Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Tidak Semua Bahagia


__ADS_3

Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Alana melipat kedua tangannya di depan dada. Wanita itu terlihat bahagia melihat keromantisan Jordan dan Leona. Ia melirik wajah Kwan sekilas sebelum memandang ke depan lagi.


“Andai saja ada yang melamarku. Aku juga mau menikah dan merasakan bahagia seperti Kak Leona," sindir Alana dengan tawa kecil.


Ucapan Alana terdengar jelas di telinga Kwan. Pria itu melirik wajah Alana sebelum mengukir senyuman. “Sayang, apa kau sudah siap menikah denganku?” ucap Kwan dengan senyuman penuh arti.


Alana mengukir senyuman. “Tidak buruk menikah dengan CEO gagal sepertimu. Setelah menikah aku akan mengajarimu cara memimpin perusahaan yang benar. Bagaimana? Bukankah itu bisnis yang menguntungkan?” ucap Alana dengan wajah serius.


“Hmm, ya. Menguntungkan bagiku. Lalu, apa untungnya bagi dirimu? Eh?” ucap Kwan. Pria itu berdiri di hadapan Alana dengan senyuman indah.


“Aku bisa mendapatkan pria yang aku cintai,” jawab Alana dengan wajah merona malu.


Kwan tertawa kecil sebelum menarik tubuh Alana ke dalam pelukannya. Pria itu mendaratkan kecupan cinta di pucuk kepala Alana. “Aku mencintaimu, Alana. Sangat mencintaimu.”


Alana membalas pelukan Kwan. Wanita itu mengukir senyuman indah karena terlalu bahagia. “Aku juga mencintaimu. Kwan.”


Biao melirik Alana dan Kwan, tiba-tiba saja Kenzo merangkul pundak pria itu. "Ayo kita bicarakan hari bahagia untuk anak kita," ucap Kenzo yang seolah mengerti jalan pikiran Biao saat itu.


"Kau harus memberi tahu Kwan untuk tidak menyentuh Alana sembarangan sebelum menikah!" ucap Biao dengan begitu serius.

__ADS_1


"Sudahlah. Mereka hanya berpelukan tidak akan terjadi sesuatu," bantah Kenzo dengan wajah yang sangat tenang.


Di sisi lain, Katterine terlihat bahagia. Namun, ketika ia kembali ingat dengan Oliver hatinya kembali sakit. Dia tahu kalau bukan karena permintaan Zeroun agar Lukas sekeluarga datang ke Sapporo, pasti detik ini dia tidak akan bisa melihat wajah Oliver. Katterine menunduk dan berjalan pergi. Ia ingin mencari tempat yang sunyi untuk menenangkan diri.


Oliver melirik Katterine. Ia terlihat bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Ia tahu kalau kini Katterine pasti sangat marah padanya. Tapi, Oliver sendiri tidak tahu harus bagaimana. Ia tidak tahu apa itu cinta. Bagaimana bisa ia memberikan cinta seperti yang diinginkan Katterine?


"Oliver, kenapa kau tidak mengikuti Katterine?" tanya Lana dengan tatapan menyelidik.


Oliver memandang wajah Lana dan mengangguk pelan. "Oliver ke sana dulu, Mom."


Lana melipat kedua tangannya. Ia tahu kalau ada yang salah dari hubungan putranya dan Putri Cambridge tersebut. "Apa mereka marahan? Sebelumnya mereka belum pernah seperti ini," gumam Lana di dalam hati.


Katterine duduk di sebuah kursi besi yang sangat jauh dari keramaian. Kedua matanya melihat bunga-bunga yang bermekaran indah. Dari posisinya bisa melihat jelas lokasi yang kini di kerumuni banyak orang itu. Ia tersenyum ketika melihat Jordan tersenyum bahagia. Hatinya lega melihat kakak kandungnya berhasil mendapatkan wanita yang ia cintai.


Kini usia Katterine menginjak 25 tahun. Seharusnya ia tidak perlu memusingkan soal pernikahan dulu. Jordan akan segera menginjak usia 28 tahun beberapa bulan lagi. Pria itu memang sudah sepantasnya menikah.


"Apa yang harus aku lakukan agar bisa melupakan perasaanku terhadapnya?" gumam Katterine di dalam hati.


Tiba-tiba saja Oliver muncul. Pria itu duduk di samping Katterine. Ia membawa dua gelas jus segar. Memberikannya satu kepada Katterine. Wajahnya terlihat tetap tenang walau sebenarnya hubungan dirinya dan Katterine sedang tidak baik.

__ADS_1


"Ada apa?" Oliver meneguk minumannya sambil memandang ke depan.


"Di sana terlalu ramai," jawab Katterine pelan. Ia menggenggam minuman itu dengan kedua tangannya. Katterine belum mau meminumnya.


"Sejak kapan kau tidak suka ramai?"


Katterine mengukir senyuman pahit. "Sepertinya kau banyak tahu tentangku. Aku tidak menyangka saja," sambung Katterine dengan suara pelan. Wanita itu mulai meneguk minumannya.


"Aku mengetahui apa yang kau suka dan apa yang tidak kau suka. Tapi, aku tidak tahu apa yang membuatmu bisa bahagia. Selama ini aku selalu berpikir kalau kau wanita yang suka traveling. Ternyata tidak selamanya jalan-jalan bisa membuatmu bahagia." Oliver memalingkan wajahnya. "Maafkan aku karena sudah membuatmu sedih. Aku tidak suka melihatmu yang seperti sekarang. Katterine yang aku kenal adalah wanita yang selalu tersenyum ceria."


"Kau tidak perlu minta maaf. Aku yang salah. Perasaan tidak bisa di paksakan," jawab Katterine apa adanya.


Oliver mendengus kesal. "Katterine, ini bukan soal aku menolak atau menerimanya." Oliver mengusap wajahnya dengan tangan. "Oke, aku akan jujur padamu. Aku tidak tahu apa itu cinta. Aku hanya pria petarung yang tidak memiliki hati dan rasa kasihan. Bagaimana bisa pria sepertiku jatuh cinta? Aku bukan pria yang bisa membahagiakanmu. Aku pria yang tidak pernah bisa mengerti dan tidak pernah memahami hati wanita. Aku hanya takut kau-"


"Ssstt...." Katterine meletakkan satu jarinya di bibir Oliver. "Jangan di bahas lagi. Aku tidak mau kau menderita."


Katterine meletakkan minumannya di kursi yang semula ia duduki. Wanita itu pergi begitu saja meninggalkan Oliver. Ia ingin bergabung dengan yang lainnya untuk merayakan ulang tahun Leona dan pertunangannya.


Oliver bersandar dengan wajah frustasi. Tidak tahu kenapa, ada goresan di hatinya ketika melihat Katterine bersikap seperti itu. Oliver rindu Katterine yang selama ini ceria. Ia ingin melihat Putri Cambridge itu tersenyum dan tertawa lagi seperti biasa.

__ADS_1


"Kapan dia bisa memaafkanku?"


__ADS_2