
Leona tidak bisa tenang ketika Zean tidak juga bisa dihubungi. Ia merasa kalau Zean kini berada dalam bahaya. Namun, ia juga tidak berani mengkhawatirkan mantannya itu di depan suami. Walau Jordan pria yang baik, tapi Leona ingin menjaga perasaan suaminya.
Leona duduk dan menghubungi pasukan miliknya. Ia meminta nomor pasukan The Devils yang mungkin bisa memberi tahunya di mana keberadaan Zean saat ini.
"Zean sudah dua hari menghilang?" celetuk Leona dengan wajah kaget. Bersamaan dengan itu Jordan muncul. Namun Leona belum sadar kedatangan suaminya. Ia masih asyik menghubungi nomor pasukan The Devils dan membahas masalah Zean.
"Dia melarang kalian untuk datang menjemput? Tapi, ini sungguh tidak masuk akal. Mungkin saja dia berada dalam bahaya."
"Posisi kami akan menjadi bahaya jika kami tidak menuruti permintaan Bos Zean, Nona. maaf." panggilan di matikan secara sepihak. Leona mengumpat kesal atas perlakuan bawahan Zean yang sangat tidak sopan.
"Selain di didik untuk membunuh, mereka juga di didik melukai hati orang lain," umpat Leona kesal sebelum melempar ponselnya.
Jordan tiba-tiba memeluk tubuh Leona dari belakang. Pria itu mendaratkan kecupan cintanya sebelum menanyakan apa yang terjadi.
"Apa semua baik-baik saja?"
"Tidak."
"Hmmm. Zean?"
"Ya. Aku merasa dia dalam bahaya."
"Lalu, apa yang mau kau lakukan? Kau lupa kalau sekarang tidak sendirian lagi? Ada aku dan anak kita." Jordan mengelus perut Leona dengan lembut.
"Ya, aku tahu." Leona memutar tubuhnya. Ia memandang wajah Jordan dan memegang pipi pria itu. "Bagaimana kalau kita jalan-jalan."
"Jalan-jalan? Apa ini alasanmu saja agar bisa bertemu dengan Zean?"
Leona terdiam. Itu benar-benar takut kalau sampai Jordan cemburu. "Mungkin setelah bertemu dengannya, aku bisa tenang."
Bukan marah justru Jordan tersenyum. Ia menarik Leona ke dalam pelukannya. "Baiklah. Jangan bersedih. Zean juga sahabatku. Dia pernah menyelamatkan istriku saat aku tidak ada. Apapun akan aku lakukan jika hal itu berhubungan dengan Zean."
"Benarkah?"
Jordan mengangguk. "Ke mana kita akan pergi?"
Leona memberikan alamat yang diberikan oleh pasukan The Devils. Jordan yang tidak berani membawa istri dan calon anaknya ke sembarang tempat memutuskan untuk membawa Oliver bersama mereka. Semua itu akan terasa jauh lebih aman jika ada dua pria yang menjaga Leona nantinya.
***
"Wilayah Cosa Nostra. Wilayah mereka ada banyak di Italia. Tapi, bisa di bilang kota ini adalah tempat tinggal mereka, Pangeran." Oliver yang memang banyak tahu tentang para mafia yang ada di dunia merasa curiga. Jika benar Zean menghilang di kota itu, hal itu menandakan Zean sedang tidak baik-baik saja.
"Apa Zean dalam bahaya?"
"Kemungkinan, ya Nona. Mereka bisa mengunci jaringan. Mereka pemilik rumah. Bisa saja mereka bertemu dengan Zean dan mengalami perdebatan hingga Zean tidak bisa keluar dengan mudah," jawab Oliver sejelasnya.
"Kita harus ke sana," ujar Jordan memberi solusi. Ia memandang Katterine yang duduk di samping Oliver dengan wajah tidak setuju.
"Katterine …."
"Aku ikut."
"Kau tidak bisa ikut. Kami akan berangkat ke wilayah yang beresiko," bantah Oliver.
"Tapi aku khawatir jika kalian tidak ada di kota ini."
"Katterine, kau bisa membantu kami di sana. Jika sampai kami mengalami kesulitan, kau harus segera menghubungi Letty dan memberi tahu semua yang terjadi," ucap Jordan lagi.
"Itu terdengar sangat buruk dan mengerikan. Aku semakin tidak setuju. Apa kalian lupa kalau kami masih dalam masa bulan madu?" Katterine menggandeng lengan Oliver dan bergelayut manja di sana.
"Katterine, aku mohon …," lirih Leona. Katterine melepas pelukannya di lengan Oliver. Ia tidak pernah tega jika melihat kakak iparnya memohon.
"Baiklah. Kabari aku secepatnya." Persetujuan Katterine membuat semua orang merasa lega. Malam ini juga rombongan Leona akan berangkat.
Setibanya di wilayah Cosa Nostra, Leona dan yang lainnya menuju ke vila yang seharusnya di tempat Zean. Di sana mereka sangat kaget ketika melihat Vila itu acak-acakan. Seperti baru saja terjadi pertempuran di sana. Rasa khawatir Leona semakin dalam. Begitu juga dengan Jordan dan Oliver.
"Oliver, sepertinya kita butuh bantuan Gold Dragon dan Queen Star. Hubungi juga The Devils dan katakan Zean dalam bahaya."
"Baik, Pangeran." Dalam hitungan jam saja mereka berhasil mengumpulkan pasukan mereka yang memang saat itu sudah berada dalam perjalanan.
Di malam hari, Leona dan yang lainnya berkumpul untuk membahas strategi yang akan mereka lakukan esok pagi. Namun, kunjungan mereka ke wilayah Cosa Nostra diketahui Zeroun. Pria itu tidak tidak diam mengetahui anak, menantu dan calon cucunya mendatangi kandang singa.
__ADS_1
"Dad, semua baik-baik saja," ucap Jordan agar Zeroun tidak khawatir.
"Apa yang akan kalian lakukan?"
"Tentu saja kami akan bicara baik-baik. Jika mereka tidak bisa di ajak bicara, kami akan melakukan penyerangan," jawab Jordan apa adanya.
"Saat Leona hamil? Jordan, itu beresiko!" Zeroun tidak mau Leona mengalami hal yang sama seperti Serena dulu.
"Aku dan Oliver akan menjaga Leona dengan baik, dad."
"No."
"Lalu, bagaimana?" ujar Jordan menyerah.
"Kau bisa mengancam mereka dengan menggunakan nama Daddy dan …."
"Dan?"
"Erena."
"Bukankah itu mama Tante Serena?"
"Katakan pada mereka kalau Queen Shabira juga akan tiba jika mereka melukai kalian."
"Wow, sebenarnya apa yang sudah terjadi di jaman muda kalian?" Jordan benar-benar tertarik mengorek cerita masa muda orang tuanya.
"Cosa Nostra adalah wilayah sahabat terbaik Tante Shabira. Tepat di kota itu, adalah wilayah kekuasaan Quees Star, yang dulu di pimpin Tante Serena. Mereka tidak akan berani melakukan apapun terhadap kalian jika mendengar nama Daddy, Tante Serena dan Tante Shabira."
"Baiklah, Dad. Besok pagi Jordan akan bertamu di mantion mereka."
"Berhati-hatilah. Tidak semua orang takut dengan ancaman."
***
Setibanya di mansion Cosa Nostra, Jordan tidak pernah mau jauh dari Leona. Sang istri tetap harus ada di sisinya. Oliver yang memiliki tugas untuk menantang pemimpin Cosa Nostra.
"Maaf, Tuan … Nona. Ada yang bisa saya bantu?" Seorang pria berdiri di hadapan Leona. Mereka tahu, bukan sembarang orang yang mau masuk ke wilayah mereka. Mungkin saja tamu mereka datang dengan membawa banyak keuntungan.
"Maaf, Tuan. Tapi sepertinya bos kami tidak bisa ditemui."
"Benarkah? Sesibuk apa dirinya hingga tidak bisa menemui tamu jauh? Katakan padanya kalau kami dari Gold Dragon dan Queen Star." Oliver mengitari ruangan disekitarnya. "Mansion sekelis ini, sangat mudah untuk menemukannya."
"Baik, Tuan."
Tidak lama kemudian sang big Boss muncul. Pria itu menatap wajah Leona, Jordan dan Oliver dengan wajah tidak percaya. Dia tidak kenal dengan mereka bertiga. Padahal mendengar nama Gold Dragon dan Queen Star, pria itu sudah langsung membayangkan wajah Zeroun dan Erena. Pasangan yang fenomenal dan jaya di masanya.
"Siapa kalian?"
"Anda tidak perlu kenal dengan kami, Tuan. Cukup kami saja yang kenal dengan pria hebat seperti Anda," ujar Oliver dengan tatapan yang tenang. Hanya melihat bola matanya saja si pria tua itu sudah merasa seperti bertemu seseorang. Siapa lagi kalau bukan Lukas. Pengawal Zeroun yang terkenal kejam dan tidak memiliki hati itu selalu membuat musuhnya takut sebelum menyerang. Bahkan masih membayangkannya saja sudah merinding.
"Kalian utusan Gold Dragon dan Queen Star?"
"Utusan? Itu terlalu rendah. Kami anak dari pemimpin geng yang anda ucapkan barusan. Saya mewakili Daddy Lukas. Tuan ini mewakili Daddynya Tuan Zeroun Zein. Sedangkan Nona ini mewakili Nona Erena. Sebenarnya kami mau membawa satu pria lagi sebagai generasi penerus Nona Shabira. Tapi, dia sedang sibuk menikmati masa indahnya bersama sang istri."
Pria itu merasa tidak percaya. Bagaimanapun juga siapa saja bisa mengaku-ngaku menjadi anak dari Zeroun maupun Erena.
"Apa yang kalian inginkan? Saya tahu kalian datang ke sini dengan maksud dan tujuan tertentu."
Oliver memberikan foto Zean kepada pria itu. "Kami kehilangan sahabat kami sejak beberapa hari yang lalu. Kabar terakhir yang kami terima, ia ada di wilayah Anda."
Pria itu menerima foto Zean. Tentu saja ia tidak kenal dan tidak tahu apa-apa. Selama ini yang terus memburu Zean dan Clara adalah orang kepercayaannya. Pria itu meminta pengawal untuk memanggil orang yang mungkin kenal dengan Zean. Sambil menunggu, pria itu kembali memandang Oliver, Leona dan Jordan dengan wajah tidak percaya.
"Apa Anda ingin berbicara dengan Daddy saya? mungkin Anda akan jauh lebih tenang setelah berbincang dengannya," sambung Jordan dengan wajah seriusnya.
"Tidak. Aku hanya kaget saja dan merasa bahagia karena kalian mau datang ke wilayah ini."
Tidak lama menunggu, pria yang selalu menjadi lawan Zean muncul. Setelah melihat foot Zean ia segera memberi tahu kepada sang big Boss kalau Zean adalah pria yang sudah membawa kabur Clara.
"Kau yakin?" ucapnya dengan wajah pelan.
"Benar, Bos. Kami masih dalam pengejaran saat ini."
__ADS_1
"Kenapa kau tidak menyelidikinya lebih dulu! Apa kau tahu siapa musuh yang kita hadapi saat ini!"
"Ehhhem." Oliver berdehem ketika tahu bawahan dan atasan di depannya berdebat.
"Tuan, kami tidak pernah melihat teman Anda. Tapi, jika Anda ingin mencarinya. Kami akan membantu Anda."
"Tidak perlu. Kami membawa pasukan yang jumlahnya jauh lebih banyak daripada warga anda di kota ini. Dalam satu jam saja kami pasti berhasil menemukannya," tolak Oliver.
"Silahkan, Tuan."
Leona menatap wajah pria tua itu dengan geram. Ia tidak suka perdamaian seperti ini. Melihat wajahnya saja ia sudah ingin memukulnya. Mungkin juga itu salah satu bawaan hamil. Leona merasa ada yang disembunyikan di sana.
***
"Hanya mengatakan hal seperti itu dia sudah takut?" ujar Zean tidak percaya.
"Awalnya ia mengirim orang untuk mengikuti kami. Pasti dia masih tidak percaya. Setelah melihat pasukan kita yang banyak dengan senjata lengkap. Ia menarik lagi orang-orang nya," jawab Oliver apa adanya.
"Lalu, bagaimana kalian tahu aku ada di rumah itu?"
"Itu sangat gampang. Bukankah tadi sudah aku bilang, kami memiliki pasukan yang banyak dan tersebar di segala penjuru. Hanya rumah kecil seperti itu tentu saja kami bisa menemukanmu."
"Baiklah, sekarang giliran mu. Kenapa kau bisa bersama Clara?" tanya Leona. Ia masih saja penasaran. Rasanya tidak tenang jika Zean belum menceritakan yang sebenarnya terjadi.
Zean tersenyum kecil. "Dia yang membuatku dalam masalah. Pemimpin Cosa Nostra itu menculiknya dan ingin melelangnya dengan harga mahal. Bisnis mereka seperti itu. Penculikan pertama aku berhasil menyelamatkannya. Itu juga jadi awal masalah ini terjadi."
"Clara sempat di culik 2 kali?" Leona semakin khawatir.
"Bahkan dia sudah sempat di beri obat dan di letakkan di kamar. Jika aku tidak datang tepat waktu, dia sudah …."
Leona berdiri dan menggebrak meja. "Tidak bisa dibiarkan. Pria itu harus diberi pelajaran!" teriak Leona penuh emosi.
"Sayang, tenanglah. Anak kita bisa kaget jika kau seperti ini." Jordan mengelus perut Leona yang masih rata.
"Anak? Kabar itu benar?" ujar Zean tidak percaya.
"Ya, Zean. Ada baby boy di sini," jawab Jordan penuh rasa bangga.
"Jordan, bagaimana kalau perempuan?" rengek Leona.
"Apapun asal lahir dari ibu seperti dirimu."
"Selamat ya Leona Jordan."
Tiba-tiba saja Ben muncul. Anak kecil itu berdiri di samping Zean dengan wajah takut. "Ada apa?"
"Apa paman akan pergi?"
"Ya."
Ben menunduk sedih. "Tapi paman akan pergi bersamamu. Sesuai janji paman."
Ben tersenyum bahagia. Ia memeluk Zean layaknya ayah yang ia rindukan. "Terima kasih paman."
"Aku mau menemui Clara," ujar Leona sebelum pergi. Ketiga pria itu kembali melanjutkan obrolannya. Mereka juga tidak mau mengganggu Leona dan Clara.
"Dimana kau menemukannya?" tanya Oliver sambil memandang wajah Ben.
"Rumah tadi miliknya. Dia malaikat penolongku." Zean mengacak rambut Ben. Ia benar-benar sayang dengan anak kecil itu.
"Paman, apa aku boleh meminta sesuatu?"
"Boleh. Katakan saja. Sekarang ini, apapun permintaanmu akan paman kabulkan."
"Aku mau mereka merasakan yang kedua orang tuaku rasakan," lirih Ben sedih.
Jordan dan Oliver terlihat bingung. "Apa maksudnya?"
Zean mengatur ekspresi wajahnya. "Ben mau kita membunuh big Boss Cosa Nostra. Karena pria itu sudah membunuh kedua orang tuanya."
Jordan dan Oliver terdiam. Bukan itu tujuan awal mereka. Tapi, jika pada akhirnya Zean akan melakukan penyerangan, mau tidak mau mereka akan ikut membantu.
__ADS_1
"Semua keputusan ada di tanganmu!" jawab Jordan mantap.