Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Sifat Ibu


__ADS_3

Leona turun dari tangga sambil menggenggam apel merah di tangannya. Wanita itu mengotak-ngatik ponselnya di tangan kiri untuk memeriksa pesan dari Kwan yang masih ada di San Fransisco. Selama berada di Sapporo, Leona benar-benar meninggalkan Queen Star. Untuk sementara, ia ingin berubah menjadi Leona yang dulu. Wanita manja yang tidak bisa apa-apa. Keras kepala dan selalu ceroboh. 


Di lantai bawah, Serena dan Daniel memandang kehadiran Leona. Mereka mengukir senyuman manis ketika melihat putri tersayang kini sudah ada di rumah utama. Sudah cukup  lama Serena merindukan Leona. Untuk beberapa bulan ke depan, ia ingin Leona tetap di Sapporo untuk menemani hari-harinya. 


Leona memasukkan ponselnya ke dalam saku celana ketika sudah tiba di lantai bawah. Wanita itu mengukir senyuman indah sambil memandang wajah Serena dan Daniel. Ia mempercepat langkah kakinya untuk bergabung dengan kedua orang tuanya. 


“Ma, mama sudah minum obat?” Leona mendaratkan kecupan di pipi Serena sebelum duduk di samping wanita itu. Ia mengukir senyuman saat menatap wajah Daniel. “Pa, dimana Kak Aleo? Bukankah hari ini libur?” ucapnya lagi.


“Mama sudah minum obat, Sayang,” jawab Serena pelan. Satu tangannya mengusap rambut Leona dan merapikan yang berantakan di bagian wajah.


“Kak Aleo ada di ruang kerjanya,” jawab Daniel tidak mau kalah.


Leona mengangguk pelan. Ia memperhatikan beberapa pelayan yang sibuk berlalu lalang. Memang selama ini saat jam segini seluruh pelayan akan berberes rumah. Namun, kali ini terlihat sedikit berbeda. Mereka terlihat seperti ingin membuat acara. Leona tahu bagaimana sibuknya rumah utama saat ada tamu yang akan datang  berkunjung. Bukan hanya meja makan yang di dekor ulang, biasanya beberapa kamar tamu juga akan di renovasi untuk memberi kenyamanan bagi tamu mereka.


“Ma, siapa yang mau datang?” tanya Leona pelan.


“Teman Papa,” sambung Daniel cepat.


Leona mengangguk pelan. Selama ini Leona sering melihat kunjungan teman lama Danie. Ayahnya dulunya adalah pembisnis yang sangat  sukses dan terkenal di mana-mana. Wajar saja jika mereka sering di datangi tamu. Serena memandang wajah Daniel sebelum melanjutkan bacanya pada majalah yang ada di genggaman tangannya.


“Ma, Leona akan berangkat ke Jerman besok,” ucap Leona cepat. Ada wajah takut-takut saat mengatakan hal tersebut. Namun, Leona tetap harus mengatakannya. “Leona mau tiba di sana sebelum salju turun,” ucap Leona lagi.


Serena mengeryitkan dahinya. Wanita itu meletakkan majalah yang sejak tadi ia baca. Menatap wajah Leona dengan tatapan kurang setuju. “Sayang, kau bisa melihat salju di sini. Untuk apa pergi jauh-jauh ke Jerman? Kak Aleo sudah menetap di sini. Kwan juga kabarnya akan pulang dalam waktu dekat. Apa lagi yang ingin kau cari di sana?” 


Leona memandang ke depan dengan tatapan kosong. “Mama bilang, mama tidak akan mengatur soal jodohku bukan? Aku boleh memilihnya sendiri?” Suara Leona mulai pelan bahkan nyaris hilang.


“Hmm, ya. Lalu apa ini ada hubungannya dengan pria yang kau cintai?” tanya Serena semakin serius.

__ADS_1


“Ya, ma. Dia ada di sana saat ini. Leona ingin menemuinya dan mengatakan beberapa kata penting kepadanya,” ucap Leona cepat. “Sebelum menghabisi nyawanya,” gumam Leona lagi di dalam hati. Sorot matanya berubah tajam dan mengerikan. 


Serena branjak dari sofa yang ia duduki. “Mama gak setuju. Apapun yang ingin kau lakukan, mama tidak mengijinkanmu untuk pergi.” Serena memandang wajah Daniel dengan tatapan yang sangat tajam. “Perkuat penjagaan rumah. Jangan biarkan Leona pergi meninggalkan rumah sampai musim salju tiba,” sambung Serena lagi. Wanita itu tidak mau berdebat dengan Leona di pagi yang indah. Ia berjalan pergi untuk menjauh dari Leona. Selama ini impian Serena tidak banyak. Di usianya yang sudah semakin tua, ia tidak ingin putra dan putrinya pergi jauh darinya.


Apa lagi selama ini ia sudah cukup memberi kebebasan kepada Leona untuk menikmati masa mudanya. Bukan hanya sebulan dua bulan. Bahkan bertahun-tahun Serena memberikan kebebasan kepada Leona tanpa mau menyelidiki kehidupan pribadi putrinya. Ia hanya tidak ingin membuat Leona kecewa.


Leona memandang punggung Serena. “Ma!” teriak Leona lagi.


Serena menghentikan langkah kakinya. Wanita itu memutar tubuhnya. “Leona, jika kau bertekad untuk pergi dan membantah perintah mama. Jangan salahkan mama, karena mama akan turun tangan langsung untuk menghalangimu,” teriak Serena.


Leona beranjak dari duduknya. “Beri Leona satu kesempatan lagi, Ma!” teriak Leona hingga suara wanita itu memenuhi seisi ruangan.


“TIDAK!” Serena benar-benar tidak sanggup jika harus berpisah dengan putri tercintanya.


Leona memandang ke arah pintu. Wanita itu berjalan cepat untuk kabur agar tidak sempat terkurung di dalam rumah berukuran luas dan megah tersebut. Ia terpaksa membantah perintah Serena demi rencana yang sudah ia rencanakan sejak awal.


Daniel menggeleng pelan sebelum menarik perut Leona. Wanita itu menahan tubuh putrinya agar tidak kabur. Serena semakin kesal melihat sikap keras kepala Leona. Wanita itu berjalan cepat mendekati Leona. 


Serena memukul titik saraf putrinya hingga membuat wanita cantik itu tidak lagi sadarkan diri. Leona memejamkan mata dan tubuhnya terjatuh. Daniel semakin kuat menahan tubuh putrinya. Pria itu mengangkat Leona ke dalam gendongannya. Ia memandang wajah Serena dengan tatapan bingung.


“Sayang, kita bisa bicarakan baik-baik. Tidak harus dengan cara seperti ini. Bagaimana kalau Leona semakin marah kepada kita?” ucap Daniel masih dengan nada yang lembut. Semarah dan sekecewa apapun Daniel atas sikap Serena. Pria itu tidak pernah mau beteriak atau berkata kasar kepada istrinya.


Serena membuang tatapannya. “Aku kesal melihat sikap membakangnya saat ini!” ucap Serena. Wanita itu melipat kedua tangannya di depan dada.


“Ma, ada apa dengan Leona?” tanya Aleo yang baru saja muncul. Pria itu berjalan cepat untuk mendekati posisi Daniel berdiri.


“Aleo, bawa adikmu ke kamar. Kurung dia dan pastikan dia tidak keluar rumah sampai musim dingin tiba,” perintah Serena dengan suara lantang dan tidak terbantahkan lagi.

__ADS_1


Aleo tidak berani bertanya apa-apa. Pria itu meminta Leona dari gendongan Daniel untuk membawanya ke kamar. “Baik, Ma. Aleo antar Leona ke kamar dulu,” ucap Aleo dengan suara pelan.


Serena menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan napas yang tidak karuan. Daniel menghela napas dan mengukir senyuman. Pria itu duduk di samping Serena dan mengecup pipi kanan istrinya.


“Tidak tahu kenapa, aku semakin mencintaimu. Kau terlihat sehat jika marah-marah seperti ini,” bisik Daniel mesra.


“Aku memang tidak sakit,” protes Serena cepat.


Daniel mengangguk pelan. “Ya. Kau selalu sehat. Bagaimana kalau kita ke kamar dan menghubungi keberadaan Zeroun? Kita juga harus membujuk Leona agar ia tidak kabur saat acara perjamuan nanti malam.”


Serena mengunci bibirnya. Wanita itu kembali ingat dengan kunjungan Zeroun dan Emelie. Ia memandang wajah Daniel dengan tatapan yang sangat serius. “Sayang, kenapa tadi kau mengatakan kalau Zeroun temanmu?” ucap Serena dengan penuh selidik.


Daniel mengangkat kedua bahunya. “Jika aku mengatakan kalau yang datang adalah mantan kekasihmu, nanti ceritanya semakin panjang bukan? Kita harus bercerita tentang perjodohan kita, amnesiamu, pertikaian dan-”


“Itu ide yang bagus,” potong Serena cepat. “Lebih baik mereka tidak tahu apa yang terjadi dengan masa lalu kita.”


Daniel mengukir senyuman. Ia menyelipkan rambut Serena dan menatap wajah istrinya dengan penuh cinta. “Sudah sangat lama kita tidak bertemu dengan mereka. Kira-kira Zeroun dan Emelie sudah seperti apa ya?” ucap Daniel dengan suara pelan.


Serena memandang ke arah depan. Bibirnya mengukir senyuman kecil. “Dia pria yang selalu menepati janjinya,” ucap Serena lagi.


Daniel tertawa sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. “Emelie ... Emelie. Ratu Cambridge itu yang menyebabkan semua ini.”


Serena memeluk tubuh Daniel dan mengukir senyuman manis. “Aku harap saat ini dia  tidak lagi cemburuan.”


“Sayang, jangan peluk Zeroun lagi,” ucap Daniel penuh peringatan. “Semakin tua usiaku. Tiba-tiba saja sikap cemburuku juga bertambah besar.”


Serena tertawa kecil. “Tidak akan. Aku hanya akan menciumnnya nanti.”

__ADS_1


“Kau memang minta di hukum,” ucap Daniel sebelum menghujani wajah istrinya dengan kecupan-kecupan cintanya. Untuk sejenak mereka melupakan Leona yang kini masih tidak sadarkan diri di kamarnya bersama dengan Aleo.


Maaf, author belum bisa crazy up. ngetik di hp rasanya Thu..ini jari kaku...🤧 Doakan laptop author cpet sembuh ya🥺


__ADS_2