Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Merah atau Hitam


__ADS_3


Leona dan Jordan duduk sambil memandang beberapa gaun yang sudah di pilihkan Emelie. Ada 10 gaun yang terpilih, Leona dan Jordan hanya perlu memilih 1 di antara 10 gaun yang ada. Sisanya, untuk acara malam hari mereka bebas memilih tema sesuai dengan yang mereka suka.


“Tidak ada yang pendek?” celetuk Leona dengan wajah tidak bersemangat.


Gaun yang menjadi pilihan mommy mertuanya adalah gaun yang panjangnya rata-rata lebih dari tiga meter. Menyeret di lantai dengan taburan payet di setiap incinya. Belum lagi selendang yang akan ia kenakan sebagai penutup kepala dan wajahnya nanti. Bisa jadi panjangnya bisa sampai bermeter-meter.


“Pendek?” Jordan mengeryitkan dahi dengan wajah tidak suka. Semua gaun pilihan Emelie adalah gaun yang sesuai dengan selera Jordan. Sopan dan anggun. Leona terlihat seperti ratu saat memakai gaun pengantin tersebut.


“Ya, maksudku yang tidak panjang seperti ini.” Leona memegang gaun yang ada di dekatnya. “Ini juga sangat berat.”


Jordan menghela napas. “Aku mau perpaduan antara gaun ini dan gaun itu.” Jordan menunjuk dua gaun yang menurutnya pas untuk dikenakan Leona di akad pernikahan mereka nanti.


“Membayangkan memakai salah satu gaun ini saja sudah pusing. Kau menggabungkan keduanya.” Leona melipat kedua tangannya di depan dada. “Hanya di pakai saat akad bukan?”


“Ya, setelah itu kau bisa memilih gaun lain. Tapi jangan terlalu pendek.” Jordan mengamati perpaduan antara dua gaun yang sudah ia pilih.



“Gaun warna hitam.” Leona tertarik dengan gaun warna hitam yang di pajang tidak jauh dari posisinya berdiri.


“Jangan hitam. Bagaimana kalau merah saja?” Jordan terpusat pada gaun merah yang mewah dan elegan yang Juga ada di toko tersebut.


__ADS_1


"Tidak. Para wanita memakai gaun hitam dan pria memakai jas putih. Bukankah itu sangat modern." Leona mengukir senyuman sambil membayangkan betapa meriahnya pesta pernikahannya nanti.


"No, baby girl. Itu seperti zebra. Hitam dan putih."


"Zebra?" Leona mengeryitkan dahinya.


"Ya, yang benar para wanita Dengan gaun merah para pria dengan jas hitam. Itu terlihat jauh lebih modern. Bunga mawar merah akan menjadi pelengkap pesta pernikahan kita nanti."


Leona memajukan bibirnya. "Tapi aku mau warna hitam."


"Sayang, merah lebih indah."


"Pangeran, ada telepon dari Ratu."


Tiba-tiba saja Oliver muncul di sana. Pria itu memberikan ponselnya kepada Jordan. Wajahnya terlihat ragu ketika melihat Leona dan Jordan kini memandangnya dengan senyuman penuh arti.


"Sini ponselnya." Jordan merebut paksa ponsel yang diberikan Oliver. Ia menatap wajah Leona dan mulai berbicara dengan ibu kandungnya.


"Mom, ponsel Jordan ketinggalan. Iya, Jordan sudah sampai di tempatnya."


Tidak butuh waktu terlalu lama Jordan sudah memutuskan panggilan teleponnya. Ia memberikan ponsel itu kepada Oliver.


"Bagaimana kalau keputusannya di tentukan oleh Oliver?" ucap Jordan penuh semangat.


Leona melirik wajah Oliver dengan ragu-ragu. "Bisa saja kalian bekerja sama," ucap Leona dengan wajah tidak setuju.

__ADS_1


"Untuk persoalan ini kami tidak bekerja sama," jawab Jordan mantap.


Oliver berdehem pelan. Ia merapikan penampilannya sebelum membungkuk hormat. "Pangeran, saya permisi dulu."


"TUNGGU!" teriak Jordan dan Leona bersamaan.


Oliver menghela napas. "Apa lagi sekarang? Kemarin perihal undangan. Selanjutnya dekorasi. Lalu sekarang, apa yang mereka perdebatkan?" umpat Oliver di dam hati.


"Oliver, jika kau menikah nanti. Kau lebih suka pengantinmu memakai gaun warna merah atau hitam." Jordan mengajukan pertanyaan dengan wajah penuh percaya diri. Ia sudah yakin kalau kali ini pasti Oliver memilih warna merah.


"Saya akan menyerahkan semuanya kepada istri saya, Pangeran," jawab Oliver di dalam hati. Ia memandang dua gaun yang ada di hadapannya sebelum mengambil sebuah keputusan.


"Hitam, Pangeran."


"Apa?!"


Oliver tersadar. Ia tahu kalau warna yang di sukai Jordan adalah warna merah. "Maksud saya ...."


"Hitam. Jawaban pertama itu jujur," sambung Leona sambil menaikan kedua alisnya di depan Jordan. "Pangeran, kau sudah kalah."


Jordan mendesah dengan wajah kecewa. "Kau tidak bisa di andalkan."


Oliver menundukkan kepalanya. Lagi-lagi dia yang salah. Seperti itulah keluh kesah nya di dalam hati.


"Sebenarnya yang mau menikah Anda atau saya, Pangeran?" gumam Oliver di dalam hati.

__ADS_1


#Buat yang belum tahu, Author ge morning sickness. Jadi mohon pengertiannya kalau mungkin kadang update kadang gak.🙏


__ADS_2