
Letty duduk di pinggiran gedung sambil menggerakkan kedua kakinya. Suasana malam di bawah taburan bintang memang sangat indah. Sesekali semilir angin membuat rambutnya yang tergerai berterbangan. Di tangannya ada gelang yang baru saja ia curi dari Bella. Hingga detik ini Letty masih tidak percaya kalau gelang itu memiliki nilai fantastis. Sekilas gelangnya sama saja seperti yang dijual di toko-toko perhiasan. Apa lagi modelnya. Sungguh pasaran.
"Apa mereka tidak salah informasi? Aku bisa membuat gelang yang sama jika memang hanya model seperti ini," ucap Letty penuh tanda tanya.
"Kira-kira apa yang akan dilakukan wanita itu ketika gelang berharganya hilang. Kenapa aku jadi tertarik melihat ekspresi wajahnya saat ini. Apa dia sedang menangis? Atau … jangan-jangan dia sedang ada di dalam pelukan Miller."
Letty memasukkan gelang tersebut ke dalam saku jaketnya. Padahal sejak tadi pasukan Queen Star sudah meminta gelang itu untuk di jual. Tapi entah kenapa Letty tidak memberinya dan justru kini menyimpan gelang tersebut sebagai benda yang berharga.
"Aku sudah sejauh ini pergi tapi masih bertemu dengan mereka berdua. Apa menghindar bukan sebuah solusi?" Letty benar-benar terlihat gelisah malam itu. Belum pernah sebelumnya ia bersikap tidak tenang seperti ini karena pria.
Letty menghela napas dan mengambil minuman kaleng yang ada di sampingnya. Setelah ini ia memutuskan untuk tidur saja di dalam. Merenung dan membayangkan Miller juga Bella tidak membuahkan hasil apapun baginya.
"Bos, apa Anda memanggil saya?" Seorang wanita berpakaian serba hitam berdiri di belakang Letty.
"Ya. Aku masih penasaran dengan gelang ini. Siapa yang ingin membeli gelang ini dengan bayaran yang begitu mahal?"
"Maafkan saya, Bos. Saya juga tidak bisa menyelidiki pembeli gelang ini. Dia akan mengirim uangnya setelah kita mengirimkan gelang ini ke alamat yang ia tentukan."
"Alamat? Maksudmu kita tidak akan bertemu pembelinya secara langsung?" Letty beranjak dari duduknya. Ia menatap wajah bawahannya dengan wajah bingung.
"Benar, Bos. Bisa di bilang pembeli menggunakan perantara untuk mendapatkan gelang ini."
Letty menghela napas dan mengambil lagi gelang di dalam saku jaketnya. Ia menunjukkan gelang itu di depan bawahannya.
"Kau yakin gelang ini akan di beli dengan harga mahal?"
Wanita itu justru tersenyum melihat wajah ragu Letty. "Bos, saya tidak pernah salah menentukan target. Memang benar gelang itu yang kita cari. Bahkan nama dan wajah pemiliknya juga sama."
"Dari mana wanita sialan itu mendapatkan gelang semahal ini?"
Bawahan Letty mengeryitkan dahinya dengan wajah bingung. Belum pernah Letty seperti ini. Banyak tanya dan banyak ingin tahu. Biasanya setelah mencuri mereka akan menjualnya agar segera mendapat uang untuk bersenang-senang.
"Soal itu … saya juga tidak tahu bos. Tapi memang wanita bernama Bella itu wanita yang berasal dari keluarga terpandang."
"Aku tahu kalau dia kaya dan juga cantik! Kau tidak perlu memperjelasnya di hadapanku!" teriak Letty dengan volume tinggi. Bawahan Letty hanya menunduk dengan wajah bersalah.
"Maafkan saya, Bos."
"Ambil dan jadikan uang secepatnya. Aku juga tidak mau menyimpan barang milik wanita sialan itu terlalu lama. Aku tidak mau ikutan sial." Letty melempar gelang itu hingga tergeletak di lantai. Satu permata berwarna merah terlepas. Letty dan pasukan Queen Star sama-sama melihat ke arah gelang itu.
__ADS_1
"Hanya di lempar begitu saja rusak. Gelang murahan!" Letty berjalan ke arah gelang itu tergeletak. Ia mengambil mutiaranya dan memperhatikannya dengan saksama.
"Mutiara ini mengingatkanku pada sesuatu. Tapi, apa?" Letty berusaha mengingat-ingat kejadian yang berhubungan dengan mutiara di tangannya. Pasukan Queen Star mengambil gelang tersebut dan melihat posisi mutiara itu terlepas.
"Nona, ini sebuah chip."
"Chip?" Letty menatap tajam wajah bawahannya.
"Lihatlah. Di sini." Wanita itu menunjuk sebuah titik yang terlihat seperti memori kecil di dalamnya.
"Bukan gelangnya yang mahal. Tapi data di dalamnya. Cepat, buka semua berliannya." Letty terlihat bersemangat. Ia sendiri sudah tidak sabar untuk melihat rahasia di dalam gelang tersebut.
Hingga tiba-tiba saja laser berwarna merah ada di dahi Letty dan bawahannya. Segerombol pria mengepung tempat tersebut hingga membuat Letty tidak memiliki jalan untuk lari.
"Siapa kalian." Letty segera merebut gelang tersebut dan memasukkannya ke dalam saku jaket.
"Serahkan gelangnya!" teriak salah satu pria yang mengepungnya.
"Semakin dibutuhkan, aku semakin tertarik memilikinya," jawab Letty santai.
"Anda tidak memiliki jalan untuk kabur. Serahkan atau kami akan merebutnya setelah anda tertembak."
Pria itu semakin kesal mendengar ledekan Letty. Ia meletakkan jarinya di pelatuk senjata api dan siap membunuh Letty.
"Bos, saya sudah mengirim signal ke Queen Star," bisik wanita itu dengan wajah waspada.
"Mereka akan datang terlambat. Bukankah tempat ini sangat jauh dari markas?" jawab Letty dengan suara yang pelan juga.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan Bos?"
"Tentu saja melawan mereka!"
"Mereka semua, Bos? Hanya kita berdua?" tanya wanita itu ragu.
"Apa kau lihat ada bantuan lain selain kemampuan kita berdua di sini?" Wanita itu hanya diam dan mengambil senjata apinya.
"Kita bagi 2. Biar pria yang di depan menjadi lawanku!"
"Baik, Bos."
__ADS_1
DUARR
Obrolan mereka terhenti ketika pria itu menekan pelatuknya. Dengan sigap Letty memutar tubuhnya dan mendorong bawahannya agar tidak terkena peluru. Setelah itu Letty menembak pria yang ada di dekatnya dan menjadikan pria itu sebagai tameng senjata yang megincar nyawanya.
Suara tembakan lagi-lagi memenuhi atap gedung. Letty mengincar nyawa pria yang tadi sempat mengancamnya. Pria itu sendiri sepertinya tidak ada niat untuk kabur. Ia justru ingin menangkap Letty agar bisa mendapatkan gelang tersebut.
Letty dan bawahannya berjuang mati-matian melawan gerombolan pria yang mengepung mereka. Beberapa luka sayatan belati sudah melekat di tubuhnya. Darah segar mulai menetes. Namun, rasa sakit itu belum terasa. Letty tahu kalau lawannya tidak akan menyerah sebelum mendapatkan gelang tersebut.
Letty menarik tangan bawahannya. Ia membawa wanita itu melompat dari atas gedung secara tiba-tiba. Jelas saja bawahan Letty kaget bukan main. Wajahnya pucat karena sang atasan mengajaknya melompat tanpa menggunakan pengaman. Mereka melayang di udara seperti burung. Bedanya burung memiliki tujuan dan bertahan di udara, sedangkan Letty dan bawahannya terjun bebas.
"Bos, apa kita akan bunuh diri?" Bawahan Letty juga tidak mau melepas tangan Letty. Semakin dekat dengan daratan justru wanita itu semakin kencang memegang tangan Letty.
Tiba-tiba saja Letty mengeluarkan parasut. Hingga akhirnya mereka berdua bisa mendarat dengan cantik di atas daratan.
Karena tidak memiliki persiapan, Letty dan bawahannnya jatuh terlungkup di tanah. Tubuh mereka tertutup parasut yang sudah seperti selimut.
"Singkirkan benda ini!" umpat Letty ketika ia merasa tidak ada udara untuk bernapas. Bawahannya segera mencari jalan keluar dari parasut dan menarik parasit itu dari tubuh Letty. Wajah mereka yang cantik harus memar karena terkena tanah yang dilengkapi bebatuan.
"Bos, Anda baik-baik saja? Bagaimana bisa Anda membawa parasut ke mana-mana?" tanya bawahan Letty.
Letty mencari gelang di dalam sakunya. Ia merasa lega ketika gelang itu aman di dalam sana.
"Bos, Anda yakin ingin mempertahankan gelang ini? Kita akan mendapat masalah dari musuh baru jika mempertahankannya."
"Mereka berani bayar mahal, itu berarti rahasia di dalam gelang ini lebih mahal lagi harganya," jawab Letty santai. Ia memandang ke atas gedung yang begitu tinggi. Jaraknya turun dengan gedung itu cukup jauh karena mereka terbawa angin ketika memakai parasut.
"Tapi …."
"Ayo kita ke markas. Tentukan titik kumpul agar mereka menjemput kita," perintah Letty tanpa mau mendengar apapun lagi.
"Baik, Bos."
***
Miller berbaring di sofa yang ada di rumah sakit. Karena Bella tidak kunjung sadar, Miller memutuskan membawa wanita itu ke rumah sakit. Dokter bilang kalau Bella baik-baik saja. Wanita itu hanya syok berat ketika tahu perhiasannya hancur tak tersisa.
"Masalah ini sudah cukup lama terjadi. Kenapa aku merasakan kesulitannya sekarang? Andai saja sejak awal aku tahu apa yang diinginkan Bella, maka aku akan mengantisipasinya dari kemarin."
Miller memandang wajah Bella yang masih tidak sadarkan diri. Pria itu berusaha memahami apa yang dirasakan Bella saat ini. Namun, karena Miller tidak mencintai Bella ia tidak bisa membenarkan keinginan Bella saat ini. Pernikahan merupakan hal yang sangat serius. Bukan untuk main-main. Miller tidak pernah memikirkan pernikahan, namun ia memiliki impian kalau pernikahannya nanti hanya terjadi satu kali selama hidupnya. Itu juga harus dengan wanita yang ia cintai.
__ADS_1
"Jika tanpa bantuan Bella, Natalie tidak ada di samping kami hingga detik ini," gumam Miller lagi sambil memijat kepalanya yang mulai pusing. Tiba-tiba ia kembali mengingat memori buruk yang pernah di alami keluarga beberapa tahun yang lalu.