Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 63


__ADS_3

Beberapa saat kemudian. Langit sudah mulai gelap. Memang lagi-lagi perjalanan yang harus ia lalui sangat panjang. Bahkan Leona harus keluar kota. Sepanjang perjalanan tidak ada yang curiga. Kebetulan sekali Leona berada di dalam mobil yang sama dengan mobil yang membawa Marco. Sambil bertanya-tanya di dalam hati, Leona berusaha bersikap wajar.


Leona turun lebih dulu ketika mobil mereka berhenti di depan gedung yang tidak jauh dari kota. Leona menekan alat agar Serena tahu posisinya berada saat ini. Selama ada di mobil Leona tidak bisa melakukannya karena dua pria yang ada di sampingnya terlihat sangat waspada.


Ketika mereka semua masuk ke dalam. Leona sedikit menjauh dari rombongan yang membawa Marco.


"Tempat apa ini?"


Leona bersikap waspada ketika mereka sudah tiba di sebuah gedung yang sangat luas. Hanya terdiri satu lantai, namun ada banyak pintu dan lorong yang entah ke mana arah tujuannya. Jika saja bukan orang yang biasa berada di sana mungkin akan tersesat karena gedung itu sangat luas.


Leona memperhatikan dinding yang terlihat berlumut bagian bawah. Catnya berwarna hitam seperti bekas terkena asap atau terbakar. Dengan hati-hati dan tetap waspada Leona memantau pria yang membawa Marco.


"Kalian tunggu di sini!" perintah pria yang membawa Marco. Dengan wajah kecewa Leona menahan langkah kakinya. Ia melirik pria-pria di sana yang kini menatapnya dengan tajam.


"Hei, Nona. Ambilkan kami minum!" Salah seorang pria tidak sadar kalau orang yang berdiri di hadapannya bukan bagian dari mereka. Tidak mau pria-pria itu curiga, Leona mengangguk dan melangkah pergi. Walau sebenarnya ia tidak tahu di mana dapurnya. Bahkan Leona tidak mengira akan ada dapur di gedung kumuh seperti itu.


Saat ingin melangkah ke sebuah lorong, tiba-tiba tangan seseorang menepuk pundak Leona. Leona kaget bukan main. Wanita itu segera memutar tubuhnya dan menatap wajah pria yang baru saja menyapanya.


"Kau mau ke mana Kim?"


Leona mengerjakan kedua matanya berulang kali. Ia mengalihkan pandangannya karena tidak ingin pria itu curiga.


"Uhuk Uhuk."


"Kim, kau sakit?"


"Ternyata wanita ini bernama Kim. Aku harus bisa mencari alasan agar pria ini tidak memaksaku berbicara. Jika dia mendengar suaraku semua akan ketahuan. Mama dan papa belum menunjukkan tanda-tanda muncul," gumam Leona di dalam hati.


Leona menggeleng kepalanya sambil memegang lehernya. Seolah-olah ia sedang sakit dan tidak mau banyak berbicara.


"Kau masih sakit? Kim, kerja yang bagus. Kau berhasil menemukan tempat persembunyian pria bernama Marco. Pangeran pasti akan memberikan hadiah kepadamu nanti."


"Pangeran?" gumam Leona di dalam hati. Ia tidak menyangka kalau kali ini ia berurusan dengan anggota kerajaan lagi. Namun, kerajaan mana? Apa mungkin kerajaan Belanda? Kira-kira seperti itu isi pikiran Leona kali ini.


"Kau mau ke mana? Apa mau aku bantu?"


Leona menggeleng.


"Kim, kau memang sangat sulit untuk berbicara. Ya sudah. Aku tidak akan mengganggumu. Aku mau ke dapur. Perutku lapar."


Leona hanya mengangguk dan memberikan jalan. Ia juga memperhatikan arah yang di tuju pria tersebut.


"Hampir saja. Mau tidak mau aku harus menghadapi mereka semua jika tadi aku ketahuan," gumam Leona di dalam hati. Ia berjalan ke arah yang sama dengan pria itu karena memang ia ingin ke dapur. Leona sudah menyusun rencana. Di dalam minuman yang ingin ia berikan akan ia masukkan obat tidur. Dengan begitu, jumlah pasukan musuh yang akan ia hadapi akan berkurang.


Setelah tiba di depan dapur, Leona melihat beberapa minuman keras tersusun rapi di rak. Leona berjalan ke sana dan memperhatikan keadaan sekitar. Ia segera memasukkan bubuk yang ia bawa ke dalam semua botol minuman keras yang ada. Siapa saja yang meminumnya akan terdiri setelahnya.

__ADS_1


"Aku harus masuk ke dalam ruangan itu. Aku harus lihat sebenarnya apa yang terjadi di dalam sana. Apa yang akan mereka lakukan terhadap Marco?"


Leona membawa minuman itu dengan hati-hati. Ia terus saja mengamati semua orang yang ada di sana dan menghitung jumlahnya. Jika bertarung dengan tangan kosong mungkin Leona akan menang. Tapi, jika orang sebanyak itu mengepungnya dengan senjata api. Mustahil ia akan selamat.


Leona meletakkan minuman yang ia bawah di atas meja. Beberapa pria segera menghampirinya untuk mengambil minuman tersebut.


"Kata Pangeran sebaiknya kau pergi dari sini. Ketika ada tugas lagi, kau akan di panggil!"


Leona memandang pria yang tadi membawa Marco ke dalam ruangan. Leona menghela napas. Jika dia berhasil kabur, ia bisa datang kembali sambil membawa pasukan. Itu jauh lebih mudah daripada ia harus menerobos masuk sendirian ke dalam ruangan yang berisi Marco di dalamnya.


Leona mengangguk pelan. Ia memutar tubuhnya dan berjalan cepat. Bila perlu ia ingin terbang saja agar segera pergi meninggalkan gedung tua itu. Di depan Leona melihat mobil yang baru saja berhenti. Ada beberapa. Namun, ada satu mobil yang menjadi sorotan. Mobil itu baru saja tiba di hadapannya. Leona kembali menunduk.


Seorang pria turun dengan pakaian yang sangat rapi. Leona mengangkat kepalanya secara perlahan. Saat itu adalah pertemuan pertamanya dengan Pangeran Martine. Leona mematung ketika ia bertatap muka langsung dengan pria terkenal yang kini memimpin Monaco itu.


"Pangeran Martine. Bagaimana bisa dia ada di sini?" gumam Leona di dalam hati.


Pangeran Martine menatap kedua mata Leona. Ia menahan langkah kakinya. Pria itu merasakan sesuatu yang salah di sana. Ia berjalan mendekati Leona yang kini hanya berdiri mematung memandangnya.


Debaran jantung Leona sudah tidak karuan. Ingin menyerang namun ia tidak mau gegabah. Leona menunduk hormat seolah memang bawahan yang menghormati atasannya.


"Key, kau di sini karena ingin meminta imbalan mu? Kau memang wanita yang cerdas. Setelah bekerja ingin sekali segera di bayar."


Pangeran Martine menaikan satu alisnya. Setelah ada di depan Leona ia segera merangkul pinggang Leona dan menatapnya dengan tatapan penuh arti.


Leona yang tidak mau di sentuh sembarangan pria segera mendorong pangeran Martine.


Pangeran Martine kaget bukan main. Bahkan semua orang yang ada di sana. Beberapa pria segera mengangkat senjata api mereka dan mengarahkannya ke arah Leona.


"Siapa kau?" ketus Pangeran Martine dengan tatapan tajam.


Leona mengatur napasnya agar kembali tenang. Ia mengambil senjata apinya dan memasang tatapan yang sangat tajam. Ujung senjatanya ia arahkan di arah Pangeran Martine. Dengan begitu, jika semua orang yang ada di sana ingin membunuhnya maka Pangeran Martine juga tidak akan selamat.


Pangeran Martine tertawa kecil ketika menyadari wanita yang kini ada di hadapannya adalah penyusup. Ia kesal karena sudah ada yang tahu identitasnya kali ini.


"Oke, kau memang wanita yang pintar. Siapa kau dan apa yang kau inginkan? Katakan saja. Aku akan mengabulkannya." Pangeran Martine terlihat tenang walau sebenarnya nyawa dia dalam bahaya kali ini.


"Serahkan pria yang di dalam kepada saya," ucap Leona dengan tatapan tetap waspada.


"Pria tidak berguna itu? Maaf Nona, saya tidak bisa melepaskannya. Dia sudah menipu saya dan membuat saya rugi milyaran. Sebelum dia masuk ke kantor polisi, saya tidak akan melepaskannya begitu saja," dusta Pangeran Martine agar lawan bicaranya percaya


"Apa langkahku kali ini sudah benar? Bagaimana kalau masalah yang terjadi di antara mereka murni masalah bisnis dan tidak ada hubungannya dengan hilangnya Jordan dan Oliver? Ini bisa memperburuk keadaan karena aku sudah mengusik ketenangan kerajaan Monaco."


"Bagaimana kalau kita buat kesepakatan?" tawar Pangeran Martine dengan ekspresi wajah yang yang tenang. "Izinkan saya berbicara dengannya di dalam. Setelah selesai saya akan memberikannya kepada Anda, bagaimana?"


"Apa kau pikir aku orang bodoh yang bisa kau tipu begitu saja?" ucap Leona tidak percaya.

__ADS_1


Pangeran Martine berjalan maju dengan tatapan yang mulai serius. Leona mundur agar tidak berdekatan dengan pria itu.


Hingga tiba-tiba saja Pangeran Martine menyerang Leona. Pria itu ingin memegang tangan Leona. Namun, Leona lebih cekatan. Wanita itu berhasil menghindar bahkan tak lupa memberikan tendangan para kaki Pangeran Martine.


"Shit!" Pangeran Martine tidak menyerah. Pria itu ingin membalas Leona. Kali ini ia mengeluarkan sebuah pecut dari pinggangnya. Dalam hitungan detik saja pistol Leona terpental hingga jauh.


"Pria ini tidak sembarang," gumam Leona ketika senjatanya tidak ada lagi di genggaman tangan.


Beberapa pria muncul dan segera mengepung Leona. Sedangkan Pangeran Martine memutuskan pergi meninggalkan lokasi tersebut. Sepertinya ia tidak ingin mengalahkan Leona kali ini.


Leona bertarung mati-matian sambil berharap bala bantuan segera datang. Saat mobil Pangeran Martine melaju, dari dalam mobil pria itu melempar bahan peledak. Leona melebarkan matanya dan berlari menghindar. Ia tidak menyangka akan benar-benar terjebak kali ini.


Di sela waktu yang begitu singkat Leona masih sempat mengambil pistolnya dan menembak beberapa pria yang menghalanginya. Hingga saat tiba waktunya bom itu akan meledak, Leona merasakan seseorang menariknya dan memeluknya. Tubuhnya di peluk seolah ia dilindungi kali ini. Bersamaan dengan itu, suara yang begitu memekakkan telinga terdengar.


DHOOM


***


Leona merasakan panas. Karena daya ledakan itu tidak besar, walau jarak antara dirinya dan lokasi ledakan tidak terlalu jauh. Tapi tetap saja ia terlindungi. Di tambah lagi kini ada seorang pria yang memeluknya dan menutup tubuhnya dengan jaket.


Leona mengangkat kepalanya. Pelukan itu seperti tidak asing. Ia pernah merasakannya sebelumnya. Ketika wajah mereka saling bertemu, Leona kaget bukan main.


"Zean?"


Zean membalas tatapan Leona. Ia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Leona. Rasa itu kembali hadir dan membuat debaran jantungnya tidak karuan. Namun Zena segera sadar dan memalingkan pandangannya.


"Leona, apa yang terjadi? Kenapa kau bisa berada di sini? Di mana Jordan? Bagaimana bisa ia membiarkan istrinya ada di tempat terpencil dan dikeroyok seperti ini?" protes Zean dengan penuh rasa khawatir.


DUARR DUARR


Belum sempat Leona menjawab tiba-tiba terdengar suara tembakan yang begitu memekakkan telinga. Serena dan Daniel telah tiba. Bersama dengan Queen Star dan Gold Dragon, mereka muncul untuk melindungi Leona.


"Zean, sekarang bukan waktu yang tepat untuk menjelaskannya." Leona melepas pelukan Zean yang sejak tadi sepertinya tidak mau terlepas. Wanita itu berdiri dan memandang wajah kedua orang tuanya.


Saat Leona ingin berjalan pergi, Zean memegang pergelangan tangannya dan menghalanginya melangkah.


"Leona, kita sahabat? Kau sedang kesulitan. Beri aku kesempatan untuk membantumu."


Leona memandang Zean dengan wajah sedihnya. Sebenarnya saat ini ia butuh sandaran. Ia ingin mencurahkan isi hatinya dan seluruh kesedihan yang ia rasakan. Ia butuh Kwan yang hingga detik ini tidak muncul. Bersama dengan Zean, semua tidak akan baik-baik saja. Leona takut Zean akan semakin tersiksa karena ia harus kembali dekat dan akrab.


"Zean, bisa di bilang kali ini pernikahanku dan Jordan sedang di uji. Apa kau bisa memahami posisiku sebagai istri orang lain? Saat Jordan tidak ada, aku tidak bisa dekat dengan pria manapun. Termasuk kau."


Zean mengukir senyuman kekecewaan. Ia melepas tangan Leona setelah mendengar kalimat tersebut. "Maafkan aku Leona. Pergilah. Aku tidak akan ikut campur dalam masalahmu. Maafkan aku karena sudah membuatmu tidak nyaman."


Leona mengangguk pelan. "Terima kasih karena sudah menolongku, Zean."

__ADS_1


Leona berlari kencang. Ia melihat Serena yang terlihat panik mencarinya. Sedangkan Zean, masih berdiri di tempatnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Maafkan aku Leona. Tadi, kau hampir saja celaka. Kau tidak akan pergi sebelum kau baik-baik saja," gumam Zean di dalam hati.


__ADS_2