Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 98


__ADS_3

Miller mondar mandir di kamar hotel. Karena tidak memiliki tempat tinggal ia harus tidur di hotel sampai urusannya selesai. Lagi-lagi pekerjaan yang seharusnya ia selesaikan ia abaikan begitu saja. Beberapa orang kepercayaan Miller yang kini membantunya di kantor. Walau sudah di atasi oleh rekannya, tetap saja saat dibutuhkan ia harus ada di kantor polisi tersebut. Maka dari itu Miller tidak mau berlama-lama. Ia ingin segera menyelesaikan salah paham ini agar bisa bekerja lagi dengan tenang.


"Aku tidak mendapat petunjuk sedikitpun. Bagaimana caranya aku mendapatkan gelang itu? Tidak mungkin aku menyelidiki semua orang yang ada di kota ini. Itu juga kalau pembelinya tinggal di kota ini. Bagaimana kalau pembelinya sudah meninggalkan kota?"


Miller ingin menyerah saja dan melupakan semuanya. Tapi terkadang hati nuraninya menolak. Ini memang cobaan yang harus ia hadapi. Sakit yang ada harus ia lalui dan ia selesaikan sendirian.


"Letty. Ya, aku yakin dia tahu. Pasti karena masih kesal saja makanya ia tidak mau memberi tahuku informasi pembeli gelang tersebut. Sepertinya kau harus membujuknya lagi."


Tiba-tiba Miller berpikiran untuk menemui Letty di markasnya. Kali ini ia tidak akan datang dengan tangan kosong. Buket bunga dan cokelat sudah ia pikirkan untuk di berikan kepada Letty nantinya.


"Tidak ada satu wanita pun yang menolak bunga dan cokelat." Miller tersenyum penuh percaya diri.


***


Malam harinya. Miller berdiri di hadapan Letty dengan pakaian yang rapi. Ia sengaja datang sebelum jam makan malam agar bisa membawa Letty makan di luar. Sebuket bunga dan cokelat berbentuk hati yang tersusun rapi di kotak sudah ia bawa. Tidak lupa di cokelat dan di bunga yang ia bawa tertulis kata 'Sorry'.


Letty melipat kedua tangannya di depan dada. Kedua matanya menatap sinis ke arah Miller. Wanita itu tidak tertarik menerima hadiah pemberian Miller. Walau sudah jelas-jelas di sana tertulis kata maaf.


"Aku tidak suka bunga dan cokelat." Letty memutar tubuhnya.


"Letty!" Miller terlihat kecewa. Walau begitu ia tidak mau menyerah.


"Apa yang harus aku lakukan agar kau bisa memaafkanku?" Miller berjalan mengikuti langkah Letty.


"Tidak ada yang perlu di maafkan. Di antara kita tidak ada masalah yang harus diselesaikan, Miller. Berhentilah menggangguku. Apa kau tidak ada kerjaan lain selain mencampuri urusanku?" Letty meninggalkan gedung tempat Queen Star berkumpul. Memang sejak tadi ia memiliki niat untuk makan malam di luar.


"Biar aku yang bawa mobil," ucap Miller cepat. Pria itu membuka pintu penumpang dan menatap Letty dengan senyuman. Letty sendiri tidak memiliki pilihan lain selain masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Aku harus bisa menjelaskan semuanya agar tidak ada salah paham lagi," gumam Miller di dalam hati. Pria itu segera masuk ke dalam mobil.


***


Sepanjang perjalanan Letty dan Miller hanya diam tanpa kata. Miller masih merangkai kata yang tepat untuk membujuk Letty. Sedangkan Letty masih beranggapan kalau Miller ingin gelang itu karena rasa cintanya kepada Bella.


"Aku dan Bella tidak akan jadi tunangan kalau gelang itu berhasil aku kembalikan pada Bella," ujar Miller tanpa memandang.


Letty tersenyum tipis. "Dia lebih mencintai gelang daripada tunangannya? Sungguh alasan yang tidak masuk akal."


"Aku serius. Aku menginginkan gelang itu karena aku tidak mau bertunangan dengannya."


"Miller, apa kau pikir aku wanita bodoh? Jika memang sejak awal kau tidak menginginkan pertunangan itu. Kau bisa menolaknya. Apa kau mau bilang kalau saat Bella mengumumkan pertunangan kau dalam keadaan tidak sadar!" Letty meninggikan suaranya. Rasanya mau percaya dengan Miller sudah sulit baginya. Hatinya terluka. Dan Letty tidak suka di lukai. Hidupnya sangat mudah dendam kepada siapa saja yang sudah melukai hatinya.


"Itu yang ingin aku jelaskan sejak kemarin. Tapi kau tidak memberiku kesempatan!" teriak Miller tidak mau kalah.


"Tidak!"


"Berhenti!"


"Aku bilang tidak ya tidak!"


"Berhenti! Atau aku akan melompat dari sini!"


"Letty, kenapa kau sangat keras kepala? aku hanya butuh waktu 5 menit. Setelah aku menceritakan semuanya Kau boleh mengambil keputusan. Bahkan jika kau tidak ingin lagi menemuiku seumur hidupmu juga aku terima."


Saat Letty dan Miller sedang asyik berdebat di dalam mobil, tiba-tiba gerombolan pria muncul dan mengikuti mobil mereka dari belakang. Jumlahnya semakin bertambah. Bahkan sebagian sudah ada di samping mobil dan depan mobil Letty. Walau begitu Letty dan Miller belum menyadarinya. Hingga saat mobil mereka memasuki jalanan sunyi, cahaya terang dari sepeda motor dan mobil yang mengepung mereka terlihat sangat mencolok

__ADS_1


"Siapa mereka? Sepertinya mereka mengikuti kita?" ujar Miller yang pertama kali sadar. Letty juga memandang segerombolan pria itu. Ia segera mengirim signal ke Queen Star agar segera tiba untuk menolongnya.


Miller memberhentikan mobilnya ketika gerombolan pria itu menghalangi jalannya. "Apa yang mereka lakukan? Apa mereka ingin merampok polisi!"


Letty hanya diam di tempatnya sambil memperhatikan wajah satu persatu pria yang berdiri di hadapannya. Salah satu pria yang ada di sana adalah pria yang ia kenali. Letty segera paham kalau tujuan mereka menghalanginya adalah untuk merebut gelang itu.


"Ayo kita hadapi!" ujar Letty tidak sabar.


"Hei, tunggu. Apa kau akan menghadapi mereka tanpa senjata?" tanya Miller khawatir


"Aku selalu membawa senjata," jawab Letty santai. Miller mulai tenang karena Letty memiliki senjata untuk melindungi dirinya. Kali ini Miller juga akan berjuang untuk melindungi Letty dari bahaya.


"Menyingkirlah!" teriak Letty dengan wajah angkuhnya.


Pria-pria itu tidak tertarik menjawab. Mereka justru menodongkan senjata untuk mengancam Letty.


"Kita bertemu lagi, Nona. Jika semalam kau berhasil kabur, malam ini kau tidak akan bisa lolos lagi. Serahkan gelang itu atau kau akan tewas di tangan kami," ucap pria itu penuh ancaman.


"Gelang?" gumam Miller di dalam hati. Ia memandang wajah Letty untuk menagih penjelasan. "Gelang itu masih bersamamu?"


"Ya, sekarang. Tidak tahu satu jam lagi ada di tangan siapa," jawab Letty santai. Ia mengangkat senjata apinya ke arah pria itu.


"Kebetulan sekali. Memang sejak tadi aku mencari keberadaan kalian!"


Miller menghela napas lega. Kini hal yang harus dilakukannya adalah berjuang untuk melindungi Letty dan gelang itu dari pria yang menghalangi jalan mereka. Ia tidak perlu susah-susah lagi mencari gelang itu karena gelang itu masih ada di delan mata.


"Baiklah, jika itu yang kau inginkan Nona. Jangan salah saya kalau wajah cantikmu berubah menjadi cacat!"

__ADS_1


"Berpikirlah dua kali sebelum kau mengatakan hal seperti itu. Karena sebelum kau menghadapinya, kau harus menghadapi ku lebih dulu!" ucap Miller tidak mau kalah.


__ADS_2