Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 96


__ADS_3

"Mom, apa yang terjadi dengan Natalie? Kenapa Natalie ada di dalam ruangan itu?" Miller tidak bisa tenang ketika mendapat kabar kalau adiknya kini bertarung nyawa di dalam ruang ICU.


"Miller, sebenarnya Natalie sudah sakit sejak lahir," jawab Sonia yang kini ada di dalam pelukan Aldi. Wanita itu tidak bisa tenang ketika mendapat kenyataan kalau putrinya akan segera pergi.


"Sakit? Sakit apa Mom? Kenapa Miller baru tahu sekarang?" Miller terlihat kaget bukan main. Selama ini Natalie terlihat baik-baik saja.


"Mommy dan Daddy memberikan obat secara diam-diam setiap malamnya ke dalam minuman Natalie agar sakitnya tidak kambuh. Mommy hanya tidak mau kau dan Natalie kepikiran. Maafkan Mommy Miller." Sonia semakin sedih. Miller sendiri juga tidak tega melihat ibu kandungnya seperti itu.


"Mom, Natalie sakit apa?"


"Sejak lahir dokter bilang kalau jantung Natalie mengalami masalah. Jantungnya tidak berfungsi dengan normal seperti manusia pada umumnya. Tapi, saat masih kecil masalah ini tidak beresiko. Ketika Natalie semakin besar, maka keadaan buruk seperi ini akan selalu terjadi. Miller, kita butuh donor jantung untuk Natalie. Tapi, hingga detik ini kita belum menemukan jantung yang cocok. Hanya orang sekarat yang boleh mendonorkan jantungnya. Ini cukup sulit!"


"Masalah sebesar ini mommy rahasiakan dari Miller?" Miller protes atas kenyataan yang dikatakan kedua orang tuanya. Pria itu juga syok dan sedih membayangkan keadaan adiknya di dalam sana.


Seorang dokter keluar dari ruangan ICU. Miller berdiri di dekat dokter itu untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai keadaan Natalie.


"Dok, bagaimana keadaan Natalie?"


Dokter itu terlihat tenang. Ia menatap wajah Miller dan kedua orang tuanya. "Keadaannya semakin buruk. Tapi ... saya juga memiliki kabar baik. Ada pasien di rumah sakit ini yang sekarat dan jantungnya cocok dengan Natalie."


"Benarkah? Siapa dia Dok? Izinkan saya menemuinya," ucap Sonia kegirangan. Selama bertahun-tahun menunggu hari ini ia mendapatkan titik terang.


"Saya hanya bisa memberikan informasi tentang pasien." Dokter itu memberikan data mengenai pasien yang memiliki jantung yang cocok dengan Natalie.


"Saya akan menemuinya. Semoga saja dia mau membantu kita." Miller memegang data berisi informasi malaikat penolong adiknya. Miller berharap besar kalau mereka mau membantu Natalie agar tetap bertahan hidup.


***


Miller tiba di rumah yang tertera di dalam informasi tersebut. Pertama kali ada di lokasi rumah tersebut, Miller sempat kaget. Ternyata orang yang akan ia mintai tolong bukan orang biasa. Di lihat dari mewahnya rumah tersebut setiap orang bisa tahu kalau mereka berasal dari keluarga kaya raya.


"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" Seorang pelayan menyapa Miller yang sejak tadi hany diam di posisinya.


Miller tersenyum ramah. Ia memberikan alamat tersebut untuk memastikan rumah yang ia tuju benar.


"Ya, benar. Ini rumah Nona Ella. Anda siapa?" tanya pelayan itu penuh curiga.


"Apa saya bisa bertemu dengan Ella?"


"Silahkan masuk." Tanpa banyak tanya lagi pelayan itu mengizinkan Miller masuk.

__ADS_1


"Tunggu di sini. Saya akan memanggil Nona Ella."


Miller duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut. Lagi-lagi ia memandang isi rumah dan memuji keindahan rumah tersebut.


"Selera pemilik rumah ini sungguh bagus!" gumam Miller di dalam hati.


Tidak menunggu terlalu lama seorang wanita keluar dari sebuah lorong. Wanita itu adalah Bella. Ini adalah hari pertama kalinya Miller dan Bella bertemu.


"Siapa Anda?" tanya Bella.


"Perkenalkan, saya Miller." Miller menyodorkan tangannya untuk berkenalan. Bella menyambut tangan Miller dan meminta pria itu kembali duduk.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Bella lagi.


"Apa Anda bernama Ella?"


Bella menggeleng pelan. "Ella adik saya. Kami kembar. Ada urusan apa anda dengan Ella?"


"Saya tahu, hal ini akan membuat anda sedikit tersinggung. Tapi, berdasarkan informasi yang saya dapat. Adik Anda, Ella. Kini sedang sekarat."


Kedua mata Bella berkaca-kaca. Ia terlihat sedih mendengar pertanyaan dari Miller.


"Maaf, Nona. Maafkan saya. Saya bukan dokter." Miller mulai bingung mengungkapkan isi hatinya. Ia tidak mungkin secara terang-terangan mengatakan kalau saat ini mereka butuh jantung dari Ella.


"Nona, Nona Ella ...." seorang suster keluar dari dalam kamar. Wanita itu terlihat panik.


"Apa yang terjadi dengan Ella?" Bella beranjak dari duduknya dan berlari ke kamar. Begitu juga Miller yang ternyata tidak mau ketinggalan. Ia ikut Bella berlari menuju kamar Ella.


"Ella!" teriak Bella ketika tiba di dalam kamar. "Bagaimana bisa begini?"


"Nona, kita harus bawa Nona Ella ke rumah sakit," ucap perawat itu khawatir.


"Biar saya yang bawa mobilnya," tawar Miller.


Bella hanya mengangguk setuju. Miller segera mengangkat tubuh Ella. Pria itu berlari untuk membawa Ella menuju ke mobil.


***


Setibanya di rumah sakit, Ella langsung dilarikan ke ruangan ICU. Ruangan yang sama dengan Natalie. Sonia dan juga Aldi yang masih ada di depan ruangan ICU terlihat panik ketika melihat Miller muncul bersama dua wanita kembar.

__ADS_1


"Miller, apa yang terjadi?" tanya Sonia.


Miller hanya diam. Dia memandang wajah Bella yang kini menangis sedih. Wanita itu duduk di kursi dengan harapan kosong. Ia terlihat kasihan ketika sedang menangis sendirian.


"Miller, jelaskan siapa mereka? Kenapa kau mengurus mereka?" bisik Sonia lagi.


"Wanita yang masuk ke dalam adalah wanita yang jantungnya cocok dengan Natalie, Mom," jawab Miller. Sonia segera menutup mulutnya dengan wajah tidak percaya.


"Benarkah?"


"Dia kakak dari wanita itu," ucap Miller lagi.


Sonia segera mendekati Bella. Tidak peduli walau kini wanita itu sedang bersedih.


"Permisi, apa benar wanita yang baru saja masuk adalah adik Anda?" tanya Sonia dengan suara pelan.


"Ya."


Sonia tersenyum bahagia. "Apa benar keadaannya sedang ... sedang tidak baik-baik saja?" tanya Sonia lagi. Bella segera mengangkat kepalanya.


"Apa yang anda pikirkan, Nyonya!"


Tanpa pikir panjang Sonia segera berlutut di depan Bella. Ia memegang kedua tangan Bella dengan wajah memohon. "Saya tahu tidak sepantasnya saya mengatakan hal ini di saat keadaan seperti sekarang. Tapi, putri saya juga sedang sekarat. Hanya adik Anda yang bisa menolong anak saya."


Bella mengeryitkan dahi. "Apa maksud Anda? Menolong? Adik saya juga butuh pertolongan agar bisa bertahan hidup."


"Saya tahu. Saya juga berharap kalau adik Anda bisa kembali sehat. Tapi ... jika takdir berkata lain. Apakah Anda mau memberikan jantung adik Anda kepada putri saya? Putri saya sangat-"


"Apa-apaan ini? Siapa Anda dan apa hak Anda mendoakan adik saya segera mati!" Bella beranjak dan menghempaskan tangan Sonia. Wajahnya terlihat marah dan tidak terima atas permintaan Sonia.


"Maafkan saya. Tapi saya sangat membutuhkan bantuan Anda. Berapapun akan saya bayar," pinta Sonia lagi. Miller segera berlari dan membawa Sonia kembali berdiri. Aldi hanya diam dengan wajah bingung.


"Nyonya, hentikan penghinaan ini!" teriak Bella semakin tidak terima. Suasana di depan ruangan ICU itu sangat berisik. Hingga saat seorang dokter keluar dari ruangan, semua orang tidak lagi berkata apa-apa.


"Dokter, bagaimana keadaan adik saya?" tanya Bella khawatir.


"Adik Anda ingin bertemu dengan Anda, Nona." Bella segera berjalan menuju ke ruangan tersebut. Namun Miller sempat memegang tangan Bella dan menatap wajah wanita itu dengan tatapan yang serius.


"Apapun akan saya lakukan asalkan Anda mau menolong adik saya," ucap Miller dengan wajah memohon. Bella tidak menjawab. Wanita itu menghempaskan tangan Miller dan berlari masuk ke dalam.

__ADS_1


Singkat cerita Ella benar-benar harus pergi di hari itu juga. Tapi, satu hal yang membuat keluarga Sonia lega, Bella mengizinkan jantung Ella di didonorkan ke Natalie. Namun wanita itu tidak bisa di temui lagi. Bahkan di pemakaman Ella juga tidak ada. Bella menghilang bagai di telan bumi. Miller tidak berhasil mencari keberadaan. Baru beberapa bulan ini wanita itu muncul kembali. Hingga pada akhirnya ia menagih janji Miller beberapa tahun yang lalu.


__ADS_2