Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 91


__ADS_3


Waktu terus berlalu dengan cepat. Setelah selesai berpakaian Letty berjalan menuju ke pintu. Ia tahu kalau Pieter tidak sembarangan masuk ke dalam kamar kecuali kamar itu memang miliknya.


"Aku sudah keterlaluan. Bagaimana kalau Pieter dendam padaku. Bukankah pria itu kalau susah dendam susah di bujuk lagi?" gumam Letty di dalam hati.


Letty keluar dari kamar. Ia mendekati Pieter yang kini duduk di sebuah kursi. Pria itu hanya memandang Letty sekilas sebelum meneguk minumannya. "Maafkan aku."


Pieter hanya diam tanpa peduli dengan kata maaf Letty.


"Apa kamar itu kamarmu? Aku pinjam kemejanya satu. Dan jaket ini aku pinjam ya," ucap Letty dengan nada yang lembut.


"Pakai saja yang ada. Tanpa izin dariku kau juga pasti akan memakainya kan?" ujar Pieter tidak semangat.


"Kau marah padaku? Bukankah aku sudah minta maaf." Letty merebut paksa minuman yang ada di tangan Pieter dan meneguknya karena haus. Ia sudah terbiasa minum dari botol yang sama. Baginya itu hal yang wajar jika ia ingin bertahan hidup di luar sana.


"Kenapa kau bisa ada di sini?"


"Aku bosan di hotel," jawab Letty asal saja.


"Benarkah?" Pieter terlihat tidak percaya.


"Besok aku akan pergi dari kota ini, jadi kau bisa tenang karena tidak ada lagi yang mengganggu dirimu. Oh ya, apa Kak Oliver sudah menepati janjinya? Apa dia sudah membelikanmu rumah?"


Pieter mengangguk. "Dia mengirim sejumlah uang ke rekeningku. Lebih dari cukup. Setelah kondisiku membaik aku akan pergi dari kota ini. Aku ingin tinggal di kota yang lebih ramai dan modern."


Letty kembali diam. Tidak tahu harus berbicara apa lagi. Padahal jika suasana hatinya tidak buruk ia memiliki sejuta kalimat yang ingin disampaikan kepada Pieter. Salah satunya adalah berterima kasih.


"Pangeran Martine tidak akan diam dan menyerah. Sebaiknya kau memperingati keluargamu sebelum serangan tiba-tiba darinya muncul."


"Sejauh ini kami sudah memiliki mata-mata di istana Pangeran Martine. Apapun tindakan pria itu akan kami ketahui lebih dulu."


Pieter mengangguk. Ia meletakkan minumannya di atas meja. "Aku lelah, aku ingin tidur. Kau ingin pulang atau tetap di sini?"


"Aku ingin pulang. Kamarnya hanya satu. Aku tidak mau karena diriku kau tidur di luar."


"Hati-hati karena jalanan sudah sunyi." Pieter berjalan menuju ke kamar tidurnya. Pria itu tidak lagi menghiraukan Letty yang masih duduk di kursinya. Letty memandang ruangan sunyi dengan perasaan yang sudah jauh lebih baik. Setidaknya kali ini rasa sakit hatinya terhadap Miller sudah bisa ia lupakan walau belum sepenuhnya.


"Semoga mommy sudah tidur," gumam Letty di dalam hati.


***


Waktu terus berlalu. Letty meregangkan otot-otot tubuhnya ketika matahari sudah memenuhi kamar hotelnya. Wanita itu merasa sangat bersemangat pagi ini. Ia duduk di atas tempat tidur dan menutup mulutnya yang menguap.

__ADS_1


"Sayang, kau sudah bangun?"


"Mommy?" Letty kaget bukan main ketika melihat Lana ada di hadapannya. Wanita itu membawa sarapan pagi untuknya. Secara diam-diam Letty menyembunyikan tangannya yang terluka di balik selimut. Letty tahu luka di tangannya pasti bisa membuat Lana khawatir bukan main nantinya.


"Bagaimana pestanya? Apa sangat mengasyikkan?" Lana meletakkan sarapan yang ia bawa di atas nakas. Ia tahu kalau Letty tidak akan sarapan sebelum membersihkan wajahnya dengan air.


"Pesta?"


Berbicara soal pesta membuat rasa benci dan sakit hati itu kembali muncul. Namun, Letty tidak mau Lana tahu apa yang ia rasakan tadi malam. Apa lagi semangat Lana saat membantunya berias berasa di level tertinggi.


"Ya, pesta yang kau hadiri bersama Miller." Lana terlihat semangat. Ia ingin tahu sebenarnya bagaimana hubungan putrinya dengan polisi tampan itu.


"Berjalan lancar, Mom."


"Syukurlah. Mommy senang mendengarnya. Kalau mommy boleh tahu, Miller pria yang baik atau tidak?"


"Tidak!" jawab Letty cepat.


"Tidak?" Lana mengeryitkan dahinya.


"Maksudku dia tidak sebaik yang mommy lihat. Dia itu playboy, Mom."


"Benarkah?"


Lana tertawa ketika mendengar cerita Letty yang terkesan tidak masuk akal. "Baiklah, jika kau tidak mau menceritakan hubunganmu dan Miller tidak masalah. Mommy akan menunggu sampai kau siap menceritakannya."


"Mom, aku tidak sedang bercanda," rengek Letty.


"Ya, mommy percaya. Habiskan sarapanmu. Mommy dan Daddy harus pulang ke Hongkong. Jaga dirimu dengan baik. Jika urusanmu dan Miller sudah selesai, bawa Miller ke Hongkong ya," ucap Lana dengan satu kedipan mata.


"Mom ...." Lana tidak lagi mempedulikan rengekan Letty. Wanita itu hanya tersenyum bahagia seolah merasakan apa yang dirasakan oleh Letty. Dia tidak akan pernah menyangka kalau pesta indah yang dibayangkan Letty berakhir duka tadi malam.


"Apa yang mommy pikirkan?" Letty melihat sarapan di atas meja. Tiba-tiba saja perutnya menjadi lapar. "Sebaiknya aku sarapan dulu."


Letty melahap makanan dan minuman yang terhidang di atas meja setelah ia selesai cuci muka di kamar mandi. Perutnya terasa kosong karena tadi malam di pesta ia tidak sempat memasukkan apapun ke dalam mulutnya. Suara ketukan pintu membuat Letty mengalihkan pandangannya.


"Masuk!" Karena kamar itu tidak di kunci jadi Letty bisa dengan mudah meminta tamu nya masuk tanpa perlu turun dari tempat tidur.


Miller muncul dengan penampilan yang acak-acakan. Pria itu terlihat kurang tidur. Mata pandanya terlihat jelas. Bahkan pakaian pria itu belum terganti.


"Ada apa?" ketus Letty dengan wajah cuek.


"Kau ke mana saja? Kenapa kau tidak mengangkat teleponku?"

__ADS_1


"Aku sudah tidur," ketus Letty lagi.


"Letty, aku ingin menjelaskan sesuatu padamu."


"Untuk apa? Kita tidak memiliki hubungan apapun jadi jangan jelaskan apapun padaku."


Miller memandang telapak tangan Letty yang terluka. "Luka itu."


Letty menyembunyikan lukanya di balik selimut. Tadi dia juga berhasil menyembunyikan dari Lana.


"Aku akan mengobatinya."


"Jangan?" Letty turun dari tempat tidur. Ia menatap wajah Miller dengan penuh kebencian.


"Pergi dari sini. Aku mau mandi!"


"Letty, kau harus mendengarkan penjelasanku."


"Pergi, Miller. Jangan pancing amarahku!" Letty menunjuk pintu agar Miller segera keluar dari kamarnya. Miller sendiri tidak memiliki pilihan lain selain menurut untuk keluar dari sana. Walau sedikit kecewa tapi ia tahu kalau Letty pasti masih marah dan tidak mungkin memaafkannya begitu saja.


Ketika pintu kembali tertutup Letty mengatur napasnya. Ia berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


"Bahkan melihat wajahnya saja aku sudah tidak mau lagi. Bagaimana mungkin aku bisa bersikap akrab dengannya?" gumam Letty sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


***


"Kenapa jadi seperti ini?" Miller mengacak-acak rambutnya sambil berjalan menuju ke lift. Oliver dan Katterine yang melihat kehadiran Miller segera menyapa pria itu.


"Miller, kau darimana saja? Kenapa penampilanmu seperti ini?" Katterine memandang Miller dari ujung kaki hingga ujung kepala. Biasanya pria itu selalu terlihat rapi. Pagi ini Miller terlihat seperti pria yang frustasi.


"Aku ngantuk!" ucap Miller dengan mata yang sangat berat.


"Kau bisa menggunakan kamarku. Aku dan Katterine ingin keluar mencari sarapan."


"Baiklah. Terima kasih." Tanpa pikir panjang Miller masuk ke dalam kamar Oliver. Ia ingin istirahat karena memang sejak tadi malam ia belum ada tidur karena sibuk mencari keberadaan Letty.


"Sepertinya ada yang aneh," ucap Katterine pelan.


"Jangan pikirkan pria lain," bisik Oliver cemburu. Bahkan ketika Katterine memandang wajah Miller saja ia sudah terlihat tidak suka.


"Hemm, baiklah. Ayo kita sarapan." Katterine menggandeng lengan Oliver. Ia juga tidak mau ribut dengan Oliver hanya karena masalah sepele.


Katterine dan Oliver yang tidak tahu apa-apa memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka. Jika saja Oliver tahu apa yang sudah dilakukan Miller terhadap Letty mungkin kali ini pria itu tidak akan bisa tidur dengan nyenyak.

__ADS_1


__ADS_2