Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 112


__ADS_3

1 bulan kemudian.


Semua orang telah menemukan kebahagiaan mereka masing-masing. Cinta memang buta. Tidak di sangka-sangka orang terdekat bisa jadi cinta. Tidak di sangka-sangka musuh bisa jadi cinta. Tidak di sangka-sangka cinta bertemu dalam waktu yang singkat.


Di kota terpencil yang ada di Italia, Zean sedang duduk santai menikmati pantai. Ya, setelah menyelesaikan misinya di Cambridge, Zean memutuskan untuk ke Italia. Sudah lama ia tidak main-main di kota tersebut. Dulu saat dirinya masih kecil sang kakek sangat suka mengajaknya bermain di kota tersebut. Seperti kembali ke kampung halaman. Itulah hal yabg pertama kali dirasakan Zean. Walau semua tidak lagi sama, tapi Zean masih merasa ada di rumahnya sendiri.


"Bos, ini minuman yang Anda pesan." Seorang pria memberikan minuman kaleng pesanan Zean. Setelah Zean menerimanya, mereka berdua sama-sama menikmati pantai. 


"Di pantai itu pertama kali aku belajar berjalan." Zean menunjuk pesisir pantai yang kini sangat sunyi. Memang bisa di bilang kalau sudah sore ombak di pantai itu sangat besar. Tidak sembarang orang mau bermain di pinggir pantai itu ketika sore tiba. Apa lagi membawa anak. Hal yang sangat beresiko pastinya.


"Aku juga tidak ingat, tapi fotonya ada," sambung Zean lagi yang seolah mengerti kalau kini lawan bicaranya bingung.


Pria itu tersenyum ramah. "Apa Anda akan tinggal di kota ini dalam waktu yang lama, Bos?"


"Tidak! Aku hanya ingin melepas rindu saja. Bermain dan mengenang masa kecilku dulu. Setelah puas aku akan kembali. Selain bekerja, bukankah kita butuh berlibur?"


DUARR DUARR


Zean dan bawahannya kaget. Mereka mendengar suara tembakan di dekat mereka. Batu karang yang ada di depan menjadi tempat mereka bersembunyi.


"Apa yang terjadi?" 


"Sepertinya mereka saling menyerang, Bos."


Zean dan bawahannya memutuskan untuk menjadi penonton saja. Mereka melihat dua mobil berhenti di pinggiran jalan. Masing-masing dari mobil ada dua pria yang kini saling menembak. Tidak tahu sebenarnya apa yang menyebabkan mereka batu tembak. Namun, lokasi sunyi seperti ini memang sangat pas untuk bertarung. Tidak akan ada korban karena tidak ada masyarakat berkeliaran di sana.


Sebuah mobil berhenti di belakang dua mobil itu. Sepertinya salah satu pihak sudah kalah. Dari mobil yang baru berhenti, keluar dua pria berjaket hitam. Dua pria itu memegang tangan seorang wanita yang kini berontak minta di bebaskan.


"TOLONG!"


Suara ketakutan wanita itu terdengar dengan begitu jelas. Zean memperhatikan wajah wanita itu dengan saksama. Ia ingin memastikan kalau wanita itu bukan orang yang ia kenali.


"Bos, bukankah itu wanita yang pernah kita temui di Cambridge?" 


"Di Cambridge?" Zean kembali mengingat wajah wanita itu. Sayangnya ia tidak ingat karena memang sifat Zean yang tidak suka memperhatikan wanita dengan saksama. Ia tipe pria cuek. Kalau tidak kenal juga tidak akan mungkin akan memandangnya. Apa lagi mengajak bicara.


"Siapa?" Sambung Zean lagi penasaran.


"Namanya … Ca ca …." Pria itu berusaha mengingat nama wanita yang kini dalam bahaya itu.


"Lupakan! Apa dia wanita baik? Maksudku, saat kau melihatnya, dia bersama siapa?"


"Dia datang bersama keluarga Nona Leona."


"Leona?" Mengingat nama Leona membuat Zean tidak tinggal diam. Selama ini keluarga Leona tidak pernah dekat dengan orang sembarangan. Siapa yang sekat dengan keluarga mereka sudah pasti orang-orang baik. 


"Kita harus menolongnya!" Tanpa banyak pikir panjang, Zean berlari ke depan. Setelah keadaan membaik, ia akan menceritakan semua kejadian ini kepada Leona.


"Lepaskan wanita itu!" teriak Zean dengan suara lantang.


Dua pria yang masih memaksa wanita itu pindah ke mobil lain kini menahan gerakan mereka. Menatap wajah Zean dengan tatapan menghina. Mereka tidak akan pernah menyangka kalau pria yang kini berdiri di hadapan mereka adalah big Boss sebuah geng mafia.


"Pergi dari sini. Jangan ganggu kami? Waktu kami tidak banyak untuk mengurus dua pria bodoh seperti kalian."

__ADS_1


Pengawal Zean melangkah maju. Tentu saja ia tidak terima ketika ada orang yang sudah berani mengatakan Zean pria bodoh.


"Tenanglah. Kita harus memastikan keselamatan wanita itu."


Zean menatap satu persatu wajah pria yang kini berjumlah empat orang. Cukup kecil memang. Sekali hentakan saja mungkin ke empat pria itu akan tewas di tangannya. 


"Saya teman wanita yang kini bersama kalian. Serahkan dia kepada saya atau saya akan lapor polisi."


Ke empat pria itu tidak takut sama sekali. Justru mereka tertawa seolah ada yang lucu di sana.


"Apa kau pendatang baru? Jika kau pendatang baru, sebaiknya tidur saja di kamarmu dengan selimut. Jangan ikut campur dengan urusan kami."


Zean mulai geram. Namun emosinya masih berusaha ia kuasai.


"Tolong saya, Tuan. Mereka ingin menjual saya. Tolong saya. Berapapun harga yang Anda minta akan saya berikan jika Anda berhasil membebaskan saya."


Tiba-tiba salah satu pria memukul tengkuk wanita itu. Hingga akhirnya wanita itu tidak sadarkan diri. Zean semakin senang ketika wanita yang ingin mereka bebaskan tidak melihat aksi kejam yang akan ia lakukan.


"Pergi dari sini atau kau akan menyesal sudah menghalangi kami!"


Ke empat pria itu membawa wanita itu masuk ke dalam mobil. Saat mereka ingin masuk, tali telah melilit di leher. Zean dan pengawalnya sudah mengambil tindakan. Ketika dua pria lainnya ingin menembak, dengan sigap Zean melempar belatih kecil miliknya. 


Luka di tangan mereka membuat pistol itu terlepas. Lalu dengan mudahnya Zean menghajar mereka satu persatu yang menurutnya hanya sebagai latihan pemanasan saja sore ini.


Dalam hitungan menit saja ke empat pria itu telah kalah. Supir yang sejak tadi ad di dalam mobil keluar. Ia mau melawan tapi melihat rekannya kalah ia memutuskan untuk memohon ampun.


"Jangan bunuh saya!"


"Apapun akan saya lakukan asal Anda membebaskan saya."


"Baiklah. Katakan kepada pimpinan kalian. Wanita ini milik saya. Jadi, jangan pernah berpikir untuk merebutnya kembali." Zean menepuk pipi pria itu sebelum melepaskannya. Pria itu hanya mengangguk pelan sebelum masuk ke dalam mobil. Zean mengangkat tubuh wanita itu dan membopongnya menjauh dari mobil. Ia menatap wajah wanita itu dengan saksama.


"Kau benar. Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya."


Dengan mata terpejam wanita itu terlihat sangat cantik. Wajar saja kalau akan ada penculik yang menginginkannya. Dari kulit dan pakaian yang dikenakan juga Zean bisa menilai kalau wanita ini bukan wanita sembarangan.


"Kita akan bawa dia. Saat dia sadar, kita akan membahas hal ini lagi dengannya!"


"Baik, Bos." Zean dan pengawal setianya memutuskan untuk membawa wanita itu ke vila yang mereka tempat selama beberapa hari ini. Vila iti terletak tidak jauh dari posisi pantai yang mereka kunjungi. Maka dari itu Zean hanya berjalan kaki saja menuju ke vila nya.


***


Zean meletakkan wanita itu dengan hati-hati. Ia menarik selimut agar udara dingin dari lantai tidak membuatnya sakit. Hari juga sudah semakin gelap, Zean tidak mungkin juga mengusir wanita itu pergi jika nanti ia sudah sadar. 


"Tolong … tolong aku …." Zean menatap wajah wanita itu sekilas sebelum berjalan ke arah jendela. 


"Dia pasti sangat trauma atas kejadian yang menimpahnya." Zean menutup jendela dan gorden agar angin tidak masuk dengan bebas. Setelahnya ia pergi meninggalkan kamar tersebut. Membiarkan wanita kru berbaring dan masih mengigau di sana.


Zean berjalan ke bar mini yang ada di vila tersebut. Pengawal setianya lagi-lagi muncul secara tiba-tiba. Tidak tahu di mana pria itu tadi sebelum menemui Zean.


"Bos, mereka komplotan mafia yang berkuasa di kota ini. Lebih tepatnya, kini Italia di kuasai oleh mereka."


Pengawal itu meletakkan sebuah foto. Dalam waktu singkat saja ia berhasil menyelidiki musuh mereka saat ini. Mengusik ketenangan geng mafia lain tentu saja harus siap melawan mereka ketika mereka datang menyerang.

__ADS_1


Zean mengambil foto tersebut. Ia hanya tersenyum tipis sebelum meletakkannya. Wajahnya terlihat tidak tertarik. 


"Kita tidak akan lama di sini. Italia wilayah kekuasaan dia. Jika kita berada di markas, mereka akan tahu siapa yang paling hebat."


Zean tidak akan pernah menyangka kalau hari-harinya akan lebih lama lagi ada di kota terpencil tersebut. Karena geng mafia yang sudah ia usik ketenangannya tidak akan membiarkan Zean dan pengawal setianya pergi dengan mudah meninggalkan kota tersebut. Awal mula perjalanan cinta Zean telah di mulai. Tidak tahu apakah hatinya akan terbuka dan menerima cinta lagi atau tetap bertahan dengan pendiriannya untuk sendiri sampai maut menjemput.



Suara batuk yang berasal dari kamar wanita tidak dikenali itu  membuat Zean dan bawahannya berlari kencang. Mereka ingin memastikan kalau wanita yang baru saja mereka selamatkan baik-baik saja. Ketika pintu terbuka, wanita itu duduk di atas tempat tidur. Ia terlihat menahan sakit karena batuk yang ia derita.


"Tolong ambilkan aku minum." Zean memandang bawahannya agar segera berlari ke dapur untuk mengambilkan minum. Pria itu melangkah mendekat untuk memastikan wanita itu baik-baik saja. 


"Di sini banyak debunya!" protes wanita itu sambil menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya. Ia terlihat jijik ketika menyadari selimut yang menutupi tubuhnya bukan selimut mahal yang bersih dan bebas dari kuman.


Mendengar perkataan wanita itu membuat Zean mengurungkan niatnya. Untuk awal-awal ia bisa menebak kalau wanita yang ia tolong adalah wanita yang sombong.


Pengawal Zean muncul dengan segelas air di tangannya. Pria itu segera memberikan air minum yang ia bawa. "Ini, Nona."


"Terima kasih." Wanita itu segera meneguknya. Setelah ia merasa lega dan tenggorokannya tidak kering lagi, wanita itu mulai mengitari kamar yang ia tempati.


"Di mana ini? Kenapa kamarnya jelek sekali!"


Zean menghela napas. "Nona, apa Anda amnesia?"


"Amnesia?" Wanita itu memegang kepalanya dan memastikan tidak ada luka di kepalanya.


"Tidak. Apa seseorang memukulku dengan keras? Gawat! Sepertinya aku harus pergi ke dokter untuk memeriksa kesehatanku."


"Anda tidak akan sempat pergi ke dokter karena pria yang menculik Anda akan kembali menculik Anda!" ujar Zean geram ketika lawan bicaranya tidak kunjung sadar.


"Penculik?" Wanita itu kembali mengingat apa yang terjadi pada dirinya. Kedua matanya melebar dan wajahnya berubah panik ketika ia kembali ingat dengan kejadian buruk yang baru saja ia alami.


"Ya, penculik itu. Mereka ingin membawaku kepada pria yang sangat aku benci!"


Zean segera mengambil ponselnya. Ia tidak tahan untuk berada lebih lama lagi dengan wanita yang bentuknya seperti itu. Zean ingin segera menghubungi Leona dan memberi tahu kalau kerabatnya bersama dengannya saat ini.


"Katakan, siapa nama Anda, Nona."


"Buat apa aku mengatakan namaku kepada pria asing sepertimu?"


Zean menurunkan ponselnya. "Saya akan menghubungi keluarga Anda."


"Apa kau tahu di mana keluargaku saat ini?"


Kesabaran Zean benar-benar di uji. Wanita yang ada di depannya menjengkelkan dan membuatnya emosi. Zean memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku dan menyerahkan wanita itu kepada pengawalnya.


"Urus dia."


"Hei, Kau marah padaku?" Wanita itu berteriak hingga membuah Zean kembali menahan langkahnya. Dengan sigap wanita itu berlari dan berdiri di hadapan Zean. 


"Karena kau pria baik dan sudah menolongku, baiklah aku mau berkenalan denganmu." Wanita itu tersenyum manis dan menyodorkan tangannya.


"Perkenalkan, namaku Clara!"

__ADS_1


__ADS_2