
"Pergi Miller! Kau memang anak yang tidak berguna!" Suara pecahan kaca terdengar hingga memenuhi seisi ruangan. Di sebuah ruangan yang biasa digunakan oleh Sonia untuk bersantai kini tidak lagi terlihat nyaman. Ada banyak pecahan kaca di sana. Sonia melempar semua barang yang ada di dekatnya. Wajahnya benar-benar terlihat murkah.
"Mom, Miller gak lakuin apa-apa. Miller di jebak," ucap Miller membela diri.
"Di jebak kau bilang? Miller, berapa usiamu? Mommy menyekolahkanmu agar kau bisa menjadi manusia yang pintar. Kenapa kau berubah bodoh seperti ini! Kau memang anak yang tidak berguna Miller!" Sonia mengambil guci berukuran sedang yang ada di dekatnya. Ia siap melemparkan benda antik itu ke arah putranya. Tidak peduli kalau harga benda itu sangat fantastis.
"Sekarang mommy tanya kepadamu. Mau di mana Mommy letakkan wajah mommy? Mommy malu Miller! Bisa-bisanya kau melakukan kesalahan sebesar ini. Kau menculik Putri Cambridge! Meledakkan istana Cambridge. Mommy menjadikanmu polisi untuk mengamankan negara dan memberikan kedamaian. Buka membuat kekacauan!"
Natalie yang sejak tadi menyaksikan kejadian itu hanya bisa diam tanpa mau membela. Ia juga kesal dan kecewa dengan kakak kandungnya.
"Natalie, kenapa kau diam saja!" protes Miller sambil memandang Natalie. Pria itu menarik tangan adiknya dan bersembunyi di balik tubuh mungil adiknya.
"Natalie, jangan membelanya!" umpat Sonia semakin kesal.
"Mom, Kak Miller sudah mengakui kesalahannya. Jadi, ya sudahlah. Kak Miller kan memang seperti itu. Dia tidak pernah menuruti perkataan Mommy. Dia suka mengatai mommy galak! Dia juga suka-"
"Natalie! Aku memintamu untuk membelaku. Bukan menjatuhkanku seperti ini! Apa kau sudah siap kehilangan kakak?" bisik Miller dengan dahi mengeryit.
Natalie melipat kedua tangannya di depan dada. "Kak, aku tidak keberatan jika kehilangan kakak sepetimu!"
"Kau ini benar-benar!" Miller semain frustasi ketika tidak mendapat pembelaan dari adik kandungnya. "Aku yakin, nanti ketika kau sudah dewasa. Kau pasti akan mengikuti sifat mommy!"
__ADS_1
"Miller!" teriak Sonia lagi.
PRANGGG
Guci yang semula ingin ia lempar kini telah pecah dan bertaburan di permukaan lantai. "Kau harus ikut Mommy!"
"Mom, baiklah. Aku akan ikut ke manapun mommy pergi. Tapi, jangan marah lagi," bujuk Miller masih dengan tubuh bersembunyi di balik tubuh Natalie.
"Lusa kita berangkat ke Sapporo. Kita akan minta maaf kepada keluarga Tante Serena. Setelah itu, kita akan pergi ke rumah Paman Tama. Kita juga akan pergi ke rumah paman Biao dan terakhir kita pergi ke Istana Cambridge!" Sonia mulai berusaha meredakan amarahnya saat itu.
"Oke, Mom. Tapi, apa tidak bisa kita jumpaan di satu tempat saja? Di Sapporo misalnya," ucap Miller penuh semangat. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Leona dan berbincang dengan wanita itu.
"Oke oke, Mom. Sekarang Miller pergi ke kamar dulu ya. Miller mau tidur. Miller lelah. Apa Mommy tidak mau memegang tubuh Miller? Miller sakit mom …," lirih Miller dengan wajah yang menyakinkan.
"Itu karma yang pantas kau dapatkan!" Sonia memutar tubuhnya. Ia pergi meninggalkan ruangan yang sudah ia buat kacau balau itu.
Natalie menghela napas. Ia terlihat sedih ketika melihat kerugian yang kini ia dapatkan. "Mommy dan Kak Miller kalau berkelahi selalu saja menyusahkanku. Sekarang, bagaimana ini? Benda-benda di rumah habis karena mereka." Natalie beranjak pergi juga. Ia berniat untuk menghubungi Daddy tercintanya dan meminta uang untuk membeli kembali barang-barang yang baru.
Sa****n Fransisco
Alana bergelayut manja di lengan kekar Kwan. Wanita itu tidak mau menjauh dari kekasihnya walau dengan jarak 1 meter. Ia terlihat bahagia. Sejak pertama kali bertemu Kwan, Alana tidak bisa menyudahi senyum bahagianya.
__ADS_1
"Sayang, terima kasih." Kwan menghentikan langkah kakinya. Pria itu berdiri di depan Alana. Ia mengukir senyuman manis. "Kau membantu kami di saat yang tepat." Kwan membelai rambut panjang Alana yang terasa begitu lembut.
"Aku hanya tidak mau kau terluka," jawab Alana dengan suara pelan. "Aku sangat menyayangimu." Alana memeluk tubuh Kwan. Ia tidak peduli walau kini ada di lingkungan rumahnya.
Kwan memeluk Alana dengan erat. Ia mendaratkan kecupan-kecupan kecil di pucuk kepala wanita itu. "Baby, aku sangat menyayangimu. Hanya kau satu-satunya wanita yang ada di dalam hatiku."
Alana mengangkat kepalanya. Ia memandang Kwan dengan hati berbunga-bunga. "Kau tidak akan meninggalkanku, kan?"
Kwan hanya menggeleng pelan. Ia terlalu bahagia hingga tidak tahu harus berkata apa. Kwan ingin mendaratkan bibirnya di bibir Alana. Namun, belum sempat bibirnya mendarat sempurna. Tiba-tiba terdengar suara tembakan yang jaraknya sangat dekat dengan Kwan dan Alana. Sepasang kekasih itu kaget bukan main.
Kwan bersikap waspada. Ia memeluk Alana agar terhindar dari bahaya. Mereka mencari sosok yang sudah berani mengganggu mereka.
Biao berdiri di balkon sambil memegang pistol. Sorot mata pria itu sangatlah tajam. Seperti ingin melahap Kwan hidup-hidup.
Di bawah, Kwan mengangkat tangannya dan tertawa kecil. "Paman ...," sapanya dengan debaran jantung yang sudah tidak karuan.
"Daddy! Apa yang Daddy lakukan!" teriak Alana marah.
Biao hanya diam sebelum masuk ke dalam rumah. Kwan menghela napas. Dia jauh lebih lega ketika Biao tidak ada lagi di sana. "Sayang, kali ini aku akan meminta bantuan Paman Daniel. Bukankah Daddymu sangat menghormati paman Daniel?"
Alana mengukir senyuman dengan anggukan cepat. "Aku setuju!"
__ADS_1