Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Aku Bahagia


__ADS_3

Kwan segera datang ke rumah yang kini di huni Leona dan Jordan. Wajahnya terlihat sangat berseri. Ada Oliver di sampingnya. Mobil mereka melaju dengan begitu cepat menuju ke arah perbukitan.


"Aku tidak sedang bermimpi, kan? Kak Leona benar-benar sudah bangun?" ucap Kwan sekali lagi dengan wajah tidak percaya. Pria itu memandang wajah Oliver dengan serius. "Kau tidak bercanda saat ini kan?"


"Tentu saja tidak. Pangeran sendiri yang bilang dan memintaku untuk membawa kau menemui mereka saat ini," jawab Oliver apa adanya.


"Apa pasukanmu sudah mendapatkan petunjuk soal pria misterius itu?" tanya Kwan penuh selidik.


"Pria yang sama dengan pria yang menculik Putri Katterine. Pria yang sudah menghancurkan istana Cambridge. Jika bertemu dengannya, aku ingin berhadapan dengannya langsung. Mereka ada dua orang," ucap Oliver sambil membayangkan dua pria bertopeng yang pernah ia temui.


"Ini sangat buruk. Kenapa musuh kita selalu saja kelas yang berbahaya. Kapan aku bisa bebas dan bertemu Alana," ucap Kwan sambil mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.


Oliver mengukir senyuman kecil. "Saat berada di lingkungan berbahaya seperti ini, kau tidak bisa mendekati wanita. Jika musuhmu tahu, wanitamu akan celaka."


"Hei, kau salah! Wanitaku memiliki pria tangguh di sampingnya. Kekuatan Paman Biao tidak bisa diragukan. Dia pasti bisa menjaga Alanaku dengan baik," ucap Kwan penuh percaya diri


Oliver menggeleng pelan. Pria itu memandang rumah yang ada di hadapannya. Mobilnya berhenti dan berbaris dengan mobil milik Jordan di sana. Tanpa mau menunggu, Kwan segera turun dan berlari masuk.


***


"Kau harus makan," bujuk Jordan.


"Kenapa harus bubur?" protes Leona kesal. Dia tidak mau memakan bubur. "Aku bukan bayi."


"Setelah kau bisa berjalan dan bergerak dengan normal lagi. Kau baru boleh memakan makanan yang kau suka. Untuk saat ini makan ini dulu," bujuk Jordan lagi.


Leona memandang wajah Jordan dengan tatapan tajam sebelum membuka mulutnya. Dengan senang hati Jordan memasukkan bubur itu ke dalam mulut Leona. Hatinya bahagia bisa melihat Leona mengunyah makanan seperti itu.

__ADS_1


Suara pintu terbuka. Kwan muncul di sana. Pria itu mengukir senyuman indah ketika melihat Leona duduk di sebuah sofa.


"Kakak!" teriaknya kegirangan.


"Kwan," teriak Leona tidak kalah kuat. Ia membuka kedua tangannya dan siap memeluk Kwan.


Jordan lebih memilih mundur dan duduk di sofa lain. Pria itu meletakkan buburnya di atas meja dengan tatapan sinis ke arah Kwan dan Leona. "Sangat jauh berbeda jika dibandingkan denganku tadi," sindir Jordan dengan suara kecil.


Kwan dan Leona tidak mempedulikan perkataan Jordan. Mereka berdua telah asyik berpelukan dan melepas rindu. Oliver yang bisa mendengar jelas apa yang dikatakan Jordan hanya menggeleng pelan sebelum menjatuhkan tubuhnya di sofa.


"Kwan, apa kau baik-baik saja?"


"Kak, jangan mengkhawatirkanku. Aku memiliki kemampuan yang tidak bisa diragukan lagi. Aku pasti bisa menjaga diriku. Kak, kau harus cepat sembuh. Aku rindu melihatmu bertarung dan menembak orang lagi. Setelah kau sehat, aku akan mencarikan misi untukmu nanti," ucap Kwan penuh semangat.


Jordan mengambil bantal kursi dan melemparkannya ke arah Kwan. Pria itu sangat kesal mendengar tawaran Kwan saat itu. "Bisa-bisanya kau mendukung Leona menjadi pembunuh lagi!"


"Kak, apa kau tahu siapa yang menembakmu dan membuatmu hingga seperti ini? Letty kak! Kau tidak mau memasukkannya ke daftar orang yang ingin kau bunuh?" tanya Kwan dengan wajah berseri. Pria itu sengaja mengatakan hal itu karena ada Oliver di sana. Walau terkesan akrab, tapi sebenarnya Kwan masih menyimpan rasa kesal terhadap Oliver di dalam hatinya.


Jordan memandang wajah Oliver sekilas sebelum memandang Leona lagi. Ia sangat paham dengan isi hati Oliver saat ini.


Leona mengukir senyuman lalu menggeleng tidak setuju. "Aku ingin minta maaf padanya."


"APA?!" Kwan benar-benar tidak habis pikir dengan jawaban Leona saat itu.


"Kwan, ini bukan soal salah atau benar. Tapi janji. Aku sudah janji padanya untuk membunuh orang yang sudah melukainya. Aku yang salah karena tidak berhasil membunuhnya bahkan ...." Leona memandang wajah Jordan. "Aku tidak tega melukainya."


"Kak Leona, kau banyak berubah. Aku tidak suka Letty bebas begitu saja. Aku berpikir setelah kau bangun, kau akan membunuh Letty dan Zean." Kwan terlihat kecewa ketika pandangan mata Leona tidak sama seperti dulu.

__ADS_1


Leona memandang ke depan sambil mengingat ucapan Serena saat ia koma.


Leona ... jika nanti kau diberi kesempatan untuk hidup sekali lagi, berubah lah nak. Lupakan dendammu. Tidak semua yang kau lihat sama seperti apa yang kau pikirkan. Dulu mama pernah celaka hingga tiga kali. Apa kau tahu, posisi mama sangat sulit saat itu. Mama hanya tidak ingin kau menyesal dikemudian hari seperti mama saat ini. Tuhan memberikanmu waktu untuk merenung. Kembalilah sayang. Mama merindukan Leona yang dulu.


"Kak, apa kau baik-baik saja?" Kwan menepuk pipi Leona ketika wanita itu melamun.


"Hmm, ya. Aku ingin kau menemui Alana dan minta dia melihat cctv yang ada di sekitar rumah sakit," ucap Leona.


"Nona, Anda tidak perlu melakukan hal itu. Saya sudah melihatnya. Namun, hingga kini wajah aslinya tidak ada yang tahu," ucap Oliver.


Kwan memandang Oliver dengan alis saling bertaut. Tadinya ia sudah senang karena diberi tugas untuk bertemu dengan Alana. Sayangnya Oliver justru membuat semua kesenangannya gagal total.


"Siapa dia?" tanya Leona penasaran.


"Clouse!" jawab Oliver mantap.


"Clouse?" Leona kembali ingat dengan nama itu. Nama yang tidak asing. Pria itu yang pernah ingin membayarnya dengan jumlah fantastis jika ia berhasil membunuh Zeroun. "Tapi aku tidak kenal dengannya. Untuk apa dia menginginkan nyawaku? Kenapa dia ingin aku mati? Apa dia dendam karena aku menolak tawarannya saat itu?"


"Bukan, Nona. Clouse sahabat Putri Isabel. Putri kesayangan yang dimiliki Kerajaan Belanda."


Leona tertawa kecil. "Aku tidak memiliki masalah apapun dengan wanita itu!" sangkal Leona lagi.


Jordan hanya diam membisu. Di dalam hati ia mulai menyatukan semua masalah yang kini terjadi di depan matanya. Semua teka-teki sudah mendapat petunjuknya. Dan kini mereka siap memecahkannya.


"Putri Isabel adalah wanita yang di jodohkan dengan Pangeran Jordan beberapa tahun yang lalu," jawab Oliver lagi.


Deg.

__ADS_1


Leona mematung ketika mendengar kabar yang baru saja diucapkan Oliver. Wanita itu memandang ke arah lain. "Dijodohkan? Dia pernah dijodohkan dengan wanita itu?" Tidak tahu kenapa, Leona merasa ada yang aneh dengan perasaanya saat itu.


__ADS_2