Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Hari Bahagia


__ADS_3

Baca dari bab sebelumnya


Leona dan yang lainnya telah tiba di lokasi pernikahan. Pertama kali menjejaki kakinya di permukaan rumput itu Leona sudah kesulitan bernapas. Ia semakin gugup ketika membayangkan kalau tidak lama lagi ia akan bertemu dengan Jordan.


Serena mengukir senyuman manis memandang penampilan putrinya yang terlihat seperti seorang putri kerajaan. Sangat cantik. Memang Leona seorang model yang memiliki tubuh sangat indah. Gaun pengantin yang ia kenakan terlihat sangat pas di tubuhnya.


Daniel berdiri di samping Leona. Ia memberikan lengannya agar menjadi pegangan bagi putrinya. Dengan tangan yang terasa dingin dan gemetar, Leona merangkul lengan ayah kandungnya. Mereka berjalan bersama-sama memasuki lokasi pernikahan.


Kedatangan Leona di sambut dengan begitu meriah. Semua orang beranjak dari kursi dan memilih berdiri untuk melihat lebih jelas wajah pengantin wanita. Penampilan Leona yang begitu wah membuat semua wanita iri. Ia benar-benar membuat patah hati para gadis yang ada di Cambridge. Si pangeran tampan dengan sejuta keistimewaan itu telah jatuh pada pesona Leona. Si wanita mafia yang begitu keras kepala dan tangguh.


“Kenapa aku merasa jaraknya sangat jauh. Semalam saat ke sini aku merasa sangat dekat,” gumam Leona di dalam hati.


“Sayang, tenanglah. Pusatkan perhatianmu kepada Jordan, dengan begitu kau akan tenang dan bisa berjalan dengan tenang.” Daniel tahu apa yang kini di pikirkan putrinya. Maka dari itu ia memberikan tips kecil kepada Leona.


Leona memandang ke depan. Ia ingin mengikuti saran Daniel. Menatap wajah Jordan yang berdiri untuk menyambutnya di depan sana. Gaun yang berat terasa sangat ringan. Jarak yang begitu jauh terasa sangat dekat. Leona mulai bisa tenang dan berjalan dengan santai. Walau tidak sesantai biasanya. 


Jordan berdiri di sana untuk menyambut kedatangannya. Pangeran Cambride itu memakai pakaian pangerannya. Ia melihat kedatangan Leona dengan wajah gembira. Semua tamu undangan yang kini ada di sana tidak lagi terlihat di mata Jordan. Ia hanya melihat Leona seorang.


“Baby girl,” celetuk Jordan di dalam hati.


Cuaca siang itu benar-benar cerah. Gaun putih yang di kenakan oleh Leona terlihat sangat terang dan pas di tubuhnya. Leona memandang wajah Jordan tanpa berkedip. Ia benar-benar bahagia. Ingin sekali ia berlari dan memeluk pria itu. Namun, tidak mungkin. Kini hari pernikahannya. Ia bukan harus terlihat sempurna di depan Jordan. Tapi di depan semua orang. Di depan warga Cambridge yang kini menyaksikan pernikahannya melalui media.


“Tenang Leona, setelah hari ini kau bisa bebas bertingkah seperti apapun,” gumam Leona menguatkan hatinya sendiri.


Jordan merasa ada yang aneh dengan pandangannya. Hingga tanpa ia sadari buliran air mata mengalir di sana. Ia segera menghapus air mata yang tiba-tiba saja jatuh di pipinya. Tidak tahu kenapa hatinya sangat bahagia saat itu. Ia menyambut Leona dengan senyum dan hati berbunga-bunga.


Setelah Leona tiba di samping Jordan, Daniel melakukan tradisi penyerahan putrinya. Ia terlihat bahagia dan mendukung pernikahan Leona dan Jordan.


“Jordan, saya serahkan putri saya yang berharga. Saya harap kau bisa menjaganya dengan baik. Memperingatinya jika dia salah jalan. Dan bersabar menghadapi sikapnya yang begitu keras,” ucap Daniel sambil memandang Jordan.


“Saya berjanji akan menjaga Leona dengan baik, Pa,” jawab Jordan dengan sedikit ragu.


Daniel tertawa kecil. Ia menepuk pundak Jordan sambil mengangguk pelan. “Kau boleh memanggilku Papa. Sekarang aku sudah menjadi papamu juga, Jordan.”

__ADS_1


“Terima kasih, Pa.” Jordan benar-benar bahagia. Kini ia sudah memiliki Daddy dan papa. Sangat sempurna memang. 


Leona hanya tersenyum bahagia di balik selendang putihnya. Ia sendiri juga sangat bahagia ketika mendengar perkataan Daniel dan Jordan barusan. Akad pernikahan segera terlaksana. Leona dan Jordan saling mengucapkan janji suci kalau hingga maut memisahkan mereka akan selalu bersama. Dalam suka maupun duka. Dalam sehat maupun sakit. Sebelum menikah sebenarnya janji itu telah terbukti. Jordan dan Leona memang saling mencintai dan sulit untuk dipisahkan.


Setelah mendengarkan akad pernikahan Jordan dan Leona berjalan dengan lancar, para tamu undangan juga terlihat bahagia. Sebagianorang terharu karena melihat pemandangan manis seperti itu. Terutama orang-orang terdekat dari mempelai.


"Sekarang kalian berdua sudah sah menjadi suami istri. Selamat."


Leona dan Jordan saling memandang satu sama lain. Mereka mengukir senyum bahagia mengingat kini tidak ada lagi penghalang di antara mereka. Cinta mereka telah menyatu dalam sebuah ikatan suci pernikahan.


"Pangeran, Anda bisa membuka selendang pengantin wanita dan mencium istri Anda," ucap pria itu lagi memperingati. karena sejak kalimat terakhir yang ia sebutkan, Jordan tidak kunjung melakukan apapun. Dia terlalu bahagia sampai kedua matanya berkaca-kaca dan tidak tahu harus bagaimana lagi. Pangeran Cambridge itu mematung dengan kedua mata menatap ke arah Leona. Masih seperti mimpi.


Leona melihat tangan Jordan yang gemetar saat pria itu mengangkatnya ke atas. Jordan ingin membuka selendang yang menghalangi pandangannya terhadap wajah cantik sang istri. Perlahan dan penuh perasaan. Debaran jantungnya tidak karuan. Jordan berhasil mengangkat selendang itu namun ia tidak merapikannya di atas kepala Leona. Jordan justru masuk ke dalam selendang seolah sedang bersembunyi.


Leona tertawa geli ketika melihat tingkah laku suaminya. Ia mendekatkan wajahnya agar pria itu bisa menciumnya. Kain selendang itu terlepas dari genggaman tangan Jordan. Pria itu menyambut bibir istrinya dengan suka cita. Tangannya memegang pinggang Leona yang ramping. Mereka melepas rindu di dalam selendang yang menutupi. Para tamu undangan tidak bisa melihat dengan bebas apa yang terjadi di dalam sana.


Emelie dan Serena adalah ibu yang sangat bahagia siang itu. Mereka tersenyum dengan hati yang dipenuhi rasa syukur. Setelah melewati berbagai cobaan, kini tiba saatnya mereka benar-benar menjalin tali persaudaraan. 


Di bangku yang tidak terlalu jauh, Aleo duduk dengan wajah bingung. Di sampingnya ada dua wanita yang sama-sama memiliki peran di dalam hatinya. Entah bagaimana ceritanya Serena bisa membawa cinta masa kecil Aleo untuk kembali menemuinya. Walau tadi sempat asyik mengobrol dengan Clara. Tapi, pada akhirnya Aleo kembali ingat dengan Tamara. Bahkan ada rasa bersalah di dalam hatinya ketika tadi terkesan mengabaikan Tamara saat Clara muncul.


"Kak Aleo, Kak Leona benar-benar beruntung bisa mendapatkan seorang pangeran. Seperti di cerita dongeng. Tidak lama lagi, dia akan menjadi seorang Ratu." Clara merangkul lengan Aleo dan tertawa bahagia. Dengan manja kepalanya di sandarkan di lengan Aleo.


"Ya, tapi perjalanan cinta mereka tidak seindah yang kau lihat," jawab Aleo dengan suara pelan.


"Benarkah? Apa perjalanan cinta mereka sama seperti kita. Setelah sekian lama terpisah kini bertemu lagi?" Clara tertawa kecil hingga memamerkan wajah manisnya.


Aleo memandang wajah Tamara sekilas sebelum mengatur napasnya. Ia bersikap tetap tenang agar tidak terlihat kebingungan saat itu. Tamara yang sejak tadi ada di samping Aleo dan mendengar perkataan Aleo dan Clara hanya bisa diam membisu. Wanita itu tidak tahu harus berkata apa lagi. Hubungannya dan Aleo juga bukan sebuah hubungan yang memiliki status. Baginya tidak wajar jika ia harus marah-marah ketika ada wanita lain mendekati dan menggoda Aleo seperti itu.


Kwan tertawa geli ketika melihat orang yang duduk di hadapannya. Dan Aleo bisa mendengar dengan jelas tawa ledekan Kwan di belakangnya. Aleo mengambil tisu dan melemparkannya begitu saja ke belakang.


Alana yang sejak tadi fokus dengan akad pernikahan Leona dan Jordan kini sudah meneteskan air mata tanpa henti. Ia kaget ketika tisu yang di lempar Aleo mengenai wajahnya. Kwan yang melihat hal itu segera mengambil tisu tersebut. Ia melemparkannya kembali hingga mengenai kepala Aleo.


“Kak, Alana milikku. Kau tidak berniat memiliki 3 wanita sekaligus bukan?” ledek Kwan dengan tawa yang semakin tidak tertahan.

__ADS_1


“Kenapa bisa tiga?” tanya Alana bingung.


“Ya, karena saat ia membutuhkan  sati tapi kini takdir memberinya dua,” ledek Kwan semakin menjadi. Tamara merasa kesal saat mendengar ledekan Kwan. Ia memutuskan pergi dari tempat itu. Tentu saja ia tidak mau di bilang sebagai orang ketiga. Aleo mengangkat tangannya berusaha menahan Tamara pergi. Tapi, di sampingnya ada Clara yang selalu menahannya dengan begitu posesif.


“Kwan, awas saja kau!” teriak Aleo di dalam hati.


Kwan tertawa semakin keras ketika melihat wajah Aleo yang memerah karena marah. Ia benar-benar kesulitan untuk menahan tawanya.


Di sisi lain, ada Katterine yang terlihat sangat terharu. Sejak tadi Oliver memberinya tisu karena Katterine wanita yang paling cengeng di antara tamu undangan yang lainnya.


"Putri, masih banyak acara yang harus di hadiri. Make up Anda bisa berantakan jika Anda menangis seperti ini," ucap Oliver dengan wajah serius.


Katterine memandang Oliver sejenak sebelum melangkah ke tempat yang jauh dari lokasi pernikahan. Lagi-lagi rencana licik tersusun di kepalanya. Tentu saja rencana ini juga ada bantuan dari Lana.


Katterine berdiri di pinggiran taman dan menatapnya dengan wajah semakin sedih. Oliver berdiri di samping Katterine masih dengan wajah yang bingung.


"Aku ... aku tidak tahu kenapa aku sesedih ini. Hidupku bisa di bilang sudah sempurna. Aku seorang putri yang memiliki rupa yang cantik. Memiliki kakak yang penyayang. Kedua orang tua yang sempurna di mataku." Katterine semakin kesulitan untuk berbicara. Genangan air matanya sudah penuh. Bibirnya gemetar. Katterine tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk menenangkan hatinya saat ini. "Aku tidak tahu kenapa aku menangis. Aku memang wanita yang bodoh!"


Oliver memandang wajah Katterine dengan begitu dalam. Bahkan pria itu tidak berkedip saat menatapnya. Ia juga merasakan hal yang sama. Sakit. Hatinya sakit melihat Katterine menangis seperti itu. Dia sendir tidak tahu kenapa. Kali ini akting Katterine benar-benar rapi.


Katterine memandang wajah Oliver. Buliran air mata jatuh semain deras. "Aku ...."


Oliver segera menarik Katterine ke dalam pelukannya. Ia memejamkan matanya sambil merema*s rambut gelombang putri Cambridge itu. Pelukannya sangat erat. Seolah-olah Oliver tidak mau melepaskan pelukannya.


"Maafkan aku. Aku tidak ingin kau menangis seperti ini. Maafkan aku," lirih Oliver dengan wajah bersungguh-sungguh. "Maafkan aku."


Katterine mengukir senyuman dengan hati bersorak bahagia. "Tante Lana memang terbaik. Oliver tidak sadar kalau aku sedang berakting," gumam Katterine di dalam hati.


"Putri, aku akan melakukan apapun asalkan Anda tidak menangis lagi," ucap Oliver di sela-sela wajah khawatirnya.


"Aku ingin menikah," jawab Katterine dengan suara serak.


Oliver segera melepas pelukannya. Ia menatap wajah Katterine dalam-dalam. "Menikah?"

__ADS_1


__ADS_2