
Sebuah kepedihan telah menari
di permukaan hatiku.
Dia tertawa... Dia mengejekku...
Dia seolah menemani ...
Tetapi... sebenarnya dia melukai.
Sementara seseorang yang selalu membuat tawa telah hilang pergi entah kemana.
Sejenak, aku berpikir ...
Lupakan saja....
Tapi sulit bagiku membencinya...
Sakit hati harus di balas dengan rasa yang sama. Agar dia ... Tahu apa yang aku rasakan.
Dia diam aku diam...
Dia marah aku marah...
Dia pergi aku pergi...
Tidak ada yang harus diperbaiki.
__ADS_1
Hati telah hancur dan berbaur dengan luka.
Kau yang melukaiku lebih dulu... Jangan salahkan jika aku menjadi seperti ini.
Eleonora ~ Lady of Mafia
Leona duduk di depan mobil sambil menatap lautan yang terbentang dari atas perbukitan. Ia menatapnya dengan tatapan kosong. Amarah Jordan kembali mengiang di dalam ingatannya. Leona tidak tahu, apa yang sebenarnya kini ia rasakan. Ada rasa bersalah dan rasa sakit hati.
Kwan yang sudah berhasil menemukan Leona kini mengobati lengan Leona dengan hati-hati. Sesekali ia memandang wajah Leona dan melanjutkan pengobatannya. Jangan kan Jordan. Kwan sendiri yang sudah bertahun-tahun kenal dengan Leona juga memikirkan hal yang sama... Si wanita keras kepala itu memang telah melakukan sebuah kesalahan besar. Emosi memuncak membuatnya bertindak gegabah tanpa perhitungan.
Sejak tadi Leona tidak memberikan reaksi apa-apa atas tangannya yang kini di obati Kwan. Sepertinya luka tembak itu benar-benar tidak sebanding dengan rasa sakit hatinya..
"Kak, kita balik aja ke Sapporo ya. Aku sangat mengkhawatirkan kakak. Setelah keadaan tenang, kita akan kembali mencari pria itu dan menyerangnya. Aku juga akan membatalkan keinginanku untuk balik ke San Fransisco. Aku akan menjaga Kak Leona dan menemani Kak Leona," bujuk Kwan dengan suara pelan.
Leona masih diam membisu. Ia tidak memberikan jawaban setuju atau tidak dengan ide Kwan.
"Kwan, apa kau tahu apa yang kini aku rasakan? Jika kau seorang wanita mungkin aku akan benar-benar membenci pria. Ada Kak Aleo, Kau dan Papa yang masih bisa membuatku percaya. Kalau masih ada pria baik yang tulus di dunia ini."
"Semua orang tulus menyayangimu kak. Hanya ada beberapa saja. Jangan menutupi hatimu saat hanya karena beberapa orang saja." Kwan memberikan alat medisnya kepada pasukan Queen Star yang ada di sana. Ia melepas jaket hitam yang ia kenakan dan memakaikannya di tubuh Leona.
Setelah itu Kwan duduk di samping Leona dan menemani wanita itu memandang ke arah depan. Ia masih belum mau membujuk Leona untuk kembali ke markas. Untuk pagi itu, Kwan memberikan waktu kepada Leona untuk menenangkan diri. Melakukan apapun yang diinginkan wanita itu.
"Kembalilah ke San Fransisco, Kwan. Alana menunggumu di sana. Jangan buat dia merasakan benci seperti apa yang kini aku rasakan. Kau harus terlihat bersungguh-sungguh dalam memperjuangkannya," ucap Leona tanpa memandang. Wanita itu menjatuhkan kepalanya di pundak kiri Kwan sebelum memejamkan mata.
Kwan memandang wajah Leona sebelum mengusap lembut punggung wanita itu. Ia juga tidak tahu harus berbuat apa. Di matanya ada dua wanita yang kini sangat membutuhkannya. Berada di tempat yang jauh berbeda bahkan dengan keadaan yang berbeda pula.
"Aku akan memikirkannya nanti. Sekarang, aku ingin menemani kakak dulu di sini," ucap Kwan lagi.
__ADS_1
Leona mengukir senyuman kecil sebelum memejamkan mata. Ia merasa sangat lelah. Bahu Kwan cukup nyaman untuk ia jadikan sebagai tempat bersandar.
***
Jordan baru saja tiba di mansion. Pria itu melihat mobil beberapa pasukan Gold Dragon yang sudah terparkir rapi. Detik itu Jordan tidak tahu, apakah Oliver berhasil atau tidak mengalahkan pasukan polisi Meksiko. Ia berjalan masuk ke dalam mansion dengan gerakan cepat.
Jam sudah menunjukkan pukul empat pagi. Dengan wajah lelah, Jordan berjalan ke arah tangga. Ruangan tersebut sudah sunyi. Tidak ada lagi terlihat Oliver maupun Katterine muncul di ruangan tersebut. Jordan sendiri berpikiran, mungkin saja mereka sudah tidur.
Tidak di sangka-sangka, ketika Jordan menjejaki lima anak tangga. Terdengar suara mobil berhenti dari arah depan mansion. Jordan segera memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang baru saja tiba.
Oliver dan Katterine muncul di ambang pintu. Membuat Jordan menyimpan sejuta tanya. Bagaimana bisa adik kesayangannya kini pulang bersama Oliver. Setauh Jordan, sebelum ia pergi Katterine masih duduk manis di rumah tersebut.
"Katterine, apa yang kau lakukan? Darimana saja kau?" ucap Jordan sambil berjalan cepat mendekati posisi Katterine dan Oliver berdiri.
"Putri Katterine mengikuti kita, Pangeran," jawab Oliver tanpa niat ada sedikitpun untuk membela Katterine.
Katterine menunduk dengan wajah bersalah. "Aku hanya penasaran saja. Kalian baru pulang ke rumah lalu pergi lagi. Aku di sini ingin bersenang-senang. Bukan di tinggal sendirian," protes Katterine. Ia lebih dulu marah sebelum kakak kesayangannya itu mengeluarkan kalimat menyalahkan.
"Katterine, tindakan seperti itu sangat beresiko. Apa kau tidak memikirkannya? Apa yang harus aku katakan kepada Daddy dan Mommy jika kau sampai terluka? Bukan hanya aku saja. Oliver juga bisa kena," ucap Jordan dengan sungguh-sungguh.
"Saya tidak akan kena, Pangeran. Kan ada anda di sini," celetuk Oliver membela diri.
Jordan menatap wajah Oliver dengan tatapan membunuh. Membuat Oliver lebih memilih menunduk dan diam saja. "Maafkan saya, Pangeran."
"Aku mau mandi dan tidur. Sangat melelahkan," umpat Katterine sebelum berjalan ke arah tangga. Omelan wanita itu telah berhasil membuat Jordan mengurungkan niatnya untuk memarahi Katterine.
Kini yang tersisa di lantai bawah itu hanya ada Jordan dan Oliver yang saling memandang satu sama lain.
__ADS_1
"Istirahatlah. Aku akan menceritakan semuanya besok," ucap Jordan sebelum naik ke tangga. Ia tahu arti tatapan penuh tanya Oliver pagi itu. Tubuhnya terasa lelah. Jordan tidak bersemangat untuk menceritakan masalahnya kepada Oliver detik itu juga.