh pergi," ucap salah satu pria dengan tawa kecil. Ia kembali bergabung dengan rekannya untuk melanjutkan keseruan cerita mereka yang tadi.
Jordan mempererat rangkulannya di pinggang Leona. Pria itu mengukir senyuman karena paham kalau tidak lama lagi tunangannya itu pasti akan protes.
__ADS_1
"Jordan, apa yang kau lakukan?" protes Leona sesuai dengan perkiraan Jordan.
"Sayang, itu hukuman karena kau sudah mengabaikanku tadi," bisik Jordan. Pria itu menahan kepalanya di dekat leher Leona dan menghirup aroma tubuh wanitanya. Kedua matanya terpejam untuk sejenak karena aroma tubuh Leona berhasil menenangkan dirinya.
"Sayang, kau tidak cemburu dengan mereka, kan?" Leona memiringkan wajahnya. Alisnya saling bertaut ketika melihat Jordan memejamkan matanya. "Apa yang kau lakukan?"
"Aku suka aroma tubuhmu," jawab Jordan sambil membuka kedua matanya.
Leona menghela napas. "Ayo kita ucapkan selamat kepada Lusya. Aku sudah mengantuk dan sangat lelah. Ingin segera kembali ke hotel untuk beristirahat," pinta Leona dengan wajah bersungguh-sungguh.
"Baiklah." Jordan melanjutkan langkah kakinya. Mereka berdua berjalan ke arah pengantin yang terlihat paling bahagia.
"Aku senang melihatmu datang malam ini," ucap Lusya dengan senyuman indahnya.
"Aku pasti akan datang. Kau teman terbaikku," jawab Leona dengan ukiran senyuman yang begitu indah.
"Leona, aku pasti akan datang di acara pernikahanmu," ucap Lusya lagi.
"Tentu, kau memang harus datang."
__ADS_1
Leona melangkah mundur. Ia merangkul lengan Jordan dan memandang wajah Lusya lagi. Wanita itu kembali ingat dengan tingkah laku Lusya saat di London. Ada rasa ingin memamerkan kemesraannya dengan Jordan malam ini di depan Lusya.
"Leona, maafkan aku." Lusya merasa bersalah. Wanita itu merangkul lengan suaminya dan menyembunyikan wajahnya karena malu. "Kau tidak suka didekati oleh pria dulu. Aku tidak menyangka kalau sekarang kau bisa bersikap seperti ini."
Jordan menaikan satu alisnya. Ia memandang wajah Leona sekilas sebelum mengukir senyuman bahagia. "Apakah benar seperti itu? Tapi ... sepertinya Lusya tidak bohong. Kwan juga pernah bilang kalau Leona dulu tidak pernah dekat dengan pria manapun. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Zean. Dia pasti masih sangat lugu saat itu hingga dengan mudah terperangkap dengan perasaannya," gumam Jordan di dalam hati.
"Lusya, jangan ceritakan kejelekan ku saat di SMA," protes Leona dengan wajah malu.
"Leona, kau wanita yang sempurna. Kau wanita hebat yang memiliki segalanya tapi tidak mau dekat dengan pria. Kau wanita luar biasa Leona. Kau bahkan tidak membiarkan pria lain menyentuhmu selain suamimu nanti," sambung Lusya lagi dengan tawa kecil di bibirnya. "Berbeda denganku yang bertemu dengan suamiku saat tidak virgin lagi," sambung Lusya dengan wajah berbangga diri
Deg. Leona tertegun. Ekspresi wajahnya berubah. Wanita itu menunduk dengan kedipan mata yang jauh lebih cepat. Senyumnya yang semula terlihat tulus kini berubah menjadi senyuman terpaksa. Leona kembali ingat dengan apa yang dilakukan Zean saat itu. Semua bayang-bayang itu kembali memenuhi pikirannya.
Jordan tahu apa yang dirasakan Leona. Pria itu melepas tangan Leona yang merangkul lengannya dan segera menarik Leona ke dalam pelukannya. Memang hingga detik ini Jordan berpikir kalau Leona tidak lagi virgin. Cerita Leona yang dulunya hanya setengah-setengah membuatnya menyimpulkan hal seperti itu.
"Maaf, Nona. Sepertinya Leona tidak bisa berlama-lama di sini. Ia terlihat tidak enak badan. Selamat atas pernikahan Anda," ucap Jordan berpamitan.
Lusya mengangguk pelan. "Baiklah Pangeran, terima kasih karena malam ini Anda sudah mau datang ke acara-"
Belum sempat Lusya menyelesaikan kalimatnya. Jordan pergi begitu saja membawa Leona pergi menjauh. Jordan tidak mau semua orang melihat Leonanya sedang bersedih. Jordan berjalan cepat membawa Leona pergi meninggalkan lokasi pesta. Ia berjalan ke arah mobil yang sudah ada Oliver di dalam mobil tersebut.
__ADS_1
"Aku tahu apa yang kau pikirkan dan apa yang kau rasakan. Andai aku bisa mengobatinya, maka aku akan melakukannya agar kau bisa melupakan lukamu itu, Leona," gumam Jordan di dalam hati.