Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Aku Akan Pergi


__ADS_3

“Terima kasih sudah kembali, Leona.”


Leona dan Jordan sama-sama memiringkan tubuh mereka ke samping. Mereka berdua memandang wajah Zean yang sedang tersenyum kecil. Pria itu terlihat bahagia dan jauh lebih semangat menjalani hidupnya. Cinta pertamanya telah kembali dan bisa menjalani hidup yang baik. Ada sosok pangeran tampan dan tangguh di sampingnya.


Jordan melepas jaketnya. Pria itu memakaikan jaket itu di tubuh Leona. “Aku akan menunggumu di mobil,” bisik Jordan dengan suara pelan. Jordan tidak mau mengganggu Leona dan Zean. Ia tahu kalau Leona sudah memaafkan kesalahan Zean. Ia juga tahu kalau Zean tidak akan menyerah begitu saja. 


Leona mengangguk pelan. Ia memandang kepergian Jordan. Oliver memandang wajah Jordan sebelum mengikuti  pria itu dari belakang. Miller masih mematung memperhatikan Zean dan Leona. Tiba-tiba saja Oliver merangkulnya dan membawanya pergi. 


“Jangan membuat masalah baru. Cinta segitiga sudah cukup rumit,” ucap Oliver menasehati. Tidak terbayang di dalam benaknya jika cinta segiempat juga akan terjadi di kehidupan Jordan nanti. 


Miller hanya diam. Sebenarnya ia ingin protes. Namun, ia juga tidak tahu bagaimana jalan percintaan Leona selama ini. Bahkan berbincang-bincang dengan Leona saja tidak pernah. 

__ADS_1


Letty menutupi tubuh Katterine. Ia mengukir senyuman dan membawa Katterine pergi mengikuti Jordan. Dua wanita itu juga tidak mau mengganggu Leona dan Zean. Mereka sendiri tidak tahu kini harus memihak ke siapa. Masalah yang menyangkut hati, hanya Leona sendiri yang menyelesaikannya. Mereka tidak bisa membantu apa-apa lagi.


“Terima kasih karena sudah membantu,” ucap Leona sambil memandang wajah Zean. Leona bisa menyadari perasaannya. Kini tidak ada lagi rasa benci di dalam hatinya. Bahkan saat ia berdiri dan ada di dekat Zean, semua terasa biasa saja. Ia hanya ingin antara dirinya dan Zean tidak ada permusuhan lagi.


Zean menghela napas. Ia menunduk dengan wajah bingung. Salju sudah tidak turun lagi. Matahari terlihat cerah saat itu walaupun malam akan segera tiba. Zean memperhatikan pasukan Miller yang telah sibuk mengevakuasi jenazah Clouse, Isabel dan seluruh tim yang membela Clouse tadi. Pria itu tidak menyangka bisa melakukan kejahatan seperti ini. Semua ia lakukan demi wanita yang sangat ia sayangi.


“Apa ada yang luka?” Zean melangkah mendekat. Namun, Leona mundur satu langkah. Ia menolak untuk di sentuh oleh Zean. Zean menahan tangannya. Ia terlihat sedih dan kecewa. “Maafkan aku ....”


“Tapi aku masih mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Beri aku satu kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku. Aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi,” ucap Zean dengan wajah memohon. “Satu kali saja ....”


Leona termenung sambil memandang wajah sedih Zean. Ia tidak tega. Tapi, dengan dirinya menerima Zean kembali itu sama saja ia akan menghancurkan hati Jordan. Walau Leona sendiri belum yakin dengan perasaannya dengan Jordan. Tapi Leona tidak mau membuat Jordan merasakan hal yang sama sepertinya dulu.

__ADS_1


“Maafkan aku, Zean. Hubungan kita di awali dengan kesalahan. Aku tidak bisa menyalahkanmu dalam hal ini. Tapi, untuk bersama ... kita tidak bisa. Aku tidak bisa melupakan apa yang sudah pernah kau lakukan di dalam hidupku. Apa kau tahu? Perlakuan itu seperti mimpi buruk yang menghantuiku setiap malamnya. Bahkan aku sampai jijik dengan tubuhku sendiri. Bertahun-tahun sudah berlalu, tapi itu tidak hilang.”


Zean mengukir senyuman kecil. Pria itu mengangguk pelan. “Aku yang salah. Aku yang lebih dulu membuat goresan di sebuah berlian berharga. Walau ia kini tetap berharga, tapi tetap saja tidak bisa aku miliki.” Zean memandang wajah Leona. Pria itu meneteskan satu air matanya. “Untuk yang terakhir kalinya, apa aku boleh memelukmu? Mungkin ini akan jadi perpisahan kita. Pertemuan kita yang terakhir juga ....”


Leona terlihat ragu dengan permintaan Zean. Tapi, Leona ingin memastikan hatinya. Ia ingin tahu apa yang akan ia rasakan saat tubuhnya nanti ada di dalam pelukan Zean lagi. Seperti dulu. Leona mengangguk pelan tanpa mau menjawab apa-apa lagi.


Zean berjalan cepat dan menarik tubuh Leona ke dalam pelukannya. “Untuk ke sekian kalinya aku menangis hanya karena wanita. Aku memang payah! Bukan?”


Leona menganguk pelan. Tidak tahu kenapa ia ingin menangis juga. “Kau memang pria yang payah!”


“Oh, Leonaku. Kenapa kau tidak bisa menjadi milikku lagi,” gumam Zean di dalam hati. Rasanya hatinya seperti di sayat-sayat ketika membayangkan pelukannya kali ini dengan Leona adalah pelukannya yang terakhir. Tidak tahu bagaimana caranya bangkit untuk menjalani hidup nanti. Jika selama ini Zean merasa kalau Leona akan terus mengejarnya karena ingin membunuhnya. Tapi, mungkin mulai besok ia sendiri tidak akan tahu Leona ada di mana dan akan pergi ke mana. 

__ADS_1


“Mungkin memang ini yang terbaik. Tidak selamanya orang yang kita maafkan masih bisa berada di sisi. Aku terluka Zean. Aku sangat percaya padamu saat itu. Tapi, kau mematahkan semuanya. Terima kasih karena telah mengenalkanku dengan cinta. Mulai hari ini, aku akan menghargai cinta yang aku punya dan orang-orang yang memberikan cintanya kepadaku. Aku tidak akan membuat mereka merasakan penderitaan yang pernah aku rasakan dulu!”


__ADS_2