
Oliver melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sejak masuk ke dalam mobil, pria itu belum mau mengatakan satu katapun kepada Katterine. Ia mencari tempat yang pas untuk bercerita dengan Katterine.
Mobil mewah itu melaju dengan cepat menembus kabut malam. Sepanjang jalan Oliver terus saja memikirkan sikap Katterine saat di lokasi pesta. "Dia seperti orang lain," gumam Oliver di dalam hati.
Ketika sudah tiba di jalanan sunyi, Oliver menghentikan laju mobilnya. Ia melihat dari spion beberapa mobil pengawal kerajaan juga berhenti dan berbaris rapi di belakang mobilnya. Oliver melepas sabuk pengamannya dan memandang wajah Katterine.
"Ok, sepertinya kau sudah tahu apa yang ingin aku tanyakan!" ucap Oliver tanpa mau basa basi lagi.
Katterine memandang wajah Oliver sekilas sebelum menunduk. "Apa kau pikir aku peramal yang bisa membaca isi hatimu?" ucap Katterine dengan wajah polosnya. Wanita itu sudah tahu kalau kini Oliver menagih sebuah penjelasan darinya. Tapi, Katterine sendiri tidak tahu harus memulainya dari mana. Ia bingung. Ia tidak ingin membuat suasana semakin kacau.
Oliver memejamkan matanya. Ia berusaha sabar dan menekan rasa kesal yang kini memenuhi pikirannya. "Putri Katterine, apa maksud Anda tadi? Maksud saya ... kenapa Anda membiarkan pria-pria itu menyentuh tubuh Anda. Bahkan Anda juga terlihat sangat menikmatinya tadi. Anda merangkul lengan pria payah itu dengan senyum bahagia. Apa ada yang salah dengan Anda malam ini? Apa seseorang memaksa dan mengancam Anda hingga Anda mau melakukan hal seperti itu?"
Oliver berusaha tetap tenang. Bahkan saat berkata saja ia berusaha keras agar tidak menaikan nada bicaranya. Ia tidak ingin menakuti wanita yang kini ada di hadapannya.
"Tidak. Aku sadar saat melakukannya. Aku memang sengaja tadi," jawab Katterine tanpa berani memandang wajah Oliver.
Oliver semakin menggeram. Jawaban wanita itu sungguh tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan sejak tadi. "Sengaja?" tanya Oliver untuk kembali memastikan.
Katterine mengatur napasnya lagi. Wanita itu memberanikan diri untuk memandang wajah Oliver. "Ya!" Ia menatap wajah Oliver dengan sisa keberaniannya.
__ADS_1
Oliver menjauhkan tubuhnya yang tadi agak dekat dengan Katterine. Ia memandang ke depan dengan wajah menggeram. Tangannya terkepal kuat dan ia letakkan di atas stir mobil. Pria itu terlihat kehabisan kata-kata. Hingga ia tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Aku sudah dewasa. Aku bukan anak kecil yang harus di kurung. Sudah saatnya aku mengenal lawan jenisku. Bukankah aku juga akan menikah. Jika nanti aku tidak pernah mengenal pria, aku tidak akan bisa menikah," ucap Katterine lagi. Wanita itu memejamkan matanya sejenak dan mengatur napasnya agar tetap tenang. "Harus berani. Ya, aku harus berani. Aku harus bisa membuatnya cemburu," gumam Katterine di dalam hati.
"Menikah? Kau ingin menikah?" tanya Oliver tidak percaya. "Baiklah, biar aku luruskan. Kau ingin menikah hingga kau membiarkan semua pria menyentuhmu? Katterine, itu bukan alasan yang masuk akal. Tubuhmu sangat berharga. Tidak ada yang boleh menyentuh tubuhmu, selain diriku!" ucap Oliver mantap.
Katterine tertegun. Sebenarnya ia ingin tertawa detik itu juga. Tapi momennya sudah hampir tepat. Katterine tidak ingin menggagalkan jebakannya kali ini.
"Hanya dirimu kau bilang? Lalu, jika nanti usiaku sudah pantas untuk menikah, apa kau mau menikah denganku? Kau melarangku bertemu dan bersentuhan dengan pria manapun, bukan?" tanya Katterine dengan wajah yang serius. Wanita itu memandang wajah Oliver tanpa mau berkedip lagi.
Oliver merasa terjebak. Kali ini posisinya benar-benar dilema. Ia tidak tahu harus menjawab apa. "Kenapa wanita begitu sulit di atur. Mereka makhluk yang melakukan segalanya dengan sesuka hati. Tidak mau kalah!" umpat Oliver di dalam hati.
"Tidak! Aku tidak mau menikah denganmu!" ketus Oliver dengan sorot mata yang sangat serius.
Deg, tiba-tiba saja Katterine merasa jantungnya seperti di remas. Ia patah hati ketika mendengar penolakan Oliver yang terang-terangan itu. Kedua matanya tiba-tiba saja terasa perih. Ia ingin meneteskan air mata karena sakit hati.
"Terserah kau saja. Jika kau bahagia, aku tidak akan melarang pria-pria itu untuk menyentuhmu. Aku harap kau segera menemui pria yang pantas untuk dirimu." Oliver memakai sabuk pengaman. Pria itu memegang stir mobilnya.
"Kau memang pria yang jahat!" teriak Katterine dengan suara histeris. "Aku tidak mau menemuimu lagi!" Air matanya meleleh. Buliran air mata itu mulai membasahi pipinya. Katterine menangis sedih. Ia menunduk tanpa mau memandang wajah Oliver lagi.
__ADS_1
Oliver menahan laju mobilnya. Pria itu mengatur napasnya. Ia tidak bisa membawa Katterine pulang dalam keadaan menangis. Bagi Oliver, tangis dan tawa wanita itu adalah tanggung jawabnya. Oliver tidak mau Katterine bersedih. Seumur hidupnya ia bertekad untuk membuat hidup Katterine selalu dilimpahkan kebahagiaan. Ia tidak mau wanita itu sampai menangis apa lagi karena dirinya.
"Katterine, jangan menangis," bujuk Oliver. "Oke, aku yang salah. Tidak seharusnya aku mengatakan hal seperti itu." Oliver mengambil tisu. Pria itu menghapus air mata yang ada di pipi Katterine dengan hati-hati.
"Kau menyebalkan!" ucap Katterine di sela-sela isak tangisnya. Awalnya ia tidak serius untuk menangis. Tapi, tidak tahu kenapa ketika Oliver semakin bersikap lembut justru air matanya semakin deras. Ia tidak mampu menyeka air matanya lagi saat itu.
"Cup cup. Jangan nangis lagi ya. Katterine, kau membuatku takut jika terus seperti ini," bujuk Oliver layaknya membujuk balita. Pria itu sendiri tidak tahu kenapa sikapnya bisa berubah 180 derajat seperti itu. Mungkin setelah kejadian ini, ia akan kembali mengenangnya dan menertawakan dirinya sendiri.
Katterine berusaha menghentikan tangisnya. Wanita itu memandang wajah Oliver dengan mata memerah. "Kau mau menikah denganku?" tanya Katterine lagi.
Oliver mengangguk pelan. "Ya, jika tidak ada lagi pria di dunia ini yang mau denganmu. Aku akan menikahimu nanti agar kau tidak menjadi perawan tua," jawab Oliver asal saja. Ia tidak mau wanita itu menangis lagi.
"Kenapa kau mengatakan hal seperti itu? Aku bukan wanita yang jelek. Ada banyak pria di luar sana yang mau menikahiku. Kenapa kau bilang kau akan menjadi pria yang terakhir?" protes Katterine tidak terima.
"Katterine, di dalam hidupku tidak pernah bermimpi untuk menikah. Kau wanita pertama yang aku kenal selama ini. Memang ada Letty di sepanjang hidupku. Tapi, rasanya berbeda. Ketika bersama denganmu, aku merasa ada tanggung jawab yang begitu besar di pundakku. Bos Zeroun memberiku tugas yang bisa dibilang cukup sulit. Mungkin, selamanya aku akan terikat denganmu. Tapi, soal pernikahan. Ketika suatu saat nanti kau menemukan pria yang kau cintai, kau bisa mengatakannya kepadaku. Jika memang pria itu bisa menjagamu dengan baik, aku akan menyerahkan tanggung jawab ini kepadanya. Dan aku bisa meninggalkanmu dengan tenang."
Oliver memandang wajah Katterine sejenak. Pria itu kembali melajukan mobilnya. Ia tidak mau masalah malam itu semakin panjang. Cukup sampai detik itu saja
"Astaga, bisa-bisanya aku mengatakan hal seperti itu. Bagaimana kalau Oliver tersinggung dan tidak mau menjadi pengawalku lagi? Bagaimana jika Oliver meninggalkanku dengan alasan yang baru saja aku katakan?" gumam Katterine di dalam hati. Ia tidak lagi berani memandang wajah Oliver. Pria itu terlihat benar-benar marah terhadap Katterine malam ini.
__ADS_1
"Apa yang dia pikirkan? Menikah? Kenapa dia tiba-tiba ingin menikah? Apa dia pikir menikah itu sebuah permainan yang kapan ia ingin, dia bisa meninggalkannya begitu saja?" umpat Oliver di dalam hati. Pria tangguh itu menambah laju mobilnya agar segera tiba di Istana Cambridge.