Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 4


__ADS_3

Katterine menghidupkan mesin mobilnya dengan wajah kesal. Ia melihat dari spion dengan alis saling bertaut. Ketika melihat ada Robert di sana, wanita itu segera melajukan mobilnya. Ia tidak mau terlalu lama bertemu dengan Roberto. Sangat tidak menarik. Bahkan membosankan. Pertemuan tadi saja sudha membuatnya ingin menjerit kesal.


"Putri!" teriak Roberto sambil mengejar mobil Katterine yang terus saja melaju kencang.


Roberto semakin sakit hati karena lagi-lagi ia gagal untuk mendapatkan perhatian Katterine. Pria itu mengumpat kesal dengan wajah tidak terima.


Sejak dulu ia selalu gagal mendapatkan Katterine. Bahkan saat kini mereka sudah dewasa, tidak ada tanda-tanda kalau Katterine akan menerima dirinya. Padahal jika dibandingkan dengan dulu, saat ini Roberto jauh lebih mempesona dan sudah pasti di gilai para wanita.


Di dalam mobil, Katterine hanya diam tanpa ekspresi. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tidak peduli dengan keselamatannya sendiri. Ia ingin tiba di apartemen untuk segera istirahat. Rencana liburan yang ia pikir bisa menenangkan pikirannya harus gagal begitu saja.


Di samping mobil Katterine, ada mobil hitam dengan kaca tertutup. Mobil itu terlihat sengaja memanas-manasi Katterine agar mau balapan.


Katterine yang memang saat itu butuh hiburan dengan senang hati untuk balapan di siang hari. Di sana juga tidak ada Oliver jadi ia tidak perlu takut ada yang memarahinya.


Katterine menambah laju mobilnya. Ia menerobos jalan raya lebih dulu dan meninggalkan mobil yang mengganggunya jauh di belakang sana.


"Apa dia tidak tahu kalau aku Putri big Boss mafia," umpat Katterine di dalam hati. Senyum puas mengembang di bibirnya ketika ia melihat mobil hitam itu ketinggalan jauh di belakang sana.


Selang beberapa menit kemudian, tiba-tiba saja mobil hitam itu muncul di hadapan Katterine. Dengan segera Katterine menginjak rem mobilnya. Hanya ada beberapa centi saja sebelum mobil Katterine menabrak bagian samping mobil tersebut. Nafasnya terhenti sejenak ketika momen tabrakan itu hampir terjadi.


"Apa dia cari mati?" Katterine turun dari dalam mobil.


"Hei, turunlah. Apa kau sengaja melakukan semua ini?" teriak Katterine dengan suara penuh emosi. Tidak lupa Putri Cambridge itu memukul bagian depan mobil yang sudah menghalangi jalannya.


Pintu mobil itu terbuka. Oliver keluar dari dalam mobil dengan ekspresi dingin favoritnya. Pria itu berjalan ke depan mobil dan duduk dengan nyaman.


Katterine tercengang ketika mengetahui orang yang ada di dalam mobil adalah Oliver. Antara senang dan ingin memeluk. Tapi, ada rasa gengsi di dalam hatinya. Ia pergi tanpa pamit karena marah. Katterine tidak mau menjatuhkan harga dirinya dengan menyambut Oliver saat itu.


"Kenapa kau ada di sini? Apa kau takut aku celaka?"


"Tidak."


"Baguslah!" Katterine memutar tubuhnya. Wanita itu masuk ke dalam mobil. Ia kembali melajukan mobilnya. Tidak peduli dengan keberadaan Oliver di sana. Bahkan wanita itu tidak mau banyak kata dengan Oliver lagi.


Oliver membuka kaca mata hitam yang ia kenakan. Pria itu tidak percaya mendapat perlakuan cuek yang begitu menyakitkan dari Katterine. Dengan wajah bingung Oliver melihat laju mobil Katterine hingga hilang di ujung jalan.

__ADS_1


"Apa dia benar-benar Katterine?" gumam Oliver di dalam hati.


Di dalam mobil, Katterine tersenyum bahagia. Kini pria yang sangat ia cintai ada di kota yang sama dengannya. Walau tidak tahu tujuannya apa, tapi setidaknya ia tidak sendirian. Ia yakin Oliver pasti akan terus menjaganya walau ia sendiri tidak tahu bagaimana cara pria itu menjaga dirinya nanti.


"Aku tidak menyangka bisa melakukan hal seperti itu di hadapannya. Dia pasti sangat syok tadi. Lihat saja wajahnya yang terlihat bodoh tadi!"


Katterine tertawa bahagia sebelum fokus pada laju mobilnya. Karena tahu susah ada Oliver di sana, ia kini tidak lagi mau balapan di jalanan raya. Katterine menyayangi nyawanya juga keselamatannya. Ia ingin panjang umur agar bisa hidup bersama dengan Oliver nantinya.


***


Setibanya di apartemen, Katterine di sambut oleh Roberto di depan kamar. Ia harus menghela napas dengan kasar ketika melihat pria itu ada di delan pintunya.


"Apa Anda baik-baik saja Putri Katterine? Aku sangat mengkhawatirkanmu."


"Seperti yang kau lihat? Oh ya, apa kau tadi memukul mereka semua?" Katterine kembali ingat dengan pria bersenjata yang berniat untuk menculiknya.


"Ya, aku memukul mereka."


"Kau sangat hebat. Apa mereka tidak menggunakan senjata mereka untuk menembakmu?" tanya Katterine lagi. Kali ini wajahnya benar-benar serius.


"Putri, apa saya boleh bertamu ke tempat Anda? Saya baru saja pindah ke sini." Roberto menunjukkan tempat tinggalnya. Ia terlihat bahagia.


"Boleh. Silahkan." Katterine membukakan pintu. Ia membawa Roberto masuk ke dalam apartemennya. Tidak ada yang harus ia takuti, bukankah Oliver sudah di sini?


Pertama kali tiba di dalam apartemen Katterine, Roberto tidak henti-hentinya memuji wanita itu. Dari tatanan apartemen yang rapi. Hingga ruangan yang wangi. Setelah puas menuju Katterine, Ia menjatuhkan tubuhnya di sebuah sofa dan duduk dengan santai.


"Putri apa Anda hanya sendirian tinggal di sini?"


Katterine mengambil minuman kaleng dari kulkas. Wanita itu memberikannya kepada Roberto. Ia tidak tertarik untuk menjawab pertanyaan Roberto yang tidak bermanfaat itu. Ia meneguk minumannya karena merasa sangat haus.


"Katterine, kenapa kau tidak membangunkanku? Apa kita kedatangan tamu?" Tiba-tiba Oliver muncul dari dalam kamar. Katterine yang sedang menikmati minuman dinginnya harus tersedak karena kaget melihat Oliver ada di sana.


Begitu juga dengan Roberto. Pria itu tidak menyangka kalau sebenarnya Katterine tidak sendirian di rumahnya. Padahal selama beberapa hari ini orang bayarannya mengatakan kalau Katterine sendirian di rumahnya.


"Bagaimana bisa dia ada di sini?" gumam Katterine di dalam hati. Namun dengan segera ia sadar dengan sikap Oliver yang memang suka berbuat sesuka hatinya. "Dia pria yang serba bisa. Untuk apa aku memikirkan bagaimana caranya tiba di tempat ini."

__ADS_1


"Putri, Anda tidak sendirian di sini? Siapa pria ini?"


"Hanya pengawal," jawab Katterine cepat. Ia segera beranjak dari sofa yang ia duduki. Mengukir senyuman kepada Oliver dan menepuk pundak pria itu dengan kuat.


"Pengawal, temani tamu saya. Saya ingin mandi."


Oliver menaikan satu alisnya. Ada senyum kecil di sudut bibirnya. Jika saja saat itu tidak ada Roberto di sana, mungkin ia sudah mengumpat di hadapan Katterine.


***


Di dalam kamar, Katterine melepas satu persatu pakaiannya. Setelah menyiapkan air untuk berendam, tanpa pikir panjang ia masuk ke dalam bak mandi dan merendam seluruh tubuhnya.


Katterine berendam di dalam bak mandi dengan senyum bahagia. Ia menaikan kakinya secara bergantian ke atas hingga membuat cipratan air ke wajahnya. Katterine benar-benar bahagia. Rasa bahagianya bahkan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi.


"Dia tidak mungkin sakit hati karena aku bilang dia seorang pengawal. Bukankah Oliver bukan pria yang mudah tersinggung?" Katterine memandang keluar jendela. Kebetulan sekali bak mandinya dekat dengan jendela. Sambil mandi wanita itu bisa menikmati pemandangan dari atas gedung.


"Apa dia ke sini karena di kirim Daddy. Jika memang benar, itu berarti dia ke sini bukan karena mengkhawatirkan keadaanku. Dia datang karena tugasnya untuk menjaga diriku." Katterine memasang wajah sedih. Belum pernah ia melihat Oliver benar-benar tulus terhadapnya. Katterine sangat ingin mendapatkan perlakuan manis dari Oliver.


"Aku hubungi Daddy saja. Tapi, ini akan membuatku tidak bersemangat jika mengetahui kebenarannya." Katterine mengurungkan niatnya untuk bertanya langsung kepada Zeroun. Ia lebih memutuskan untuk menanyakan hal itu langsung kepada Oliver.


"Aku harap dia datang ke sini karena kemauannya sendiri. Bukan karena di perintah oleh Daddy," ucap Katterine dengan wajah penuh harap.


Di sisi lain, Roberto dan Oliver slaing memandang satu sama lain. Tidak ada yang mengeluarkan kata lebih dulu sampai Roberto merasa bosan karena menunggu Katterine terlalu lama.


"Kau hanya pengawal Katterine saja ternyata. Aku pikir juga siapa." Roberto kembali meneguk minumannya. Ia terlihat menghina penampilan Oliver karena sudah jelas-jelas posisinya tidak selevel dengannya.


"Kau harus mendukungku agar bisa menikah dengan Katterine. Jika nanti aku bisa menikah dengannya, aku akan memberimu jabatan yang bagus. Aku juga akan memberimu uang yang banyak."


Dengan wajah angkuhnya, Roberto mengeluarkan sejumlah uang dan meletakkannya di atas meja. Ia mengukir senyuman saat menatap wajah Oliver.


"Ambillah. Anggap saja sebagai uang perkenalan." Roberto pergi begitu saja sambil membawa minuman kaleng yang diberikan Katterine.


Sedangkan Oliver, memandang uang itu dengan wajah menahan amarah. Ingin sekali ia menarik tubuh Roberto dan melemparkan pria itu melalui jendela.


"Berani sekali dia menghinaku!"

__ADS_1


__ADS_2